Mencintai Seorang Bodyguard

Mencintai Seorang Bodyguard
Season 2 20 Februari


__ADS_3

Kondisi Jessica semakin hari semakin membaik. Hari ini, sesuai dengan pembicaraan Aldy dan Dokter Lukman tadi malam. Aldy akan membawa Jessica pulang, dan merawat Jessica di kediaman Keluarga Pranata.


Sebelumnya, Aldy meminta Kepala pelayan dan juga pelayan lainnya untuk menyiapkan kamar dan barang-barang Jessica sejak kemarin sore.


Aldy sudah mengambil semua barang Jessica di kontrakan, memindahkan semuanya ke dalam kamar yang disiapkan untuk Jessica.


Kedatangan Jessica disambut hangat oleh Ibu, Kamila dan para pelayan. Aldy mendorong kursi roda Jessica. Membawa wanita itu masuk ke dalam rumah utama.


"Ini rumahmu," ucapnya sambil mendorong kursi roda itu mendekati Ibu.


Ibu tersenyum manis, begitu pula dengan Kamila dan para pelayan yang menyambut kedatangan Jessica.


Aldy meminta seorang pelayan untuk menghantar Jessica beristirahat di kamar yang sudah di siapkan untuknya. Kamar itu berada di lantai bawah, bersebelahan dengan ruang tamu. Kamar Jessica didesain seindah se-nyaman mungkin. Semua barang-barang diletakkan rapi pada tempatnya. Piala dan mendali-mendali Jessica diletakkan di sebuah lemari kaca.


Jessica mengedarkan pandangannya. Kamar seluas itu hanya dihuni oleh Jessica, membuat Jessica terlihat begitu tidak nyaman.


"Mbak," panggil Jessica pada pelayan yang mengantarnya.


Pelayan itu berhenti, lalu menoleh ke arah Jessica. "Nona butuh apa?"


"Tidak ada, aku hanya merasa kurang nyaman. Kamar ini sangat luas, aku merasa tidak enak pada Tuan Aldy," jawab Jessica.


"Nona tidak perlu berpikir begitu, Tuan sangat mencintai Nona. Dia akan memberikan yang terbaik untuk Nona." Pelayan itu tersenyum. Ia menundukkan kepalanya lalu pamit undur diri pada Jessica.


Jessica bangun dari kursi rodanya. Dengan langkah yang begitu pelan, ia mencoba untuk duduk di atas kasur empuk di depannya.


"Sebenarnya apa yang terjadi padaku? Kenapa aku bisa di rumah ini?" Batin Jessica terus bertanya. Jessica merebahkan dirinya, menatap langit-langit kamar yang bercat putih bersih itu.


Sementara di ruang keluarga. Aldy dan Ibu membicarakan kondisi Jessica. Keduanya berpikiran yang sama. Mereka akan menceritakan semuanya pada Jessica.


Aldy sudah memberitahu semua pelayan yang ada di rumah utama. Aldy juga meminta mereka untuk memanggil Jessica dengan panggilan 'Audi'. Ini semua ia lakukan untuk kenyamanan Jessica sendiri.


"Bagaimana dengan pernikahan kalian?" tanya Ibu yang tiba-tiba teringat akan pernikahan Aldy dan Jessica.


"Aku akan membuat Jessica percaya dulu padaku. Setelah itu, kita akan membicarakan hal ini dengannya." Aldy menyadarkan kepala pada sandaran sofa. Ia memejamkan matanya, memikirkan cara terbaik untuk mendapatkan kepercayaan dari Jessica.


"Ya, Ibu setuju. Jika dia sudah percaya padamu, maka dengan mudah kita membicarakan hal ini dengannya. Kita tidak mungkin menunda pernikahan, publik sudah mengetahui semuanya," ucap Ibu serius.


Aldy membuka matanya. Ada perasaan geram pada saat ia mengetahui seseorang telah membeberkan tentang pernikahannya dengan Jessica.


Persiapan pernikahan memang sudah dilakukan sejak bukan Januari lalu. Namun untuk mengumumkan pernikahannya, Aldy sangat tidak menginginkan hal itu. Ia tidak ingin orang banyak mengetahui wajah istrinya. Bukan karena apa, tapi ini semua demi keamanan dan kenyamanan Jessica.


Aldy tidak ingin publik mulai mengenal keluarganya. Ia tidak ingin keluarganya merasa resah karena terus dihantui para wartawan yang selalu menanyakan hal yang mungkin tidak seharusnya dipublikasikan.


"Aku akan meminta Ken untuk mengatur semuanya." Aldy bangun dari duduknya. Ia keluar dari ruang keluarga, meninggalkan Ibu lalu berjalan menuju kamarnya.


☆☆☆☆☆☆☆☆☆


Sorenya. Jessica membuka matanya karena sudah tidur cukup lama. Ia menggerakkan otot-otot yang masih kaku. Jessica mulai menurunkan satu kakinya, ia berpegangan pada meja kecil di samping kasur, perjalanan perlahan menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya.


Tidak lama kemudian. Jessica keluar mengunakan jubah mandi berwarna hitam. Ia membuka lemari baju, betapa terkejutnya Jessica ketika melihat begitu banyak jenis baju di dalam sana.


"Apa semua ini untukku?" tanya Jessica sambil menatap tak percaya. Ia mengambil satu baju lengan pendek berwarna abu-abu dan celana jean panjang berwarna hitam.

__ADS_1


Setelah memakai pakaiannya. Jessica melangkahkan kakinya pelan menuju pintu. Dengan langkah yang pelan dan hati-hati, Jessica melangkah menuju ruang keluarga. Namun sebelum sampai di sana, Jessica bertemu dengan Ibu di depan ruang tamu yang bersebelahan dengan kamarnya.


Ibu memanggil seorang pelayan. Meminta pelayan itu mengambilkan kursi roda Jessica.


"Jangan jalan dulu, Ibu takut kau terjatuh lagi. Kau mau kemana? Biar Ibu yang menemanimu," ucap Ibu lembut.


Jessica tersenyum, "Aku hanya ingin mencari teman, aku capek jika di dalam kamar terus," jawabnya jujur.


Pelayan tadi datang sambil mendorong kursi roda Jessica. Ibu mengambil alih kursi roda itu, meminta Jessica untuk duduk di sana.


"Biar saya saja, Nyonya," ucap pelayan itu pada Ibu. Tidak mungkin pelayan itu membiarkan Nyonya Besarnya mendorong Jessica.


Ibu hanya menanggapinya dengan senyuman. Ia mengalah lalu membiarkan si pelayan yang mendorong Jessica.


Ibu dan pelayan tadi membawa Jessica menuju taman utama. Taman itu semakin indah dengan beberapa bunga yang ditanam oleh Ibu, Jessica dan Kamila beberapa minggu yang lalu, sebelum Jessica mengalami kecelakaan.


"Kau bisa pergi," ucap Ibu pada pelayan itu. Pelayan itu menundukkan kepalanya hormat, lalu beranjak meninggalkan Ibu dan Jessica.


"Apa kau suka bunga, Audi?" Ibu melirik Jessica sekilas. Wanita itu hanya tersenyum tanpa menjawab pertanyaan dari Ibu.


"Ibu," panggil Jessica dengan mata menatap wajah wanita paruh baya itu.


Jessica berdiri dari kursi roda, ia beralih duduk di kursi taman. Ibu mendekati Jessica, ia pun duduk tepat di samping wanita itu.


"Bisakah Ibu menceritakan tentangku, sedikit saja, Bu," pinta Jessica.


Ibu terlihat berpikir sejenak. Ia kembali menatap wajah ingin tahu Jess.


"Hmmm, sebenarnya, kenapa aku bisa di tengah-tengah kalian, emm, maksudku, kenapa aku bisa di rumah ini dan menjadi kekasih Tuan Aldy?" tanya Jessica.


Ibu mengelus kepala Jessica lembut, menatap mata tajam Jessica yang sudah berubah menjadi redup dan begitu indah.


"Apa kau bisa merasakan ketulusan Aldy?" Ibu balik bertanya. Jessica mengangguk, ia memang bisa merasakan hal itu.


"Putraku sangat mencintaimu, dan Kamila putriku sangat menyayangimu. Kau datang pada kehidupan mereka saat aku tidak ada di sisi mereka. Kau banyak mengubah sisi pribadi kedua anakku, mereka berdua sangat menyayangimu. Kau bahkan dulu sangat menyanyi Kamila, kau rela mempertaruhkan nyamamu demi keselamatannya," jawab Ibu sejujurnya.


Jessica kembali tersenyum, ia menatap mata Ibu yang begitu menenangkan. Di sana hanya ada kejujuran dan kejujuran yang Jessica lihat.


"Lalu Jessica? Apa benar namaku Audi Jessica?" Jessica menatap jari-jari. Sekilas ia tersenyum ketika melihat cincin manis yang tersemat di sana.


"Itu memang namamu, tapi Ibu tidak memaksa, Ibu akan tetap memanggil sesuai kemauanmu." Ibu menghembuskan nafas lega. Ia menatap ke arah halaman utama.


Mobil Aldy dan Kamila ternyata sudah terparkir di sana. Kamila melangkah mendekati Ibu, langkah kecil Kamila disusul oleh Aldy yang baru saja keluar dari dalam mobilnya.


"Kau sudah minum obat?" tanya Aldy pada Jessica. Aldy berjongkok tepat di depan Ibu dan Jessica yang duduk di atas kursi taman.


Jessica mengangguk. "Ya, sudah."


"Baiklah, kalau begitu, aku masuk dulu," ucap Aldy lalu bangun dan beranjak meninggalkan Jessica, Ibu dan Kamila.


Kamila juga menatap Jessica dan Ibu. Ia pamit masuk karena ingin mandi dan mengganti baju terlebih dahulu.


Kini Ibu dan Jessica kembali berdua. Keduanya saling menatap lalu tersenyum manis.

__ADS_1


"Ada lagi yang ingin Audi tanyakan?" tanya Ibu memastikan.


Jessica berpikir sejenak. Untuk saat ini, ia memilih tidak terlalu banyak bertanya pada Ibu. Ia akan menanyakan semua pada Aldy nantinya.


"Kurasa tidak ada lagi, Bu," jawab Jessica.


Ibu mengajak Jessica untuk masuk karena udara di luar sangatlah dingin. Jessica menurut lalu duduk di atas kursi rodanya. Seorang pelayan mendekat, ia mendorong kursi roda Jessica, membawa wanita itu masuk ke dalam rumah utama.


Jessica meminta pelayan tadi untuk mengantarnya menuju kamar. Sementara Ibu, wanita paruh baya itu berjalan menuju dapur, mengecek menu makan malam sudah siap atau belum.


☆☆☆☆☆☆☆☆☆


Setengah jam sebelum makan malam. Semua orang berkumpul di ruang keluarga seperti biasanya. Kamila dan Aldy duduk di samping kiri dan kanan Jessica. Keduanya menghimpit Jessica, membuat Jessica merasa begitu risih dengan tingkah keduanya.


Kamila mulai mengeluarkan Hpnya. Ia membuka aplikasi yag biasa ia gunakan untuk menonton drama korea kesayangannya. Kamila semakin mendekat ke arah Jessica. Karena risih, Jessica pun semakin bergeser mendekat ke arah Aldy.


Aldy menoleh, mengamati ekspresi wajah Jessica.


"Ila, jangan geser terus!" ucapnya sambil menarik rambut Kamila dari belakang punggung Jessica.


"Aaaaa, sakit! Ibu......" Kamila merengek, mengadu pada Ibu karena ulah sang Kakak.


Ibu tidak menanggapi apapun, ia tetap fokus pada koran di depannya.


Sedangkan Jessica, wanita itu mulai tertawa kecil karena tingkah Aldy dan Kamila yang seperti anak kecil saja. Aldy terus menarik rambut Kamila dan Kamila terus menjerit dan merengek seperti bayi.


Keluarga mereka sangat hangat. Aldy juga sangat menyayangi Kamila, aku sangat beruntung berada di tengah-tengah mereka. (Jessica)


Jessica sadar dari lamunannya saat tangan kekar Aldy menyentuh bahunya.


"Kau baik-baik saja?" tanya Aldy khawatir.


"Ah, aku baik-baik saja," jawab Jessica sambil mengelus tengkuknya.


"Sudahlah, sekarang waktunya makan. Kamila! Makan dulu! Matikan Hpmu!" Ibu meletakkan korannya di atas meja. Ia menatap Aldy, Jessica dan Kamila secara bergantian.


Ketiganya langsung mengerti. Aldy membantu Jessica duduk di kursi rodanya, mendorong Jessica menuju ruang makan, diikuti oleh Kamila di belakang mereka.


"Aku sudah bisa berjalan. Ya, walaupun masih sangat pelan," ucap Jessica sambil mendongakkan kepalanya, menatap Aldy.


"Iya, aku hanya khawatir kau terpeleset atau terjatuh nantinya. Jadi untuk saat ini, kau harus mengunakan kursi roda ini, oke." Aldy tersenyum saat tatapannya dan Jessica bertemu.


"Hmmm, baiklah," ucap Jessica dengan pipi yang bersemu merah. Ia menundukkan pandangan karena merasa tidak nyaman dengan tatapan mata Aldy yang penuh cinta dan kasih sayang.


Aldy memamapah Jessica, membantu Jessica untuk duduk di kursi makan. Ibu dan Kamila menatap keduanya. Ada rasa lega di hati Ibu ketika melihat Jessica dan Aldy kembali akrab.


"Kau harus makan sayur yang banyak." Aldy meletakkan sayur di atas piring Jessica. Ia kembali meletakkan menu yang sama untuk kedua kalinya.


"Hehehe, ini terlalu banyak," ucap Jessica karena melihat begitu banyak sayur di piringnya.


"Tidak apa, makan sayur tidak akan membuatmu gendut," jawabnya Aldy sambil tersenyum tipis.


Jessica melirik Aldy sekilas. Ia mulai menguap nasinya saat Ibu dan Kamila menatapnya dengan wajah yang tidak bisa diartikan lagi.

__ADS_1


__ADS_2