Mencintai Seorang Bodyguard

Mencintai Seorang Bodyguard
Season 2 Impian Jessica?


__ADS_3

Bagian 2


01 Januari.


Jessica membuka matanya, ia menatap langit-langit kamar yang begitu indah itu. Matanya beralih menatap jam tangan hitamnya. Waktu sudah menunjukkan pukul enam pagi.


Jessica membuka pintu kamar, ia menghirup udara yang sangat sejuk pagi itu. Para pelayan menyapa Jessica hangat. Ya, Jessica dan Keisha menginap di rumah megah Keluarga Pranata. Namun, Jessica memilih untuk tidur di rumah belakang, sedangkan Keisha tidur di kamar tamu, di rumah utama.


Jessisa kembali masuk ke dalam kamar, ia mandi dan mengganti bajunya lalu berjalan ke rumah utama.


"Jess," panggil Ibu. Wanita paruh baya itu merasa tidak enak pada calon menantunya.


"Kenapa tidak tidur di ruang tamu? Kau tidak boleh tidur belakang!" Omel Ibu. Ia menatap mata Jessica dalam.


"Jessi lebih nyaman di sana." Jessica tersenyum, ia pun menatap mata Ibu hangat.


"Baiklah, lain kali, Ibu tidak akan membiarkan calon menantu Ibu ini untuk tidur di belakang." Ibu menggandeng tangan Jessica, mengajak wanita itu masuk ke dalam rumah utama.


Ken dan Keisha sudah berada di ruang keluarga. Keduanya sibuk dengan Hp mereka masing-masing. Keisha menatap Jessica dan Ibu yang baru saja masuk dan duduk di hadapan mereka.


"Kau kemana saja? Aku dan Ibu mencarimu di kamar tamu," ucap Keisha.


"Aku di belakang, bukankah aku sudah bilang padamu, kalau aku akan tidur di belakang saja?" jawab Jessica.


"Sudah-sudah! Aldy dan Kamila mana?" Ibu berdiri, ia melangkahkan kakinya, keluar dari ruang keluarga untuk mencari Aldy dan Kamila.


Aldy berjalan dengan santai, ia menuruni tangga dengan tangan yang sibuk pada Hpnya.


"Ah, kau sudah turun? Mana adikmu?" tanya Ibu ketika sudah berada di hadapan Aldy.


"Gadis itu masih di kamarku, katanya di dalam kamar mandinya ada kecoa. Oleh sebab itu, ia menggedor dan mandi di kamarku," jelas Aldy. Ia memasukkan Hpnya lalu mencium pipi Ibu dan berlalu begitu saja.


"Astaga, anak dua ini! Kakaknya masih seperti ini, adiknya juga masih seperti itu." Ibu meneruskan langkahnya menuju kamar Aldy.


Aldy berjalan ke arah ruang tamu, ia duduk dan bersandar tepat di samping Jessica.


"Selamat pagi, Edelweiss-ku," ucapnya tidak tau malu. Aldy mulai menarik rambut Jessica yang selalu terikat rapi.


"Jangan mulai lagi, singkirkan tanganmu!" Jessica bergeser, ia memberi jarak yang cukup renggang antara dirinya dan Aldy.


Aldy yang melihat itu ikut bergeser, ia bahkan memepet tubuh Jessica.


"Geser....." Jessica mendorong tubuh Aldy kuat, membuat pria itu bergeser menjauhinya.


"Kalian berdua kenapa?" tanya Ken dan Keisha bersamaan. Keduanya menatap Aldy dan Jessica secara bergantian.


"Entahlah, Serigala ini sebentar mengamuk, sebentar manis. Membingungkan!" jawab Aldy sambil menatap Jessica.


Jessica tidak merespon apapun, ia kembali bergeser mendekati Aldy.


"Aku akan pergi, kau jalan-jalan saja dengan Ken, Keisha, Jack dan Kamila," bisik Jessica.


Aldy menatap wajah Jessica, "Kau mau kemana?" tanyanya dengan nada yang mulai meninggi. Ken dan Keisha langsung menoleh ke arah keduanya.


"Aku kan sudah bilang, beri aku waktu dua bulan saja. Aku akan menyelesaikan janji dan juga impianku. Setelah itu, aku akan kembali padamu, selamanya," jawab Jessica serius.


"Kau akan pergi kemana? Ke luar negeri? Aku tidak akan membiarkanmu menjauh dariku!"


"Hiks, dia kenapa, Ken? Apa kalian berdua sering menonton drama atau sejenisnya? Kenapa kalian dramatis sekali? Aku akan tetap di kota ini, tapi..." Jessica mengantung kalimatnya.


"Tapi apa?"


"Tapi, aku tidak akan ada waktu untuk menemui lagi," sambungnya dengan mata yang masih menatap mata Aldy.

__ADS_1


"Aku akan ikut denganmu hari ini! Aku mau tau apa sebenarnya impianmu itu!" Aldy mulai memasang wajah dan aura dinginnya.


"Hmmm, terserah saja. Asalkan kau puas dan bahagia," jawab Jessica. Ia menghubungi seseorang dan terlihat berbicara serius.


"Kau tau impiannya apa?" tanya Aldy pada Ken dan juga Keisha. Keduanya menggeleng, mereka benar-benar tidak tau impian Serigala Betina itu.


Semua berkumpul di meja makan untuk sarapan bersama. Kamila terlihat bahagia pagi itu, ia terus tersenyum. Kebahagiaannya melebihi kebahagiaan yang Aldy rasakan.


Semua makan dengan tenang, tidak ada yang bicara diantara mereka. Sarapan bersama itu pun berakhir, Ken dan Keisha pamit untuk melakukan aktivitas mereka, yaitu jalan-jalan bersama keluarga mereka.


Sementara, Aldy membuntuti Jessica. Ia bahkan tidak ikut untuk liburan bersama dengan keluarga besar Yoga Candra.


"Kau yakin mau ikut?" tanya Jessica, ia menghentikan langkahnya. Menatap lekat-lekat wajah Aldy.


Pria itu mengangguk, "Aku ingin tau, apa sebenarnya impianmu itu," jawab Aldy jujur.


"Hmmm, baiklah."


Keduanya keluar mengunakan mobil Aldy, itu pun setelah Aldy berdebat dan memaksa Jessica agar mengunakan mobilnya.


Aldy fokus pada jalanan di depannya. Sesekali ia melirik Jessica yang benar-benar sedang serius dengan Hp dan catatan di depannya.


"Jessi," panggil Aldy ketika mobil berhenti di lampu merah.


Jessica menoleh, memiringkan tubuhnya menghadap Aldy. "Kenapa?"


"Seberapa persen kau ingin mewujudkan impianmu itu?" tanya Aldy serius.


"Seberapa persen? baiklah. Keinginanku 100%. Peluangku untuk mewujudkannya 70%. Usaha yang sudah kulakukan 79%." Jessica meraih tangan Aldy sebelum lampu berubah menjadi hijau. Ia mendekatkan cincin yang tersemat di jarinya dengan cincin yang tersemat di jari Aldy.


"Peluangku akan bertambah jika kau melepaskanku, maksudku, jika kau tidak mengekangku. Aku akan kembali padamu, percayalah! Aku tidak akan jauh darimu," sambung Jessica, ia melepaskan tangan Aldy ketika melihat lampu lalu lintas sudah berubah warna.


Aldy tersenyum, entah mengapa hatinya menjadi tenang. Ia takut, takut jika Jessica menjauh darinya karena ingin mewujudkan mimpinya itu.


"Kau ada urusan apa di sini?" tanya Aldy sambil membukakan pintu mobil untuk Jessica.


"Kau ingin tau, kan. Ikutlah!" Jessica menarik tangan Aldy.


"Audi," panggil seorang wanita dengan pakaian yang begitu sederhana. Ia berjalan ke arah Jessisa dan Aldy.


"Audi? Siapa yang ia panggil?" bisik Aldy sebelum wanita itu mendekatinya dan Jessisa.


"Audi Jessica." Jessica tersenyum dengan tangan menunjuk dirinya sendiri.


Aldy sedikit bingung, selama ini ia tidak pernah mengetahui nama lengkap Jessisa. Atau mungkin, itu bukan nama lengkap?


Wanita itu tersenyum pada Jessica, "Ayo, kau sudah lama tidak ke sini lagi. Mereka sudah merindukanmu," ucapnya dengan raut wajah yang begitu bahagia.


Aldy semakin bingung, "Mereka siapa?" gumamnya, namun kakinya terus mengikuti langkah Jessisa dan wanita yang dipanggil Bibi Naomi oleh Jessisa tadi.


Ketiganya sampai pada sebuah bangunan yang masih dalam tahap pembangunan. Anak-anak kecil berlari ke arah Jessica dan Naomi. Mereka tidak ragu untuk memeluk Jessisa secara bergantian.


"Apakah dia paman kita?" tanya seorang anak laki-laki berumuran 6 tahun itu dengan tangan menunjukkan ke arah Aldy.


Jessica tersenyum, "Dia Kak Aldy," ucap Jessica memperkenalkan Aldy pada anak-anak di depannya. Mereka menatap Aldy dengan senyum dan mata yang berbinar terang.


Naomi mengajak Jessica untuk masuk ke sebuah ruangan. Aldy masih mengikuti langkah keduanya, ia menatap sekeliling yang begitu menyedihkan.


"Terimakasih, Audi. Dana yang kau kirim sudah masuk, sekali lagi, terimakasih." Naomi menatap Jessica, matanya mengalirkan air mata bahagia.


"Sudahlah, Bi. Ini sudah menjadi impianku, aku hanya ingin mereka hidup bahagia, aku tau bagaimana rasanya kehilangan kedua orangtua. Aku tau itu sakit, tapi, jauh lebih sakit jika melihat anak-anak itu yang mengalami." Jessica menyeka air matanya. Ia kembali tersenyum.


"Aku percaya pada Bibi, aku yakin Bibi bisa menjaga dan mendidik mereka dengan baik," sambungnya.

__ADS_1


Hati Aldy terasa perih, ia tidak menyangka kalau Jessica akan melakukan hal ini.


"Kami tidak akan melupakan semua jasamu selama ini. Tanpa bantuan darimu, mungkin kami sudah hilang dari muka bumi ini." Naomi kembali meneteskan air mata, mengenang kejadian beberapa tahun yang lalu.


Jessisa menggeser tubuhnya mendekati Naomi, ia menyeka air mata wanita itu.


"Susttt....Ini semua sudah menjadi takdir Tuhan. Berterimakasih-lah padaNya." Jessica menatap Naomi, ia tau bagaimana rasanya kehilangan semua anggota keluarganya.


Aldy hanya diam, pikirannya melayang. Wanita yang ia cintai ternyata memiliki hati yang begitu lembut dan perduli pada orang lain di sekitarnya.


"Ah, aku lupa. Apa dia Tuan Aldy?" tanya Naomi sambil berusaha tersenyum.


Aldy mengangguk. Ia pun membalas senyuman Naomi.


"Kau sangat beruntung, Audi." Lagi-lagi Naomi memanggil Jessica dengan panggilan itu.


"Semua akan indah pada waktunya. Percayalah! Tuhan Maha Kuasa atas makhluk-Nya. Dan percayalah! Takdir-Nya tidak akan mengecewakan kita." Jessica mengelus punggung Naomi lembut. Wanita itu terus tersenyum pada Jessisa dan Aldy.


Waktu terus berjalan, Jessica dan Aldy masuk ke dalam bangunan yang hampir sempurna itu.


"Audi Jessisa?" Tangan Aldy menggegam tangan Jessica yang menempel pada dinding bangunan.


"Audi Ayunda, dialah malaikat tanpa sayap yang sudah melahirkanku ke dunia ini." Jessisa memutar tubuhnya, ia menatap mata Aldy yang sudah berkaca-kaca.


"Apa ini mimpimu?" Aldy menatap bangunan itu.


Jessisa mengangguk, "Inilah salah satu alasan kenapa aku ingin menjadi Bodyguard adikmu."


"Gaji yang kau berikan bisa membantuku untuk menambah peluangku untuk mewujudkan mimpiku ini." Jessica melangkah keluar dan diikuti oleh langkah Aldy.


Keduanya duduk di ban karet berukuran besar. Mata Jessica terlihat sedang menerawang sesuatu.


"Apa kau tau? Kenapa Bibi Naomi memanggilku seperti itu?" Jessica menatap Aldy yang duduk di sebelahnya.


Aldy menggeleng. "Jika kau ingin menceritakan sesuatu, ceritakanlah. Setidaknya aku bisa mendengar beban pikiranmu." Aldy meraih tangan Jessica, menggegamnya erat.


"Sembilan tahun yang lalu, Ibu dan Ayah meninggalkanku untuk selamanya. Bibi Naomi, dulu dia teman akrab Ibuku. Keluarganya mengalami insiden yang sama seperti Ayah dan Ibuku. Bibi Naomi kehilangan semua kebahagiaannya. Waktu terus berjalan. Aku kembali bertemu dengannya, saat itu, ia sudah tidak punya apa-apa lagi. Bahkan tempat tinggal pun ia tidak punya." Jessica berhenti, ia menyeka air matanya.


"Aku menawarkannya untuk tinggal bersamaku di kontrakan, tapi ia menolakku karena suatu alasan. Aku menghargai alasan itu, aku hanya bisa membantunya dengan sisa uang di rekeningku." Kini tangan Aldy yang menyeka air mata itu. Jessica kembali menarik nafas panjang.


"Seperti yang kau lihat sekarang, tempat inilah yang menampung Bibi Naomi. Ia bekerja untuk memenuhi kebutuhannya dan anak-anak tadi setiap harinya. Mereka sudah menganggap Bibi Naomi sebagai Ibu mereka sendiri." Jessica menatap mata Aldy. "Bibi Naomi bilang, aku sama seperti Ibuku, oleh sebab itu, ia lebih senang jika memanggilku dengan panggilan Audi."


"Hanya ini yang bisa kulakukan untuk membantu mereka. Jika aku punya lebih, aku selalu mengirimnya untuk Bibi Naomi dan anak-anak tadi," sambung Jessica dengan air mata yang ingin tumpah lagi.


Aldy menarik Jessica, memeluk wanita itu erat-erat. "Apa yang kau lakukan ini sangat luar biasa, aku bangga padamu." Aldy mengelus kepala Jessica lembut.


Ia melepas pelukannya lalu menatap mata Jessica, "Kau memang berhati baik, di saat kau sendiri kekurangan, kau masih sempat membantu orang lain. Aku sungguh beruntung mengenal dan mencintaimu." Aldy menyeka air mata Jessica yang kembali menetes.


"Apa aku boleh membantu mereka?" tanya Aldy. Jessica menegakkan wajahnya, tangannya menyentuh dada Aldy.


"Lakukan dari sini, jangan lakukan karena aku. Lakukan semua hal dari hatimu, tulus dari hatimu," ucap Jessica dengan tangan yang masih menempel di dada Aldy.


"Aku juga tau bagaimana rasanya kehilangan, aku pernah kehilangan." Aldy menatap ke arah lain, menahan air matanya karena teringat dengan Almarhum Ayahnya.


"Maaf, a-aku tidak bermaksud." Jessica mengelus punggung tangan Aldy lembut.


"Tidak apa-apa. Aku sungguh ingin membantu mereka." Kini bibir Aldy mengukir sebuah senyum tipis yang begitu indah.


Jessica tersenyum, ia percaya. Di balik sifat dingin Aldy, pasti ada hati yang penuh belas kasih di dalamnya.


Keduanya pergi dari tempat itu setelah Aldy memberikan beberapa lempar uang yang ada di dompetnya. Ia juga sudah menghubungi Ken, agar pria itu mengirim sejumlah uang pada Naomi nantinya.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2