
Perguruan bela diri, tempat ini dikejutan oleh kedatangan Aldy dan Jessica. Semua junior juara berhamburan mendekati Jessica. Mereka menatap Jessica sendu, bertanya-tanya kemana saja Jessica hilang selama ini.
Zia, gadis itulah yang paling bahagia dan paling dikejutkan oleh kedatangan Jessica. Gadis itu minta izin pada Aldy untuk mengajak Jessica berbicara berdua saja. Aldy pun tidak dapat menolak permintaan sederhana Zia. Ia mengizinkan Zia untuk berbicara dengan Jessica. Sedangkan dirinya sibuk berbicara dengan Zen, Arfan dan Bagas. Aldy menceritakan semuanya pada ketiga remaja itu. Dan mereka pun sangat mempercayai ucapan Aldy. Bagi mereka, Jessica dan Aldy adalah pasangan yang sangat cocok, cocok dalam segi apapun. Terutama kecantikan dan juga ketampanan keduanya.
"Duduklah, Kak." Zia persilahkan Jessica duduk di sebuah kursi kayu, lalu ia duduk di samping Jessica.
"Zii, maafkan Kak Jess. Kak Jess tidak mendampingi kalian di saat-saat kalian butuh dukungan Kak Jess." Jessica menatap mata Zia. Gadis itu menangis, menangisi nasibnya yang tertinggal tingkat tahun ini.
"Zii, Maaf."
Jessica mendekap Zia erat. Ia tahu, gadis itu pasti akan lemah dan cengeng saat bersamanya.
"Kak Jess kemana saja? Kami sangat merindukan Kak Jess," ucap Zia sambil menyeka air matanya.
"Kak Jess......" Jessica menceritakan semua kejadian yang ia alami pada Zia. Mulai dari kecelakaan sampai dengan hilangnya ingatannya.
"Lalu, Kak Jess sekarang? Maksudku, Kak Jess sudah mengingatkan semuanya?" tanya Zia saat Jessica mengakhiri ceritanya.
"Tidak semuanya, aku hanya mengingat masa-masa indah bersama kalian. Aku bahkan masih lupa, dengan orang-orang di sekitarku sekarang. Contohnya, Aldy dan Kamila. Aku sama sekali tidak mengingat apapun tentang mereka. Aku tidak ingat, kalau aku pernah kenal dan akrab dengan mereka sebelumnya," Jelas Jessica.
Zia menatap Jessica iba. Ia tidak menyangka nasib Jessica akan seperti ini. Kecelakaan dan Amnesia? Zia benar-benar tidak menyangka hal itu. Ia berpikir, Jessica pergi untuk mengurusi pernikahannya dengan Aldy, bukannya malah seperti ini.
"Zii, Kak Jess tunggu kedatanganmu dan yang lainnya. Kak Jess sangat mengharapkan kalian ada di saat-saat berharga dalam hidup Kak Jess." Jessica menyodorkan sebuah undangan pada Zia. Undangan pernikahannya dengan Aldy.
"Kak Jess?" Zia memeluk Jessica bahagia. Butiran bening pun kembali mengalir di pipi gadis itu.
Zii do'akan yang terbaik untuk Kak Jess dan Tuan Aldy. Semoga Kak Jess selalu dalam lindungan dan rahmat-Nya. Semoga Kak Jess dan Tuan Aldy bahagia, selamanya. (Zia)
Zia melepaskan dirinya dari Jessica. Ia menatap ke arah Aldy yang sedang mengamatinya dan juga Jessica.
"Terimakasih, Kak Jess. Kami pasti akan datang." Zia mengajak Jessica untuk kembali ke perguruan. Keduanya berjalan dengan langkah yang sama.
Sesampai di sana. Jessica kembali dipertemukan dengan Hendra. Pria itu menatap Jessica penuh makna. Rindu, itu yang ia rasakan saat ini.
Jessica pun membalas tatapan Hendra dengan tatapan yang sedikit redup. Ia ingat siapa Hendra sekarang. Namun, perasaannya pada pria itu tetap sama. Dan tidak akan berubah sampai kapanpun. Jessica menghargai perasaan Hendra. Tapi apa boleh buat, ia sama sekali tidak memiliki rasa pada pria 26 tahun itu.
__ADS_1
Hanya tatapan saja, tanpa ada satu patah katapun yang keluar dari mulut keduanya. Jessica berjalan mendekati Aldy lalu mengajak pria itu untuk meninggalkan perguruan.
Semoga kau bahagia Jess. Maaf, maafkan aku yang telah membuatmu tidak nyaman karena cinta yang kubawa untukmu. (Hendra)
☆☆☆☆☆☆☆☆
Setelah berkunjung ke perguruan. Aldy pun mengantar Jessica untuk berkunjung ke kediaman Andre, sepupunya. Ingatan Jessica mulai membaik setelah ia bermimpi tentang kehidupannya beberapa bulan sebelum ia menjadi Bodyguard Kamila.
Jessica juga memimpikan tentang kecelakaannya. Mimpi itu terasa begitu nyata bagi Jessica. Itulah yang menyebabkan dirinya menangis tadi malam.
"Rumah ini, apa Andre sudah menjualnya?" ucap Jessica saat mobil Aldy berhenti tepat di depan gerbang rumah itu.
Rumah Andre terlihat begitu berbeda. Dengan desain yang lebih modern dan juga lebih mewah.
Jessica dan Aldy turun. Keduanya berjalan mendekati gerbang dan langsung di sambut oleh seorang satpam.
"Maaf, pak. Saya boleh tanya, siapa pemilik rumah ini sekarang?" tanya Aldy.
"Pemiliknya Boss Roy dan istrinya, Nona Jelita. Mereka membeli rumah ini dua bulan yang lalu," jawab sang satpam lalu tersenyum pada Aldy dan Jessica.
"Owh, maksudnya Tuan Andre? Dia sudah lama tidak pulang ke sini. Yang saya tau, dia menetap di markasnya." Satpam itu menatap Jessica. Jelas sekali dalam ingatannya, kalau wanita yang berdiri di depannya ini adalah wanita yang sama dengan wanita yang pernah diusir dari rumah ini oleh bibinya sendiri, yaitu Mona.
Tanpa pikir panjang. Jessica langsung mengajak Aldy menuju markas Andre yang dia sendiri tidak mengingat letaknya.
"Jess, kau yang benar saja. Kita sudah memutari tempat ini sebanyak dua kali!" Aldy menepi. Ia menatap wajah Jessica yang sedang tersenyum malu padanya.
"Hehehe, maaf. Sebenarnya, aku tidak ingat di mana letak markas Andre." Jessica memalingkan wajahnya, matanya terasa terbakar karena mendapat tatapan tajam dari Aldy.
"Jess....Jess!" Aldy mencari kotak Jack. Ia menghubungi pria itu, meminta tolong pada Jack untuk menghantarkan mereka menuju markas Andre.
Tidak butuh waktu lama. Jack dan kawan-kawannya mendekati mobil Aldy. Ia memberi isyarat agar Aldy mengikutinya dan juga yang lainnya.
15 menit lebih perjalanan. Mereka sampai di sebuah bangunan yang cukup sederhana. Jack mematikan motornya lalu berdiri di depan gerbang markas. Jack mengeluarkan sebuah kunci, lalu membuka gembok gerbang itu dengan kunci di tangannya.
Setelah gerbang terbuka. Jack pun berteriak memanggil Andre dan kawan-kawannya. Sayangnya, markas itu kosong. Tidak ada satupun orang di dalamnya.
__ADS_1
Karena tidak ingin lama. Jack memilih setia untuk menghubungi Andre, menanyakan keberadaannya.
"Hallo, Jack. Ada apa?" tanya Andre bingung karena Jack tiba-tiba menghubunginya.
"Aku di markasmu, kau di mana?" Jack melirik Jessica dan Aldy sekilas. Lalu beralih menatap kawan-kawannya.
"Aku di area balap. Aku ada...."
"Cepat pulang! Seseorang mencarimu!" potong Jack lalu memutuskan sambungan telepon.
Andre hanya menghembuskan nafas pelan. Ia pun meminta beberapa temannya untuk menemaninya, takutnya Jack marah dan tiba-tiba menyerang dirinya nanti.
Cukup lama. Aldy pun sudah tidak tenang, ia meminta Jessica untuk pulang saja. Dan kembali setelah Andre sudah pulang nantinya. Jessica terus menolak, hatinya belum tenang jika belum melakukan hal yang ia inginkan.
5 menit kemudian. Sampailah Andre dan kawan-kawannya. Begitu terkejutnya mereka saat melihat Aldy dan Jessica ada di dalam markas mereka.
Matilah aku! Kak Jess pasti akan menanyakan soal rumah yang ku jual. (Andre)
"Darimana saja?" Jessica menepuk punggung Andre pelan. Namun, tepukan pelan Jessica, sama saja dengan tinjuan keras tangan laki-laki pada umumnya.
"A-aku, anu, itu, balap." Andre gugup. Entah apa yang menyebabkan pria itu seperti ini.
"Hahahaha, jangan segugup itu. Aku datang ke sini untuk bicara sesuatu yang penting denganmu."
Jessica menatap Aldy, lalu membisikkan sesuatu pada pria itu. Aldy terlihat tidak setuju, ia membalas tatapan Jessica dengan tatapan tajam mematikan miliknya.
"Percaya padaku, aku akan kembali setelah 10 menit," ucap Jessica meyakinkan Aldy. Aldy pun mengalah. Ia membiarkan Andre dan Jessica menjauh darinya. Keduanya duduk di bawah pohon beralaskan tikar.
Jessica dan Andre berbicara begitu serius. Membuat Aldy dan Jack saling menatap. Keduanya mulai dihantui rasa penasaran yang begitu dalam.
Seketika. Wajah Andre terlihat berubah. Ia pun menunduk malu. Jessica yang melihat itu pasti tidak enak pada sepupunya. Ia pun memegang bahu Andre, mengelusnya lembut.
Jess! Sebenarnya apa yang kau bicarakan dengannya?! Kenapa kau se-sayang dan se-perhatian itu padanya?! (Aldy)
Setelah selesai. Jessica langsung meninggalkan Andre yang masih duduk di bawah pohon itu sambil menunduk lemas.
__ADS_1
Aku harap kau lebih dewasa lagi, Ndre. Aku hanya ingin kau tidak sebodoh ini lagi. Cukup, cukup aku yang merasakan, bagaimana rasanya hidup tanpa keluarga. Aku hanya ingin nasibmu lebih baik dari nasibku bertahun-tahun yang lalu (Jessica)