Mencintai Seorang Bodyguard

Mencintai Seorang Bodyguard
Serigala Betina


__ADS_3

Pencarian Jack mulai terhenti, polisi sudah fokus pada kasus baru, yaitu pembunuhan Morgan dan ditemukan potongan tubuh manusia di atas meja itu.


Mungkin ini terdengar tidak adil pada Jack, namun ini semua atas permintaan Papa dan Mama Jack sendiri. Keduanya memilih menghentikan pencarian dengan alasan untuk mengelabui si Dalang.


Pada dasarnya, kasus pembunuhan Morgan ada sangkut pautnya dengan kasus hilangnya Jack, begitu pula dengan potongan tubuh itu. Kedua kasus ini akan mengantar polisi pada kasus utama, yaitu hilangnya Jack.


Sampai saat ini, polisi belum menemukan Dalang dari tiga kasus ini. Semuanya sudah ia atur sangat rapi dan teliti, mulai dari sidik jari yang tidak terdeteksi sama sekali, sampai tempat khusus yang ia pilih sebagai tempat perkumpulan utama.


Diduga, pelaku utama berjumlah 3/4 orang. Sedangkan anak buahnya diperkirakan mencapai 30 orang pria dewasa.


___________


Jessica keluar dari kamarnya dengan membawa sebuah tas berwarna hitam dengan garis berwarna putih dan abu. Hari ini, sesuai janjinya pada anak-anak, ia akan datang lagi untuk memperbaiki hasil didikan Juan.


Tapi kali ini, Kamila ikut dengannya. Ini Jessica lakukan agar Kamila sedikit terhibur dan tersenyum seperti sebelumnya.


"Bagaimana, sudah siap?" tanya Jessica pada Kamila yang sedang memperbaiki tali sepatunya.


"Hehehe, Kak Jess cantik sekali." Kamila terus memperhatikan Jessica yang terlihat berpenampilan seperti biasa.


"Sudahlah, setiap hari Kak Jess memakai baju dan celana seperti ini. Ini sudah biasa," ucap Jessica.


"Jadi gimana kak, kita pergi pakai apa?" tanya Kamila.


"Tidak mungkin membawamu naik taksi, jelas saja kita akan memakai mobil, cantik." Jessica mengedipkan matanya pada Kamila, membuat gadis itu tersenyum malu.


"Pakai ini." Aldy menyodorkan kunci mobilnya.


"Ah...mobil Kakak sangat nyaman, kita pakai mobil Kak Aldy aja. Bagaimana Kak Jess?" tanya Kamila sambil meraih kunci mobil ditangan Aldy.


"Tidak buruk, ayo," ajak Jessica.


"Hmm...kau tidak berterimakasih pada ku?" tanya Aldy. Jessica mengerutkan dahinya tak mengerti.


"Terimakasih untuk apa, Tuan?" tanya Jessica.


"Berterimakasihlah, karena aku sudah men..." ucapan Aldy langsung terpotong oleh Jessica.


"Hehehe, terimakasih Tuan, sudah meminjamkan mobil Anda." Jessica menyeret Kamila menuju garansi, sebelum Aldy mengatakan hal-hal aneh didepan Kamila.


Aldy hanya tersenyum tipis melihat mobilnya yang sudah keluar dari halaman rumah dan bahkan sudah keluar dari gerbang utama.


Setengah jam perjalanan. Kini Jessica dan Kamila sudah berada didepan perguruan. Tempat itu terlihat ramai seperti biasa. Banyak murid pemula yang berdatangan untuk latihan tambahan bersama senior utama, seperti Jessica dan yang lainnya.


"Kak Jess, ini nyaman sekali. Udara disini sejuk dan pemandangannya sangat memanjakan mata," ucap Kamila. Gadis itu terus memperhatikan sekitarnya, sungguh tempat yang nyaman sekali.


"Selamat datang Guru," sapa Bagas dan Arfan. Keduanya tersenyum lebar menyambut kedatangan Jessica dan Kamila.


"Ayo masuk, Kak Jess," ajak Zia yang tiba-tiba muncul dari belakang Jessica.


"Ah...kau mengagetkan Kak Jess saja." Jessica merangkul Zia dan berjalan menunju ruang pelatih. Kamila yang berjalan disamping kiri Jessica menjadi sorotan beberapa pelatih muda lainnya.


"Apa, jangan menatapnya seperti itu." Jessica menatap tajam seorang guru pembimbing yang masih terlihat muda itu.

__ADS_1


"Hehehe, maaf Senior."


"Kakak tunggu disini sama aku, Kak Jessica ingin menemui Guru dulu didalam," ucap Zia sopan pada Kamila.


"Ah...I-iya." Kamila terlihat sedikit kaku saat berbicara dengan Zia.


"Nama kakak siapa, namaku Zia. Kakak bisa panggil aku Zi," ucapannya memperkenalkan diri pada Kamila.


"Aku Kamila, terserah Zia mau panggil apa," jawab Kamila dengan senyum manis dibibirnya.


"Kakak cantik dan manis sekali," ucap Zia keceplosan. Gadis itu langsung menutup mulutnya, menundukkan kepala dalam.


"Hahahaha, kau juga cantik dan manis, Zia." Kamila mengangkat kepala Zia, lalu tersenyum manis padanya.


"Zi..." panggil Juan dari tengah lapangan.


Zia dan Kamila menoleh bersamaan, keduanya terlihat tidak terlalu suka jika dipanggil oleh Juan.


Juan berlari menghampiri Zia dan wanita disampingnya itu. "Seperti tidak asing," gumam Juan yang melihat Kamila dari kejauhan.


"Ah...kau, ku kira siapa," ucap Juan pada Kamila yang masih satu garis keturunan dengannya.


"Heheheh, Juan." Kamila hanya nyengir tak karuan.


"Heh, kau datang kesini untuk membantu latihan atau untuk menggoda wanita," teriak Jessica pada Juan. Juan langsung menciut, nyalinya hilang ketika melihat Jessica yang sudah lengkap dengan baju putih dan sabuk hitamnya.


"Kabur." Juan berlari menjauh dari ketiga wanita itu. Kamila dan Zia terkekeh melihat tingkah konyol Juan.


Jessica mengajak Zia dan Kamila menuju ruang latihan untuk persiapan lomba. Terlihat semua sudah berbaris rapi menunggu kedatangan Jessica, Zia berlari, bergabung dibarisan.


Semua memberi salam hormat pada Jessica dan Juan yang berada didepan mereka. Latihan dimulai, dari materi yang paling dasar sampai materi yang terumit.


Semua yang Jessica lihat hari ini sangat memuaskan, sudah jauh lebih baik dari minggu lalu. Yang lebih mengejutkan lagi, semangat mereka yang berapi-api, membuat Jessica tersenyum bangga pada mereka hari ini.


"Hmmm, jika seperti ini. Kak Jess yakin, tahun ini kita pasti menang lagi," ucap Jessica bangga.


Kamila yang menjadi penonton hanya bisa tersenyum kagum pada anak-anak muda disampingnya ini. "Mereka semua hebat."


"Bagas."


"Zia."


"Arfan."


"Zen." panggil Jessica pada ke-empat juara itu.


"Bisa beri sedikit pertunjukan untuk tamu kita," sambungnya sambil melirik ke arah Kamila.


"Tentu saja Guru," jawab mereka bersamaan. Murid-murid yang lain membantu untuk memasang matras, sebagai alas.


Ke-empat juara tadi sudah berada ditengah-tengah kerumunan, Kamila dan Jessica duduk di posisi paling depan.


Mereka membungkuk memberi salam hormat pada Jessica, lalu mengambil posisi masing-masing. Pertunjukan ini menampilkan satu orang wanita Vs tiga pria.

__ADS_1


Bagas, Arfan dan Zen, menyerang Zia secara bergantian. Dengan mudah Zia membanting tubuh Bagas yang tinggi dan tegap itu.


"Auuu," teriak Kamila ketika melihat tubuh Bagas menghantam keras Matras. Jessica hanya tersenyum menikmati pertunjukan didepannya.


"Auuu." Kamila kembali berteriak saat tubuh Zia yang terbanting keras oleh Zen. Bahkan Zen, menendang bagian perut Zia, membuat Kamila menutup mata tak berani melihatnya.


Zia bangkit lalu membalas menghantam Zen dan membanting Zen keras. Semua bertepuk tangan dan teriak tak karuan.


Pertunjukan terus berlanjut, ditutup dengan kalahnya ketiga pria itu ditangan Zia. Tentu saja pertunjukan ini bukan adegan langsung, semuanya adalah materi pembelajaran bela diri, sudah diluar kepala ke-empat juara ini.


"Itu keren sekali Zi," ucap Kamila pada Zia yang sudah duduk disampingnya dengan baju yang sudah berkeringat.


"Hehehe, lebih keren jika melihat pertunjukan para senior utama," jawab Zia sambil melirik ke arah Jessica.


"Aku sering melihat seperti ini, tapi di YouTube dan ini untuk pertama kalinya aku melihat secara langsung," ucap Kamila, gadis itu menatap Zia kagum dengan kemahirannya dalam ilmu bela diri.


"Boleh bergabung?" tanya Ken yang tiba-tiba muncul, Zia dan yang lainnya spontan bangun memberi salam hormat pada Senior utamanya.


"Apa yang kau lakukan disisi?" tanya Jessica pura-pura bodoh.


"Hahaha, aku berkunjung menemui Guru dan ingin menyapa adik-adik juniorku. Kenapa, kau tidak suka?" Ken menatap Jessica tajam.


"Oh."


"Hai, senang bertemu lagi denganmu," sapa Jessica pada Keisha yang berdiri di belakang Ken.


"Hehehehe, senang juga bertemu denganmu, Jessica dan Kamila."


"Se-senior, bolehkah memberi pertunjukan kecil," ucap Zia ragu. Ken tersenyum tipis.


"Sayangnya aku tidak membawa baju latihan, manis. Lain waktu saja ya?" jawab Ken.


"Bisa dengan baju biasa, kan?" sahut Kamila dari balik pundak Jessica.


"Hahaha, bisa sih. Tapi tidak bebas menghantam musuh," ucap Ken sambil menatap Jessica tajam.


"Huh, kau memang pecundang. Tidak pernah menerima tantangan dariku," ejek Jessica.


Keisha dan Kamila tertawa kecil melihat perdebatan sengit kedua senior ini.


"Ah...bagaimana jika Kak Juan saja," sahut Zia. Gadis itu sangat merindukan pertunjukan dari para senior utama, hampir setahun ini senior utama mereka hilang, tak pernah memberi pertunjukan lagi.


"A-aku, aku tidak mau, bisa-bisa Serigala Betina ini menghabisiku. Aku tidak mau, aku pulang saja," jawab Juan.


Semua orang yang ada diruangan itu tertawa, menonton tingkah lucu para senior saja membuat mereka bahagia, apalagi sampai mereka menonton pertunjukan dari senior hebat seperti Jessica Si Serigala Betina kebanggaan mereka.


Bersambung....


________


Hai Semua, Author mau curhat nih, bolehkan?😂


Seharusnya part hari ini akan membahas dimana Bang Jack sebenarnya, Author sudah atur alur ceritanya. Eh tadi malam, ketemu Bang Jack dimimpi😨 jadi, author nggak jadi buat part tentang Bang Jack.

__ADS_1


Mimpi Author sama persis dengan alur yang Author udah siapin buat bang Jack. Eh malah ketemu dimimpi😁😨


Jadi, semoga suka part ini. Dan masalah Bang Jack besok-besok aja ya😅🙏


__ADS_2