
Hari ini, Kamila akan menjemput Nathalia di sekolahnya. Gadis itu terus merengek ingin bertemu dengan Kamila. Akhirnya, Kamila pun berniat menjemputnya dan mengajaknya untuk langsung pulang ke kediaman keluarga Pranata.
Kamila menunggu di parkiran sekolah. Ia memperhatikan setiap orang yang berlalu lalang di depannya.
Tidak lama, Nathalia pun berlari menghampiri mobil Kamila. Ia mengetok-ngetok kaca mobil, membuat Kamila menoleh dan membukakan pintu untuknya.
"Sudah lama, Kak?" tanya Nathalia sambil melempar tasnya ke kursi belakang.
"Tidak, Kak Ila baru saja sampai." Kamila mulai menyalakan mobilnya.
Ia melirik kaca spion. Memastikan tidak ada kendaraan lain yang lewat di belakangnya.
Namun pandangan Kamila tertuju pada seseorang yang sangat ia kenal. Kamila membuka jendela mobilnya, lalu menoleh ke arah orang itu. Hatinya seketika hancur berkeping-keping saat seorang gadis manis mendekati orang yang ia sayangi dan cintai itu. Kamila bahkan meneteskan air matanya saat Pria itu tersenyum dan memberikan helm pada si gadis manis.
"Kak Ila?" Nathalia memegang pundak Kamila.
Kamila tersadar, ia segera menyeka air matanya lalu kembali menyalakan mobil.
"Are you oke?" tanya Nathalia sambil menatap wajah Kamila yang tiba-tiba murung.
"I'm fine," jawab Kamila. Gadis itu bahkan bisa tersenyum di saat-saat terrapuhnya.
Jadi itu alasanmu, Jack. Kau mengabaikan panggilan dariku. Jadi begini Jack! Aku sungguh kecewa padamu! Aku benci kau, Jack! Sangat Benci! (Kamila)
Kamila berhenti di pinggir jalan. Ia menelpon pengawal yang selalu menjaganya. Tidak butuh waktu lama, pria berbadan tegap dan tinggi itu muncul di hadapan Kamila dan Nathalia.
"Maaf, Nona. Apa Anda baik-baik saja?" tanya sang pengawal khawatir.
"Gantikan aku, aku tidak bisa fokus," ucap Kamila sambil membuka pintu mobil. Ia dan Nathalia pindah ke kursi belakang, membiarkan si Kakak pengawal yang menjadi pengemudinya.
"Apa Nona sakit?" tanyanya sambil menyalakan mobil.
"Tidak, aku hanya lelah." Kamila menyandarkan kepalanya. Rasanya begitu sakit ketika bayangan Jack dan gadis itu terus muncul di pikiran Kamila.
Apa dia adiknya? Tapi jika, iya? Dia tidak mungkin mengabaikan panggilanku. Dia bisa mengatakan alasannya, aku pasti akan mengerti. Kenapa begini Jack?!
Kamila mulai memejamkan matanya. Ia bahkan sudah tidak sadar lagi akan kehadiran Nathalia di dekatnya sekarang.
Sedangkan Nathalia. Gadis itu terus menatap wajah Kamila. Ia bingung, "Sebenarnya apa yang terjadi pada Kak Ila?"
Kamila mulai membuka matanya ketika mobil itu berhenti. Ia mengira mereka sudah sampai di rumah utamanya. Namun salah, mobil itu berhenti karena lampu lalu lintas sedang berwarna merah di depan sana.
Entah sial atau apa namanya. Kamila menoleh ke arah jendela, berharap ia akan mendapatkan ketenangan di sana. Bukannya ketenangan yang ia dapat, matanya malah menatap ke arah dua pengemudi motor yang sangat romantis. Si pria tersenyum manis, sedangkan si gadis menyandarkan dagunya di bahu si pria.
Ya, Tuhan. Kenapa aku melihatnya!
Rasa sakit, kesal, marah, dan cemburu bercampur menjadi satu di hati Kamila.
Kamila mengalihkan pandangannya, ia meraih tas Nathalia lalu memeluknya erat.
"Kakak." Nathalia merangkul bahu Kamila lembut.
"Kak Ila kenapa?" tanyanya khawatir.
Sebenarnya apa yang terjadi? Kak Ila kenapa? (Nathalia)
Kau kenapa Nona? Siapa yang berani membuatmu menangis seperti ini? (Pengawal)
Kamila tidak menjawab apapun. Mobil mulai melaju saat lampu merah sudah berubah warna.
__ADS_1
Suasana di dalam mobil mulai kacau saat isak tangis Kamila terdengar oleh Nathalia dan si Kakak Pengawal.
Keduanya berpikiran yang sama. Apa yang terjadi?!
Tidak lama, mobil putih polos itupun terparkir di halaman utama. Kamila keluar, disusul oleh langkah Nathalia di belakangnya.
Sedangkan si pengawal. Ia khawatir dan mulai melaporkan hal itu pada Ken.
Ken yang mendengar laporan itu langsung curiga pada Jack. Tidak ada orang lain yang akan melukai Kamila kecuali Jack, orang yang sangat disayangi dan cintai oleh gadis itu.
Sementara Kamila. Gadis itu berhasil mencuri perhatian semua orang yang berada di rumah utama. Ia masuk bersama Nathalia. Awalnya wajahnya baik-baik saja, namun seketika berubah saat ia bertemu dengan Jessica.
Kamila berlari lalu memeluk Jessica erat. Jessica membalas pelukan Kamila dengan tangan kanan mengelus kepala gadis itu lembut.
"Apa yang terjadi?" tanya Jessica khawatir.
Ia menatap Nathalia. Wajah itu sangat asing di mata dan ingatan Jessica.
"Ada apa?" tanya Ibu yang sudah berdiri di belakang Kamila dan Jessica. Ia menatap wajah murung Kamila dengan begitu khawatir.
"Hehehe, tidak ada, Bu. Aku sedang akting saja," jawab Kamila berbohong.
Ia menarik lengan Nathalia, mengajak gadis itu untuk masuk ke dalam kamarnya. Sedangkan Ibu dan Jessica saling menatap tak mengerti.
☆☆☆☆☆☆☆☆
Malamnya. Nathalia dan Kamila berjalan menuju ruang keluarga. Kamila bahkan sudah melupakan kejadian tadi siang. Ia sudah memutuskan segala bentuk sambungan dengan Jack.
Kamila melakukan hal itu setelah Jack tidak mengangkat ataupun membalas panggilan dan pesan-pesan darinya.
Kamila memblokir nomor Jack. Ia juga memblokir Jack di instagram. Intinya, ia memutuskan setiap sambungan yang akan menghubungkannya dengan Jack.
Seperti biasa. Kedua gadis itu menghabiskan waktu mereka dengan drama korea kesayangan keduanya. Nathalia memasukkan keripiknya ke dalam mulut dengan mata yang tetap fokus pada layar laptop Kamila.
Keduanya meraih tisu bersamaan. Menutup hidung mereka yang sudah mengeluarkan cairan berwarna bening itu.
"Jahat sekali! Dia dengan enak dan entengnya selingkuh seperti itu! Dasar laki-laki! Tidak cukuplah kalian dengan satu wanita saja!" teriak Nathalia yang terbawa suasana.
Keduanya terus memaki si pemain laki-laki yang berselingkuh secara terang-terangan di depan kekasihnya.
"Andai aku jadi wanita itu! Aku pasti sudah mencekik, memukul dan memotong tubuh pria bodoh itu!" Kamila menyedot jus mangganya sampai tandas, lalu meletakkan gelasnya kasar.
"Ila...."
"Tata..." teriak Ibu dari ruang makan.
Ibu dan Jessica sudah duduk di meja makan. Keduanya sedang menunggu dua gadis yang masih asik dengan drama mereka.
"Kamila Pranata Yoga!"
"Nathalia Marleen Candra!" Ibu mulai bangun dari duduknya. Ia melangkah dengan begitu cepat menuju ruang keluarga.
Ibu menarik kuping Kamila dan Nathalia secara pergantian. Keduanya berteriak dan pura-pura meringis kesakitan.
"Ampun, Bu." Kamila memegang kupingnya. Ia menatap Nathalia lalu mematikan laptopnya.
Keduanya bangun dan mengikuti langkah Ibu menuju ruang makan.
"Selamat malam, Kak Audi," sapa Kamila.
__ADS_1
Nathalia merenggut dahinya. "Kok Kak Audi?" bisik Nathalia pada Kamila.
"Ceritanya panjang, sudahlah, nanti saja." Kamila duduk di kursi Aldy. Karena Aldy tidak ada, ia berpikir bisa duduk di manapun ia mau.
"Kak Aldy kapan pulangnya, Bu?" tanya Kamila sambil menyendok lauk di hadapannya.
"Mungkin hari Rabu atau Kamis besok," jawab Ibu sambil meletakkan sayur di piring Jessica.
"Makan yang banyak." Ibu melakukan hal yang sama pada piring Kamila dan Nathalia.
Nathalia tersenyum. Ia berdoa lalu mulai menikmati makanan di hadapannya.
Semua makan dengan tenang. Tidak ada yang bicara satu pun di antara mereka.
Makan malam selesai. Semua kembali berkumpul di ruang keluarga. Kamila dan Nathalia kembali fokus pada drama mereka. Sedangkan Ibu dan Jessica mulai menyalakan TV, berharap ada tayangan yang akan menghibur mereka.
Ibu terus mengganti setiap chanel-nya. Wanita paruh baya itu memang kurang tertarik pada televisi. Ia menyalakan karena ingin menghibur Jessica. Nyatanya Jessica juga sama. Wanita sama sekali tidak tertarik dengan semua film yang ada di setiap chanel-nya.
"Jika begini, Ibu masuk ke kamar saja. Bagaimana denganmu, Audi?" tanya Ibu pada Jessica yang sedang melamun.
Jessica belum sadar dari lamunannya sampai tangan Ibu mulai menempel di bahunya.
"Ah, ada apa, Bu?" tanya Jessica.
"Kau kenapa?" Ibu balik bertanya.
"Aku lupa meminum obatku. Oleh sebab itu, kepalaku mulai terasa pusing dan berat."
Mendengar itu, Kamila langsung menyerahkan laptopnya pada Nathalia. Ia berlari menuju kamar Jessica, mencari di mana letak obat yang biasa Jessica minum.
Setelah menemukan obat. Kamila kini berteriak meminta seorang pelayan untuk membawakan segelas air untuk Jessica.
Sedangkan Jessica. Wanita itu terbengong dengan tingkah laku Kamila.
Tadi siang menangis. Dan sekarang sudah kembali heboh dan menggemaskan. (Jessica)
Kamila memberikan sebutir obat dan segelas air pada Jessica.
"Minum, Kak. Jika tidak. Maka habislah riwayat hidupku," ucap Kamila yang memang menerima amanah untuk mengingatkan dan memastikan Jessica sudah meminum obatnya atau belum.
Jessica tersenyum tipis. Ia meraih obat itu, menelannya lalu meneguk segelas air yang ada di tangannya.
"Terimakasih, Kamila," ucap Jessica.
Ibu dan Nathalia hanya tersenyum menyaksikan kedekatan keduanya.
Semua kembali ke kamar masing-masing saat jam sudah menunjukkan pukul setengah sepuluh.
Para pelayan juga sudah banyak yang kembali dan istirahat di rumah belakang. Hanya tersisa beberapa orang di dapur dan di ruang makan. Mereka masih menyapu dan mengepel di sana.
"Selamat malam, Nona," ucap seorang pelayan yang hendak membersihkan ruang keluarga.
"Selamat malam juga, Mbak. Ini sudah malam Mbak, beres-beresnya dilanjutin besok saja," jawab Jessica.
"Tidak bisa, Nona. Besok akhir pekan dan saya juga mengambil cuti besok. Jadi saya harus menyelesaikan pekerjaan saya sekarang juga," sanggah si pelayan sambil tersenyum tipis.
"Begitu, ya, Mbak. Baiklah, jangan lupa istirahat, ya, Mbak." Jessica tersenyum lalu membuka pintu kamarnya dan menghilang begitu saja.
Kau benar-benar beruntung, Jess. Dari awal kedatanganmu, kau disambut begitu hangat oleh Nona Kamila. Dan sampai akhirnya, kau berhasil mengisi hati kosong Tuan Muda. Belum lagi kau berhasil mendapatkan kasih sayang dari Nyonya Besar.... Takdir Hidupmu sangat rumit namun juga sangat indah. Semoga kebahagiaan selalu berpihak padamu, selamanya. (Pelayan)
__ADS_1