Mencintai Seorang Bodyguard

Mencintai Seorang Bodyguard
Tertular Jessica


__ADS_3

Kamila duduk sambil menumpu kepalanya dengan tangan, ia menatap ke arah Handphone yang diam, tak pernah berdering seperti biasa.


"Kau kemana Jack?"


"Sesibuk itukah, kenapa tidak pernah mengabariku?"


"Apa kau sudah lupa padaku?"


"Jack, kau dimana?"


Kamila terus memeriksa Handphonenya, namun tak ada satu pun pesan dari Jack hari ini. Ia keluar menuju ruang keluarga.


"Setidaknya aku bisa melupakannya sejenak dengan mengobrol bersama ibu," ucap Kamila.


Kamila mencari Ibu di ruang keluarga, ruang tamu, kamar tidur, sampai ke dapur, namun ia tidak menemukan ibunya di tempat-tempat itu. Akhirnya Kamila melangkah kakinya menuju Rumah Belakang, pasti ibu disana, pikirnya.


Benar saja, wanita paruh baya itu sedang mengobrol bersama Kepala Pelayan dan pelayan lainnya.


"Tidak terlihat begitu serius," ucap Kamila lalu mendekati Ibu dan para pelayan.


"Ibu, aku mencari Ibu dari tadi. Ternyata Ibu disini." Kamila memeluk Ibu dari belakang.


"Astaga, gadis ini," ucap Ibu sambil menepuk tangan Kamila yang melingkar di perutnya.


"Hehehe...Owh ya, Kak Jess mana? Katanya ia ingin membicarakan sesuatu denganku?" tanya Kamila pada Kepala Pelayan.


"Jessica di dalam kamar, perlu saya panggilkan, Nona?" Kamila menggeleng ia ingin menemui Jessica saja, jawabnya.


"Kak Jess, boleh masuk?" tanya Kamila di depan pintu kamar Jessica yang tidak terkunci.


"Tunggu, kita mengobrol di luar saja," sahut Jessica dari dalam kamar. Ia keluar dengan rambut yang masih terurai basah.


"Hehehe...mau ngomong apa, Kak?" tanya Kamila tak sabaran.


"Sebelumnya, Kak Jess harap kau tetap menjadi Kamila yang ceria dan penuh senyum setiap harinya." Jessica diam, cukup lama. Ia menarik nafas panjang, menguatkan dirinya terlebih dahulu.


"Ini." Jessica menyerah dua gelang yang terbuat dari kayu itu. Ia menatap wajah Kamila yang bingung dan dipenuhi tanda tanya.


"Apa ini Kak Jess dan dari siapa?" Kamila menatap gelang yang ada di telapak tangannya. Ia semakin bingung ketika membaca tulisan kecil yang terukir indah itu "JK."


"Itu dari Jack, Kak Jess harap kau bisa menjaganya sampai Jack kembali." Jessica diam, mempersiapkan dirinya untuk menjelaskan pada Kamila.


"A-apa maksud Kak Jess, Jack kemana?" Kamila menatap Jessica, meminta jawaban dari wanita itu.


"Jack hilang, tadi malam Markasnya terbakar hangus. Dan Jack hilang entah kemana. Tapi kau tenang saja, Kak Jess dan yang lainnya sedang berusaha menemukan Jack." Kamila ambruk dalam pelukan Jessica, gadis itu menangis tanpa suara.

__ADS_1


"Kak Jess tidak bercandakan?" tanya Kamila di sela-sela tangisnya.


"Kak Jess tau ini sakit, tapi lebih sakit jika Kak Jess menyembunyikan ini darimu, dan kau mengetahui ini dari orang lain, itulah yang lebih sakit." Jessica mengelus kepala Kamila lembut.


"Dia akan kembali, kan?"


"Jack akan kembali, kan?"


"Dia akan kembalikan, Kak Jess?"


Jessica diam, dia ingin menangis tapi itu tidak akan matanya lakukan di depan Kamila. Matanya tetap kuat, namun hatinya rapuh bahkan hancur berkeping-keping.


"Kamila, Sayang. Apa yang terjadi, Nak?" tanya ibu pada Kamila yang masih jatuh dalam pelukannya Jessica.


"Ibu." Kamila menyeka air matanya lalu tersenyum palsu.


"Hahahaha...tidak apa-apa Bu. Aku sedang curhat pada Kak Jess," jawab Kamila berbohong.


"Hmmm...baiklah. Ibu tidak memaksa putri kecil Ibu untuk cerita. Tapi lain kali, jangan berbohong lagi pada Ibu, ya?" Ibu mengelus kepala Kamila lembut, lalu tersenyum pada Kamila dan Jessica.


Keduanya kembali bicara setelah Ibu sudah hilang dari hadapan mereka.


___________


Angin malam begitu dingin, bahkan langit mendung hendak meneteskan air hujan. Bersamaan dengan tertetesnya air mata seorang gadis di dalam sana.


"Nona," panggilannya untuk yang sekian kali.


"Aku tidak mau makan, Mbak." Kamila turun, ia beralih duduk di pinggir balkon.


"Nona, diluar hujan. Sebaiknya Nona kembali ke atas ranjang saja," ucap Kepala Pelayan. Ia menutup pintu lalu kembali ke ruang kerja Aldy.


"Nona Kamila tidak mau makan Tuan," lapor sang Kepala Pelayan pada Aldy. Aldy menarik nafasnya dalam, ia keluar dari ruang kerjanya. Berjalan menuju kamar Kamila.


"Ila," panggil Aldy dari balik pintu kamar.


"Kamila Pranata Yoga, buka pintunya!" Aldy hendak mendobrak pintu, tiba-tiba Kamila membuka pintu dengan pelan, membuat Aldy sedikit terkejut.


"Ada apa, Kak?" tanya Kamila dengan suara yang hampir tak bisa didengar oleh Aldy.


"Kau kenapa, ayo makan." Aldy meraih tangan Kamila, hendak mengajak gadis manja itu untuk makan malam bersama seperti biasa.


"Ila tidak lapar," tolak Kamila. Ia menepis tangan kekar Aldy yang menempel di pundaknya.


"Maaf, maksudku. Aku tidak lapar Kak." Gadis itu tertunduk dalam.

__ADS_1


Aldy meraih tubuh Kamila, mendekapnya erat.


"Kau punya masalah?" tanya Aldy ketika menyadari adiknya menangis dalam dekapannya.


"Jack..." Kamila diam, ia tak sanggup harus menceritakannya pada Aldy.


"Sudahlah, Jack pasti kembali." Aldy mengelus kepala Kamila lembut, ia tau apa yang dirasakan adiknya sekarang.


"Dari mana Kak Aldy tau?" tanya Kamila bingung.


"Kau chatingan dengan Jack pun Kakakmu ini tau, apalagi masalah seperti ini. Kakak mengetahuinya, bahkan sebelum Jessica memberi tahumu," jawab Aldy.


"Sudahlah, Ila, masih ada Kakak, Ibu dan Jessica disini. Jessica bahkan menjaga dan menyayangimu melebihi dirinya sendiri," sambungnya.


Kamila tersenyum, gadis itu menyeka air matanya. "Aku harus kuat, bukankah begitu?"


"Kau memang gadis pintar." Aldy kembali mendekap Kamila erat, mengalirkan semua kasih sayangnya pada gadis itu.


"Ayo makan!" ajak Kamila.


"Hahaha, mari Nona Manja," jawab Aldy diiringi dengan senyum tipis dibibirnya.


Aku akan membawa Jack kembali padamu. Aldy


"Ibu," sapa Kamila pada Ibu yang sudah menunggu di meja makan.


"Putri kecil Ibu sudah besar ternyata, ayo duduk, kita makan!" Ibu memperbaiki posisi kursi disampingnya, mempersilahkan Kamila duduk disana.


"Ah...aku merasa seperti Tuan Putri sekarang," ucap Kamila lalu duduk disamping Ibu.


Ibu tidak menyangka kau akan sekuat dan setegar Jessica sekarang.


Kamila makan dengan lahap, bahkan sesekali bicara saat masih mengunyah makanan di mulutnya.


"Hei, jangan bicara ketika sedang mengunyah makanan!" tegur Aldy. Kamila hanya tersenyum lalu kembali fokus pada makanannya.


Kau sudah tertular oleh Jessica.


Wanita itu membawa begitu banyak perubahan dalam dirimu. Aldy


Bersambung....


_________


Semoga Suka๐Ÿ˜Šโ™ฅ

__ADS_1


Berikan Kritik dan Saran untuk cerita ini๐Ÿ˜Š๐Ÿ‘Œ


__ADS_2