
Jessica merapikan rambutnya lalu meraih tas punggung di atas kasur kecilnya. Ia mengunci pintu kontrakan lalu merangkul Zia yang sudah menunggunya sejak tadi.
"Lain kali, kau tidak perlu menjemput Kak Jess. Kak Jess akan menepati janji, percayalah!" Jessica melepas rangkulannya, tangannya beralih mengunci gerbang kontrakan.
"Ini bukan mauku, Kak. Anak-anak yang menyuruhku menjemput Kak Jess. Bahkan senior Hendra pun memintaku untuk itu," jawab Zia. Ia berjalan di samping Jessica, menyamakan langkahnya dengan Serigala Betina itu.
"Hmmm." Jessica menatap lurus jalan di depannya. Entah kenapa moodnya langsung berubah ketika mendengar nama Hendra.
Tidak butuh waktu lama, keduanya sudah sampai di depan perguruan yang selalu ramai jika hari Kamis dan Minggu. Hari itu memang hari latihan untuk para junior pemula.
Semua orang membungkukkan badannya ketika Jessica lewat di depan mereka. Jessica juga membalas itu dengan mengatupkan kedua tangannya sejajar dengan dadanya.
Para junior pemula terus berdatangan. Matahari semakin naik, memberi suasana hangat yang begitu menenangkan.
Junior pun berbaris dengan rapi setelah mendengar tepuk tangan dari senior Hendra. Kali ini Hendra-lah yang memimpin pemanasan. Jessica, Juan dan yang lainnya mengikuti di belakang barisan para junior.
Hendra memimpin mulai dari pemanasan sederhana sampai yang menguras tenaga. Ia bahkan sempat mengulang beberapa gerakan dasar, itu ia lakukan agar para junior juara tidak sombong dengan tingkat mereka.
Setelah pemanas selesai, semula berbaris sesuai tingkat mereka. Jessica melirik semua tingkatan. Ia berjalan tak tentu arah, membuat semua junior menegang.
"Semoga sabuk putih."
"Semoga manji."
"Jangan sabuk hijau, aku belum siap di latih oleh Kak Jessica lagi."
"Semoga bukan biru."
"Tidak mungkin cokelat, kami kan sudah berlatih dengan Kak Jessica kemarin."
Begitulah gumaman yang keluar dari masing-masing tingkatan. Jessica terus melirik.
"Hijau, ikut denganku!" Jessica berjalan menuju tengah lapangan. Sedangkan para junior itu bergerak dengan cepat mengikuti langkah Jessica.
"Huhuhu, aku ingin pipis," ucap seorang gadis berumuran 14 tahun itu. Ia menatap sekelilingnya, teman-temannya bahkan terlihat keringat dingin walau latihan belum dimulai.
Seseorang dari barisan terdepan berteriak, memimpin untuk memberi salam hormat pada Jessica.
Jessica membalas salam mereka, tangannya membenarkan sabuk hitam tebal yang melilit di pinggangnya.
Jessica menyebutkan beberapa materi sebelumnya, mereka terus bergerak sesuai materi apa yang Jessica sebutkan.
"Turun!" teriak Jessica pada seorang remaja yang berada di barisan belakang. Remaja itu turun, mengambil posisi untuk push up.
Yang lain tetap melanjutkan gerakan mereka, Jessica menaikkan satu alisnya, berjalan di tengah barisan renggang itu. Ia membenarkan posisi kaki, bahu dan juga tangan yang masih belum tepat.
"Ya, Tuhan. Ternyata begini rasanya dilatih oleh Serigala Betina kebanggaan perguruan ini. Jantungku hampir saja copot, kakiku...aku mau pipis," ucap batin salah seorang junior yang baru saja dilewati oleh Jessica.
Jessica melirik ke arah buku panduan untuk sabuk hijau, tidak butuh membaca ulang, otot dan otaknya sudah bergerak mempraktekkan materi selanjutnya.
__ADS_1
Ia menjelaskan dan mengulang nama setiap gerakannya. Setelah itu, ia menghitung sesuai yang ia praktekkan tadi. Awalnya masih ada yang salah, bukan karena mereka tidak bisa. Tapi, karena rasa grogi yang menghantui tubuh mereka.
"Dua materi lagi." Jessica kembali melirik buku panduan. Ia mulai menjelaskan dan mempraktekkan seperti tadi.
Kali ini, mereka lebih cepat menghafal dan memahami materi. Otot-otot mereka sudah tenang, tidak setegang tadi.
Jessica tersenyum tipis, ia terus mengulang tiga materi baru untuk sabuk hijau di depannya. Latihan tidak selesai sampai di situ saja. Jessica memerintahkan mereka baris dengan berhadapan satu sama lain.
"Jika materi sudah faham, kita sekarang akan langsung mencobanya," ucap Jessica.
"Bagian kananku, kalian sebagai penyerang. Bagian kiriku, kalian tangkis setiap serangan sesuai materi tadi," sambung Jessica.
Ia menghitung sesuai hitungan materi, semua junior pun mengikuti hitungan Jessica.
"Kalian, turun!" Perintah Jessica pada pasangan di belakangnya.
"Ya, Tuhan. Sebenarnya senior ini memiliki berapa mata? Apa ada mata juga di belakang kepalanya?" gumam si junior yang salah itu.
"Turun!"
Keduanya turun, push up sampai Jessica meminta berhenti.
Jessica tersenyum bangga, ia meminta para junior untuk push up terlebih dahulu sebelum menutup latihan pagi itu. Semuanya turun, mengambil posisi tanpa membantah satu katapun.
Tidak di sangka, Jessica ikut mengambil posisi dan menghitung dengan suara yang bisa terdengar oleh tingkat lainnya.
Mereka memberi salam hormat pada Jessica. Lalu bubar setelah Jessica membalas dan menutup latihan.
Jessica tersenyum, ia mengulurkan tangannya dan disambut dengan tangan manis gadis tadi.
"Lihatlah, Serigala kita memang baik hati. Di berhati lembut,'kan?" ucap Bagas sambil membuka bajunya yang sudah di basahi keringat. Ia menggantung baju dan sabuk cokelat di ranting pohon sama seperti yang Zen lakukan.
"Hei, hei! Kalian berdua selalu seperti ini. Tidak tau malu!" Zia mengalihkan pandangan, ia menelan ludahnya setelah melihat dada bidang kedua temannya itu.
"Hmmm, jika kau pria, maka kau akan melakukan hal yang sama," ucap Arfan yang baru saja datang.
Junior juara itu terdiam ketika Hendra dan Juan berjalan ke arah mereka.
"Kalian melihat Jessica?" tanya Hendra.
Zia menatap ke arah lapangan, sayangnya, Serigala Betina itu sudah tidak sana lagi.
"Tadi di sana," jawab Zia.
"Iya, aku juga melihat tadi, tapi sekarang dimana?" sahut Juan sambil melepas sabuk hitamnya.
"Mungkin di ruang latihan." Bagas menunjuk ke arah ruangan yang berdinding papan itu.
Hendra dan Juan melangkah ke sana. Keduanya tersentak ketika mendapati dinding ruangan itu bergetar.
__ADS_1
Hendra masuk, ia mengamati wanita yang masih memakai baju putih dan sabuk hitamnya dengan tangan terbungkus oleh sarung tinju itu.
Jessica meninju dan menendang samsak itu kuat, membuat dinding bergetar karena tinjauan dan juga tendangan.
Jessica menoleh ke arah Hendra dan Juan, namun tangannya masih meninju samsak yang tergantung di depannya itu.
"Ada apa?" tanya dengan kaki yang masih menempel di samsak.
"Ah, aku akan menepati janjiku, aku dan Kak Hendra akan mengajak anak-anak untuk belanja, Kak Jessica tidak ikut?" Juan berdiri di depan Jessica, ia memegang samsak itu, agar Jessica tidak meninju ataupun menendang lagi.
"Kalian pergi saja, aku tidak ikut." Jessica menepis tangan Juan. Ia kembali menendang benda yang tergantung itu.
"Tapi, mereka ingin Kak Jess ikut," ucap Juan.
"Sampaikan saja, mereka pasti mengerti!" Jessica melepaskan sarung tinjunya. Ia beralih memegang botol air minum di atas meja kayu di samping Hendra.
"Emm, Jess. Bisakah kau diam di sini sampai akhir bulan Februari?" tanya Hendra ragu.
"Maksudku, aku masih butuh bantuanmu," sambungnya.
"Tanpa diminta pun aku akan ada untuk mereka, jangan khawatir, aku tidak pernah mengingkari janjiku...pada siapapun," jawab Jessica. Ia meletakkan botol itu lalu melepas sabuknya.
"Kalian akan melihatku mengganti baju?"
Hendra dan Juan saling menatap, keduanya langsung menghilangkan secepat kilat dari hadapan Jessica.
_____________
Jessica menatap layar Hpnya. Ia kembali meletakkan benda tipis itu setelah mengetahui siapa yang menelepon.
Benda itu kembali berdering, terus berdering sampai Jessica tidak tahan lagi mendengarnya.
"Ya, Hallo. Apa lagi?" Jessica menatap benda itu tajam. Tangan kirinya mengetuk-ngetuk meja di hadapannya.
"Kenapa dimatikan tadi?" tanya Aldy dari seberang sana. Ia kesal ketika Jessica tiba-tiba memutuskan sambungan tadi.
"Hmmm, hampir satu jam aku mendengarmu bicara, apa kau belum puas juga!" Serigala Betina itu melempar Hpnya ke atas kasur, lalu merebahkan tubuhnya di sana.
"Ayolah, Jess. Bisakah kau berbicara dengan lemah lembut?" Aldy cekikikan tak jelas.
"Hmmm, bicara lemah lembut. Maksudmu seperti ini. Sayang...tolong matikan teleponnya. Aku ingin tidur....bisakah sayang?"
Jessica menahan isi perutnya yang hendak keluar karena geli mendengar ucapannya sendiri.
"Ish, menjijikkan sekali." Aldy menatap layar Hpnya. "Jangan, jangan katakan itu lagi! Itu sangat menjijikkan jika kau yang mengatakannya," ucapnnya.
"Oh, suruh saja model-model yang manja itu mengatakan. Pasti sangat seksi dan merdu." Jessica memutuskan sambungan, ia menyalakan mode pesawat agar Aldy tidak mengganggunya lagi.
Sementara Aldy terus tersenyum karena berhasil menjahili Jessica walau wanita itu tidak ada di sampingnya sekarang.
__ADS_1
Bersambung...