
Setelah sarapan bersama, Aldy dan Jessica langsung berpamitan pada Ibu untuk ke Villa Kamboja. Ibu yang mengerti kondisi langsung menyetujui apa yang Jessica inginkan. Berbeda dengan Kamila dan Nathalia. Keduanya menatap Aldy dan Jessica penuh makna.
"Jangan lupa, buatkan keponakan yang cantik dan tampan untukku," teriak Kamila saat mobil Aldy sudah melaju meninggalkan halaman utama.
Sementara Nathalia, gadis itu menyembunyikan wajahnya. Ia benar-benar malu mendengar teriakan Kamila tadi. Sedangkan Ibu, wanita paruh baya itu langsung menyentil jidat Kamila pelan.
"Masuk dan bersiaplah! Bukannya Tata akan sekolah dan kau akan ke kampus hari ini?!"
Ibu menatap Kamila dan Nathalia secara bergantian. Keduanya langsung tersadar dan menatap ke arah jam tangan mereka masing-masing.
"Astaga, aku bisa telat, Kak," ucap Nathalia lalu berlari masuk ke dalam rumah utama. Ia meraih tasnya dan juga menenteng tas milik Kamila.
"Antar aku."
Nathalia tersenyum manis, ia tau, Kamila pasti akan mengalah dan mengantarnya menuju sekolah.
"Kami pamit, Bu." Keduanya mencium pipi Ibu bersamaan. Kamila sebelah kanan, dan Nathalia sebelah kiri.
"Kalian ini, hati-hati di jalan."
☆☆☆☆☆☆
Villa Kamboja
Kedatangan Aldy dan Jessica disambut oleh beberapa pengawal. Mereka membukakan gerbang lalu menyusul mobil Aldy yang sudah terparkir di halaman depan Villa Kamboja.
"Selamat datang, Tuan Muda, Nona Muda," ucap salah seorang pengawal tersenyum pada Aldy dan Jessica.
"Simpan senyumanmu itu untuk istrimu di rumah, dan kau harus ingat! Jangan sesekali menatap dan tersenyum pada istriku!" Aldy merangkul pinggang Jessica, mengajak wanita itu masuk ke dalam Villa, meninggalkan si pengawal yang menatap mereka bingung.
"Tuan Muda, sekali jatuh cinta, maka tidak akan jatuh cinta lagi pada wanita lainnya. Bahkan tidak rela wanitanya ditatap oleh pria lain," ucap si pengawal lalu menurunkan barang-barang milik Aldy dan Jessica.
Astaga, bisakah anda menahan sebentar saja sampai saya selesai dengan tugas saya! (Pengawal)
Aldy langsung melepas Jessica. Ia menatap si pengawal yang sudah mengganggu kegiatannya.
"Taruh saja di sana. Satu lagi, telepon pelayan-pelayan yang menemani Jessica kemarin. Minta mereka datang ke sini lagi!" perintah Aldy.
Pengawal itu mengganguk lalu melakukan apa yang diperintahkan Aldy pada dirinya. Ia menghubungi kepala pelayan, lalu menyampaikan apa yang Aldy inginkan.
"Aku haus," ucap Jessica saat si pengawal sudah menjauh.
"Tunggu sebentar, jangan kemana-mana. Aku akan mengambil air minum untukmu."
Aldy melangkah menuju dapur. Ia menoleh ke belakang, memastikan Jessica tidak pergi meninggalkannya.
Setelah Aldy masuk ke dapur, barulah Jessica memulai aksinya. Ia berlari dan bersembunyi di balik pintu samping Villa. Pintu itu langsung menuju danau buatan bagian belakang.
"Jessi," teriak Aldy lalu mengedarkan pandangan mencari Jessica.
Aldy meletakkan segelas air minum yang ia bawa di atas meja, lalu berlari mencari Jessica ke luar Villa.
"Hei, apa kalian melihat Jessica?" tanya Aldy pada para pengawal yang sedang berjaga di depan gerbang.
Mereka saling menatap satu sama lain.
"Maaf, Tuan. Kami tidak melihat Nona Muda. Lagipula, Nona tidak pernah keluar dari Villa," jawab salah seorang dari mereka.
Aldy langsung berlari ke dalam Villa. Ia terus memanggil nama Jessica, mencari Jessica di setiap ruangnya.
Ketika Aldy sampai di pintu samping dan hendak berbalik meninggalkan tempat itu. Barulah Jessica keluar dari persembunyiannya dan langsung memeluk tubuh Aldy dari belakang.
"Kau mencari siapa, Sayang? Kenapa sepanik itu?" tanya Jessica tanpa rasa bersalah sedikit pun.
__ADS_1
"Jessi."
Aldy membalik tubuhnya menghadap Jessica. Mencubit hidung wanita itu gemas lalu mencium-cium pipi Jessica.
"Jangan ulangi lagi! Aku tidak suka dengan gaya bercandamu!" ucap Aldy memberi peringatan pada Jessica.
Jessica mengangguk. "Maafkan aku, aku berjanji tidak akan mengurangi lagi."
"Baiklah, bukannya kau haus dan ingin minum?" tanya Aldy.
Aldy menggandeng Jessica menuju meja di mana ia meletakkan segelas air untuk istrinya itu.
"Duduk dan minumlah! Tidak baik minum sambil berdiri," ucap Aldy lalu menarik tubuh Jessica, sehingga Jessica duduk di atas pangkuannya.
Ini namanya kau yang mencari alasan agar aku duduk seperti ini! (Jessica)
"Ayo kita bermain dan jalan-jalan di sekitar danau itu." Jessica menujuk ke arah pintu samping yang menampilkan pemandangan indah danau buatan.
"Ayo."
"Ayo? Tapi kau masih mengunci tubuhku seperti ini! Bagaimana aku bisa bergerak dan berjalan menuju danau?" protes Jessica karena Aldy masih menahan tubuhnya.
"Baiklah."
Keduanya berjalan menuju danau buatan. Jessica berhenti dan membuka sandal yang ia kenakan, lalu duduk di pinggir jembatan dan memasukkan kakinya ke dalam danau indah itu.
Sesederhana inikah hidupmu, Jess? Tidak butuh uang yang banyak untuk membuatmu tersenyum bahagia. Cukup seperti ini saja kau bahkan sudah tersenyum dan tertawa bahagia bersamaku. (Aldy)
"Kenapa menatapku seperti itu? Duduklah, Sayang." Jessica menarik tangan Aldy, lalu membuka sandal yang pria itu kenakan.
"Masukkan kakimu seperti ini!"
Jessica menatap Aldy lalu tersenyum setelah pria itu melakukan apa yang ia minta.
"Kenapa tidak? Sudah kukatakan, apa yang menjadi milikku, maka itu juga menjadi milikmu. Semuanya, tanpa terkecuali."
Aldy bangkit lalu menggandeng tangan Jessica, berjalan di atas jembatan. Tiba-tiba Aldy berhenti lalu menatap ke arah kaki Jessica.
"Pakai sandalmu! Aku tidak ingin kau terluka!" ucap Aldy. Pria itu merebut sandal yang Jessica tenteng sedari tadi, lalu berjongkok dan memakaikan sandal untuk Jessica.
Sudah seperti tuan putri dalam dunia dongeng saja. (Jessica)
Setelah menyeberangi danau. Sampaikanlah keduanya di bawah rumah pohon. Aldy menatap Jessica, mengisyaratkan wanita itu untuk naik terlebih dahulu.
Jessica menaiki dua tangga, lalu disusul oleh Aldy di bawahnya.
"Hati-hati, Sayang."
Aldy terus memperhatikan gerakan Jessica. Takutnya wanita itu jatuh begitu saja.
"Ini tidak berbahaya, jangan berlebihan seperti itu." Jessica meraih tangan Aldy lalu mengajak Aldy berkeliling di rumah pohon yang cukup luas untuk dua orang.
"Kau suka?" tanya Aldy sambil mengelus-elus pipi Jessica.
Jessica mengangguk dan tersenyum. Menandakan dirinya sangat suka dan tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata lagi.
"Aku membuat semua ini khusus untukmu," ucap Aldy tersenyum.
Aldy memeluk tubuh Jessica erat. Menggoyangkan- goyangan tubuh wanita itu gemas.
"Kau agak gendutan sekarang," ucap Aldy lalu melepas Jessica.
"Benarkah? Ah, sudahlah. Mau gendut, mau kurus, yang penting aku sehat dan tetap dalam lindungan-Nya." Jessica memalingkan wajahnya, ia sedang berpura-pura kesal pada ucapan Aldy.
__ADS_1
"Apapun kondisimu, bagaimanapun bentuk tubuhmu, aku akan tetap mencintaimu. Karena cintaku tidak diukur dari rupa kecantikan wajahmu saja, aku mencintaimu karena kelembutan dan juga ketulusan hatimu, kau mengajarkan begitu banyak hal padaku." Aldy kembali memeluk Jessica, kali ini pelukan yang begitu menenangkan, menyalurkan kehangatan dan juga kasih sayang pada tubuh Jessica.
☆☆☆☆☆☆☆
Setelah bermain dan jalan-jalan di sekitar danau buatan dan juga rumah pohon. Aldy mengajak Jessica kembali ke Villa Kamboja untuk beristirahat dan makan siang bersama.
"Ras? Kau di sini?" ucap Jessica pada Laras yang sedang membersihkan dan membereskan barang-barang mereka.
"Iya, Nona. Tuan Muda yang meminta kami ke sini," jawab Laras tersenyum.
"Ayo, masuk, Sayang!" Aldy membalik tubuhnya lalu menarik tangan Jessica agar wanita itu ikut masuk ke dalam dengannya.
"Kita lanjut ngobrolnya nanti saja, ya." Jessica melambaikan tangannya pada Laras. Sedangkan tangan satunya masih ditarik oleh Aldy, suaminya.
Aldy merebahkan tubuhnya di atas sofa lalu menjentikkan tangannya agar Jessica mendekat.
"Aku ke kamar mandi dulu, ada hal penting yang harus aku lakukan," ucap Jessica lalu berjalan dengan cepat menuju kamar mandi.
"Lebih penting dari aku, ya?" gumam Aldy lalu memejamkan matanya, menikmati hembusan angin siang yang cukup menenangkan.
15 menit kemudian. Jessica keluar dari kamar mandi, bahkan sudah berganti baju dan celana. Ia mendekati Aldy lalu duduk di dekat sofa tempat Aldy tidur.
"Kau tidur?" Jessica mengelus kepala Aldy lalu mencium bau rambut pria itu.
"Rambutmu lebih harum daripada rambutku," gumam Jessica.
Jessica menatap wajah tenang Aldy. Pria itu tertidur karena terbuai oleh hembusan angin siang ini.
Jari-jari Jessica menelusuri setiap bagian wajah Aldy. Jessica berhenti saat Jari-jarinya menyentuh bibir Aldy.
"Kenapa? Apa kau diam-diam ingin menciumku?" tanya Aldy membubarkan lamunan Jessica.
Spontan Jessica memindahkan tangannya, beralih memegang sofa di atas kepala Aldy.
"Tidak, siapa juga yang ingin menciummu!" bantah Jessica.
"Katakan saja, jangan malu-malu seperti itu."
"Tidak, sudah gilanya?"
Jessica menekuk wajahnya kesal. Ia berdiri lalu meninggalkan Aldy yang tertawa puas karena berhasil menjahili istrinya itu.
"Sini, biar kuwujudkan keinginanmu!"
Aldy bangkit lalu mengikuti langkah Jessica mendekati tempat tidur. Ia berbaring di samping Jessica yang sedang memeluk perutnya.
"Apa nyeri lagi?" tanya Aldy mendekat.
"Sedikit," jawab Jessica sambil menatap ke arah Aldy.
"Mendekatlah!"
Jessica bergeser mendekati Aldy. Sedangkan Aldy langsung memeluk tubuh Jessica erat. Pria itu membuka laci kecil di samping kasur, dengan tangan kirinya.
"Apa ini membantu?" tanya Aldy dengan tangan yang mengelus perut Jessica lembut. Ia meneteskan beberapa tetes minyak kayu putih di atas tangannya lalu kembali mengelus perut Jessica.
"Lumayan," jawab Jessica tersenyum.
Aldy terus mengelus perut Jessica dengan pelan dan lembut, sampai wanita itu tertidur dan larut dalam mimpinya.
Setelah Jessica tidur. Barulah Aldy ikut memejamkan matanya dengan tangan yang masih setia memeluk tubuh Jessica erat.
Bersambung.....
__ADS_1