Mencintai Seorang Bodyguard

Mencintai Seorang Bodyguard
Season 2 Mengikhlaskan


__ADS_3

"Oke, jaga kesehatanmu! Jangan paksakan dirimu! Dengar!" ucap Aldy sebelum ia memutuskan sambungan telepon.


"Ya-ya. Aku dengar, lagipula, aku bukan anak kecil lagi!" Jessica mendengkus kesal. Ia hanya ingin melatih, tapi harus meminta izin ini dan itu pada Aldy, kekasihnya.


Akhirnya, Aldy memutuskan sambungan telepon setelah merasa hati dan pikirannya tenang.


_____________


Jessica berjalan dengan cepat. Ia sampai di depan perguruan yang sudah terlihat sepi, semua orang sudah berbaris rapi di lapangan untuk pemanasan. Jessica masuk ke dalam ruang pelatih, mengganti baju dan memakai sabuk hitam tebalnya.


Ia bergabung dengan para junior. Sayangnya, pemanasan hampir selesai ketika Jessica baru saja bergabung.


Para junior berbaris sesuai tingkat mereka. Sabuk cokelat sudah diambil alih oleh senior Hendra, sementara biru sudah memulai latihannya bersama senior Lin.


Semua tingkatan sudah ada pelatihnya, kecuali sabuk hijau. Lagi-lagi, mereka yang harus latihan bersama Jessica, Serigala Betina kebanggaan perguruan ini.


Mereka menarik nafas panjang, menghilangkan rasa grogi mereka. Jessica berjalan ke arah mereka setelah sempurna melakukan pemanasan.


Seperti biasa, seseorang dari barisan baling depan memimpin untuk memberi salam penghormatan pada pelatih di depannya.


Jessica membalas salam mereka, ia terlihat seperti menghitung para junior di depannya. "Dua belas?"


"Mana yang lainnya?" tanya Jessica sebelum memulai latihan. Mereka saling menatap, memastikan siapa yang tidak hadir untuk latihan.


"Ah, si kembar tidak hadir, guru, mereka masih liburan," jawab seorang gadis dari barisan tengah.


Jessica mengangguk, ia meminta mereka untuk lebih merenggangkan barisan.


Jessica mengulang tiga materi sebelumnya. Ia tersenyum puas ketika melihat semangat para junior di depannya. Jessica membuka buku panduan. Ia hanya membaca nama materi tanpa melihat selengkapnya.


Jessica mempraktekkan, menjelaskan satu persatu setiap gerakan dalam materinya. Ia terus mengulang sampai semua faham dengan materi ini.


Jessica menghitung dan mereka bergerak sesuai hitungan Jessica.


Jessica selalu mengunakan cara yang sama ketika melatih setiap tingkatan. Ia menjelaskan materi, setelah semua faham, barulah Jessica akan mempraktekkan materi secara berpasangan.


Latihan pagi itu terlihat sangat nyaman dan lancar. Tidak ada lagi junior yang grogi ketika berhadapan dengan Jessica. Mereka bahkan meminta agar Jessica-lah yang melatih mereka akhir pekan besok.


Semua tingkatan sudah bubar. Para junior pun ada yang sudah pulang dan ada yang masih diam untuk bersantai dan bertukar cerita dengan teman-teman mereka.


Junior juara berjalan ke arah Jessica dan Hendra. Keduanya sedang mengobrol masalah ujian kenaikan tingkat. Hendra meminta Jessica untuk tetap membantunya melatih sampai akhir bulan Februari.

__ADS_1


Jessica mengiyakan permintaan Hendra. Ia memang ingin membantu persiapan ujian untuk sabuk hijau dan manji.


Bagas memperhatikan Hendra yang menatap Jessica penuh cinta. Ia tahu, senior tampannya itu pasti masih mencintai Jessica. Namun apa daya, Jessica sama sekali tidak menaruh hati pada senior tampan dengan lesung pipi yang dalam itu.


"Ar, aku kasian pada senior Hendra," bisik Bagas pada Arfan. Arfan menatap kedua senior yang sedang bicara di tengah lapangan itu. Memang betul, Arfan juga bisa melihat tatapan Hendra yang penuh dengan kasih sayang pada Jessica. Berbeda dengan Jessica, Serigala Betina itu bermuka dingin dengan senyum tipis di bibirnya.


"Semoga Kak Hendra menemukan yang lebih baik dari Kak Jess." Suara Zia mengagetkan Arfan dan Bagas. Gadis 16 tahun itu berdiri tepat di samping Bagas. Ia juga menatap kedua senior yang masih berdiri di tengah lapangan itu.


"Ah, kau! Mengagetkan saja!" Bagas merangkul Zia. Ia mendekat wajahnya pada Zia.


"Kau bau!" ucapnya namun masih merangkul bahu Zia.


"Hei! Kau kira aku sedang santai, hah! Aku baru saja selesai latihan! Wajarlah aku bau!" Zia menepis tangan Bagas yang masih menempel di bahunya. Ia menginjak kaki Bagas tanpa ampun.


"Zen.......Lihatlah pacarmu! Zen, tolong....." teriak Bagas, membuat Zen menoleh dan menatap ke arah mereka.


Zen mengerutkan dahinya, ia mendekati tiga teman seperjuangannya itu.


"Ada apa?" Zen menatap Zia dan Bagas secara bergantian.


"Dia bilang aku bau, wajarlah aku bau, aku baru saja mengeluarkan keringat!" Zia menatap Bagas tajam dengan tangan yang sudah mengepal.


"Ya, salahnya di mana? Kau sendiri mengaku bau, 'kan!" timbal Bagas. Ia pun membalas tatapan Zia tidak kalah tajamnya.


"Zennnnn!!!!" Zia mengamuk pada Zen. Ia menarik rambut dan juga memukul bahu Zen kuat.


Jessica dan Hendra menoleh ke arah kegaduhan yang diciptakan oleh junior juara itu. Jessica melebarkan matanya, ia menggelengkan kepalanya ketika melihat Zia yang duduk di atas punggung Zen.


"Zii, kau berat sekali! Turun! Heh, turun!"


Zia tidak bergeming, dengan santainya ia duduk di atas punggung Zen. "Zii, dadaku sakit. Turun!" ucap Zen dengan suara yang sudah lemah.


Zia turun lalu membatu Zen untuk bangun. Ia menatap wajah Zen, menyesal akan perbuatannya. "Maaf, maafkan aku."


Zen tersenyum, "Tidak apa, aku baik-baik saja," jawabnya sambil menarik rambut Zia.


"Khemm...Khemm..." Bagas dan Arfan terus berdehem, namun Zia dan Zen tidak perduli pada gangguan keduanya.


"Ketika cinta sudah menyapa," gumam Bagas. Ia mengajak Arfan untuk menjauh dan meninggal Zen dan Zia.


"Lucu, ya, mereka?" ucap Hendra sambil melirik Jessica sekilas.

__ADS_1


Jessica diam, tidak berniat menjawab ucapan Hendra. "Aku pulang, sudah tidak ada yang dibicarakan lagi, 'kan?" Jessica menoleh sekilas lalu kembali menatap Zia dan Zen.


"Tidak ada, pulang dan istirahatlah!" Hendra melangkah meninggalkan Jessica sendiri. Ia membalik tubuhnya, menatap Jessica yang sudah sangat jauh darinya.


"Sangat sulit bagiku untuk melupakanmu, Audi Jessica." Hendra menatap langit. Kenangan bersama Jessica menari-nari di ingatannya. Senyum tipis Jessica benar-benar membuat candu orang yang melihatnya.


"Dulu, aku bisa melihat tawamu dari dekat. Aku bisa merangkulmu, aku bisa mencubit hidungmu, aku sungguh rindu masa-masa itu. Aku rindu kau teriak memanggil namaku, aku rindu berbagi minum denganmu, aku sungguh rindu itu." Hendra menunduk. Ada rasa kesal di hatinya. Ia kehilangan Jessica hanya karena perasaannya pada Serigala Betina itu.


"Andai saja rasa itu tidak datang! Andai saja aku tidak pernah menyatakannya padamu! Andai waktu bisa kuputar kembali! Aku tidak ingin menyatakannya! Aku tidak ingin kau menjauh seperti ini! Aku mencintaimu." Hendra duduk di bawah pohon mangga yang rimban. Ia tenggelam pada kenangan manis itu, kenangan yang sangat sulit ia lupakan.


"Kak." Zen memegang bahu Hendra. Ia duduk tepat di samping senior tampan itu.


"Kau? Ada apa?" Hendra merubah ekspresi wajahnya. Ia tidak ingin terlihat lemah oleh orang lain, terutama oleh muridnya sendiri.


"Tidak, aku hanya ingin memberikan ini." Zen menyodorkan beberapa foto pada Hendra.


"Dimana kau mendapatkannya?" Hendra menatap lekat-lekat foto itu. Foto beberapa tahun yang lalu, foto saat Jessica masih akrab dengannya.


"Ah, aku kemarin menemukannya di bukuku, mungkin aku menyimpan di sana, dulu," jawab Zen jujur.


Foto itu memang bukan foto Jessica dan Hendra saja. Tapi, foto itu menampakkan Jessica yang berdiri tegak di samping Hendra dengan tangan merangkul bahu senior tampan itu. Foto itu diambil ketika lomba tingkat kota, 5 tahun yang lalu.


Hendra mengembalikan foto itu pada Zen, "Simpanlah! Aku sudah tidak sanggup menyimpannya." Hendra berdiri, ia meninggalkan Zen yang menatapnya penuh tanda tanya.


"Apa aku salah? Aku hanya ingin menghiburnya." Zen menatap foto itu, ia sendiri merasa kehilangan Jessica. Kehilangan saat-saat berlatih bersama senior favorite-nya itu.


"Aku juga rindu, tapi mau gimana lagi. Kak Jess sudah dewasa. Dia pasti punya mimpi dan keinginan yang harus diwujudkan."


____________


Hendra merebahkan dirinya di atas kasur. Ia menatap beberapa foto yang terpajang di kamarnya. Matanya fokus pada foto yang sama seperti foto yang diberikan Zen tadi.


Hendra meraih foto itu, memasukannya ke dalam laci lemari. Hendra ingin melupakan Jessica sepenuhnya, mengikhlaskan Jessica memilih jalan hidupnya yang membuat ia bahagia.


"Aku tidak pernah merasa selemah ini sebelumnya." Hendra kembali berbaring di atas kasur, memejamkan matanya, mencoba untuk tidur dan berpetualang di dunia mimpinya.


Sementara Jessica, Serigala Betina itu benar-benar menganggap Hendra hanya sebagai Kakaknya, tidak pernah lebih. Ia memang nyaman dengan Hendra. Namun, semua berubah ketika Jessica mengetahui perasaan Hendra padanya. Bukan karena apa, Jessica tidak ingin mengecewakan Hendra. Ia bahkan sudah menjawab perasaan Hendra dengan baik, tanpa menyakiti atau menyinggung perasaan senior tampan itu.


Bersambung....


☆☆☆☆☆☆

__ADS_1


Note: Dalam sebuah organisasi, berbagi minum adalah hal yang biasa bagi mereka. Jadi, harap bijak dalam menyimpulkan sesuatu, ya.


__ADS_2