Mencintai Seorang Bodyguard

Mencintai Seorang Bodyguard
Season 2 H-1 Pernikahan


__ADS_3

Aldy menatap pantulan dirinya di cermin. Merapikan rambutnya lalu kemeja yang ia kenakan. Jantungnya berdenyut lebih kencang dari biasanya. Pasalnya. Hari ini, ia akan meninjau gedung yang akan digunakan sebagai tempat mengikrarkan janji sucinya dengan Jessica besok.


Setelah merasa sedikit tenang. Barulah Aldy keluar dari kamarnya. Ia langsung disambut oleh senyum tipis milik Ken.


Beberapa hari ini, Ken lah orang yang paling sibuk mengecek semua hal. Mulai dari undangan, makanan, gedung, bahkan juga sampai desain kamar pengantin untuk Aldy dan Jessica. Jangan lupa juga, Ken lah yang memilih tempat berbulan madu yang romantis untuk keduanya.


Di balik semua itu, ada keterlibatan Keisha di dalamnya. Terutama dalam memilih tempat bulan madu. Tempat itu adalah tempat ke-13 yang Keisha rekomendasi pada Ken. Dan pada akhirnya, Ken pun menyetujui tempat yang paling terakhir ini. Sebuah pulau yang terletak di pelosok sana. Pulau yang memiliki sejuta pesona, dan sangat cocok untuk dijadikan tempat bulan madu bagi kedua pasangan dingin itu.


"Kau terlihat canggung, kenapa?" tanya Ken yang berjalan di belakang Aldy.


"Tidak ada."


Keduanya berjalan menuju pintu utama. Setelah sampai di sana. Aldy bukannya membuka pintu, ia malah membalikkan badannya menghadap Ken.


"Pastikan tidak begitu banyak media yang meliput besok. Aku hanya mengizinkannya 2-3 orang saja. Kau fahamkan maksudku?" ucapnya lalu membuka pintu utama.


"Iya, sudah ku-atur."


"Baguslah, kau memang yang terbaik."


Mobil sport berwarna hitam pekat melaju meninggalkan halaman utama. Mobil itu mulai bergabung dengan mobil lainnya di jalan raya.


Setengah jam perjalanan dari rumah utama. Sampailah keduanya di depan gedung tinggi, megah dan mewah. Ken keluar terlebih dahulu. Ia memanggil beberapa orang untuk melindungi Aldy ketika melewati kerumunan para wartawan yang sedang menunggu kedatangannya.


Dua orang bertubuh tinggi dan tegap mendekati mobil Aldy. Keduanya berdiri tepat di depan pintu mobil yang baru saja terbuka, dan langsung menampakkan sosok tampan yang membuat semua wartawan terpukau karena ketampanannya.


"Bagaimana, Tuan? Apa Anda benar-benar akan menikah besok dengan Nona Audy?"


"Apa benar, Anda menghabiskan uang sebesar 10 Miliar untuk pernikahan Anda dan Nona Jessica?"


"Di mana Nona Jessica sekarang? Kenapa Nona Jessica tidak pernah terlihat lagi?"


Para wartawan terus berdesakan untuk mendekati Aldy. Mereka terus melontarkan pertanyaan mereka, sedangkan Aldy hanya menjawabnya dengan senyum tipis yang hampir tak terlihat.


"Tampan sekali jika tersenyum," gumam seorang wartawan di depan Aldy.


Mendengar itu, Aldy kembali tersenyum. Namun, senyum kali ini tidak tipis lagi, melainkan senyum hangat yang begitu menenangkan.


"Tuhan, sisakan satu untukku."


Kedatangan Aldy di sambut hangat oleh seorang pria. Pria itulah yang selama ini memegang projek pernikahan Aldy. Dia yang mendesain dan juga menata semuanya hingga terlihat seindah dan se-megah sekarang.


"Apa Anda puas, Tuan?" tanya Lou.

__ADS_1


Lou menemani Aldy berkeliling. Sementara Ken berjalan di belakang keduanya.


"Ini sesuai. Aku suka dengan hasilmu." Puji Aldy lalu menepuk pundak Lou.


Ia berjalan mendekati sebuah singgasana yang begitu indah. Singgasana di mana ia dan Jessica akan duduk berdua di sana, nantinya.


"Lou, tolong singkirkan bunga ini! Aku tidak ingin ada bunga berwarna pink di sini!" ucap Aldy menatap Lou sinis.


"Hehehe, maaf, Tuan. Saya lupa," jawab Lou lalu tersenyum kaku.


"Periksa lagi, Lou! Aku ingin yang terbaik untuk hari besok!"


"Anda tenang saja, Tuan."


☆☆☆☆☆☆☆


Villa Kamboja


"Nona, Nyonya besar sudah menunggu Anda di meja makan. Dan ada Nona Kamila juga di sana," ucap Laras sambil menundukkan kepalanya.


"Kamila? Apa Kamila datang ke sini?" tanya Jessica antusias.


"Iya, Nona Kamila datang bersama kekasihnya," jawab Laras tersenyum.


"Kak Audy....." teriak Kamila lalu berlari ke arah Jessica, memeluk wanita itu erat.


Astaga, adiknya saja seperti ini. Bagaimana dengan kakaknya nanti, ya? (Jessica)


"Duduklah." Ibu menatap Kamila. Mengisyaratkan gadis itu untuk melepaskan Jessica dari pelukannya.


Setelah terlepas dari pelukan erat Kamila. Barulah Jessica menyapa Jack. Pria itupun tersenyum, membalas sapaan hangat dari Jessica.


☆☆☆☆☆☆


Setelah makan malam bersama. Jack meminta izin untuk mengobrol dengan Jessica. Keduanya berjalan menuju taman depan Villa Kamboja.


Sebelumnya, Jack mengambil sesuatu di bagasi mobilnya, lalu memberikannya pada Jessica.


"Itu titipan dari Andre untuk Kak Jess. Dan, di dalamnya ada surat. Andre meminta maaf sebelumnya, karena mengambil keputusan tanpa berdiskusi terlebih dahulu dengan Kak Jess," jelas Jack kemudian menatap wajah Jessica yang sangat terlihat kecewa dengan semua ini.


"Seharusnya seorang laki-laki tidak seperti ini. Laki-laki sejati adalah dia yang tidak lari atas tanggung jawabnya," ucap Jessica lalu menatap kotak berukuran sedang yang Andre berikan.


"Jack, apa ada yang kau ketahui tentang Andre selama ini. Maksudku, hal yang aku tidak ketahui tentangnya. Tapi kau mengetahuinya?" lanjut Jessica.

__ADS_1


"Andre? Tidak ada. Aku dan dia tidak se-akrab ini dulu. Jadi, aku hanya mengetahuinya apa yang aku lihat selama ini."


Jack menatap Jessica. Sebenarnya, ada satu hal yang ia ketahui tentang Andre. Tapi, ia juga tidak tau pasti, apakah hal itu benar atau hanya gosip semata.


"Kak Audy, Jack, Ibu meminta kalian masuk. Udara di luar sangat dingin, tidak baik bagi kesehatan Kak Audy," ucap Kamila.


Gadis itu menatap Jack dan Jessica secara bergantian, lalu menarik tangan Jessica. Membawa wanita itu masuk ke dalam Villa Kamboja.


"Apa yang kau katakan pada Kak Jess?!" tanya Kamila setelah memastikan Jessica masuk dan tidak ada di sekitarnya.


"Tidak ada, aku hanya memberikan barang titipan dari Andre, itu saja, tidak lebih," jawab Jack jujur.


"Awas saja, ya. Kalau sampai kau mengatakan yang tidak-tidak pada Kak Jess! Aku akan memukul dan menggigitmu!" Ancaman Kamila sambil menunjuk wajah Jack.


"Akan kuterima dengan senang hati." Jack tersenyum tipis.


"Kau!"


"Tampan," sahut Jack.


"Terserah! Ini sudah jam 9. Sebaiknya kau pulang saja!" usir Kamila lalu meninggalkan Jack begitu saja.


"Teganya."


Jack berjalan dengan lesu. Membuka pintu mobilnya tanpa semangat sedikit pun.


"Jack." Kamila berlari ke arah pria yang baru saja ia usir. Ia memeluk Jack erat dari belakang.


"Aku minta maaf, aku tidak bermaksud mengusirmu, aku bercanda, maafkan aku," ucap Kamila masih dengan posisi yang sama.


Jack menyentuh tangan Kamila yang melingkar di perutnya, membalik posisi mereka. Keduanya saling menatap, tatapan mereka dipenuhi dengan ketulusan dan kasih sayang.


"Tidak apa, aku mengerti. Sekarang masuklah, kita akan bertemu lagi besok," ucap Jack lalu mengelus kepala Kamila lembut.


Kamila kembali memeluk Jack. Membenamkan kepalanya pada dada bidang pria itu.


"Aku mencintaimu, Jack. Hati-hati di jalan. Kabari aku jika kau sudah sampai." Kamila melepas pelukannya. Matanya menatap netra Jack redup.


Cup


Satu kecupan lembut mendarat di pipi kanan Jack, membuat Jack refleks menyentuh pipinya. Sementara Kamila, gadis itu berlari menjauhi Jack. Entah apa yang mendorongnya untuk melakukan hal itu pada Jack.


"Aku juga sangat mencintaimu." Jack tersenyum lalu masuk ke dalam mobilnya. Melajukannya sampai mobil itu menjauh dari Villa Kamboja.

__ADS_1


Aku berjanji. Aku tidak akan membuatmu menangis lagi. Aku janji. Aku akan menjagamu dengan seluruh nyawaku. Menyayangimu layaknya aku menyayangi diriku sendiri. Aku mencintaimu, Nona Kamila Pranata Yoga. (Jack)


__ADS_2