
Keisha merapikan barang-barangnya, lalu menenteng tasnya untuk pulang. Ia berjalan dengan wajah begitu ceria menuju parkiran rumah sakit.
Saat dirinya hendak masuk. Tiba-tiba saja, tangan Arya menyentuh pundaknya sedikit kasar.
"Hei, apa yang anda lakukan?" tanya Keisha lalu menepis tangan Arya kasar.
"Jaga dirimu," ucap Arya dan pergi meninggalkan Keisha begitu saja.
Keisha menatap pria itu bingung. Ia pun memutuskan untuk masuk ke dalam mobilnya dan langsung menghubungi Ken.
"Halo, Ken. Ada sesuatu yang ingin kukatakan," ucap Keisha langsung pada intinya.
"Ya, jangan banyak bicara, Kei, lajukan saja mobilmu sekarang. Dan jangan pulang dari jalur utama, pilihlah jalur belakang rumah sakit," jawab Ken serius.
"Ada apa? Apa kau sedang mengawasiku?" tanya Keisha.
"Jangan banyak bicara, dan satu lagi, jangan matikan teleponnya. Ingat, pulang lewat jalur belakang!"
"Baiklah."
Keisha memasang headset-nya lalu menyalakan mobil dan melajukannya dengan kecepatan normal.
Suasana hati ceria Keisha tiba-tiba berubah. Ia terus menatap lurus jalan di depannya dan mencoba fokus.
"Kei, kau masih mendengarku?" tanya Ken di seberang sana.
"Ya aku masih mendengarmu."
"Kau tetap fokus dan juga dengar aba-aba dariku, percayalah padaku, Sayang. Aku ada di sekitarmu."
Saat jalanan yang Keisha lewati mulai sepi. Tiba-tiba saja sebuah mobil sport berwarna merah menyala melaju ke arah mobil Keisha, dan siap menghantamnya.
"Kei, dengar aba-aba dariku!"
"Satu."
"Dua."
"Tiga."
"Lajukan mobilmu dengan kecepatan tinggi! Dan sedikit mepet ke pinggir jalan!"
Keisha tersentak, dengan segera ia melakukan apa yang Ken perintahkan.
Dar
Suara ledakan terdengar dari arah belakang. Keisha berhenti lalu menoleh ke belakang, dan ternyata, mobil sport merah itu terbalik dan meledak di sana.
Keisha menutup mulutnya kaget, tanpa ia sadari Ken dan para polisi terus mengetuk pintu mobilnya.
"Kei, kau baik-baik saja, Sayang?" tanya Ken khawatir saat Keisha sudah keluar dari mobilnya.
"Aku baik-baik saja, tapi bagaimana dengan mobil itu?" tanya Keisha yang sudah masuk dalam pelukan hangat Ken.
"Kami yang akan mengurusnya, Nona" jawab salah seorang polisi yang datang bersama Ken tadi.
"Siapa dia, Ken? Kenapa dia ingin berbuat seperti itu padaku?" tanya Keisha.
__ADS_1
Ken melepaskan Keisha dari pelukannya. Lalu memegang kedua pipi wanita itu.
"Siapapun dia, apapun motifnya, aku tidak akan diam saja melihatnya ingin melukaimu," jawab Ken sambil menatap wajah Keisha.
Aku satu langkah di depanmu, Arya! (Ken)
☆ Flashback ☆
Ken berjalan mendekati mobil Keisha, ia memeriksa keadaan mobil itu.
"Cih, cara yang sangat murahan," gumam Ken saat mengetahui rem mobil sudah tidak berfungsi lagi.
Ia pun langsung menghubungi bengkel dan meminta mereka memperbaiki mobil Keisha.
"Lalu bagaimana dengan aku? Aku harus ke rumah sakit, Ken," ucap Keisha bingung.
"Ini, kau pakai mobil ini."
Ken menyerahkan kunci mobilnya pada Keisha. Mobil itu sudah Ken periksa dan sengaja Ken berikan pada Keisha, karena mobil miliknya ini anti peluru dan juga memiliki warna yang sama dengan mobil Keisha.
Setelah mobil Keisha melaju menuju rumah sakit. Ken langsung menghubungi teman kerjanya, yang tak lain adalah Hendra.
Hendra memiliki hubungan yang cukup baik dengan Arya, membuat Hendra mengetahui apapun yang sedang Arya rencanakan, termasuk mencelakai Keisha hari ini.
Saat Hendra mengetahui hal itu, ia segera menghubungi Ken, dan menjelaskan semuanya dengan baik-baik. Awalnya Ken tidak terlalu percaya pada Hendra, mengingat Hendra termasuk teman akrab Arya, bisa-bisa ini hanya motif belaka, pikir Ken.
Namun, setelah Hendra berhasil mencuri informasi tentang taktik yang digunakan Arya, dan langsung melaporkan hal itu pada Ken, membuat Ken langsung percaya padanya.
Taktik sudah bocor dan sudah tersimpan di otak Ken. Dan beruntungnya, Arya sama sekali tidak curiga tentang hal itu. Ia tetap mengunakan taktik yang sudah ia rancangan dengan matang, yang nyatanya sudah sampai pada telinga Hendra dan juga Ken.
Dalam taktiknya, Arya memilih jalur utama rumah sakit. Kenapa? Karena jalur itu memberikan 80% peluang untuk melancarkan aksinya. Berbeda dengan jalur belakang yang hanya memberikan peluang sebanyak, 50%.
Saat mobil Arya sudah keluar dari persembunyian, Ken dan Hendra langsung memberi aba-aba pada para polisi yang sudah siap mengintai. Dan benar saja, ketika jalan yang Arya dan Keisha lewati mulai sepi, barulah Arya mengambil ancang-ancang untuk menghantam mobil Keisha.
Sialnya, saat mobilnya sudah melaju dan satu langkah lagi menabrak mobil Keisha. Arya langsung hilang fokus, membuat ia sendiri yang terjebak dalam perangkat yang ia rancang. Mobil Arya langsung melayang dan terbalik di tengah jalan. Tidak lama, teman kerjanya pun menembakkan peluru yang seharusnya untuk Keisha tapi jatuhnya kepada Arya, dan langsung membuat mobil itu meledak dan terbakar hebat.
Flashback off
Keisha membulatkan matanya tak percaya. Ia menoleh ke arah Ken, lalu kembali memperhatikan mobil sport yang sudah dibalik lagi, dan sudah menampakkan siapa pengemudinya.
"Dokter Arya?" gumam Keisha.
Ia melirik Ken sekali lagi. Lalu beralih menatap tubuh Arya yang sudah terbakar hangus.
"Ken."
Keisha langsung memeluk Ken erat. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana jika Ken tidak menyelamatkannya tadi. Pasti sekarang dirinya lah yang sudah terbakar hangus seperti Arya.
Beberapa menit kemudian, muncullah Hendra dengan senyum tipis di bibirnya. Hendra menjabat tangan Ken lalu tersenyum pada pria itu.
"Terimakasih senior," ucap Ken berterimakasih pada Hendra yang memang menjadi seniornya dalam bidang ilmu bela diri.
"Sama-sama, Ken." Hendra tersenyum menatap Keisha lalu beralih menatap Ken.
"Semoga kalian selalu dalam lindungan-Nya. Dan hal seperti ini tidak terulang lagi pada siapapun ke depannya," lanjut Hendra.
Hendra pamit karena ada beberapa urusan yang harus ia selesai, salah satunya mengajar di perguruan yang sudah kembali sunyi tanpa kehadiran Jessica.
__ADS_1
☆☆☆☆☆☆
Villa Kamboja
Aldy berdiri di depan jendela, ia sedang mengobrol dengan Ken, lewat telepon. Keduanya sedang membahas kejadian yang baru saja menimpa Keisha.
"Siapa yang menelepon?" tanya Jessica sambil memeluk tubuh Aldy dari belakang.
Aldy berbalik lalu menatap ke arah Jessica. Ia menjauhkan Hpnya.
"Ken, tunggu sebentar lagi," ucapnya lalu mengecup kening Jessica.
Aldy kembali mendekatkan Hpnya. Sekitar 3 menit kemudian, keduanya sudah selesai bicara dan memutuskan sambungan telepon.
"Ada apa? Kenapa Ken menelepon selama itu? Kenapa tidak langsung datang ke sini?" tanya Jessica.
"Ada beberapa hal yang harus di bahas sekarang juga, dan tidak mungkin, kan? dia datang ke sini, sementara perusahaan dan juga Keisha sedang membutuhkan dirinya?" jawab Aldy lalu menggandeng tangan Jessica keluar dari Villa Kamboja.
"Apa yang terjadi pada Keisha?"
"Tidak apa, dia baik-baik saja. Kau jangan khawatir, Ken ada untuknya."
"Baiklah."
Aldy mengajak Jessica menaiki mobil, lalu melajukan mobil itu ke suatu tempat yang mungkin pernah Jessica kunjungi sebelumnya.
Kafe Senja
Kafe ini terlihat sepi, tidak sama ramainya ketika Jessica dan Laras berkunjung ke sini waktu itu. Aldy menggenggam tangan Jessica erat, menaiki tangga-tangga kecil untuk sampai pada kafe senja.
"Sayang, kenapa sepi sekali? Apa mereka sedang tutup?" tanya Jessica lalu duduk di kursi yang terletak di tengah-tengah Kafe. Tidak ada kursi lain, selain kursi itu.
"Ya, karena hari ini khusus untuk kita, kafe ini hanya untuk kita, hanya untuk aku dan istriku," jawab Aldy tersenyum.
Ya, Tuhan...
Kenapa dia melakukan semua ini, ini terlihat berlebihan bagiku. (Jessica)
"Sussst, simpan kata-kata itu, aku tau, kau tidak suka diperlakukan seperti ini. Tapi percayalah, aku, suamimu ini hanya ingin yang terbaik untukmu. Itu saja, mengertilah."
Jessica bangkit dari duduknya, lalu memeluk tubuh Aldy erat. Ia menatap netra coklat indah pria itu, dan langsung mendaratkan ciuman singkat pada bibir Aldy.
"Terimakasih atas semuanya, Aku mencintaimu."
Aldy menatap Jessica, ia mendekatkan wajahnya pada wanita itu.
"Ulangi sekali lagi," ucap Aldy, dan langsung membuat wajah Jessica bersemu merah.
"Tidak mau!" tolak Jessica lalu memalingkan wajahnya yang sudah memerah, karena malu.
"Baiklah, aku tidak akan memaksamu," ucap Aldy dengan nada yang dibuat kecewa.
Cup
Jessica mencium pipi pria itu, lalu tersenyum manis.
"Sudahlah, sekarang bisakah kita makan. Apa kau tidak sayang pada istrimu ini?" ucap Jessica.
__ADS_1
"Hahahaha, baiklah, istriku, duduklah."
Aldy menarik kursi untuk Jessica, lalu duduk setelah wanitanya duduk di hadapannya.