Mencintai Seorang Bodyguard

Mencintai Seorang Bodyguard
Minimarket


__ADS_3

Sore harinya. Seperti biasa, Jessica sudah melajukan mobil menuju kampus untuk menjemput Kamila. Suasana sore itu terlihat begitu tenang, banyak para pedagang yang menjejerkan dagangannya di taman kecil dan juga di pinggir jalan.


Mobil sudah memasuki area parkiran kampus, terlihat Elis dan Kamila sudah menunggu di sana.


"Eh, Kak Jess sudah datang." Elis menyikut Kamila pelan. Kamila menoleh ke arah mobil berwarna hitam polos yang tidak jauh terparkir di hadapannya.


"Aku duluan, Lis, kamu nggak pulang?" Kamila merapikan beberapa kertas yang ia pegang, melipat lalu memasukkannya ke dalam tas.


"Kamu duluan aja, aku masih ada janji sama senior." Elis mengukir senyum manis di bibirnya. Kamila membalas senyuman itu dengan senyuman manis andalannya.


"Kak Jess," sapa Kamila yang sudah masuk ke dalam mobil. Gadis itu merapikan duduknya sampai ia betul-betul merasa nyaman dengan posisinya. Jessica tidak menjawab ia hanya tersenyum lalu menyalakan mobil dan melajukannya keluar dari area parkiran kampus.


"Hmmm, kita mampir ke Minimarket itu, ya." Kamila menunjuk sebuah Minimarket yang berada di ujung jalan, Minimarket itu terlihat sedikit ramai dengan beberapa remaja yang duduk tepat di dekat pintu masuk.


"Mau beli sesuatu?" tanya Jessica, namun pandangannya tetap fokus pada jalanan di depannya.


"Beli minuman dan sedikit camilan saja," jawab Kamila sambil membayangkan minuman segar dan beberapa jenis camilan yang menjadi kesukaannya akhir-akhir ini.


"Baiklah."


Kini mobil sudah berada di depan Minimarket, Kamila keluar lalu disusul oleh Jessica di belakangnya. Terlihat beberapa remaja menatap Kamila kagum, mereka berbisik satu sama lain. "Wah...bidadari turun dari langit," bisik salah satu dari mereka.


"Cantik dan manis," timbal teman di sebelahnya. Mereka langsung terdiam ketika mendapatkan tatapan tajam dari Jessica.


"Itu kakaknya, ya, serem banget," bisik mereka setelah Kamila dan Jessica sudah masuk ke dalam Minimarket.


Suasana di dalam terlihat begitu tenang, para pegawai menyambut setiap pembeli dengan senyum manis mereka. Antrian di kasir juga terlihat cukup ramai. Sepertinya Minimarket ini memiliki pelayanan yang bagus. Sehingga banyak orang yang memilih belanja di sini di banding tempat lainnya, pikir Jessica.


Kamila sudah kembali dengan beberapa makanan dan camilan di tangannya, ia ikut mengantri untuk membayar di kasir.


Suasana yang tenang itu tiba-tiba merubah.


Duar....


Sebuah batu berukuran besar menghantam kaca Minimarket membuat pencahan kaca berserakan di mana-mana.


Pembeli mulai berteriak tidak karuan ketika segerombolan pria masuk dan mengacak-acak isi Minimarket itu. Jessica mulai waspada, ia menarik lengan Kamila sedikit kasar, membuat gadis itu berdiri tepat di sampingnya.


Suasana semakin gaduh ketika para remaja yang duduk di depan tadi mulai masuk ke dalam Minimarket dan beradu otot dengan gerombolan pria yang cukup seram itu.


Kamila bergetar ketakutan, ia memeluk Jessica kuat, semakin lama semakin kuat.


Jessica melirik ke arah pintu keluar yang sudah di hadang oleh dua orang yang berbadan tinggi dan botak. Keduanya terlihat begitu seram di mata para pembeli, kecuali tidak di mata Jessica tentunya.

__ADS_1


Seorang pria berambut hitam panjang berjalan mendekati Kamila dan Jessica, dia membawa sekeping pecahan kaca tajam di tangannya. Dia membidik ke arah pundak Kamila, mengayunkan tangannya dan melempar pecahan kaca itu pada bidikannya.


Jessica langsung memutar tubuh Kamila, dan "Khemm..." Dia bisa merasakan benda tajam menancap di pundaknya. Jessica membalik tubuhnya menatap si pria rambut hitam yang sudah menantangnya.


Jessica menarik Kamila menuju sudut ruangan, "Tunggu sebentar saja, jangan bergerak sedikit pun dari sini." Jessica menatap Kamila, menyakinkan pada gadis itu bahwa semua akan baik-baik saja.


Jessica mulai berjalan dua langkah meninggalkan Kamila, namun langkahnya terhenti ketika gadis itu menggenggam tangannya erat. "Kak Jess, aku takut," ucapnya sambil menatap mata Jessica.


"Sebentar saja, Kak Jess janji. Ini tidak lebih dari sepuluh menit." Jessica melepaskan tangannya dari Kamila. Wanita itu mencabut dengan kasar kaca yang masih menancap di pundaknya, membuat darah semakin mengalir secara deras dari sana.


Kamila duduk sambil memeluk lututnya, ia menatap punggung Jessica yang berdarah "Sejak kapan Kak Jess terluka?" Ia memincingkan matanya memperjelas apa yang ia lihat tadi.


Suasana semakin memanas ketika Jessica bergabung di sana, ia melirik beberapa remaja yang sudah kehabisan tenaga menghadapi para pria yang cukup mahir itu.


Jessica memberikan isyarat pada mereka agar keluar dari pergulatan ini, mereka memandang Jessica ragu. Karena sudah tidaak berdaya, akhirnya mereka menjauh dari sana.


Dan kini suasana semakin memanas. Satu orang wanita bertanding dengan tiga pria tinggi dan kekar. Para pembeli dan pengawai saling menatap, mereka sudah tidak mempunyai daya upaya lagi. Minimarket ini sudah terkunci dari dalam, membuat orang yang di luar hanya bisa menggedor dan berteriak-teriak tidak jelas.


Kamila memejamkan matanya, ia tidak sanggup jika harus melihat Jessica di habisi oleh tiga pria itu.


Terdengar jeritan yang begitu keras dari salah seorang pria tadi, badannya terkapar lemah di lantai Minimarket. Darah mengalir dari sudut bibirnya, perutnya terasa begitu keram dan pinggangnya terasa patah. Ia menjerit sejadi-jadinya karena sudah tidak tahan menahan sakit yang ia rasakan.


"Aku tidak tau apa maksud kedatangan kalian ke sini, tapi jelas-jelas kau...kau yang menantangku untuk beradu otot denganmu." Jessica meninggalkan pria yang sudah tidak berdaya itu, pria itulah yang sudah memancing kemarahan Jessica tadi.


Jessica tidak mendengar perkataan mereka, ia benar-benar sudah terpancing saat ini. Tanpa aba-aba Jessica mendaratkan pukulan yang cukup keras di pelipis keduanya.


Suasana mulai hening, semua yang ada di dalam Minimarket menatap Jessica kagum. Tak terkecuali para remaja yang sempat melihat Jessica di pintu masuk tadi.


"Kak Jess...." Kamila berlari lalu memeluk Jessica erat. "Kak Jess tidak apa-apa?" Kamila mengamati setiap sudut wajah Jessica, ia tidak menemukan satupun luka di sana. Seketika, ia mengingatkan darah yang mengalir dari pundak Jessica tadi, Kamila membalik badan Jessica. Dan benar saja, pundak itu masih mengeluarkan darah yang begitu banyak.


"Kita ke rumah sakit." Kamila menarik tangan Jessica, membawa wanita itu keluar dari Minimarket.


Mobil polisi sudah berjejeran di pinggir jalan, mengawasi lokasi yang tiba-tiba ramai di kerumuni orang-orang.


"Apa Nona baik-baik saja?" tanya seorang polisi yang baru saja datang. Jessica tidak langsung menjawab, "Ini hanya luka kecil, Pak," jawabnya setelah beberapa detik.


Polisi menyeret tiga tersangka utama, salah satu dari mereka masih tidak sadarkan diri juga. Kini Minimarket itu sudah di kerumuni oleh banyak awak media. beruntung saja, Kamila dan Jessica sudah meninggalkan tempat itu beberapa menit yang lalu.


---------


"Ini kan bukan jalan menuju rumah sakit." Kamila menatap ke luar jendela, jelas-jelas ia tau jalan ini akan mengantarkan mereka menuju kompleks perumahan yang menjadi kediaman Keluarga Pranata.


"Kak Jess, sebaiknya kita ke rumah sakit dulu, Kak Jess terluka." Kamila memiringkan tubuhnya menghadap Jessica. Wanita itu tidak menjawab, ia tetap melajukan mobil memasuki kompleks perumahan.

__ADS_1


"Ini hanya luka kecil, luka besar akan terjadi jika aku tidak segera mengantarmu pulang." Mobil terparkir di halaman rumah utama, di sampingnya sudah terparkir sebuah mobil berwarna putih milik Aldy. Menandakan ia sudah pulang dan pasti sedang menunggu di dalam.


"Kak Jess akan menjelaskan semuanya, kau tenang saja." Jessica tersenyum lebar, ia benar-benar mati rasa akan luka di tubuhnya.


Belum sempat keduanya melangkahkan kaki untuk masuk, pintu utama sudah terbuka. Aldy dan Ibu berdiri di ambang pintu sambil menatap Jessica dan Kamila bergantian.


"Apa yang terjadi?." Aldy menatap Jessica yang terlihat sedikit lelah, seperti sudah mengeluarkan tenaga yang begitu besar.


"Apa yang terjadi padamu?" Ibu berjalan ke arah Jessica, ia menatap jaket abu yang sudah berlumuran darah itu. Aldy ikut berjalan mendekati Jessica, seketika matanya tertuju pada pundak Jessica yang masih mengeluarkan darah.


"Kakak..." Kamila berlari lalu memeluk Aldy, ia menenggelamkan wajahnya pada dada bidang kakaknya itu. Air mata mengalir membasahi pipinya.


"Apa yang terjadi, Ila?" Aldy melepas pelukan Kamila lalu memutar badan adiknya, memeriksa setiap anggota badan gadis tersebut. "Tidak ada luka sedikit pun," gumamnya. Kini pandangan beralih pada Jessica dan Ibu.


"Hubungi Dokter Rhani sekarang!" Ibu menatap Aldy. Aldy yang mendapat tatapan seperti itu langsung menghidupkan Hp dan menghubungi Dokter Rhani. Sayangnya Dokter itu masih di luar daerah, terpaksa Aldy menyuruh Dokter terbaik yang masih ada di rumah sakit untuk menggantikannya.


"Ini tidak apa-apa, Nyonya, hanya sedikit luka saja." Jessica berusaha menyakinkan Ibu kalau ia baik-baik saja.


"Jangan banyak bicara, diam dan diam. Mengerti!" Ibu sudah mulai melepaskan jaket yang di kenakan Jessica dan merapikan ikatan rambut Jessica yang sudah tidak karuan.


"Biar saya bantu, Nyonya." Kepala pelayan mendekat, ia merasa kasian pada Jessica dan juga merasa malu pada Nyonya Besarnya karena ia hanya menonton bukannya membantu.


"Tidak apa-apa, sebaiknya kamu tunggu Dokter di depan sana." Ibu membersihkan luka Jessica dengan air hangat. Luka itu sudah tidak mengeluarkan darah lagi, namun masih ada sisa darah yang sudah mengering di pundak Jessica.


"Kenapa bisa seperti ini, Nak?" Ibu memperbaiki posisi handuk yang menutupi punggung Jessica.


"Saya juga tidak mengerti, Nyonya, tiba-tiba saja mereka datang dan salah satu dari mereka berusaha melukai Kamila." Jelas Jessica.


"Lalu ini, kenapa bisa luka seperti ini?"


"Saya hanya melindungi Kamila dan ini sudah menjadi kewajiban saya," ucap Jessica tegas, baginya keselamatan Kamila di atas segalanya walau ia harus mati sekalian pun asalkan gadis manja itu tetap selamat.


"Jessica...." Ibu duduk disamping wanita itu, memeluknya erat, mengalirkan kasih sayang seorang Ibu padanya.


Jessica tidak menolak, ia juga sudah lama tidak mendapatkan pelukan hangat seperti ini. Sekilas dua bibir tersenyum melihat pemandangan indah di depan mereka. Aldy dan Kamila menatap satu sama lain, "Bersiaplah untuk berbagi Ibu dengan Kak Jess," ucap Kamila. Aldy hanya menjawab dengan senyuman lalu kembali menatap dua wanitanya yang masih berpelukan itu.


Bersambung....


_____


Gimana Kak, Judul dan Covernya tidak terlalu burukkan?


Author harap begitu😊*

__ADS_1


__ADS_2