
Malam itu suasana di rumah utama sangat berbeda, biasanya terdengar keributan dari Ken dan Kamila ataupun dengan Jessica. Namun sekarang berbeda, Ken sudah pulang sebelum Kamila dan Jessica pulang tadi sore. Dan Kamila, gadis itu mengurung dirinya di kamar sejak sore tadi. Sampai sekarang gadis itu pun belum keluar dari kamarnya.
"Mbak, tolong panggilkan Kamila." Ibu menatap ke arah pintu kamar Kamila yang masih tertutup rapat sejak tadi.
"Baik, Nyonya." Kepala pelayan itu berjalan menaiki tangga menuju kamar Kamila, ia mengetok pintu pelan.
"Nona...Tuan Muda dan Nyonya Besar sudah menunggu Anda di meja makan," ucap sang kepala pelayan. Cukup lama ia berdiri dan memanggil dari balik pintu, namun tidak ada jawaban dari Kamila.
"Nona..." Pelayan itu mulai khawatir, "Nona, apa Nona baik-baik saja?" Ia mencoba membuka pintu dan ternyata pintu kamar itu tidak terkunci.
Terlihat Kamila sedang tidur di atas meja belajarnya, beberapa kertas basah karena terkena air dari rambut Kamila yang masih terlihat basah.
"Nona." Kepala pelayan itu menyentuh bahu Kamila pelan, membuat gadis itu terbangun. "Ada apa, Mbak?" tanya Kamila dengan suara yang sedikit serak.
"Tuan Muda dan Nyonya Besar sudah menunggu Anda di meja makan," ucap kepala pelayan itu lalu mengundurkan diri, menutup kembali pintu kamar.
Kamila keluar dari kamar, kepalanya terasa begitu berat, matanya sangat mengantuk tapi perutnya tidak mendukung untuk melanjutkan tidur lagi. Cacing-cacing di perutnya sudah berteriak karena kelaparan.
"Ini meja makan bukan kasur, wahai Nona Manja." Aldy menatap ke arah Kamila yang sudah menyadarkan kepalanya di kursi Ibu lalu tangannya memeluk tubuh wanita paruh baya itu.
"Hmmm, Kak." Kini rasa kantuk Kamila sudah menghilang, ada beberapa permintaan aneh yang tiba-tiba muncul di kepalanya. Tapi ia tidak ingin meminta yang aneh-aneh untuk saat ini, cukup satu permintaan saja.
"Apa? Kenapa menatapku seperti itu?"
"Hehehe...aku hanya ingin meminta satu hal pada Kakak, aku yakin Kak Aldy bisa melakukannya untukku," ucap Kamila dengan mata yang berbinar terang.
"Turuti saja, Nak." Ibu menatap mata coklat putranya. "Adikmu tidak akan meminta hal yang aneh-aneh." Begitulah pesan yang disampaikan oleh tatapan ibu.
"Hmmm, mau minta apa?" Aldy menggeser kursinya lalu pindah ke kursi kosong di samping Kamila.
"Buatlah peraturan yang mengatakan kalau Kak Jessica wajib untuk menemaniku makan malam," ucap Kamila serius. Beberapa malam ini ia tidak berserela untuk makan karena tidak ada Jessica di sampingnya.
"Ibu rasa tidak ada yang aneh dengan permintaan adikmu," ucap Ibu setelah melihat ekspresi yang di berikan Aldy ketika mendengar permintaan Kamila.
"Hmmm, bagaimana dengan Ibu, apa Ibu setuju dengan peraturan itu?" Aldy menatap Ibu meminta jawaban.
__ADS_1
"Bahkan Ibu juga menginginkan hal yang sama," jawabnya. Ibu menatap mata Kamila yang sudah berbinar terang dari awal. Mata itu semakin berbinar ketika mendengar jawaban darinya.
"Menurutku...." Aldy memotong ucapannya lalu beralih menatap Ibu dan Kamila secara bergantian.
"Menurutku, kita tidak perlu mengikat Jessica dengan peraturan itu. Dia pasti akan menemani Kamila jika Kamila memintanya," sambung Aldy.
"Jika tidak?" tanya Kamila, gadis itu faham betul dengan sikap Jessica.
"Kamu tahu, 'kan, posisi Kak Jess di rumah ini. Dan kamu tahu, 'kan peraturan di rumah utama." Jawaban itulah yang selalu Kamila dapatkan dari Jessica.
"Kakak yang akan bicara dengannya." Aldy menatap Kamila lalu mendekap gadis itu dalam pelukannya. "Apa kamu tidak akan makan jika tidak dengannya?" Aldy mengelus kepala Kamila lembut, mengalirkan seluruh kasih sayangnya pada gadis manja itu.
"Kakak....aku sayang Kak Aldy dan Kak Jessica." Kamila melepaskan diri dari pelukan hangat Aldy, ia menatap mata coklat kakaknya mencari jawaban tentang perasaan Aldy yang sebenarnya.
"Apa Kak Aldy tidak ingin mengikat Kak Jessica dengan hubungan yang lebih dari Tuan Muda dan Bodyguard saja?" tanya Kamila sedikit ragu. Sejauh ini, ia rasa Kakaknya memang sudah menyukai Jessica, tapi Jessica? Apakah wanita itu menyukai Aldy?
"Ila..." panggil Ibu, ia tahu putranya tidak bisa menjawab pertanyaan Kamila tadi, oleh sebab itu ia ingin mengalihkan pembicaraan diantara keduanya.
"Istirahatlah, Nak, ini sudah larut." Ibu menggandeng tangan Kamila keluar dari ruang makan, ia memberi isyarat pada Aldy agar ikut istirahat juga. Aldy hanya mengangguk lalu ikut keluar dari ruang makan.
----------
"Apa yang kau lakukan di sini? Ini sudah larut malam dan udara begitu dingin. Masuklah dan istirahat!" ucap salah seorang pelayan yang baru kembali dari rumah utama.
"Aku belum mengantuk, Mbak." Jessica melirik ke arah pelayan tadi lalu kembali menatap air mancur di depannya.
"Masuklah, Jess!" Suara Aldy mengagetkan keduanya, pelayan itu menatap Tuan Mudanya lalu pamit untuk kembali ke kamarnya.
Jessica menggeser tubuhnya, memberi ruang kosong agar Aldy bisa duduk di sampingnya.
"Apa yang Tuan lakukan di sini?" tanya Jessica. Namun tatapanya masih terfokus pada air mancur di depannya.
"Apa masih sakit lukanya?" Aldy malah bertanya balik. Pria itu melirik ke arah pundak Jessica yang tertutup oleh jaket Levis berwarna hitam pekat.
"Ini hanya luka kecil, Tuan, da...." ucapannya terpotong ketika Aldy meraih tangannya dan menggenggamnya erat. Jessica memiringkan tubuhnya menatap Aldy, tatapan mereka bertemu.
__ADS_1
"Jadilah bagian dari keluarga kami." Aldy menggeser tubuhnya, sampai tidak ada lagi jarak diantara keduanya. Spontan Jessica berdiri, "I-ini sudah larut, Tuan, saya pamit." Jessica melangkahkan kakinya hendak menjauh dari Aldy.
"Tunggu dulu, aku belum selesai bicara!" Aldy menarik tangan Jessica kuat membuat gadis itu jatuh dalam dekapannya. Keduanya terdiam dan saling menatap.
"Demi Kamila," ucap Aldy lalu melepaskan Jessica dari dekapannya. Jessica tidak menjawab.
"Demi Ibu." Aldy menatap wajah Jessica lekat, wanita itu masih diam dan tidak menjawab satu katapun.
"Dan Demi Aku...." Akhirnya kata-kata itu keluar dari mulut Aldy, susah payah pria itu memaksa agar tiga Kata itu keluar dari mulutnya.
Jessica menatap Aldy lekat, "Maksud Anda?".
"Menikahlah denga ku..." Aldy menatap Jessica penuh cinta dan kasih sayang. "Aku mencintaimu," sambungnya.
Keringat dingin membasahi tubuh Jessica, wanita itu terbangun dan melirik sekitar. "Huh, ternyata hanya mimpi," ucapnya setelah menyadari ia di dalam kamar sendirian dan kejadian itu hanyalah bunga tidur baginya.
Jessica melirik jam tangannya. Waktu menunjukkan pukul 03.25 dini hari.
"Huh, moment seindah itu hanya terjadi di dunia mimpi dan halu saja." Jessica menarik selimut sampai menutupi seluruh bagian tubuhnya."Aaaaa....mimpi itu sangat manis dan romantis sekali," teriak Jessica dari dalam selimut.
Ia berguling-guling ke kiri dan kanan. Mencoba untuk kembali tidur, tapi matanya terasa begitu segar dan tidak mengantuk lagi.
"Sial..." Jessica berjalan ke arah meja kecil di samping lemari kayu yang begitu tinggi dan besar, ia meraih Hpnya lalu kembali duduk di atas kasur.
"Huh, laki-laki sama saja, sama-sama buaya semua," ucapnya setelah melihat begitu banyak DM yang masuk ke dalam akun instagramnya. Dan rata-rata semua itu di kirim oleh para laki-laki buaya.
Jessica meletakkan Hp lalu beralih memegang sebuah Jaket Levis berwarna hitam yang masih terbungkus rapi di dalam lemarinya.
"Terimakasih," gumamnya sambil membuka sebuah bungkusan. Ia menatap lekat jaket itu lalu memakainya.
Bersambung....
-------
Maaf ya, jangan katain Author PHP atau sejenis😂 Author minta maaf🙏
__ADS_1
Kisah mereka tidak akan berjalan semudah dan semulus mimpi Jessica tadi😂
Sekali lagi Maaf🙏