
13 Februari.
Aldy dan Ibu berlari ke arah Dokter Lukman yang baru saja keluar dari ruangan Jessica. Aldy menarik nafas dalam, mencoba menenangkan dirinya agar bisa bicara dengan lancar.
"Bagaimana keadaannya, Dok?" tanya Aldy. Pria itu melirik ke arah Jessica yang masih terbaring lemah di dalam sana.
"Nona Jessica sudah bangun tadi malam, keadaannya lebih baik dari sebelumnya. Dia wanita yang sangat kuat, fisiknya dua kali lebih kuat dari wanita pada umumnya. Tapi...." Dokter Lukman berhenti, ia menatap Aldy lalu mengajak Aldy dan Ibu untuk bicara di ruangannya saja.
Aldy dan Ibu membuntuti Dokter Lukman sampai ke dalam ruangan. Keduanya duduk di hadapan Dokter Lukman dengan ekspresi yang tidak dapat digambarkan lagi.
"Begini, Tuan, Nyonya. Kepala Nona Jessica mengalami benturan yang sangat keras menyebabkan......" Dokter Lukman diam lagi. Ia mengeluarkan beberapa lembar kertas, memberikannya pada Aldy.
"Jadi, Jessica mengalami amnesia?" Ibu dan Aldy menatap Dokter Lukman dengan sorot mata yang sama. Keduanya mengharap jawaban 'tidak' yang keluar dari Dokter di hadapan mereka.
"Anda tenang dulu, ini hanya sementara, kami akan berusaha sebaik mungkin untuk membantu kembalinya ingatan Nona Jessica, tentunya dengan dukungan dan kerjasama dari Anda, keluarga Nona Jessica," jawab Dokter Lukman. Ia terus memutar otaknya, mencari cara dan jawaban terbaik untuk kedua orang terhormat itu.
"Katakan, berapa lama ini terjadi?" tanya Aldy sambil mengetuk-ngetuk meja Dokter Lukman. Wajah dan aura dinginnya mulai terpasang.
"Masa pemulihan setiap orang berbeda-beda, Tuan, Nyonya. Tapi kami akan melakukan yang terbaik untuk Nona Jessica, Anda tenang saja," jawab Dokter Lukman dengan ekspresi wajah yang sudah berubah.
"Aku ingin yang terbaik untuknya, semuanya! Perawatan dan fasilitas yang terbaik!" Aldy menatap Dokter Lukman. Dokter itu tersenyum lalu mengangguk pada Aldy dan Ibu.
"Astaga, ternyata benar. Tuan Aldy cepat sekali berubah, sebentar ramah, sebentar dingin. Cukup menyeramkan," gumam Dokter Lukman saat Aldy dan Ibu sudah keluar dari ruangannya.
Jack menatap Aldy yang baru saja keluar dengan ekspresi kecewa, sedih dan bersalah. Ia mendekat ke arah Aldy dan Ibu.
"Bagaimana, Kak?" tanya Jack. Ia mengikuti arah tatapan Aldy. Aldy terus menatap ke dalam ruang rawat Jessica dengan tatapan yang tidak bisa diartikan oleh siapapun.
"Aku mohon kerjasamamu, Jack." Aldy mengeluarkan Hpnya, ia menghubungi beberapa orang.
"Sebenarnya apa yang terjadi, Bu?" tanya Jack pada Ibu yang duduk di kursi panjang rumah sakit. Ibu menarik nafas panjang, lalu menatap wajah Jack.
"Kak Jess-mu amnesia," jawab Ibu lirih.
Ia tau, Jack pasti sangat terpukul dengan semua ini, namun Jack selalu terlihat tenang di hadapan Ibu, Aldy dan Kamila.
"Apa Kamila sudah mengetahui ini?" Jack menatap Jessica yang masih terbaring lemah di dalam sana. Hatinya hancur, ia tidak sanggup melihat Kakak tersayangnya lemah seperti itu.
"Jessica wanita yang kuat, kau jangan khawatir padanya, Jack. Dia kuat, dia bisa, kau tenang, ya." Ibu memegang pundak Jack, mengelusnya lembut.
"Ibu, aku pamit, ya. Aku akan menjemput Kamila," ucap Jack setelah melihat ke arah jam tangannya.
Ibu mengangguk dengan senyum manis di bibirnya. "Hati-hati, Jack."
Sementara itu, Aldy menghubungi orang-orang suruhannya. Ia meminta agar kejadian yang menimpa Jessica disembunyikan dari media sosial. Aldy tidak ingin Jessica mengetahui kecelakaan itu jika keadaan Jessica sudah membaik nantinya.
"Ken, kau tangani perusahaan dengan baik. Aku sangat percaya padamu," ucap Aldy sebelum memutuskan sambungan telepon dengan Ken.
"Terimakasih atas kepercayaanmu, aku tidak akan mengecewakanmu. Kau tenang saja," jawab Ken di seberang sana.
Aldy kembali untuk menemui Ibu setelah memutuskan sambungan dengan Ken. Ia kembali menelepon beberapa bodyguard untuk menjemput Ibu dan membawanya pulang, agar Ibu bisa istirahat dan makan dengan nyaman di rumah.
__ADS_1
"Ibu pulang saja, aku akan menemani Jessica di sini. Ibu istirahat, aku tidak ingin terjadi sesuatu pada Ibu, dan Kamila, suruh gadis itu untuk istirahat setelah ia pulang dari kampus. Masalah Jessica, biar aku yang menanganinya." Aldy menatap mata Ibu. Wanita paruh baya itu selalu menemaninya untuk menjaga Jessica, Ibu bahkan terus berdoa yang terbaik untuk calon menantunya itu.
Kini, Aldy sendiri di rumah sakit, ia masih berdiri di depan ruang rawat Jessica. Aldy terus menatap ke dalam sana. Berharap Jessica kembali membuka mata lalu menatapnya.
"Tuan," sapa Dokter Lukman yang hendak masuk ke dalam ruang rawat Jessica.
Aldy diam, tidak berniat untuk menjawab sapaan Dokter ramah itu.
"Anda ingin masuk, Tuan?" tanya Dokter Lukman dengan tangan yang hendak membuka pintu ruangan.
Aldy menoleh, ia menatap Dokter Lukman, meminta Dokter itu mengulangi ucapannya.
"Mari, Anda bisa masuk." Dokter Lukman membuat pintu, Aldy ikut masuk, membuntuti Dokter baik hati itu.
Dokter Lukman mulai memeriksa keadaan Jessica. Ia mengamati setiap luka yang ada di tubuh wanita tangguh itu.
"Jujur saja, Tuan. Saya tidak pernah menemukan pasien seperti Nona Jessica," ucap Dokter Lukman kagum.
Aldy mengerutkan dahinya, "Maksud Anda?"
Dokter Lukman tidak langsung menjawab, ia meminta seorang perawat untuk masuk terlebih dahulu.
"Bersihkan luka di lututnya!" Perawat itu mengganguk lalu melakukan apa yang diminta oleh Dokter Lukman.
Aldy masih menatap Dokter ramah itu.
Ia terus mengamati setiap gerak-gerik Dokter Lukman.
"Lihatlah, Tuan. Luka seperti ini biasanya akan kering setelah satu minggu, namun berbeda dengan Nona Jessica, luka di tubuhnya sudah kering bahkan dalam jangka waktu 2 hari saja," jawab Dokter Lukman.
"Itu dia, saya juga sedikit heran dengan kekuatan fisiknya. Apa Nona Jessica sering olahraga?" tanya Dokter Lukman penasaran.
Dokter Lukman memperhatikan otot-otot lengan Jessica. Ia juga bisa melihat tubuh Jessica yang sangat tegap dengan kaki dan tangan yang begitu kekar, layaknya kaki tangan seorang pria.
"Hmmm, dia guru bela diri," jawab Aldy seadanya. Aldy menatap Dokter Lukman tajam. Ia tidak suka jika ada pria lain yang menatap wajah Jessica lebih lama.
"Apa perlu saya cunggil indra penglihatan Anda, Dok?" ucap Aldy yang sudah terbakar api cemburu.
Astaga, Tuan Aldy benar-benar dingin. Baiklah-baiklah, jangan tatap lagi wanitanya, apapun yang menjadi miliknya jangan kau tatap. Faham kau mata!!! Dokter Lukman.
__________________
Jam 21.45
Aldy masih duduk di samping ranjang Jessica. Ia mengelus pipi, rambut dan tangan Jessica dengan lembut. Memberikan sentuhan-sentuhan yang begitu menenangkan.
Aldy menatap jari-jari Jessica. Ia mengecup lembut jari manis Jessica, mengamati cincin manis yang tersemat di sana.
"Bangunlah, Edelweiss-ku," gumam Aldy. Matanya tidak pernah mengantuk, bahkan tidak rela meninggalkan wanitanya untuk tidur saja.
Perlahan, Jessica membuka matanya. Ia menatap langit-langit kamar rumah sakit. Jessica menoleh ke arah Aldy yang tertunduk dengan tangan yang masih menggenggam tangan Jessica.
__ADS_1
"Aku dimana?" tanya Jessica dengan suara yang masih berat dan lemah.
Spontan, Aldy menegakkan padangannya, menatap mata Jessica yang menatap ke arahnya.
"Jessica," ucap Aldy sambil mengelus pipi Jessica lembut, Aldy bahkan tidak malu meneteskan air matanya di depan Jessica.
"Kau siapa?" Jessica memejamkan matanya, rasa sakit menyerang kepalanya secara tiba-tiba.
"Tunggu, aku akan memanggilkan Dokter untukmu." Aldy menekan tombol merah yang langsung terhubung pada ruangan Dokter Lukman.
Tidak butuh waktu lama, Dokter Lukman dan beberapa perawat lainnya masuk ke dalam ruangan Jessica. Aldy bangun lalu mundur, memberi jalan untuk Dokter dan para perawat.
Dokter Lukman tersenyum, ia meminta seorang perawat untuk mengganti perban di kepala Jessica.
Para perawat merasa begitu kagum pada Jessica, mungkin semua hal itu dikarenakan doa-doa yang selalu mengalir untuk kesehatan Jessica.
"Ternyata benar, kekuatan doa lebih dahsyat dari obat termahal sekalipun." Dokter Lukman menatap Aldy dengan senyum yang begitu menenangkan. Ia dan para perawat mulai mundur dan pamit undur diri pada Aldy.
"Kau siapa?" Lagi-lagi Jessica menanyakan hal itu pada Aldy. Aldy bingung, dia harus mengatakan apa pada Jessica?
"Aku Aldyan, keka--calon suamimu," jawab Aldy sejujurnya.
Jessica mengerutkan dahinya, menatap Aldy tidak percaya. "Hiks, jangan bergurau," jawab Jessica dengan suara yang hampir tidak terdengar oleh Aldy.
Aldy kembali mendekat. Ia menarik kursi lalu duduk seperti tadi.
"Jess, aku berjanji akan selalu ada di sisimu, apapun yang terjadi, mau kau hilang ingatan, aku tidak peduli, aku sangat mencintaimu," ucap Aldy sembari mengelus kepala Jessica lembut.
"Jess?" Jessica menatap Aldy penuh tanda tanya. "Siapa yang kau maksud?"
Aldy menarik nafas dalam, ia bingung, bagaimana caranya agar Jessica mengerti kondisinya sekarang.
"Biaklah, siapa namamu?" Aldy memutuskan untuk bertanya, siapa tau Jessica masih mengingat namanya.
"Aku Audi. Namaku Audi Je...." Jessica diam. Entah kenapa, kepalanya selalu berdenyut sakit ketika mencoba mengingat sesuatu.
"Audi, kau tidak apa-apa? Maafkan kebodohanku, aku bahkan terus mengajakmu bicara seperti ini, kau istirahatlah." Aldy mengelus pipi Jessica. Ia bangun hendak keluar untuk menanyakan kondisi Jessica pada Dokter Lukman.
"Jangan pergi." Jessica menarik ujung baju Aldy, ia menatap Aldy dengan tatapan yang begitu memelas. Entah mengapa, Jessica merasa begitu nyaman jika Aldy ada di sampingnya.
Aldy kembali duduk, "Kau mau apa?" tanyanya pada Jessica yang hendak bangun dari tidurnya.
Aldy menatap Jessica. Ia menekan lengan Jessica pelan. "Tidurlah, kondisimu masih sangat lemah."
"Memang apa yang terjadi padaku?" tanya Jessica yang berhasil membuat Aldy menggaruk kepalanya.
"Sudahlah, Audi. Kau istirahat saja, ya." Aldy kembali mengelus kepala Jessica, membuat Jessica merasakan rasa nyaman yang sangat mendalam.
Sebenarnya apa yang terjadi padaku? Dan siapa laki-laki baik hati ini? Dia mengaku sebagai calon suamiku? Tidak mungkin! Aku tidak pernah jatuh cinta pada siapapun! Dan aku tidak mengenalnya sama sekali! Jessica.
**BERSAMBUNG....
__ADS_1
♡♡♡♡♡♡♡
Note : Kondisi yang dialami Jessica memang pernah author temukan didunia nyata. Dia ingat pada namanya sendiri, namun tidak ingat apa yang telah terjadi padanya dan siapa orang-orang di sekitarnya**.