Mencintai Seorang Bodyguard

Mencintai Seorang Bodyguard
Season 2 Aku Juga Mencintaimu


__ADS_3

Setelah pulang dari markas Andre. Aldy mengajak Jessica untuk mampir ke sebuah kafe. Keduanya masuk dengan ekspresi wajah datar dan dingin mereka.


"Bukannya itu Tuan Aldy?" bisik salah seorang pengunjung pada teman yang duduk di sampingnya. Mata mereka tertuju pada dua orang dingin yang duduk di meja pojok kanan ruangan.


Kali ini, Aldy tidak ingin menggunakan kekuasaannya untuk mendapatkan ruang istimewa. Ia sadar, wanita di depannya ini tidak suka diperlukan secara berlebihan. Oleh sebab itu, ia ingin mengikuti sikap sederhana Jessica. Lagipula, makan di dalam dan di luar ruangan rasanya sama saja. Tidak ada yang berbeda.


Keduanya hanya memesan minum. Tidak ada yang bicara atau bercanda kali ini. Aldy masih dalam mode dinginnya. Ia takut mengeluarkan kata-kata yang akan menyakitkan hati Jessica. Maka dari itu, Aldy memilih diam dan hanya menatap Jessica.


Berbeda dengan Jessica. Wanita itu diam karena tau apa yang Aldy rasakan saat ini. Pria itu pasti sedang cemburu karena melihat kedekatannya dengan Andre tadi.


Setelah dirinya tenang. Barulah Aldy mengajak Jessica untuk pulang ke kediaman keluarga Pranata. Sesampainya di sana. Aldy langsung naik ke dalam kamarnya untuk menyelesaikan beberapa urusan perusahaan yang tertunda. Sedangkan Jessica, ia langsung mencari keberadaan Kamila. Meminta bantuan pada gadis itu untuk membujuk Aldy yang sedang mengambek padanya.


☆☆☆☆☆☆


Malamnya. Ken datang untuk mengantar beberapa berkas penting perusahaan untuk ditandatangani oleh Aldy.


Ken mengedarkan pandangan ke sekeliling rumah utama.


"Hawa dingin mulai terasa." Ken menaiki tangga sambil menatap ke arah pintu kamar Jessica dan juga ruang makan.


Bahkan Kamila dan Ibu ikut bersikap dingin malam ini. Entah apa yang terjadi pada mereka semua.


Tok....tok...tok...


Ken mengetuk pintu kamar Aldy. Untuk pertama kalinya ia mengetuk pintu kamar ini. Biasanya, ia akan membuka pintu ini dengan kunci cadangan yang ada pada dirinya.


Tidak lama. Pintu itu terbuka. Ken pun masuk dan meletakkan berkas yang ia bawa di atas meja kerja Aldy. Ken menatap wajah Aldy, menerka-nerka apa yang sudah terjadi sebenarnya.


"Apa yang terjadi? Kenapa wajahmu seperti itu?" Ken duduk di kursi Aldy. Menatap Aldy yang sedang berbaring di atas kasurnya.


"Aku ingin kau mengurus sedikit masalah," jawabnya lalu bangkit dan mendekati Ken.

__ADS_1


Aldy membisikkan sesuatu. Lalu menatap wajah Ken yang terlihat kebingungan.


"Apa kau yakin?" Ken memastikan lagi. Ia berpikir dirinya telah salah mendengar ucapan Aldy.


"Kau tau sendiri, 'kan. Ayah dan Ibunya bahkan tidak segan-segan untuk melukai Jessica. Aku hanya ingin waspada lagi, aku tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi lagi pada Jessica," jawab Aldy.


Ken pun terlihat setuju kali ini. Ia menelepon beberapa orang yang mengawasi dua orang pria yang menjadi dalang atas kecelakaan Jessica. Ken memerintahkan mereka untuk memperketat penjagaan. Jangan sampai kedua pria itu lolos dari tangan mereka.


Jam sudah menunjukan pukul sepuluh malam. Sedangkan Aldy dan Ken masih belum turun juga untuk makan malam. Hal itu membuat Jessica mengkhawatirkan keduanya. Akhirnya, Jessica memberanikan dirinya untuk naik ke lantai atas. Ia berdiri di depan pintu kamar Aldy.


Apa mereka masih sibuk, ya? (Jessica)


Jessica terus mematung sampai ia tidak sadar kalau pintu itu sudah terbuka, dan Ken sudah berdiri tepat di depannya.


"Audy, apa yang kau lakukan di sini?" tanya Ken sedikit berbisik.


Jessica terperanjak. Ia pun langsung menatap ke arah Ken, yang juga menatap ke arahnya.


"Kau khawatir?" Ken bertanya balik.


"Tentu saja, aku khawatir. Lagipula, kalian bisa, 'kan untuk turun makan sebentar, lalu melanjutkan kerja setelah makan?!" Jessica menatap Aldy yang baru saja keluar dari kamarnya.


Pria itu pun menatap Jessica dan Ken secara bergantian.


"Apa yang kalian lakukan di sini. Lihat, ini sudah jam berapa?!" ucapnya dengan mata yang masih menatap ke arah Ken dan Jessica.


Jessica menghembuskan nafasnya pelan. Ia mendekati Aldy, mengajak Aldy untuk turun ke ruang makan.


"Kenapa tidak turun makan malam? Apa pekerjaan itu lebih penting dari kesehatanmu?" Jessica menarik tangan Aldy secara paksa. Menyeret pria itu menunju ruang makan, meninggalkan Ken yang masih mematung di depan pintu kamar Aldy.


Selalu seperti ini. Kehadiranku tidak pernah dianggap oleh keduanya. (Ken)

__ADS_1


Ken pun menyusul keduanya menunju ruang makan. Namun, ia menghentikan langkahnya dan memilih langsung masuk ke dalam kamar tamu. Meninggalkan kedua insan yang sedang dimabuk asmara itu.


"Aku tidak mau makan!" ucap Aldy lalu mendorong piring itu menjauh dari hadapannya.


"Ayolah, ngambeknya nanti saja. Sekarang kau makan, jangan buat aku mengkhawatirkanmu seperti ini." Jessica meraih piring Aldy. Ia pun mengambil sendok dan menyodorkan se-sendok nasi dan lauk pada Aldy.


"Ayolah, aku tidak ingin kau sakit. Jika kau sakit, nanti yang jadi mempelai prianya siapa?"


Jessica kembali menyodorkan nasi yang tadi Aldy tolak. Kali ini, Jessica berhasil. Aldy menerima suapan darinya dengan senyum tipis menghiasi bibir pria itu.


Ingin bermanja rupanya! (Jessica)


Jessica terus menyuapi Aldy sampai semua nasi dan lauk yang ada di piringnya tandas. Ia pun menyodorkan segelas air pada pria itu.


"Terimakasih." Aldy kembali tersenyum. Ia meletakkan gelas kosong itu lalu menatap Jessica dengan penuh kasih sayang.


"Terimakasih, Jess. Dan Maafkan aku yang kadang tidak bisa mengontrol rasa cemburuku. Aku benar-benar tidak suka melihatmu dengan pria lain. Sekalipun pria itu adalah Andre, sepupumu." Aldy menggandeng tangan Jessica. Mengajak wanita itu keluar dari ruang makan.


Keduanya berjalan ke arah taman samping, yang menjadi pembatas antara rumah utama dan rumah belakang. Sama seperti awal kisah mereka dulu. Aldy dan Jessica duduk di pinggir kolam ikan. Menatap ke arah langit malam yang begitu indah karena dihiasi bintang-bintang dan juga bulan.


"Kau tau, Jess. Di tempat inilah aku dan kau pertama kali berbicara berdua. Waktu itu, sekitar jam 11 malam. Kau termenung di sini, dan aku pun menghampirimu. Ingin sekali aku memeluk dan menenangkanmu, sayangnya, kita dulu tidak sedekat ini, membuat aku ragu untuk melakukan." Kenang Aldy. Ia menoleh ke arah Jessica yang sedang menatap langit malam.


"Dan dulu, di malam yang sangat cerah. Aku dan kau pernah duduk berdua di sebuah taman sambil membahas bintang dan bulan. Kau juga pernah bilang, kau tidak terlalu menyukai bunga. Tapi ada satu bunga yang kau sukai. Dialah bunga Edelweiss. Bunga yang melambangkan dirimu sendiri. Kau bagaikan Edelweiss bagiku. Untuk mendapatkanmu, aku harus menaiki gunung. Belum cukup sampai di situ saja. Aku ingin memetikmu dan membawamu pulang, tapi tidak semudah itu. Kau dilarang dipetik dan bahkan dilindungi oleh undang-undang." Aldy sangat mengingat malam itu. Malam di mana ia melihat senyum cerah Jessica. Dan malam di mana ia memulai perjuangannya untuk mendapatkan Jessica.


"Aku mencintaimu, Jess." Entah berapa kali sudah Aldy menyatakan cintanya pada Jessica. Baginya, mencintai seorang Jessica adalah hal yang paling indah. Dan hal itulah yang merubah semua kehidupannya seperti sekarang.


Jessica pun menoleh. Ia bergeser mendekati Aldy, lalu memeluk pria itu erat.


"Aku juga mencintaimu. Dan aku yakin akan hal itu. Aku benar-benar jatuh cinta padamu," ucapnya.


Aldy membalas pelukan Jessica. Memeluk wanita se-erat mungkin. Seolah-olah tidak ingin Jessica pergi jauh lagi darinya.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2