
Ken tiba di pulau B. Ia langsung meluncur menuju penginapan yang dipesan oleh Keisha dan teman-temannya. Ken melempar pandangannya menuju pantai, ia bisa melihat seorang wanita dengan penampilan yang cukup sederhana disana.
Ken berjalan menghampiri Keisha yang sedang termenung memandang pantai, tatapannya terlihat kosong. Bahkan tubuhnya berayun sesuai dengan tiupan angin pandai yang sejuk.
"Dokter Galak!"
"Hei, tunggu!" Ken menarik lengan Keisha, mendekap Dokter Muda itu dalam pelukannya.
"Lepas!"
"Lepaskan aku, Es Batu Balok!"
"Beruang Kutub!"
"Lepaskan!"
"Aaaaaa...tolong..." Ken terpaksa melepaskan Keisha dari dekapannya, ia menatap Keisha tajam.
"Hust....nanti orang mengira aku melecehkanmu!" ucap Ken. Pria itu menggandeng Keisha agar Dokter itu tidak kabur lagi darinya.
"Lepaskan aku!"
"Aku bisa jalan sendiri!"
"Kau menyakiti pergelangan tanganku!" Teriak Keisha tepat disebelah telinga Ken.
Ken mengabaikan teriakan yang cukup menyakitkan telinganya itu. Ia tetap berjalan disamping Keisha sambil bergandengan tangan.
Keduanya berjalan sambil memandang pemandangan yang sangat memanjakan mata itu.
"Kenapa?" tanya Ken tak jelas.
"Kenapa, apanya?" Keisha mengerutkan dahinya tak mengerti.
"Kenapa kabur dari rumah?" Ken berhenti, ia menatap Keisha dalam. Mencari jawaban dari mata hitam yang begitu redup itu.
"A-aku, aku tidak kabur. Aku kesini dengan beberapa temanku, dan aku juga sudah meminta izin pada Mama dan Papa," bantah Keisha.
"Tapi kau kabur dariku." Ken menarik tubuh Keisha kembali dalam dekapannya.
Keisha diam seribu bahasa, ia bahkan merasa begitu tenang berada dalam dekapan si Es Batu Balok ini.
"Lepaskan aku!"
"Beruang Kutub!"
"Lepaskan!"
"Ken!"
"Hati Es Batu!"
"Lepaskan!" teriak Keisha saat kesadarannya sudah kembali penuh.
Ken tak bergeming, pria itu semakin mendekap Keisha erat. Seolah-olah tidak ingin Keisha hilang dari hadapannya.
__ADS_1
"Es Batu Balok, Beruang Kutub..." Keisha menggigit dada Ken keras, membuat pria itu meringis kesakitan.
"Kumat!"
"Senang sekali memukul dan menggigitku. Sini, biar ku gigit bibirmu itu," ucap Ken tersenyum jahil. Keisha yang mendengar ucapan Ken langsung berlari menjauh dari Es Batu Balok itu.
"Jangan lari..." Kini keduanya saling mengejar seperti Tom dan Jerry. Keisha tertawa lepas, melupakan semua masalah yang sudah menumpuk di otaknya.
________
Matahari mulai terbenam, meninggalkan bagian bumi ini dan menyapa bagian bumi lainnya.
"Dari mana kau mengetahui aku disini?" tanya Keisha pada Ken yang duduk disampingnya.
"Harus berapa kali lagi aku menjelaskannya, kau butuh aku untuk bernafas dan bertahan hidup. Oleh sebab itu, aku ada disini untukmu," jawab Ken dengan senyum jahil di bibirnya.
"Wekk, tanpamu aku bisa bernafas. Bahkan lebih bebas bernafas!" Keisha memalingkan wajahnya.
"Benarkah, mari kita coba." Ken menyiram api unggun sampai padam, ia berjalan meninggalkan Keisha dalam gelapnya malam.
"Dasar, Kau benar-benar Es Batu Balok tanpa hati!" Keisha meraba-raba sekitarnya, mencari dimana letak Handphonenya.
"Beruang Kutub!"
"Hei, kembali!"
"Dasar Es Batu Balok!"
Keisha melirik sekitar, sepi dan sunyi. Hanya terdengar suara ombak yang menghantam bebatuan.
"Huh...pria itu. Kadang menyebalkan, kadang romantis!"
Keisha berlari menyusul Ken, namun kakinya tertusuk oleh duri kecil yang sangat tajam.
"Auu...kau sangat kecil namun menyakitkan juga," ucapnya sambil mencabut duri tadi.
"Es Batu Balok!"
"Tunggu!"
Keisha terus berlari menyusul Ken yang sudah tidak terlihat lagi, nafasnya terputus-putus karena kelelahan.
"Huh...dia yang mengajakku kesini, tapi dia juga yang meninggalkanku!" Dokter muda itu berhenti, ia duduk diatas pasir yang basah karena terkena ombak yang cukup besar tadi.
"Hei, bangun! Kau mau ombak itu menyeretmu ketengah?" tanya Ken dengan tatapan tajamnya. Keisha acuh tak menjawab, bahkan ia tak menatap ke arah laki-laki yang berdiri disampingnya.
"Bangun!"
"Tidak mau, kakiku sakit. Kau kembali saja, nanti aku menyusul setelah kakiku tidak sakit lagi." Keisha menatap laut yang begitu indah, dihiasi oleh lampu-lampu dari perahu para nelayan itu.
"Mana yang sakit, kau kenapa?" Ken duduk disamping Keisha, menyalakan Handphonenya lalu menyorot telapak kaki Keisha.
"Kau terluka," ucap Ken panik.
"Ini semua gara-gara kau, kau meninggalkanku!"
__ADS_1
"Dasar Beruang Kutub!"
"Pria tanpa hati!"
"Es Batu Balok!"
Keisha memeluk lututnya, ia membelakangi Ken yang masih menatapnya khawatir.
"Maaf, jika kau selalu terluka ketika bersamaku." Ken menggendong Keisha membawa wanita itu kembali menuju penginapan.
"Turunkan aku!" Keisha terus memberontak ketika Ken melakukan kontak fisik dengannya.
"Diam, jangan membuatku melemparmu kelautan itu." Ken menunjuk ombak malam yang cukup besar.
"Ayo, lakukan saja!" Tantang Keisha.
"Kau!" Hampir saja Ken lepas kontrol karena menghadapi sikap Keisha yang sangat menguras emosinya.
"Aku tidak ingin calon istriku meninggal secepat itu." Akhirnya kata-kata itu yang keluar dari mulut Ken.
"Huh...kau menanggapku sebagai calon istrimu?" Keisha tertawa geli ketika mendengar ucapan Es Batu Balok itu.
"Kalau begitu apa, Istriku. Begitu?" Ken mengangkat tubuh Keisha lebih atas, memperbaiki posisi wanita itu.
"Hahahaha...aku tidak mau memiliki suami yang berhati Es sepertimu," ejek Keisha.
"Owh, aku tau apa yang kau inginkan. Kau mau memajukan perjodohan kita ya, baiklah aku akan menikahimu pekan depan," ucap Ken pura-pura serius.
"Tidak!"
"Aku tidak mau!"
"Es Batu Balok, bukan itu maksudku." Keisha memasang wajah yang begitu menyedihkan agar Es Batu Balok itu kasihan padanya.
"Lalu, apa maksudmu. Owh, mungkin kau sudah jatuh cinta padaku, mengakulah." Ken menurunkan Keisha tepat didepan pintu kamarnya.
"Ti-tidak, aku tidak jatuh cinta padamu. Pergilah!" Keisha memalingkan wajahnya, ia membuka pintu lalu meninggalkan Ken yang masih mematung di depan sana.
"Hahahaha...wanita memang begitu, mulut bicara tidak, tapi tubuhnya bicara iya." Ken berjalan menuju kamarnya yang bersebelahan dengan Keisha. Pria itu sesekali memastikan Keisha tidak keluar lagi dari dalam kamarnya, barulah ia bisa tidur dengan nyaman tanpa ada beban sedikit pun dipikiranya.
Epilog
"Ku mohon, jangan sesekali berpikir untuk menjauh dariku, bahkan untuk kabur meninggalkanku." Ken menatap Keisha yang tidur bersandar pada pundaknya. Dokter Muda itu berhasil membuat si Es Batu Balok jatuh cinta bahkan tergila-gila padanya.
"Ku kira perjodohan gila ini akan membuatku menyesal, tapi nyatanya. Aku tidak pernah menyesal bertemu denganmu sampai mencintaimu seperti sekarang ini." Ken memperbaiki posisi kepala Keisha, mengambil tas kecil yang didekap wanita itu, lalu mengalungkan tas itu pada lehernya.
"Semoga mimpi indah." Ken menyadarkan kepalanya pada kursi mobil, ada rasa lega dihatinya ketika Keisha sudah memberikan jawaban atas perasaannya yang sebenarnya.
Memang betul kata Serigala Betina itu, wanita tidak suka disakiti, apalagi sampai dilukai.
Huh...memang dia pernah tersakiti?
Sepertinya tidak, bahkan dia tidak pernah mengenal dunia percintaan. Ken
________
__ADS_1
Semoga Suka😍💝
Salam manis dari Author ingusan😊