Mencintai Seorang Bodyguard

Mencintai Seorang Bodyguard
Season 2 Bunuh Diri


__ADS_3

05 Januari.


Akhirnya, setelah berdiskusi dengan Aldy. Pria itu rela melepas Jessica untuk impian dan janjinya yang belum tuntas. Namun, dibalik keputusannya, Aldy tetap mengatur Jessica dengan beberapa peraturan. Jessica hanya mengiyakan peraturan itu agar Aldy puas dan tenang saja.


"Kau tidak boleh jatuh cinta pada pria lain lagi!" ucapnya ketika menghubungi Jessica kemarin. Aldy terus menghubungi Jessica setiap jamnya. Ia benar-benar takut jika Jessica menghilang dan pergi meninggalkannya begitu saja.


Aldy bahkan mengirim orang untuk menjaga Jessica, sebenarnya ia tau, hal itu tidak perlu ia lakukan. Jessica bukanlah wanita lemah yang harus dijaga oleh orang lain, namun entah mengapa, Aldy tetap mengirim orang itu untuk menenangkan hati dan pikirannya.


Tanggal 05 Januari. Jessica mendapat telepon dari pihak kepolisian. Polisi mengabarkan bahwa Mona dan William mati karena bunuh diri di dalam sel tahanan mereka.


Jessica menggigit bibir bawahnya, ada rasa sakit menyerang hati Serigala Betina itu. Bagaimana pun, Mona tetaplah Bibi kandung Jessica, bagian dari keluarga besarnya.


Awan hitam menemani langkah kaki Jessica ketika mendatangi pemakaman Mona. Hatinya hancur melihat Andre yang menangis di atas makam itu.


Jessica mendekati Andre, ia duduk tepat di samping sepupunya itu. "Ndre."


Andre diam, ia bisa merasakan tangan Jessica yang menempel di pundaknya.


Matanya malu menatap Jessica. Dulu, ia pernah memaki Jessica, tapi sekarang, wanita itu datang padanya di saat-saat terapuhnya.


Julian, paman Jessica, ayahnya Andre. Pria itu sudah pergi meninggalkan negara ini sejak Mona ditetapkan menjadi tersangka utama atas kasus Jack dan Morgan beberapa bulan yang lalu.


"Ndre, kau masih punya Kak Jess. Bersabarlah! Tuhan tidak akan menguji kita melebihi kemampuan yang ada pada diri kita." Jessica mengelus bahu Andre lembut. Ia tersenyum, mencoba menguatkan Andre walau dirinya sendiri ikut rapuh.


Andre menoleh ke arah Jessica. Menatap mata tajam yang berubah redup itu.


"Maaf, maaf, Kak Jess," ucap Andre dengan tangan yang memegang tanah makam. "Maafkan Mama, Papa dan aku."

__ADS_1


Mata Andre menatap jari-jari Jessica, sekilas, ia tersenyum ketika melihat jari manis Jessica yang dihiasi oleh cincin sederhana, namun mahal itu.


"Aku akan pergi, Kak." Andre berdiri lalu disusul oleh Jessica.


"Aku akan kembali ke Kanada," sambung Andre serius.


"Bagaimana dengan kuliahmu? Terus, kau akan hidup dengan siapa di sana?" Jessica menghalangi langkah Andre, ia berdiri tepat di depan pria itu.


"Aku akan menjauh dari sini, aku tidak tau, Kak. Aku tidak tau harus berbagi dengan siapa." Kini Andre mulai melemah, ia kembali duduk di samping makam Mona.


"Lanjutkan kuliahmu! Kau tetaplah di sini, kau punya Kak Jess, dan teman-temanmu. Bukankah mereka selalu mendampingimu?" Jessica kembali duduk di samping Andre. Ia menatap mata Andre yang mulai sayu.


"Aku, aku rasa, aku tidak bisa bertahan tanpa Papa dan Mama. Aku sendiri, aku tidak punya siapa-siapa lagi." Andre yang terkenal Anak Motor itu hilang, tidak ada Andre yang songong lagi. Satu kali goncangan saja membuatnya kehilangan jati dirinya sendiri.


"Kau lihat Kak Jess! Sembilan tahun, sembilan tahun Kak Jess tumbuh tanpa Ayah dan Ibu. Lima tahun Kak Jess hidup tanpa keluarga, apa Kak Jess pernah terlihat rapuh? Kak Jess rapuh! Tapi Kak Jess tidak pernah tunjukan sisi itu pada siapapun! Kau, apa kau pernah melihat Kak Jess putus asa? Bukankah kau tau, bagaimana terpukulnya Kak Jess dengan kepergian Ayah dan Ibu? Kau tau, bagaimana sakit hatinya Kak Jess kehilangan semua keluarga besar Kak Jess? Paman? Bibi? Kak Jess kehilangan semuanya! Kehilangan semua kasih sayang yang harusnya Kak Jess dapatkan saat itu!" Jessica menarik nafasnya, ia mengarahkan tangannya, mengelus punggung tangan Andre.


Andre menatap wajah Jessica. "Kak Jess." Ingin sekali ia memeluk Jessica, sama seperti ia bisa memeluk wanita itu dulu, saat mereka masih kecil.


Jessica mengajak Andre untuk pulang. Pria itu terlihat begitu lelah, lelah secara batin maupun fisiknya.


Sebelumnya, Jessica berpesan pada Andre, ia meminta Andre untuk tidak menjual rumah ataupun semua barang di dalamnya. Ia ingin Andre tetap mempertahankan rumah penuh sejarah itu. Rumah yang pernah menampungnya selama 3 tahun lamanya.


_____________


Tanpa pikir panjang, Aldy meninggalkan perusahaan saat mendapat kabar tentang kematian Mona dan William. Ia tidak memikirkan dua orang yang meninggal itu, pikirannya melayang pada Jessica. Ia tau, Jessica pasti terpukul dan butuh teman untuk berbagi luka.


Matahari sudah berada pada posisinya, ia akan tenggelam dan menyapa bagian Bumi lainnya. Aldy sudah sampai di depan gerbang kontrakan Jessica. Ia menghubungi Jessica, meminta wanita itu untuk membuka gerbang.

__ADS_1


Jessica sedikit terkejut, ia tidak menyangka Aldy akan datang tanpa memberi tahunya terlebih dahulu. Jessica membuka gerbang, namun Aldy tidak ingin masuk, ia malah mengajak Jessica untuk bicara di luar saja.


"Kau pasti lelah, kenapa datang tanpa memberi tahuku?" ucap Jessica, ia memperhatikan Aldy. Pria itu bahkan masih mengunakan pakaian formalnya.


"A-aku, aku khawatir padamu," jawab Aldy jujur. Mata dan tangannya fokus pada kemudi dan jalanan di depannya.


"Sudah kubilang, kau tidak perlu berlebihan seperti ini! Kau butuh istirahat, kau bisa menemuiku besok, 'kan? Jangan paksakan dirimu seperti ini." Jessica menatap wajah tampan Aldy. Wajah itu benar-benar terlihat khawatir. Jessica tersenyum, entah, ia senang saja karena Aldy begitu mengkhawatirkannya.


"Aku tidak bisa, aku tidak bisa mencegah diriku sendiri. Aku sungguh tidak ingin kau terluka, sedikit pun, secara hati ataupun fisik." Aldy melirik Jessica sekilas, ia menghembuskan nafasnya pelan.


Jessica memang terlihat tidak baik-baik saja, wanita itu memang pandai menyembunyikan lukanya pada orang lain, termasuk pada Aldy.


Aldy mengajak Jessica ke sebuah kafe. Ia memesan makan dan minum untuk dirinya sendiri dan juga Jessica.


"Aku tidak mau kau merasakan kehilangan itu lagi, ya, aku tau, aku faham. Semua ini memang Takdir Tuhan, maksudku, aku tidak ingin kau merasakan sakit itu sendiri, aku ingin kau berbagi padaku, menceritakan semuanya padaku." Aldy menatap Jessica, otaknya bahkan tidak bisa merangkai kata-kata yang sempurna ketika khawatir seperti ini.


"Kau jangan seperti ini. Percaya padaku, aku baik-baik saja. Aku akan menceritakan semua padanya jika aku tidak bisa menanggungnya sendiri. Kau tenang, aku sudah biasa, ini bukan pertama kalinya aku merasakan kehilangan," jawab Jessica. Ia tersenyum, matanya menatap mata coklat Aldy.


"Ya, aku tau. Tapi aku benar-benar khawatir. Aku sangat mencintaimu, aku takut kehilanganmu." Wajah Aldy terlihat lebih tenang, namun tidak dengan pikirannya.


Keduanya terus bicara, Aldy menceritakan tentang Kamila dan Ibu. Kamila bahkan sudah jauh lebih dewasa, ia sudah mendapatkan izin untuk membawa mobil sendiri dari Aldy. Aldy terus bercerita, tanpa membiarkan Jessica menyela ceritanya.


"Ya, Tuhan. Baru tiga hari tidak bertemu, tapi dia sudah bicara sebanyak ini. Bagaimana jika seminggu? Sebulan? atau setahun," gumam Jessica. Ia diam, ketika mata Aldy menatapnya.


"Makanlah! Jangan bicara lagi!" Aldy kembali fokus pada makanannya, sedangkan Jessica, Serigala Betina itu fokus pada wajah Aldy yang sudah sangat tenang.


Aldy mengantar Jessica pulang, sebenarnya, ia tidak ingin berpisah dengan Jessica. Namun waktu belum mengizinkan keduanya untuk bersama, selamanya.

__ADS_1


Apa aku terlalu berlebihan pada Jessica? Apa aku segila itu? Aku rasa, ini wajar. Aku khawatir pada orang yang kucintai, Ah....sudahlah. Aku memang sudah gila karena jatuh cinta pada Serigala Betina itu! Aldy


__ADS_2