Mencintai Seorang Bodyguard

Mencintai Seorang Bodyguard
Kabar Bahagia


__ADS_3

Hari terus berganti, sampai pada titik dimana kebahagiaan akan melengkapi kehidupan mereka.


Jauh di luar negri sana, sepasang mata terus mengeluarkan airnya, membasahi pipi seorang wanita paruh baya itu.


"Nyonya, Anda tidak apa-apa?" Seorang perawat berjalan mendekat. Membawa sebuah nampan yang berisi makanan dan minuman.


"Tuan Aldy akan datang nanti malam, sebaiknya Anda makan dulu, agar Tuan percaya bahwa Anda sudah baik-baik saja," sambungnya. Ia menaruh nampan tersebut lalu duduk di samping wanita itu.


"Apa putraku akan datang? Dia datang untuk menjemputku, dia akan datang? Kalian tidak membohongiku,kan?" tanyanya memastikan.


"Kami sudah menghubungi Tuan, dia pasti akan datang." Perawat itu berusaha menenangkan dan menghiburnya.


Flashback On


Di sebuah ruangan mewah yang ditempati oleh Aldy.


"Hallo, Tuan Aldy, " sapa seseorang yang menelepon di seberang sana.


"Kami punya kabar bahagia untuk Anda," sambungnya. Namun belum ada jawaban apapun dari Aldy, "Nyonya besar sudah pulih 100%, semua sudah kembali normal."


Aldy masih terdiam, belum menjawab satu katapun. Air mata bahagia mengalir di pipinya. Anak mana yang tidak bahagia ketika mendengar kabar baik tentang Ibunya.


Sudah 5 tahun ia menunggu kabar dari sang Ibu, namun nihil. Tahun-tahun itu hanya menjadi saksi kehancuran hidupnya, tidak ada yang berubah selama 5 tahun itu. Kondisi Ibunya tetap saja, tidak ada peningkatan sedikit pun.


Dan sekarang sudah memasuki tahun ke-6, kabar bahagia yang ditunggu pun datang.


"Aku akan datang." Hanya kalimat itu yang ia ucapkan lalu sambungan telepon terputus.

__ADS_1


"Ken." Aldy sedikit berteriak.


"Kenapa?" tanya Ken bingung.


"Pesan tiket Ke Negara S sekarang juga," perintahnya. Ken tidak bertanya ataupun menjawab satu katapun, dia sudah bisa membaca apa yang ada di pikiran sang Tuan. Raut wajahnya menampakkan sebuah kebahagiaan besar, raut wajah yang tidak pernah Ken lihat sebahagia itu.


"Hallo Jess." Suaranya begitu terdengar bahagia.


"Ada apa ,Tuan," jawab Jessica di sebrang sana. Dia bisa mendengar suara bahagia itu dan gambaran senyuman yang mengembang di bibirnya.


"Suruh semua pelayan membersihkan rumah dan meriasnya seindah mungkin, dan satu lagi, minta mereka membersihkan kamar Ibu sebersih-bersihnya," pintanya panjang lebar. Jessica masih mencerna semua perintah sang Tuan Muda, dari kalimat terakhir ia dapat menyimpulkan bahwa rumah utama akan kedatangan seseorang yang berharga.


"Baik, Tuan, saya akan memberi tahu mereka sekarang," jawab Jessica dengan senyuman.


"Baiklah, aku tidak akan pulang malam ini. Dan jika Kamila mencariku katakan saja aku sedang ada urusan penting," ucapnya lalu memutuskan sambungan telepon.


"Sabar Jess, dia sedang bahagia. Seharusnya kau juga bahagia," ucap Jessica sambil berjalan menuju rumah utama.


"Mbak, Tuan Aldy berpesan agar rumah utama dibersihkan dan meriasnya seindah mungkin. Dan satu lagi, Tuan berpesan agar membersihkan kamar Nyonya besar sebersih-bersihnya." Kata-kata terakhir dari Jessica menciptakan senyuman manis di wajah para Pelayan, hari yang mereka tunggu-tunggu sudah tiba.


"Bersihkan sekarang juga!" perintah sang Kepala Pelayan dengan senyuman yang terus mengembang. Tidak ada yang menjawab, mereka segara membagi tugas dan tidak lupa juga mereka mengucapkan syukur sebanyak-banyaknya.


Jessica yang melihat semua itu terharu, ia merasakan kebahagiaan yang tidak kalah besarnya seperti apa yang mereka semua rasakan. Berbeda dengan Kamila yang masih di kampus sana. Belum ada satu orang pun yang memberi tahu kabar bahagia itu padanya.


Flashback Off


"Ibu." Suaranya menyadarkan seorang wanita yang sedang duduk melamun di atas tempat tidurnya. Air mata terus mengalir dari mata keduanya, melepas rindu yang selama ini terpendam dalam di hati mereka. Tidak rela melepas pelukannya pada Sang Ibu, ia terus mengucapkan syukur yang tiada hentinya.

__ADS_1


"Aldy, kau sudah besar, Nak." Suara Ibu terdengar begitu lembut di telinga Aldy. Ia menatap wajah tampan putranya, lalu melukis sebuah senyum manis di bibirnya.


"Ibu." Kini Ken juga mendekat, menatap wanita paruh baya yang sudah ia anggap sebagai ibunya sendiri.


"Ken." Ia berjalan dan menghamburkan pelukannya pada Ibu, tidak perduli ada sang Tuan Muda di sampingnya.


"Adik kalian mana? apa dia tidak merindukan Ibu?" tanyanya dengan wajah yang sedikit kecewa.


"Kamila sudah kuliah, Bu, dia sudah besar sekarang," jawab Aldy dengan senyum manis di bibirnya.


"Bawa Ibu pulang sekarang juga," pintanya.


"Ini sudah malam, Bu, kita akan pulang besok pagi. Sekarang Ibu istirahat dulu, aku dan Ken akan mengurus beberapa surat," ucap Aldy lembut. Ibu hanya menjawab dengan senyuman lalu membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur yang bersih dan nyaman itu.


"Semua sudah normal, Tuan, Nyonya besar tidak perlu minum obat apapun lagi. Sungguh ini sebuah keajaiban yang luar biasa," ucap sang Dokter ketika Aldy dan Ken menanyakan keadaan Ibu padanya.


"Terima kasih, Dok, atas usaha Anda," ucap Ken dengan senyuman.


"Ini juga berkat do'a kalian semua. Tanpa bantuan do'a kalian, kami juga tidak bisa berbuat apa-apa," jawab Dokter wanita itu.


Kebahagiaan yang mereka rasakan ikut dirasakan juga oleh seluruh penghuni Rumah Sakit. Mulai dari kalangan pasien biasa sampai pasien yang berbaring di dalam ruangan VIP.


Terima kasih, Tuhan...


Engkau sudah mendatangkan kebahagiaan setelah kesedihan yang begitu mendalam.


------

__ADS_1


Maaf Jika ada kesalahan dalam penulisan dan juga penggunaan kata-kata.


__ADS_2