Mencintai Seorang Bodyguard

Mencintai Seorang Bodyguard
Season 2 Kau Ingin Berapa?


__ADS_3

Jessica termenung, kini otaknya berputar. Mencari cara terbaik untuk menyelesaikan masalah Laras dan Andre. Sayangnya, semua semakin dipersulit dengan kepergian Andre.


Sore tadi, Jack memberi kabar bahwa Andre menintip salam dan juga kado pernikahan untuk Jessica. Setelah itu, Andre memutuskan untuk kembali ke Kanada. Merenungkan semua kesalahan yang telah ia lakukan. Kesalahan yang paling ia sesali adalah, menjual rumah berharga dan bersejarah milik keluarnya. Dan ternyata, Andre juga masih mengingat Laras. Ia bahkan sudah mencari Laras sejak 3 tahun yang lalu.


"Audy, apa yang kau pikirkan, Nak?" tanya Ibu. Ibu duduk di samping Jessica. Memperhatikan wajah yang terlihat berpikir keras itu.


"Tidak apa, Bu. Aku tidak memikirkan apapun." Jessica meraih Hpnya yang berdering. Menatap layar Hp yang menampilkan nama Aldy di sana.


"Iya, Hallo."


"Bagaimana kabarmu? Aku merindukanmu, Jess. Ayo kita makan malam bersama," ucap Aldy di seberang sana.


"Hei, hei. Tahan tiga hari saja! Setelah itu, terserah kalian. Kalian mau berpelukan, mau bercumbu pun tidak ada yang melarang! Tapi untuk saat ini, kau tidak boleh menemui Jessica! Mengerti!" sahut Ibu dengan tangan mengambil alih Hp Jessica.


Ibu, bukannya mempermudah, malah mempersulitku saja! (Aldy)


[Baiklah, aku ingin mengobrol dengan Jessica, Bu! Berikan Hpnya pada Jessica!]


[Hmmm, mengobrol lah! Ibu akan keluar dulu]


Ibu mengembalikan Hp Jessica. Lalu tersenyum pada wanita itu.


"Jangan sampai larut! Jaga kesehatan kalian berdua!" ucapnya lalu beranjak keluar dari kamar Jessica.


Jessica menarik laci, mengambil headset lalu memasang pada Hpnya.


"Ada apa?" tanya Jessica sedikit malas.


"Tidak ada, sudahku bilang, 'kan. Aku merindukanmu. Aku ingin bertemu denganmu," jawab Aldy lemah lembut, dan berhasil menggelitik hati Jessica.


"Oh, sayangnya, aku sama sekali tidak merindukanmu." Jessica merebahkan tubuhnya, lalu menarik guling. Memeluknya erat.


"Tidak apa, aku akan membuatmu rindu padaku. Bahkan kau akan menangis jika aku tidak di sisimu, walau satu menit saja," ucap Aldy percaya diri.


"Begitu, ya. Rasanya aku tidak akan terpengaruh," sanggah Jessica lalu tertawa kecil.


"Lihat saja nanti. Kau tidak akan lepas dariku. Walau hanya se-menit saja. Aku akan merantai kedua tanganmu di atas kasur. Hahahaha, dan aku....."

__ADS_1


"Hmmm, lakukanlah! Aku yakin, kau tidak akan tega melakukannya padaku!" potong Jessica menantang.


"Aku akan melakukannya, tenang saja. Kau tidak perlu menantangku seperti itu!" Aldy memutar Hpnya menunggu jawaban dari Jessica.


"Hmmm, terserah kau saja. Lakukan saja apapun yang membuatmu bahagia, walau itu akan menyakiti hati dan fisikku!" Jessica menatap layar Hpnya kesal. Benar-benar sulit untuk menang debat dengan pria satu ini.


"Baiklah, kau ingin anak berapa? Satu, dua, atau satu lusin?" tanya Aldy lalu diiringi tawa yang begitu renyah.


"Dasar Tuan Mesum!" cibir Jessica.


"Hahahaha, aku begini hanya padamu. Ayo, katakan kau ingin berapa? Aku akan mempersiapkan tenaga untuk membuatnya." Aldy tertawa lagi, sungguh, menjahili Jessica adalah hal yang paling menyenangkan baginya.


"Dasar Tuan Mesum! Kau Menjijikkan sekali!" ucap Jessica jijik.


"Jangan berkata begitu, kau belum tau bagaimana rasanya," sanggah Aldy.


"Oh, jadi kau sudah tau rasanya, hah?!" teriak Jessica, dan berhasil memecahkan gendang telinga Aldy.


"Tidak, aku hanya bercanda," jawab Aldy lirih. Kali ini Aldy sudah salah memilih topik pembicaraan.


☆☆☆☆☆☆☆


Sinar mentari pagi menerpa wajah Jessica. Jessica menggeliat lalu menarik selimut sampai menutupi wajahnya. Udara dingin di Villa Kamboja membuat Jessica malas bangun padi dan juga mandi di waktu pagi.


Setelah beberapa menit. Jessica pun memutuskan untuk bangkit dan berjalan menuju kamar mandi. Ia menatap air yang sudah ia tampung di bak mandi. Tidak berniat untuk menyentuh ataupun masuk ke dalam bak mandi itu.


Cukup lama. Barulah Jessica masuk dan merendam dirinya. Dingin tapi menenangkan, begitulah yang Jessica rasakan.


Setelah selesai dengan acara mandinya. Barulah Jessica keluar dari kamarnya dan duduk di taman depan Villa Kamboja.


Laras menghampiri Jessica sambil membawa nampan berisikan roti dan juga susu hangat untuk Jessica.


"Nona, ini sarapannya," ucap Laras setelah meletakkan nampan itu di atas meja bundar di taman depan.


Jessica membalas senyuman hangat Laras dengan senyum tipis namun indah andalannya.


"Duduklah, Ras." Jessica bergeser. Memberikan ruang agar Laras duduk di sampingnya.

__ADS_1


"Maaf, Nona. Saya duduk di sini saja. Tuan Muda tidak mengizinkan kami untuk terlalu dekat dengan Nona." Laras memeluk nampan yang ia pegang, lalu duduk di hadapan Jessica.


"Ras, apa kau yakin, untuk melupakan semuanya?" tanya Jessica, memastikan keputusan Laras semalam.


"Saya yakin, Nona. Lagipula, saya sudah menerima semuanya. Dan menjadikan hal itu sebagai pelajaran penting dalam hidup saya," jawabnya tersenyum.


Laras adalah wanita yang kuat. Ia sama sekali tidak ingin putus asa. Walau ia belum tau, bagaimana kehidupan yang akan ia jalani kedepannya. Atau bagaimana jika nanti, suaminya tidak menerima masa lalunya, atau lebih tepatnya, tidak menerima dengan ketidak perawanan dirinya.


Laras tidak ingin memikirkan hal itu. Sekarang, ia hanya fokus pada tugasnya. Mengabdikan hidupnya pada keluarga Pranata yang telah menampung dirinya selama ini.


Usai sarapan dan mengobrol dengan Laras. Jessica pun meminta seorang pengawal untuk menghantarnya ke suatu tempat.


☆☆☆☆☆☆☆


Kafe Senja


Kafe yang berjarak 3 Km dari Villa Kamboja. Kafe ini terletak di sebuah bukit tinggi dengan pemandangan yang begitu memanjakan mata.


Jessica duduk di kursi paling pojok Kafe. Kursi ini menghadap langsung pada jendela kaca yang menyuguhkan pemandangan yang begitu indah.


Dari kafe ini, kita bisa menikmati suasana Sunset dan Sunrise yang begitu indah. Suasana di mana matahari tenggelam di bagian bumi ini dan terberbit di bagian bumi lainnya.


Jessica menatap lurus jendela kaca di depannya. Tangannya menarik secangkir susu hangat yang ia pesan, menggenggam cangkir yang memberikan kehangatan pada tangan Jessica.


"Aku tidak menyangka, takdir hidupku akan berubah se-drastis ini. Aku yang dulunya bukan apa-apa kini menjadi seseorang yang begitu disayangi oleh orang-orang di sekitarku. Aku yang dulunya tidak memiliki apa-apa, kini bisa membeli apapun yang aku inginkan. Aku bersyukurlah padaMu. Pada Engkau yang telah menulis takdir hidup yang begitu indah untukku. Dari sini, aku faham. Setelah kesulitan yang kau berikan. Engkau pasti akan mendatangkan kebahagiaan yang begitu mengharukan. Dari sini aku faham, tidak semua orang yang memiliki jabatan akan memiliki apa yang mereka inginkan. Akan melakukan apapun yang mereka kehendaki dengan kekuasaan mereka. Terimakasih Tuhan, Engkau benar-benar memberikan semua hal tidak pernah ku bayangkan sebelumnya. Mengajarkan hal-hal yang tidak pernah kuketahui sebelumnya." Jessica melirik Laras yang juga ikut dengannya. Gadis itu tersenyum dengan air mata mengalir di pipinya.


Ya, Tuhan....


Aku benar-benar tidak menyangka dengan apa yang kudengar tadi dari Nona Jessica. Ia ternyata memiliki cerita masa lalu yang begitu menyedihkan. Diusir dan tidak dianggap oleh keluarga besarnya. Aku saja tidak sanggup membayangkan betapa sedihnya Nona saat itu. Tapi, apa yang Nona katakan memang benar. Setelah kesedihan, Engkau pastikan akan mendatangkan kesenangan yang tiada duanya. Berkahi lah Nona Jessica dan Tuan Muda Aldy. Berikan keduanya kebahagiaan yang sesuai dengan takdir yang telah Engkau tuliskan. (Laras)


☆☆☆☆☆


Curhat dikit :


Maaf jika cerita saya tidak sebagus cerita author lainnya. Tapi saya mohon, jangan membuat saya sedih dengan menurunkan rate saya:'( Jika kakak" tidak suka atau sudah bosan. Hapus saja dari fav, tapi jangan dengan memberikan penilaian yang buruk pada cerita saya:'(


Aku itu cengeng:'(😅

__ADS_1


__ADS_2