
Setelah acara makan malam selesai, Aldy langsung menarik tangan Jessica menaiki tangga menuju kamar mereka. Sementara Jessica hanya bisa pasrah saja, ia sudah tau apa yang diinginkan oleh suaminya itu.
"Aku ingin menagih janjimu, Sayang," ucap Aldy setelah pintu kamar tertutup rapat.
"Iya, aku sudah tau itu. Tapi tidak sekarang juga! Aku masih ingin mengobrol dan berbicara dengan Kamila," jawab Jessica.
"Tadi, kan sudah. Apalagi yang ingin kau bicarakan dengannya, hmmm?"
"Adalah, kau tidak perlu tau, Sayang." Jessica membuka ikat rambutnya lalu berjalan mendekati cermin.
"Ayo, pakai sekarang, Sayang," rengek Aldy pada Jessica.
Pria itu menarik-narik ujung baju yang Jessica kenakan, lalu tersenyum manis jika Jessica menoleh ke arahnya. Jessica yang galak, dan dingin kini sudah berubah drastis. Ia lebih sering tersenyum dan juga patuh pada apa yang Aldy perintahkan padanya.
"Aku selesaikan ini dulu." Jessica mempercepat sisirannya. Setelah rambutnya rapi, barulah ia melangkah menuju ruang ganti.
"Ini apa? Layakkah ini disebut pakaian tidur?" gumam Jessica sambil mengangkat lingerie hitam itu.
"Oh, Tuhan....benarkah aku harus memakai jaring ikan ini?" Jessica menatap tubuh tegapnya. Lingerie ini sangat bertolak belakang dengan tubuh Jessica.
Jessica menarik nafas panjang, membuang secara perlahan lewat mulutnya. "Baiklah, pakai saja, Jess. Sebelum suamimu itu menyusulmu ke sini," ucap Jessica meyakinkan dirinya.
Kini Jessica menatap pantulan tubuhnya di cermin. Ia menutupi bagian dadanya dan juga bagian terlarangnya.
"Pakaian macam apa ini?" gumam Jessica lalu memaki dirinya sendiri. Jessica benar-benar tidak nyaman dengan lingerie ini.
"Sayang, keluarlah! Aku ingin melihatmu!" teriak Aldy dari balik pintu ruangan.
Jessica kembali menatap pantulannya. Lalu mengatur nafasnya.
"Sayang, keluarlah! Jika tidak, aku akan membuka pintu ini secara paksa!" teriak Aldy geram.
Jessica mendekati pintu dengan langkah yang begitu berat. Ia memegang dadanya yang sudah terasa tidak karuan.
Jessica membuka pintu, lalu memalingkan wajahnya agar tidak menatap ke arah Aldy.
"Sempurna!" Aldy tersenyum menatap tubuh Jessica yang hanya terbungkus lingerie itu.
Ia melangkah mendekati Jessica, dan langsung mencium bibir Jessica lembut. Ciuman itu menjalar ke mana-mana. Dan semua itu berakhir dengan penyatuan hangat kedua makhluk yang saling mencintai itu.
☆☆☆☆☆☆
Usai ritual malam yang melelahkan, Jessica membuka matanya dan langsung menatap pada pria yang berada di sampingnya.
"Sayang, kau sudah bangun?" tanya Jessica pada Aldy yang terlihat pura-pura memejamkan matanya.
Jessica menggeser tubuhnya menjauhi Aldy. Ia tau suaminya itu sedang berpura-pura saja.
__ADS_1
"Kau mau ke mana, Sayang?" Aldy meraih tangan Jessica, lalu menggenggamnya erat.
"Tidak ke mana-mana. Aku hanya ingin menyisir rambutku saja. Tadi malam aku tidak sempat menyisirnya, bahkan rambutku masih basah," jelas Jessica.
Aldy pun melepas genggamnya, dan membicarakan Jessica menyisir rambutnya.
"Sayang, bangunlah. Kau tidak ke perusahaan hari ini?" tanya Jessica.
Jessica kembali naik ke atas kasur. Ia menyentuh tangan Aldy lalu meminta pria itu untuk bangun.
"Tidak ada yang bekerja di hari minggu, Sayang. Termasuk aku," jawab Aldy masih dengan mata yang pura-pura terpejam.
Jessica berpikir sejenak, wanita itu bahkan tidak sadar kalau akhir pekan yang ia tunggu-tunggu sudah tiba. Jessica berbaring di samping Aldy, lalu memeluk pria itu erat.
"Sayang," panggil Jessica dengan tangan yang bermain di sekitar dada Aldy yang tidak tertutup apapun.
"Hmmm, mau mengulangi yang semalam?" Aldy membuka matanya lalu mengecup kening Jessica.
"Bersiapalah, aku akan mengantarmu ke perguruan hari ini. Jadi, kau tidak perlu merayuku seperti ini," lanjut Aldy yang sudah tau maksud Jessica.
Jessica tersenyum girang, ia mempererat pelukankan lalu menciumi kedua pipi Aldy berkali-kali.
"Terimakasih, Sayang. Kau yang terbaik, aku mencintaimu....." Jessica melepaskan pelukannya lalu berlari ke arah ruang ganti untuk mempersiapkan baju kebanggaannya.
Usai bersiap-siap dan sarapan bersama. Keduanya langsung melaju menuju perguruan yang terletak di pinggir kota. Butuh waktu setengah jam untuk sampai di sana.
"Sayang, siapa ini?!" tanya Aldy lalu memperlihatkan salah satu pesan yang masuk pada Instagram Jessica. Namun, Jessica sendiri tidak pernah membuka atau membalasnya.
"Entahlah, aku tidak tau, Sayang." Jessica merebut Hp Aldy lalu memblokir sang pengirim pesan.
"Awas saja kalau sampai aku memukan pesan-pesan lainnya!" Aldy kembali mengecek satu persatu pesan yang masuk. Rata-rata semua tidak ada yang Jessica respon kecuali pesan dari murid-muridnya seperti, Zia, Zen, Arfan, dan Bagas. Mereka memang sering mengirim pesan pada Jessica, dan Jessica pun membalas pesan dari mereka.
Tidak terasa. Mobil kini sudah berhenti tepat di depan perguruan. Jessica langsung mematikan Hpnya lalu memasukkannya ke dalam tas yang ia bawa. Begitu pula dengan Aldy. Ia mematikan Hpnya, dan langsung turun membukakan pintu untuk Jessica.
Semua mata tertuju pada Aldy dan Jessica. Tatapan mata itu tidak bisa di artikan lagi oleh kata-kata. Mereka menatap Jessica penuh harap. Berharap Jessica bukan sekadar berkunjung sana, namun ikut melatih mereka pagi ini.
Seorang gadis berlari memasuki perguruan. Ia berteriak mengabari semua orang yang berada di dalam, bahwa Serigala Betina kebanggaan mereka sudah datang.
Zia dan lainnya berhamburan keluar, menyambut kedatangan Jessica. Mereka menunduk lalu memberi salam hormat pada wanita itu.
"Aku akan masuk bersama mereka, kau ikutilah." Jessica menggenggam tangan Aldy. Namun pria itu melepas tangannya dari genggaman Jessica.
"Masuklah, aku akan menyusulmu nanti," ucap Aldy tersenyum lalu kembali masuk ke dalam mobil.
Kini Jessica sudah masuk ke dalam perguruan. Kesunyian di tempat ini berubah seketika dengan kehadiran Jessica. Tanaman yang layu seolah kembali segar, sama dengan wajah-wajah lesu yang seketika bersinar penuh semangat.
Usai penyambutan yang begitu mengharukan, Jessica pun berjalan menuju ruang pelatih. Di dalam sana sudah ada senior Lin dan juga senior lainnya. Mereka pun menyambut kedatangan Jessica dengan hangat, dan berharap lebih pada Jessica.
__ADS_1
"Maaf untuk kepergianku beberapa bulan ini, sungguh, aku tidak bermaksud tidak menepati janjiku pada anak-anak, tapi aku punya alasan untuk semua itu," ucap Jessica lalu meletakkan tas yang ia bawa, dan duduk di samping senior Lin.
"Tidak apa, Jess. Zia sudah menceritakan semuanya. Aku turut bahagia dengan pernikahanmu, kami selalu mendukung langkahmu," jawab senior Lin tersenyum.
"Terimakasih, Lin." Jessica kembali tersenyum lalu bangun untuk mengganti bajunya, karena latihan akan di mulai beberapa menit lagi.
Para junior mulai berkumpul dan berbaris untuk memulai pemanasan yang di pimpin langsung oleh Jessica. Usai pemanasan, semua berbaris sesuai tingkatan mereka. Zen, Arfan, dan Bagas mundur beberapa langkah, ketiganya sudah tidak latihan lagi, mereka kini sudah mendapatkan sabuk hitam mereka, dan akan mengajar para junior pemula.
Berbeda dengan Zia. Gadis itu masih memakai sabuk cokelat, karena ia tidak ikut ujian kenaikan tingkat bulan lalu. Tapi hal itu tidak membuat semangat Zia turun. Ia tetap semangat dalam latihan, apalagi sekarang Jessica akan selalu mendukung dan menemani langkahnya.
Jessica melirik beberapa tingkat. Lalu memutuskan untuk melangkah pada barisan sabuk biru.
"Ya, Tuhan.....kenapa jantungku tiba-tiba berdebar secepat ini? Padahal aku sendiri yang berdoa tadi agar Kak Jess mengajar di sini, tapi kenapa aku sekaku dan segemetar ini?" gumam salah seorang junior yang akan memimpin salam penghormatan pada Jessica.
Kini Jessica sudah berdiri di depan mereka. Tapi si junior masih larut pada pemikirannya. Membuat junior yang berada di dekatnya yang memimpin salam penghormatan.
Jessica membalas salam mereka, lalu menatap semua junior yang ada di depannya. Sebelum memulai latihan, Jessica menyempatkan dirinya mengabsen dan juga menanyakan kabar mereka. Setelah itu, latihan yang menegangkan pun di mulai.
15 meter dari tempat Jessica mengajar. Aldy tersenyum tipis melihat semangat, dan senyum Jessica. Ia merasakan kebahagiaan yang tak kalah besarnya seperti apa yang para junior rasakan sekarang.
Aku akan melakukan apapun yang membuatmu bahagia. Aku janji, aku akan membuat selalu tersenyum bahagia ketika bersamaku, selamanya. Sampai kita menua bersama. (Aldy)
☆☆☆☆☆☆
1 jam kemudian. Latihan pun selesai, dan para junior sudah banyak yang pulang dan beristirahat. Namun ada sebagian junior yang masih berada di perguruan. Mereka sedang mengobrol dan bertukar tawa dengan Hendra di sana.
Pagi ini Hendra agak telat. Ia datang setelah pemanasan selesai, membuat ia tidak sempat melihat wajah Jessica. Namun siapa sangka, Jessica lah yang datang untuk menemui dirinya, Jessica meminta izin pada Hendra untuk kembali melatih, karena bagaimana pun, Hendra lah yang memimpin perguruan ini sekarang.
"Kau tidak perlu meminta izin padaku, datanglah kapanpun kau mau, tempat ini juga milikmu. Aku dan yang lainnya akan senang jika kau kembali," ucap Hendra tersenyum pada Jessica.
"Terimakasih, Kak. Aku pulang dulu, aku akan kembali kamis depan," pamit Jessica lalu melangkahkan kakinya menjauhi Hendra.
Aldy menatap Jessica yang melangkah mendekati mobil, ia tersenyum pada istrinya itu lalu membukakan pintu mobil untuk Jessica.
"Kau pasti lelah, Sayang." Aldy masuk lalu duduk di samping Jessica, ia meraih tangan Jessica menggenggamnya seerat mungkin.
"Kau tidak marah, 'kan padaku?" tanya Jessica lalu menyadarkan kepalanya pada bahu Aldy.
Aldy menggeleng, "Untuk apa aku marah, aku tau kau bahagia dengan semua ini, jika kau bahagia, maka akupun bahagia melihatnya."
"Terimakasih, Sayang. Terimakasih atas semua kebahagiaan dan kasih sayang yang telah kau berikan."
Mobil melaju meninggalkan perguruan, dan langsung melaju menuju kediaman keluarga Pranata.
☆☆☆☆☆
Hai, Semua. Novel ini sudah masuk bagian bonus, Ya. Jadi beberapa episode lagi akan end😄
__ADS_1
Mau Happy Ending atau Sad Ending nih? ><