
Jessica membuka matanya, ia menatap sekitar dan ternyata semua itu bukan mimpi buruknya. Ia benar-benar kembali ke kontrakan yang sudah menemani perjalanan hidupnya beberapa tahun ini.
Jessica melirik ke arah bingkisan yang masih berada di atas meja, ia raih bingkisan tersebut lalu mengamatinya dengan lekat.
"Ini apa, dan dari siapa?" tanya Jessica pada dirinya sendiri. Jessica membuka bingkisan itu sambil menebak-nebak apa isinya dan dari siapa bingkisan ini sebenarnya.
Bingkisan itu terbuka, namun belum menampakkan isinya. Jessica kembali membuka lapisan terakhir yang menutupi isi dari bingkisan yang lumayan besar itu.
"Jaket?" Jessica mengamati jaket berwarna abu-abu itu, ia menyipitkan matanya, membaca sebuah tulisan kecil di atas kertas origami berwarna merah.
"Edelweiss?" Jessica mengerutkan dahinya, jika sudah Edelweiss yang tertulis di sana. Pengirim bingkisan ini pasti Aldy, tidak mungkin orang lain lagi.
Aku akan berjuang untuk mendapatkan hatimu, Edelweissku. Jessica tersenyum tipis ketika membaca kalimat itu, ingin rasanya ia berteriak pada Aldy, kalau dirinya ini tidak pantas jika ingin disandingkan dengan sosok seperti Aldy. Pengusaha Muda dan Tampan, dari keluarga yang sangat terpandang di kota ini.
"Sudahlah Tuan Muda yang tampan, aku ini hanya mimpi burukmu, aku bukan apa-apa dan siapa-siapa," ucap Jessica sambil meletakkan jaket itu ke dalam lemari kayu.
Jika diberi sesuatu, kenapa harus menolak.
Jessica masuk ke dalam kamar mandi, membersihkan dirinya lalu keluar setelah beberapa menit.
Tok...tok...
"Kak Jess," panggil Zia. Gadis itu datang dengan membawa nasi bungkus di tangannya.
"Kak Jess," panggilnya sambil mengetuk pintu kontrakan itu. Pintu terbuka, "Hai, apa yang kau lakukan sepagi ini, di sini?" tanya Jessica.
"Ah, ini. Ibu menitipkan ini untuk Kak Jess," jawabnya lalu memberikan dua bungkus nasi itu pada Jessica.
"Ini terlalu banyak, kau sudah sarapan? Jika belum. Temanilah Kak Jess," ucap Jessica dengan senyum manis di bibirnya.
"Sayangnya perutku sudah penuh Kak. Hehehe, Kak Jess sarapan saja. Aku akan menunggu di sini," jawab Zia lalu duduk di kursi kayu yang terletak di samping pintu kontrakan.
"Hmmm, mana yang lain?" tanya Jessica.
"Semua sudah kumpul di perguruan, Kak Jess sarapan saja."
Jessica meminta Zia untuk memegang nasi bungkus tadi, ia masuk dan meraih sepatu dan tasnya lalu keluar menemui Zia.
"Come on, Zi..." ucap Jessica setelah selesai memakai sepatu dan juga mengunci pintu kontrakan.
Zia hanya tersenyum, lalu berlari mengejar langkah besar Jessica.
"Kak Jess, Kakak tidak sarapan," tanya Zia.
__ADS_1
"Ah, nanti saja bersama yang lainnya," jawab Jessica sambil mempercepat langkahnya.
Tidak butuh waktu lama, keduanya sudah sampai di perguruan. Semua murid masih bersantai sambil menunggu kedatangan Jessica dan Zia.
"Hai," sapa Jessica lalu duduk di tengah-tengah para junior juara dan juga junior pemula itu.
Mereka semua bergeser, memberi ruang yang cukup untuk Jessica. "Mau latihan pagi atau sore?" tanya Jessica pada junior yang menjadi peserta lomba.
"Pagi dan sore," jawab mereka bersamaan. "Baiklah, Kak Jess akan menemani kalian." Jessica berdiri lalu masuk ke dalam ruang pelatih, mengganti bajunya dengan baju putih polos dan sabut hitam tebal melilit di pinggangnya.
Semua sudah berbaris rapi, para junior pemula menepi. Karena hari ini memang bukan hari latihan umum, tapi hari latihan untuk para peserta lomba.
Jessica memimpin pemasaran, mulai dari gerakan ringan sampai yang cukup memeras keringat.
Setelah pemasaran selesai, muncullah si kulit putih Juan, lengkap dengan baju putih dan sabuk hitamnya.
Semua murid berbalik menghadap Juan, memberi salam hormat pada guru pembimbing itu.
Latihan dimulai, sejauh ini mereka memang sudah siap, persiapan mereka bahkan sudah sangat matang dari minggu lalu. Jessica dan Juan hanya duduk dan berdiri dengan santai mengamati pergerakan mereka.
Semua materi dilahap dengan ganas, tidak ada cacat sedikit pun, baik dari keempat juara ataupun yang lainnya.
Latihan ditutup dengan tuntasnya semua materi. Ingin rasanya Jessica berteriak bangga pada mereka semua, sejauh ini, mereka sudah sempurna di mata Jessica dan Juan.
"Hehehe, maaf guru. Karena membuat guru kecewa di awal pertemuan kemarin," ucap Bagas.
"Sudahlah, kalian memang harus dibentak dan dipukul baru menurut," ledek Jessica. Semua tersenyum malu, malu karena tingkah mereka sendiri.
"Baiklah, kalian sudah sarapan?" tanya Jessica. Semua saling menatap satu sama lain, "Hehehe, kami terlalu semangat sampai lupa sarapan," ucap Zen dan Arfan lalu diikuti oleh senyum malu yang lainnya.
"Ayo kita sarapan bersama," ajak Jessica. Jessica meminta Juan untuk mengambil daun pisang lalu mencucinya dengan bersih.
"Biar aku saja,Kak Jess," ucap Zen ketika melihat Jessica yang sibuk mempersiapkan menu sarapan mereka.
"Sudahlah, kamu duduk manis saja. Biarkan Kak Jess yang melakukannya," tolak Jessica.
Arfan, Bagas, dan Zen hanya mengamati dari kejauhan, "Dibalik tubuh tegap dan menakutkan itu, tersimpan sosok Bidadari di dalamnya," ucap Zen.
"Serigala Betina, tidak salah jika Guru sangat menyayangi Kak Jessica. Dia pintar dalam semua hal, memasak, bela diri. Uh, laki-laki mana yang tidak terpesona padanya," sahut Bagas.
"Hei, ingatlah berapa usiamu. Kau bahkan belum lulus SMA," ucap Arfan pada Bagas.
"Hahaha, aku memang terpesona pada Kak Jess, tapi bukan berarti aku jatuh cinta padanya," elak Bagas.
__ADS_1
"Anak kecil sudah bicara tentang cinta, ya," ucap Juan yang sudah berdiri di belakang mereka.
"Memangnya Kak Juan tidak terpesona pada Kak Jessica?" tanya Zen.
Juan menunjuk dirinya, "Aku, aku tidak terpesona pada Serigala Betina itu," jawab Juan.
"Hahaha, Di balik topeng itu ada Bidadari yang lemah lembut, loh," sahut Bagas.
"Ah, terserah kalian saja. Sekarang kalian sarapan dulu, sebelum Serigala Betina yang lemah lembut itu berteriak memanggil kalian." Juan melangkahkan kakinya menuju lapangan, di sana sudah berjejer daun pisang dengan nasi dan lauk di atasnya.
Semua duduk dan makan dengan tenang, namun jauh di dalam hati mereka. Mereka berteriak menyebutkan nama Jessica, Si Serigala Betina kebanggaan mereka itu.
__________
Hari sudah menjelang siang, murid-murid perempuan sudah bubar sejak tadi. Tinggal tersisa murid laki-laki yang masih bersantai di sana.
"Zen, apa kau melihat Kak Jess?" tanya Juan pada Zen yang sedang berbaring di atas tumpukan Matras.
"Hmmm, Kak Jess masih di dalam," jawabnya.
Juan segera melangkahkan kakinya menuju ruang pelatih, sebelumnya ia mengintip dari jendela, memastikan Jessica memang masih di sana.
"Kak Jess," panggil Juan dari ambang pintu. Wanita itu menoleh sambil merapikan ikatan rambutnya. "Ada apa?"
"Hmmm, boleh aku masuk?"
"Jika ingin bicara, di luar saja," jawab Jessica lalu meraih tasnya dan keluar dari dalam ruangan.
Keduanya duduk di bawah pohon mangga yang cukup rindang itu, "Ada apa?" tanya Jessica.
"A-aku, aku ingin meminta maaf atas nama Kak Zuanda, dia tidak bermaksud seperti itu. Sungguh, Kakakku tidak bermaksud menyindir ataupun menyakiti hati Kak Jess," ucap Juan.
"Hahaha, aku juga tidak merasa tersindiri, apa yang dikatakan Kakakmu memang benar." Jessica memeluk lututnya membenamkan kepalanya di sana.
"Sudahlah Juan, jangan bicarakan itu lagi. Aku bahkan sudah melupakan kata-kata yang diucapkan oleh Kakakmu," ucap Jessica lalu kembali menegakkan kepalanya.
"Sungguh, keluarga kami tidak seperti itu," jawab Juan.
"Pergilah! Jika tidak ada yang ingin kau bicarakan lagi," Jessica menggeser tubuhnya memberi jarak yang sangat jauh antara dia dan Juan.
"Sekali lagi maaf, maafkan Kakakku," ucap Juan lalu menyeret kakinya menjauh dari hadapan Jessica.
Faktanya memang seperti itu, aku bukanlah apa-apa dan siapa-siapa jika sandingkan dengan keluarga mereka.
__ADS_1
Bersambut....