Mencintai Seorang Bodyguard

Mencintai Seorang Bodyguard
Jack Kembali


__ADS_3

Mobil putih mewah itu melaju menuju perusahaan, menyalip mobil-mobil lain di depannya.


Aura di dalam mobil begitu dingin, di dalamnya ada Dua Makhluk yang berasal dari Kutub Utara dan tersesat di Bumi Khatulistiwa ini.


Kedua Makhluk itu diam dengan tatapan yang begitu tajam dan aura dingin mengitari tubuh mereka. Mobil berhenti dan terparkir.


Ken keluar dari dalam mobil lalu membukakan pintu untuk Tuan Mudanya.


Keduanya masuk, masih dengan aura dan wajah yang sama. Para pegawai membungkukkan badan mereka ketika dua makhluk Kutub Utara itu berjalan di hadapan mereka.


"Huhuhu, Tuan Muda dan Tuan Ken kembali pada settingan awalnya. Kulkas Empat Pintu dan Es Batu Balok," gumam salah seorang pegawai.


"Beberapa bulan ini perusahaan terasa lebih indah dan bersahabat, tapi sekarang. Semua kembali pada Pengaturan Lama," sahut yang lainnya.


"Kemana Nona Muda, sejak Nona Muda datang ke sini, sejak itulah perusahaan terasa hangat tidak sedingin pagi ini," ucap seorang Staff Sekretaris.


"Sudahlah, lagi pula ini sudah biasa. Kita sudah bertahun-tahun menghadapi Dua Tuan yang datang dari Kutub Utara itu, jadi aku rasa ini sudah biasa," timbal Si Pegawai Lama.


"Hmmm, sudahlah. Sebelum Tuan Muda menerkam kita semua." Mereka kembali sibuk dengan tugas mereka masing-masing. Tidak perduli lagi dengan aura dingin yang terus berputar di sekeliling mereka.


Sementara di sebuah ruangan yang sangat rapi dan mewah, duduklah Dua Makhluk dari Kutub Utara itu di meja mereka masing-masing.


Aldy mulai membuka,membaca dan menandatangani berkas-berkas penting perusahaan. Sementara Ken, ia mengecek laporan-laporan yang sudah masuk ke dalam Emailnya.


Suasana di dalam ruangan itu sangat hening dan tenang. Tidak ada yang bicara ataupun menatap satu sama lain. Mereka sibuk dengan pekerjaan masing-masing.


Sampai jam istirahat makan siang tiba, Aldy menyadarkan kepalanya di kursi kebesarannya. Ia merasa pusing dan juga pening.


"Ken," panggilnya pada Ken yang masih sibuk dengan pekerjaannya.


"Kenapa?" jawab Ken sambil merapikan tumpukan berkas-berkas di depannya.


"Tolong selesaikan pekerjaanku nanti, aku akan keluar." Aldy berjalan keluar dari dalam ruangan, sebelumnya ia meraih kunci motor di atas mejanya.


"Hmmm, dia mau kemana?" Ken menatap pintu yang sudah tertutup rapat itu. Ia merapikan semua berkas-berkas lalu keluar untuk makan siang.


Di dalam lift khusus. Aldy memutar-mutar kunci motor yang ada di tangannya. Ia sendiri bingung mau kemana dan ingin bertemu siapa sebenarnya. Cukup lama ia tenggelam dalam pikiran yang tidak tentu arahnya itu.


Aldy keluar dari dalam lift, berjalan dengan santai menuju parkiran bawah tanah, di sanalah sebagian mobil dan motor mewahnya tersimpan.


Aldy memasang helmnya lalu menancapkan gas, keluar dari area perusahaan. Semua orang yang berada di keamanan menatap motor yang sudah menjauh itu.


"Tuan Muda mau kemana?" tanya seorang Satpam pada seorang Bodyguard yang selalu memastikan keamanan Aldy. Bodyguard itu tidak menjawab, dia pergi begitu saja dengan aura yang tak kalah dinginnya.


"Astaga, gedung ini dipenuhi oleh Makhluk luar angkasa," gumam Si Satpam.


________


Aldy terus menancapkan gasnya sampai ia benar-benar jauh dari kota. Kini motor itu terparkir di pinggir jalan, tepat di atas sebuah jembatan tua yang terletak di pinggir kota.


Pandangannya lurus ke depan, teriknya matahari siang itu sudah tidak terasa lagi di tubuh Aldy yang hampa dan mati rasa.


Pikirannya melayang entah kemana, matanya mulai turun, menatap derasnya air sungai di bawah sana.


Entah, hal apa yang membawa Tuan Muda itu sampai di sini, tempat ini sungguh menarik dan memanggil tubuh Aldy.


"Jess, aku harap kau sudah memaafkan Zuanda. Kepergianmu benar-benar membuatku gila, aku gila tanpa melihat senyum tipis dan tatapan tajammu itu. Aku sungguh gila, gila karena terlalu berharap dan mencintaimu." Aldy membuang pandangan ke ujung jalan, ia bisa melihat seorang laki-laki yang berjalan dengan lemah di sana.


Laki-laki itu berjalan mendekati dirinya, seolah-olah meminta bantuan padanya. Aldy berdiri, ia melangkah kakinya berjalan mendekati laki-laki di ujung jalan sana.


Laki-laki itu terus berjalan walau terlihat sangat lemah, ia berpegangan pada besi jembatan. Tatapannya terus tertuju pada Aldy yang sudah tidak jauh darinya.


Aldy mempercepat langkahnya, hatinya terasa terpanggil oleh laki-laki itu. "Siapa dia sebenarnya," gumam Aldy.


Jarak antara Aldy dan laki-laki itu sudah sangat dekat, tiba-tiba laki-laki itu ambruk tidak berdaya lagi. Spontan Aldy berlari ke arahnya. Ia menatap laki-laki tadi tak percaya, "Bertahanlah, aku akan membawamu ke Rumah Sakit," ucapnya lalu menghubungi Ken dan beberapa Bodyguard lainnya.

__ADS_1


Aldy melepas jasnya, ia menutupi wajah laki-laki tadi agar tidak terpapar oleh panasnya sinar matahari siang itu.


Tidak lama kemudian datanglah mobil Ken dengan kecepatan tinggi menghampiri Aldy. Ia menatap Laki-laki yang ada di dalam pangkuan Aldy lalu mengangkat tubuhnya masuk ke dalam mobil.


"Cepat, kalian periksa sekitar tempat ini," perintah Aldy pada beberapa Bodyguard yang ikut bersama Ken. Semuanya mengangguk meng-iyakan perintah Tuan Muda mereka.


Mobil putih mewah itu kini melaju dengan kecepatan tinggi menuju sebuah Rumah Sakit Kota. Butuh waktu yang cukup lama karena jarak mereka dengan Rumah Sakit cukup jauh.


"Bertahanlah, sebentar lagi kita sampai," ucap Aldy pada laki-laki yang sudah lemah itu. Laki-laki itu hanya tersenyum menatap wajah tampan Aldy yang terlihat khawatir.


Ken diam, tidak berani bertanya apapun, walau otaknya sudah dipenuhi beribu-ribu pertanyaan.


Mobil memasuki area Rumah Sakit, terlihat beberapa perawat berlari menghampiri mereka. Aldy dan Ken mengangkat tubuh laki-laki itu, "Berikan ruangan dan perawatan terbaik untuknya," perintah Aldy pada seorang Dokter yang baru saja muncul.


"Anda tenang saja, Tuan," jawabnya dengan senyum di bibirnya.


Pakaian resmi dan rapi Aldy sudah tidak terlihat lagi, kemeja putih itu sudah dipenuhi oleh darah yang berasal dari tubuh laki-laki tadi. Ken meraih jas Aldy, memperhatikan dengan lekat, "Sebaiknya kau mengganti pakaian dulu," ucap Ken pada Aldy.


Aldy masuk ke dalam mobil lalu di ikuti oleh Ken, mobil itu melaju ke arah komplek perumahan yang tidak jauh dari Rumah Sakit ini.


Aldy meraih handphone yang berada di dalam saku celananya, ia menghubungi pihak kepolisian dan juga Jessica. Pria itu hampir saja lupa karena rasa khawatirnya tadi.


"Hallo."


"Iya, ada apa, Tuan," tanya Jessica di seberang sana. Ia menatap layar handphonenya yang menampilkan nama "Aldyan" di sana.


"Datanglah ke Rumah Sakit Kota, seseorang membutuhkanmu di sana," jawab Aldy. Pria itu sungguh merindukan suara dingin Jessica, ia terus menatap layar handphone dengan tulisan "Edelweiss" di sana.


"Si-siapa?"


"Datanglah, dan lihat sendiri," ucap Aldy lalu memutuskan sambungan dengan terpaksa.


Jessica menatap layar handphone, ia mengerutkan dahi tidak mengerti dengan maksud Aldy. Jessica meraih jaketnya lalu mengunci pintu kontrakan. Ia memesan taksi lalu meluncur ke Rumah Sakit Kota.


Jessica melangkah kakinya menuju ruang rawat VIP di lantai dua Rumah Sakit. Ia menatap seorang laki-laki yang sedang terbaring lemah dengan tubuh yang dipenuhi luka.


Jessica meminta izin pada seorang perawat untuk masuk ke dalam ruangan, perawat itu tersenyum lalu membukakan pintu untuk Jessica.


"Jack," panggil Jessica lirih. Ia menatap wajah laki-laki yang terbaring lemah itu.


"Jack, Kak Jess ada di sampingmu sekarang, bukalah matamu!" Jessica menggegam erat tangan Jack.


Perlahan laki-laki itu membuka matanya lalu tersenyum ketika mendapati Jessica di sampingnya.


"Kak Jess," panggilnya dengan suara yang masih lemah.


"Jack." Jessica menatap Jack lekat, "Kau kemana saja?"


"Hehehe, aku sudah berpetualang dengan para psychopath," jawab Jack.


Jessica melepaskan tangan Jack ketika menyadari ada orang lain di ruangan ini.


"Bagaimana keadaanmu, Jack?" tanya Aldy yang sudah berdiri di samping Jessica.


"Terima kasih, Tuan. Sudah menolongku," jawab Jack namun Aldy tidak dapat mendengar karena suaranya yang begitu lemah.


"Istirahatlah Jack! Kau masih lemah," ucap Jessica lalu bangun dari duduknya.Jack tersenyum lalu menatap Aldy dan Jessica bergantian.


"Kak Jess akan menunggu di luar, kau istirahat saja." Jessica berjalan, keluar dari dalam ruangan. Aldy menatap Jack lalu menyusul Jessica.


"Jess," panggil Aldy. Jessica berhenti, membalik tubuhnya menghadap Aldy.


"Ada apa, Tuan Aldy?"


"Sudahlah, lupakan saja," jawab Aldy karena merasa tidak enak dengan panggilan Jessica tadi.

__ADS_1


Jessica melangkah kakinya keluar dari Rumah Sakit, ia menelpon Mama dan Papa Jack agar mereka menemui dan menemani Jack di sini.


"Kau benar-benar Edelweiss yang membuatku gila." Aldy tersenyum tipis, bagaimana bisa ia sangat mencintai Serigala Betina itu. Bahkan ia sudah terlihat gila dan bodoh jika sudah berhadapan dengan Jessica.


_________


Tanpa pikir panjang lagi, Kamila langsung menancapkan gasnya menuju Rumah Sakit Kota. Ia mendapat kabar bahwa Jack berada di sana dari Jessica, hatinya bergetar karena sudah lama tidak melihat tatapan hangat milik Jack.


Di dalam mobilnya, Kamila terus tersenyum sambil membayangkan wajah Jack yang tampan rupawan itu. "Aku sungguh merindukanmu."


Mobil terparkir rapi. Kamila berlari masuk ke dalam Rumah Sakit. Ia melirik sekitar lalu berlari menuju lantai dua Rumah Sakit. Kamila menghitung dan memperhatikan setiap ruang rawat VIP di lantai dua.


"Kamar 13. Ah, ini dia," ucapnya sambil menatap pintu ruangan yang tertutup rapat itu. Kamila membukanya dengan pelan, terlihat pasangan suami istri yang sedang duduk di samping laki-laki yang terbaring lemah di atas ranjang itu.


"Jack." Kamila melangkah dengan perlahan, ia sudah tidak perduli lagi akan malu karena tatapan dari Mama dan Papa Jack.


Mama Qiana tersenyum ketika melihat Kamila yang berjalan ke arah mereka, "Kamu Kamila, duduklah, Nak."


"I-iya Tante, saya Kamila, teman Jack." Papa Jack berdiri lalu mempersilahkan Kamila duduk di kursinya, "Duduklah, nak. Papa mau keluar sebentar, tolong temani Mama di sini," ucapnya lembut.


Kamila hanya tersenyum lalu duduk di samping Mama Qiana. Tangannya bergerak menggenggam erat tangan Jack yang masih tertidur, "Bangunlah, Jack."


Sekilas Mama Qiana tersenyum lalu keluar, membiarkan Kamila menjaga dan menemani Jack di dalam.


"Ku mohon, bukalah matamu. Rasakan aku di sampingmu." Kamila mengelus telapak tangan yang penuh dengan luka kecil itu.


"Apa yang mereka lakukan padamu, kenapa sampai seperti ini?"


Perlahan Jack membuka matanya karena merasakan butiran kecil menetes di telapak tangannya. "Ka-kamila."


"Jack, aku di sini." Kamila menegakkan pandangannya, ia menatap wajah tampan Jack yang sedikit pucat.


Jack tersenyum walau tidak semanis senyum andalannya, "Aku kembali untukmu," ucapannya lalu menggerakkan tangannya menyentuh pipi Kamila. "Jangan menangis lagi."


"Jack, kau kemana saja. Aku, aku merindukanmu." Kamila menempelkan tangannya pada pipi Jack yang tidak luput dari luka itu.


"Apa yang mereka lakukan padamu," ucap Kamila lirih karena menyadari hampir setiap bagian tubuh Jack terluka.


"Khemm, aku tidak apa-apa." Jack tersenyum seolah-olah sudah tidak merasakan sakit lagi di sekujur tubuhnya.


"Kau sudah makan?" tanya Kamila. Ia sendiri merasakan perutnya sudah memberontak karena tidak sempat makan terlebih dahulu.


"Aku sudah, bagaimana denganmu?" Jack terus menatap wajah wanita yang sedikti mirip dengan wajah pria yang menolongnya tadi.


"Makan dulu, Nak," sahut Mama Qiana. Wanita paruh baya itu membawa kotak makanan berukuran sedang lalu menyerahkan pada Kamila. "Makanlah, Mama harap Kamila suka," ucapnya dengan senyum tulus.


"Terima kasih, Ma."


Jack tersenyum melihat kedekatan Mamanya dengan Kamila, ia berharap keluarga Kamila akan menerima dan memberi restu untuknya juga.


Tuan Aldy memang bermuka dingin, tapi hatinya begitu baik. Bahkan dia mau menolongku tadi.


Jack benar-benar tidak menyangka jika pria yang menolongnya tadi adalah Tuan Aldyan Pranata Yoga, Kakak kandung Kamila Pranata Yoga. Gadis yang sedang duduk di samping Mamanya sekarang.


Bersambung....


________


Semoga Suka😊🙏


Maaf Author ganti Cover lagi😁


Semoga suka😊♥


Salam manis dari Author Ingusan🙏

__ADS_1


__ADS_2