Mencintai Seorang Bodyguard

Mencintai Seorang Bodyguard
Akibat Cemburu


__ADS_3

Aldy melempar vas bunga di atas mejanya. Ia mengacak rambutnya frustasi, menatap layar Hpnya tajam lalu membanting benda tipis itu asal.


"Kau kenapa?" tanya Ken yang baru masuk ke dalam ruangan mewah itu. Ia mengedarkan pandangannya, menatap vas bunga dan dokumen-dokumen perusahaan yang tergeletak di atas lantai.


Aldy diam, pria itu semakin lama semakin frustasi. Ia meraih kunci motor yang tergantung di dekat mejanya.


"Kau handle perusahaan, aku akan keluar," ucapnya pada Ken. Ken menarik tangan Aldy kasar, menatap matanya yang sudah mulai panas.


"Jangan keluar ketika emosimu tidak stabil seperti ini, duduk dan minumlah dulu." Ken bisa melihat dan merasakan kekesalan dan juga kemarahan sangat jelas di mata dan aura Aldy.


Aldy tidak menanggapi ucapan Ken, ia menarik tangannya lalu berjalan keluar dari ruangan itu.


Semua mata tertuju pada Aldy. Para pegawai hening, tidak berani menyapa ataupun bertanya pada sang Tuan Muda dingin itu.


Mereka tau kalau suasana hati Kulkas Empat Pintu itu sedang tidak baik.


"Tuan Muda kenapa lagi? Akhir-akhir ini Tuan lebih dingin dan juga lebih seram," ucap seorang pegawai.


"Entahlah, sebaiknya kita jangan terlalu kepo pada Tuan Muda dan Tuan Ken," jawab pegawai lainnya. Mereka kembali fokus pada pekerjaan mereka, membuang rasa penasaran yang menghantui pikiran mereka.


Sementara itu, Aldy berjalan dengan cepat, ia menaiki sebuah motor berwarna hitam dan merah. Motor itu melesat dengan kecepatan tinggi, keluar dari gedung tinggi dan megah itu.


Aldy benar-benar terbakar api cemburu. Bayangan Jessica dan Hendra memenuhi pikiran. Semakin lama bayangan itu semakin besar dan menghilangkan konsentrasi Aldy.


Brakkkk


Pria itu hilang kendali, ia menabrak mobil putih di depannya. Semua orang menetap ke arah motor hitam yang terpental di tengah jalan itu.


"Tuan, apa Anda baik-baik saja?"


"Cepat bawa dia ke rumah sakit!"


"Kasian."


"Beruntung dia memakai helm."


"Itu Tuan Aldy."


Orang-orang berkerumun, mereka menatap Aldy iba. Semua tubuhnya di penuhi darah, beruntung pria dingin itu mengenakan helm. Selang beberapa menit, muncullah Ambulance dari arah yang sama.


Aldy dilarikan menuju rumah sakit kota, bahkan pria itu langsung kehilangan kesadarannya saat memasuki rumah sakit.


Ken dan Ibu berlari, keduanya langsung meluncur setelah mendapat telepon dari salah seorang warga yang ada di kejadian tadi.


Ibu menatap Ken, meminta penjelasan atas semua ini. "Aku sudah melarangnya, Bu. Emosinya memang tidak stabil ketika keluar dari perusahaan tadi," jawab Ken yang mengerti arti tatapan Ibu.


Keduanya hening, menatap seorang wanita dengan rambut yang tebal tidak terikat di lorong sana.


"Jessica?"

__ADS_1


Jessica berjalan ke arah Ibu dan Ken, "Kenapa bisa seperti ini, Ken?" tanya Jessica.


"Aku dan Ibu juga tidak tau. Dia mengamuk tidak jelas di perusahaan, membanting Hpnya dan keluar begitu saja," jelas Ken.


Jessica beralih menatap Ibu yang sudah lelah menangis sejak tadi. "Ibu, Ibu yang tenanglah, Aldy pasti baik-baik saja," ucap Jessica. Ia menatap wajah wanita paruh baya itu lekat.


________


2 Jam kemudian. Seorang Dokter berjalan mendekati Jessica dan Ibu. "Nona, bisakah Anda menghubungi Nona Jessica. Tuan Aldy selalu menyebut namanya," ucap Dokter itu pada Ibu.


Ibu menatap Jessica, "Dia Jessica, Dok. Apa kami boleh masuk?"


"Silahkan, Nyonya. Tuan Aldy membutuhkan Anda."


Ibu dan Jessica masuk ke dalam ruang rawat. Ia menatap Aldy yang masih terbaring di atas ranjang. Pria itu terlihat terluka di bagian lutut, siku dan jari-jari tangannya.


"Jess," gumam Aldy yang masih memejamkan matanya. Jessica mendekat, ia menarik sebuah kursi dan duduk di samping ranjang.


Jessica mengamati jari-jari Aldy yang terluka, "Kau kenapa? Kenapa bisa seperti ini?" Jessica meraih tangan kekar itu.


Ia berlarih menatap wajah tampan Aldy. Wajah itu sekilas tersenyum, entah dia sudah bangun atau masih tertidur. Jessica mengelus pipi Aldy lembut, membuat pria itu membuka matanya yang masih terasa berat.


Aldy tersenyum mendapati tangan kiri Jessica menggegam tangannya, sedangkan tangan kanannya masih menempel di pipi Aldy.


"Jess," panggil Aldy dengan suara yang begitu berat.


"Kenapa? Kau butuh apa? Aku panggilkan suster dulu." Jessica berdiri hendak memanggil suster, namun Aldy menarik ujung jaketnya, membuat ia kembali duduk.


"Kami di sini, Kak," jawab Kamila. Gadis itu mendekat ke arah Aldy dan Jessica. "Aku rasa, Kakak tidak membutuhkan aku dan Ibu di sini. Kakak sudah punya suster pribadi."


Kamila berdiri di samping ranjang, matanya terlihat sudah bengkak karena terus menangisi Aldy. Namun yang di tangisi terlihat baik-baik saja, bahkan tersenyum walau tubuhnya terluka.


"Kau menangis?"


"Iya, aku menangisi Kakak sejak dua jam yang lalu," jawab Kamila cemberut.


"Aku baik-baik saja, kenapa kau menangis, bodoh." Aldy mengalihkan pandangannya. Ia menatap wanita paruh baya yang sudah tertidur di atas sofa biru itu.


"Bawalah Ibu pulang, aku baik-baik saja. Kalian pulang dan istirahatlah!"


"Hmmm, Kak Jess, ayo kita pulang. Tinggalkan saja dia sendiri di sini." Canda Kamila. Gadis itu berjalan menjauhi Aldy dan Jessica.


"Ibu."


"Ibu, sebaiknya kita pulang. Ibu harus istirahat dengan benar. Kak Jess akan menjaga Kak Aldy di sini," ucap Kamila ketika Ibu sudah terbangun dari tidurnya.


Ibu menatap Aldy, pria itu senyum seolah-olah membenarkan perkataan Kamila.


"Ibu pulang, ya. Ibu sudah meminta Ken untuk mengirim beberapa bodyguard untuk memastikan keamanan di sekitar sini," ucap Ibu lalu mengajak Kamila keluar dari ruang rawat Vip itu.

__ADS_1


Jessica mengalihkan pandangan, ia menatap Aldy redup. "Kau sudah makan?"


"Aku sudah kenyang hanya dengan melihat wajah dan senyum tipismu itu." Aldy meraih tangan Jessica di tepi ranjang. Ia menatap cincin yang tersemat di jari manis wanita itu.


"Apa ini jawaban dari perasaanku?" Aldy menatap mata Jessica. Meminta kepastian dari Serigala Betina yang sedang duduk di samping ranjangnnya itu.


Jessica tidak menjawab, ia tersenyum sambil menatap lekat wajah tampan Aldy.


"Tapi, siapa pria itu?" tanya Aldy yang kembali mengingat foto Jessica dan Hendra.


Jessica mengerutkan dahinya, "Pria yang mana?"


Aldy menarik nafasnya dalam, "Pria yang merelakan bahunya sebagai tempat kau bersandar dan tertidur nyaman." Aldy bahkan sudah menatap Jessica penuh cemburu.


"Hahahaha, kau kenapa? Siapa yang kau maksud? Apa Kak Hendra? Kau cemburu padanya," jawab Jessica terkekeh. Jessica mengelus pipi Aldy lembut.


"Dia hanya Kakakku, tidak lebih."


Aldy menghembuskan nafasnya lega, namun ia belum puas dengan itu. "Aku mencintaimu, Jess. Sangat mencintaimu, aku bahkan berbaring di sini karena kebodohan yang tercipta setelah mencintaimu."


"Kau cemburu?" Jessica menatap Aldy. Pria itu hanya tersenyum tipis, ia menggerakkan tangannya yang terluka ke arah wajah Jessica. Mengelus pipi wanita itu lembut.


Jessica melirik ke arah tangan Aldy yang masih menempel di pipinya, "Aku juga mencintaimu, entah sejak kapan, aku tidak tau. Rasa itu tiba-tiba saja datang menghampiriku."


Aldy tersenyum mendengar ucapan Jessica, ia berusaha untuk bangkit.


"Berbaringlah!" Jessica sedikit menekan lengan Aldy.


"Kau istirahat, aku akan tetap di sini," ucapnya sambil terus menatap wajah tampan Aldy.


"Sebaiknya kau pulang saja, Jess. Di sini tidak kasur yang empuk, yang bisa kau gunakan untuk tidur." Aldy menatap Jessica Iba.


"Hahahaha, kata siapa? Di sini bahkan ada kamar mandi yang sangat nyaman. Dan kasur, benda sebesar itu, apakah kau tidak melihatnya?" Jessica menujuk ke arah pojok ruangan, di sana ada sebuah lemari kecil dan juga kasur lipat berukuran sedang.


Aldy terkekeh, "Aku hanya fokus pada satu objek, jadi aku tidak melihat benda sebesar itu."


"Terus saja membual, kau bahkan sudah terlihat baik-baik saja. Apa ini tidak sakit lagi?" Jessica menyentuh lutut Aldy yang terluka.


"Apa yang kau lakukan!"


"Hahahaha, selamat malam. Istirahatlah dengan baik," ucap Jessica lalu berjalan ke pojok ruangan. Ruangan ini bahkan tidak terlihat seperti ruang rawat, ruangan itu lebih luas dari kamar kontrakan Jessica.


Jessica merebahkan tubuhnya, rasa lelah bahkan belum hilang dari tubuh Serigala Betina itu. Ia baru saja pulang dari perlombaan dan langsung mendapat kabar mengejutkan seperti ini dari Ken.


Jessica melirik ke arah Aldy yang menatapnya sejak tadi, "Apa kau tidak akan tidur dan terus akan menatapku seperti itu?" tanya Jessica.


Jessica baru sadar, dia dan Aldy hanya berdua di ruangan ini, ia menempuk jidatnya. "Apa di sini ada CCTV?" Jessica mengedarkan pandangannya. Ia menemukan benda kecil itu terpasang di sudut ruangan.


Jessica menghembuskan nafas lega, setidaknya ada bukti yang mengatakan kalau dia tidak melakukan hal yang macam-macam ketika menginap di ruangan ini.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2