
Acara penyambutan sudah selesai. Ibu, Kamila dan Aldy masuk ke dalam rumah untuk beristirahat sedangkan Ken dan keluarganya pamit undur diri dan akan akan kembali untuk makan malam bersama nanti.
Para pelayan juga sudah mulai sibuk dengan tugas mereka masing-masing.
Berbeda dengan Jessica, ia kembali ke rumah belakang untuk meluapkan semua kesedihan di sana. Rasa rindu datang menghampiri hatinya, membuat semua benteng pertahanannya hancur. Kini air mata kembali mengalir membasahi pipinya, Jessica segera menyeka air mata kesedihan itu. Ia mencoba melukis senyum di bibirnya ketika seorang pelayan datang menghampirinya.
"Kamu kenapa, Jess?" tanya pelayan tadi yang kini sudah duduk di samping Jessica. Pelayan itu menatap mata Jessica teduh, ia dapat melihat sebuah kesedihan di sana.
"Aku tidak apa-apa, Mbak," jawab Jessica dengan penuh senyuman. Dia benar-benar bisa menyembunyikan kesedihan yang ia rasakan dari orang lain.
"Jika ada masalah, jangan sungkan untuk bercerita padaku atau pada yang lainnya. Aku pamit dulu, masih ada yang harus ku kerjakan di dapur utama." Pelayan itu beranjak meninggalkan Jessica yang masih termenung di tepi kolam.
Jessica kembali termenung, hari ini ia benar-benar tidak dapat mengontrol kesedihan dan juga kebahagiaannya.
Kedua hal itu datang di hari yang sama dan juga di waktu yang sama.
----------
Kamila merasa begitu bahagia hari ini. Hari dimana kebahagiaan besar berpihak padanya, ia merasa sudah tidak membutuhkan apa-apa lagi untuk saat ini.
Namun semua kebahagiaan itu terasa tidak sempurna baginya ketika berada di meja makan. Sedangkan di sana semua sudah lengkap, Ibu dan Aldy satu meja dengannya. Dan juga ada Ken beserta Mama dan juga Nathalia.
Hanya satu orang yang kurang tapi pengaruhnya begitu besar pada Kamila.
Siapa lagi kalau bukan Jessica, Kamila sudah menawarkan untuk makan bersama tapi Jessica menolak dengan alasan yang wajar dan masuk akal.
"Ila." Ibu menyentuh tangan Kamila lembut, ia menyadari kalau putrinya sedang memikirkan sesuatu.
"Eh...iya, Bu," jawab Kamila yang baru tersadar dari lamunannya.
__ADS_1
"Apa yang kau pikirkan, sayang?" Ibu menatap lekat putri tercintanya itu.
Sejenak semua mata memandang ke arah Kamila. Aldy dan Ken menatap dengan tatapan tajam mereka. "Makanlah, jika tidak makan habislah kau!" begitulah Kamila mengartikan tatapan keduanya.
"Hehehe...aku tidak memikirkan apapun, Bu, hanya memikirkan beberapa tugasku yang belum selesai," jawab Kamila berbohong.
Sebagai seorang Ibu, ia tau persis putrinya sedang berbohong dan menyembunyikan sesuatu darinya. "Sudahlah, sayang, jangan pikirkan lagi," ucap Ibu dengan diiringi sebuah senyum manis.
Kamila hanya mengangguk lalu kembali menguap makanan yang ada di hadapannya walau sebenarnya serela makannya sudah tiada lagi.
"Huh, gadis ini sangat merepotkan," gumam Ken sambil menatap ke arah Kamila.
Suasana meja makan kembali sunyi, hanya terdengar suara sendok yang berbenturan dengan piring saja.
---------
"Terima kasih sudah meluangkan waktumu untuk datang kemari." Ibu tersenyum menatap Mama Ken dan Nathalia.
"Kau tidak menginap, sayang?" Kini tangan Ibu sudah mengelus kepala Nathalia lembut.
"Aku besok sekolah, Bu," jawab Nathalia.
"Hmmm...kapan-kapan datang dan menginaplah di sini, okey." Tangan Ibu masih mengelus kepala Nathalia sambil tersenyum manis pada gadis itu.
Nathalia tidak menjawab, ia hanya tersenyum lalu mengangguk beberapa kali ketika Ibu berbicara dengannya.
Kini Ken dan keluarganya sudah meninggalkan rumah utama, sebelumnya mereka berpamitan dengan Aldy dan juga Kamila.
"Mbak." Ibu berjalan menuju dapur hendak mencari Kepala pelayan di sana.
__ADS_1
"Iya, Nyonya." Kepala pelayan itu berjalan mendekati Ibu yang sudah berdiri di ambang pintu dapur.
"Aku ingin bicara denganmu, tapi tidak di sini." Keduanya berjalan menuju taman kecil yang berada di samping kiri rumah utama.
"Jawab semua pertanyaanku dengan jujur." Nada bicara ibu terdengar sangat serius. "Baik, Nyonya," jawab sang kepala pelayan yang sudah mulai gemetar.
"Siapa wanita yang berada di sampingmu tadi pagi?" Ibu jelas-jelas mengingat wanita yang selalu berada di samping kepala pelayannya itu.
"Dia Jessica, Nyonya, Bodyguard sekaligus sopir pribadi Nona Kamila. Tuan Ken yang membawanya kemari," jelas kepala pelayan, ia masih mengingat hari kedatangan Jessica ke rumah ini.
"Sejak kapan dia tinggal di sini?" tanya Ibu yang masih dihantui rasa penasaran. Ia memang ingin bertanya sejak tadi pagi, namun ia sama sekali tidak memiliki kesempatan untuk itu.
"Sejak Nona Kamila masuk semester dua, kurang lebih 2 bulan yang lalu." Pelayan itu berusaha mengingat waktu kedatangan Jessica.
"Hmmm, baiklah. Tadinya aku mengira dia Calon Menantuku." ucapan Ibu membuat kepala pelayan itu membelangakkan matanya. Ia tidak menyangka Nyonya besarnya berharap sejauh itu pada Jessica.
"Mungkin apa yang Nyonya harapkan akan menjadi nyata," ucap kepala pelayan itu dengan senyuman. Ia bisa melihat dan juga merasakan sikap Tuan Mudanya yang berbeda ketika berbicara ataupun berpapasan dengan Jessica.
"Apa kau yakin dengan ucapanmu tadi?" Sebenarnya Ibu juga bisa melihat dari tatapan putranya pada Jessica tadi pagi.
"Entahlah Nyonya, tapi saya merasa harapan Nyonya akan terwujud suatu saat nanti." Kepala pelayan itu terus tersenyum.
"Hmmm...ku harap begitu."
Keduanya tenggelam pada pikirannya masing-masing. Ibu masih memikirkan tentang Jessica, ia merasa begitu dekat dengan wanita itu. Sedangkan kepala pelayan sibuk memikirkan perasaan Jessica pada Tuan Mudanya.
*Jika memang benar Tuan Muda menyimpan rasa pada Jessica. Apa Jessica juga menyimpan rasa pada Tuan Muda?
Sejauh ini aku lihat Jessica hanya mengikuti semua keinginan Tuan Muda dengan rasa hormat. Semua yang ia kerjakan hanya karena sebuah perintah dari Tuan Muda....ahh rasanya aku ingin bertanya langsung pada Jessica sekarang juga. Kepala Pelayan*
__ADS_1
Setelah cukup lama di taman, keduanya memutuskan untuk kembali masuk ke dalam Rumah Utama.
Bersambung...