
Dingin dan gelapnya malam menemani seorang gadis yang menangis tersedu-sedu. Ia baru saja terbangun dari mimpi buruknya, berteriak memanggil nama orang yang ia rindukan.
Zia menatap sekitar ruangan berukuran sedang dengan fasilitas sederhana di sekitarnya. Gadis itu mencoba turun dari ranjangnya lalu menatap ke arah luar ruangan, berniat untuk menenangkan dirinya.
Zia berjalan mendekati pintu ruangan, namun langkahnya terhenti sebelum ia membuka pintu itu.
"Ini sudah jam berapa?" gumam Zia sambil melirik ke arah jam dinding yang menempel pada dinding ruangan.
"Dua malam?" Seketika Zia merinding sendiri. Ia kembali naik ke atas ranjang lalu menarik selimut sampai menutupi wajahnya.
"Tolong......" teriak Zia yang tiba-tiba merasakan sesuatu yang berat menindih tubuhnya.
Jantungnya berdetak begitu kencang dan tubuhnya bergetar karena takut yang luar biasa.
Pintu ruangan pun terbuka. Seorang Dokter wanita berusia 45 tahun masuk lalu berlari ke arah Zia.
Ia menarik tubuh Zia, mendekapnya erat.
"Kau baik-baik saja?" tanya sang Dokter khawatir.
Zia masih diam. Ia juga mulai merasakan hal yang aneh di ruang rawatnya itu. Zia merasakan ada sosok besar yang berdiri di belakangnya.
Dokter Ree mengeratkan pelukannya ketika Zia kembali menangis tersedu-sedu.
"Sakit!!! Tolong!" teriak Zia ketika merasakan sesuatu yang tajam menancap di punggungnya.
Dokter Ree mulai panik. Dengan segera ia menyingkap baju yang Zia kenakan lalu memeriksa punggung gadis itu.
"Ya, Tuhan....." Dokter Ree menutup mulutnya. Matanya tidak berkejap ketika melihat tiga bekas cakaran yang begitu panjang dan dalam.
Ia pun berteriak meminta tolong, dengan tangan mengelus kepala Zia dan mendekap gadis itu kembali ke dalam pelukannya.
Anehnya, sekuat apapun Zia dan Dokter Ree berteriak, tidak ada satupun orang di luar sana yang mendengar teriakan keduanya.
Zia kembali menangis sejadi-jadinya. Ia memeluk Dokter Ree dengan erat.
Sekitar 10 menit kemudian. Suasana di dalam ruangan itupun berubah. Zia mendongak menatap sang Dokter yang juga menatap ke arahnya.
"Kita ke luar sekarang!" Dokter Ree menuntun Zia berjalan mendekati pintu.
Lagi-lagi. Pintu itu tiba-tiba terbuka lalu tertutup rapat dengan sendirinya.
Zia yang melihat hal itu hampir saja pingsan. Ia menarik nafas panjang lalu menghembuskannya pelan lewat mulutnya.
Dokter Ree pun memejamkan matanya sambil berdo'a, ia meminta perlindungan pada sang Maha Kuasa yang mengendalikan segalanya.
Cukup lama. Keduanya kembali saling menatap lalu tersenyum dan melangkah ke luar dari ruangan.
Tidak sampai di situ saja. Keduanya tercengang saat melihat rumah sakit kota itu yang tiba-tiba saja berubah menjadi istana yang begitu menyeramkan.
Apa aku bermimpi?! (Zia)
Seseorang dengan pakaian perawat mendekati keduanya dengan wajah yang begitu bingung.
__ADS_1
"Dokter?! Apa yang Anda lakukan di sini?" tanya sang perawat sambil menatap Dokter Ree dan Zia secara bergantian.
Keduanya tersadar lalu menoleh ke arah sang perawat.
"Cepat bawa gadis ini menuju ruang VIP di lantai atas!" Dokter Ree menatap sang perawat dengan tatapan yang begitu tajam dan menyeramkan.
"Tapi, Dok...." perawat itu menatap Dokter Ree, mengisyaratkan Zia tidak bisa dipindahkan ke sana.
"Aku yang menanggung biayanya!" ucap Dokter Ree mengerti akan arti tatapan si perawat.
Perawat itupun patuh. Ia membawa Zia menuju ruang VIP di lantai atas yang kebetulan bersebelahan dengan ruang rawat Jessica.
Tidak lama, Dokter Ree pun menyusul Zia dan si perawat ke lantai atas. Setibanya di sana, ia langsung memeriksa luka di punggung Zia, berniat untuk mengobati luka cakaran itu.
Anehnya, luka itu tidak ada sama sekali di punggung Zia. Dokter Ree mengecek pada bagian lain tubuh Zia. Dan hasilnya pun sama, Zia sama sekali tidak terluka di bagian manapun.
"Apa ini sakit?" tanya Dokter Ree sambil menekan punggung Zia.
Zia mengangguk pelan. "Sangat sakit, Dok. Rasanya sakit dan perih," jawab Zia sambil menahan rasa sakit karena Dokter Ree masih menekan punggungnya.
Dokter Ree bingung, ia sama sekali tidak melihat luka apapun pada punggung Zia. Namun Zia meringis saat ia kembali menekan bagian punggung gadis itu.
"Lihat ini! Apa kau melihat luka di sini?!" tanya Dokter Ree pada si perawat di dekatnya.
Perawat itu menggeleng, "Tidak ada luka, Dok!" jawabnya yakin.
Perawat itu pun menempelkan tangannya pada punggung Zia. "Apa ini sakit?"
Perawat itu membaca beberapa do'a lalu meniup punggung Zia pelan.
"Apa ini sakit?" tanyanya lagi sambil menekan bagian yang sama seperti sebelumnya.
"Tidak, sakitnya sudah hilang," jawab Zia. Ia menoleh sambil menatap sang perawat.
"Aaaaaa," teriak Zia saat melihat makhluk yang begitu besar berdiri di belakang Dokter Ree dan perawat itu.
Teriakan Zia membangunkan orang-orang di lantai atas. Banyak orang yang berlari ke arah ruangan Zia.
Aldy dan Ken pun ikut terbangun karena teriakan Zia yang cukup besar dan mengagetkan.
Zia pingsan setelah berteriak dan menutup matanya karena takut melihat sosok makhluk besar dan hitam itu.
"Apa yang terjadi?" tanya Dokter Lukman yang juga terbangun dan masuk ke dalam ruangan Zia.
Dokter Ree dan si perawat mulai bercerita. Dan Dokter Lukman pun mendengar cerita mereka dengan raut wajah yang tidak bisa diartikan lagi.
Cerita tentang Zia mulai sampai pada telinga Aldy dan Ken. Keduanya saling menatap tak percaya, dan pastinya, Aldy takut hal itu akan menimpa Jessica dan akan berdampak buruk pada kesehatan Jessica nantinya.
Paginya, Aldy dan Ken memutuskan untuk membawa Jessica pulang dan merawat Jessica di kediaman keluarga Pranata. Aldy sudah meminta Dokter Lukman dan Juga Dokter Rhani untuk mengecek keadaan Jessica di waktu pagi dan malamnya. Ia juga berpesan agar kedua Dokter itu tetap melakukan yang terbaik untuk Jessica, walau Jessica sudah tidak dirawat di rumah sakit kota.
Ibu dan Kamila sempat terkejut dengan kepulangan Jessica yang mendadak karena Aldy ataupun Ken tidak memberitahu keduanya.
"Apa ada masalah di sana?" tanya Ibu lalu duduk di samping Aldy.
__ADS_1
Aldy menatap sekitar, memastikan Kamila tidak berkeliaran di sekitar ruang keluarga.
"Tadi malam ada kejadian yang cukup aneh di sana. Aku hanya takut, kejadian itu menimpa Jessica dan akan berdampak buruk bagi kesehatan Jessica nantinya," jawab Aldy dengan mengecilkan suaranya.
Ibu pun mengerutkan dahinya tidak mengerti. "Kejadian apa?" tanya Ibu yang dihantui rasa penasaran.
Aldy menceritakan kejadian yang menimpa Zia semalam. Ia menceritakan sesuai apa yang ia dengar, tidak mengurangi atau melebihkannya sedikit pun.
"Kasihan sekali gadis dan Dokter itu," ucap Ibu yang kasihan pada Zia dan Dokter Ree.
"Dan yang lebih aku takutkan lagi, gadis bernama Zia itu ternyata salah satu murid kesayangan Jessica dulu. Aku takut hal-hal yang buruk menimpa Jessica ataupun kita nantinya," jawab Aldy sambil memejamkan matanya.
"Tidak, kau tenang saja. Hal-hal semacam itu tidak akan terjadi pada Jessica. Kau harus berpikir positif, jangan memikirkan yang tidak-tidak!" Ibu bangun lalu beranjak meninggalkan Aldy menuju kamar Jessica.
Di dalam sana ada Kamila dan juga Aleta yang menemani Jessica. Keduanya duduk di sebuah sofa empuk berwarna hitam yang terletak di pojok kamar Jessica.
Kamila yang sibuk dengan Hpnya tiba-tiba menatap ke arah Jessica.
Apa Kak Aldy membawa Kak Jess pulang karena berita ini? Ya, pasti karena kejadian ini. Kamar gadis itu berada di samping kamar Kak Jessica. Kak Aldy pasti takut sesuatu terjadi pada Kak Jess! Oleh sebab itu, ia membawa Kak Jess pulang secara mendadak! (Kamila)
"Seram sekali!" ucap Aleta yang baru saja mengintip layar Hp Kamila.
"Kau! Kecilkan suaramu!" bisik Kamila dengan mata menatap Aleta tajam.
"Ya, maksudku, berita itu seram sekali," ucap Aleta sedikit berbisik.
"Aku tidak akan menginjakkan kakiku di sana lagi! Ini sangat menyeramkan!" Kamila merinding sendiri membayangkan sosok hitam besar yang telah mengganggu Zia, Dokter Ree dan si perawat.
Ia mematikan Hpnya, meletakkannya dia atas meja lalu berjalan mendekati pintu kamar Jessica.
Betapa terkejutnya Kamila saat pintu itu terbuka dan menampakkan Ibu dengan beberapa pelayan di belakangnya.
"Kau kenapa?!" tanya Ibu yang juga kaget karena Kamila berdiri tepat di depannya.
"Ibu! Kukira siapa tadi!!" Kamila heboh sendiri dengan kedua tangan mengusap-usap dadanya.
"Sudahlah! Menyingkir dari hadapan Ibu! Ibu ingin masuk!" Ibu menggeser tubuh Kamila yang belum juga bergerak dari tempatnya.
"Astaga, awas!"
Kamila pun menyengir lalu keluar dari kamar Jessica, disusul oleh Aleta di belakangnya.
"Kak Ila mau ke mana?" tanya Aleta sambil mengejar langkah kecil Kamila.
"Kuliah! Memang mau ke mana lagi!" jawab Kamila sambil menaiki tangga menuju kamarnya untuk mengambil tas dan juga barang-barangnya.
"Aku ikut! Emmm, maksudku, aku nebeng sampai rumah Paman Marleen, aku ingin berkunjung ke sana," ucap Aleta dengan wajah yang dibuat memelas.
"Kau bisa pergi dengan para pengawal! Aku tidak bisa mengantarmu! Lagipula, jalur menuju kampusku tidak sama dengan jalur menuju rumah Paman Marleen! Jadi kau pergi saja dengan pengawal atau tunggu Kak Ken datang ke sini nanti sore!" Kamila pun menutup pintu kamarnya lalu berlari menuruni tangga, meninggalkan Aleta yang masih mematung di depan pintu kamarnya.
"Ish, genderuwo! Seram!" ucap Aleta sambil berlari menuruni tangga dan langsung berlari ke arah dapur.
Bersambung....
__ADS_1