
Perguruan bela diri. Tempat itu kembali sunyi, kepergian Jessica membawa semua kehangatan di gubuk itu. Semangat para junior juara dan junior pemula itu mulai hilang. Terutama para junior juara yang memang dekat dengan Jessica.
Hampir dua minggu Jessica menghilang tanpa memberi kabar pada mereka. Orang yang paling terpukul saat ini ialah Zia. Gadis enam belas tahun itu bahkan tidak ikut latihan beberapa hari terakhir ini. Zen, Bagas, dan Arfan merasa kasihan pada sahabatnya itu. Mereka takut jika Zia tidak ingin ikut ujian kenaikan tingkat nantinya.
Zen sudah melakukan segala cara agar semangat Zia kembali bangkit. Sayangnya, dari sekian banyak cara yang ia lakukan tidak ada yang berhasil satupun. Zen mulai bingung, harus dengan cara apa lagi agar gadis itu semangat latihan.
Apa harus Zen, Bagas, dan Arfan mencari Jessica? Lalu meminta wanita itu untuk datang dan melatih sehari saja?
"Zii." Zen memegang pundak Zia.
Gadis itu tidak merespon apapun. Ia tetap duduk di bawah pohon mangga sambil memeluk lututnya, menenggelamkan kepalanya di sana.
"Pergilah, Zen! Aku tidak ingin bicara dengan siapapun saat ini," ucap Zia setelah Zen duduk dan merangkul bahunya.
"Ayo Zii! Kau bisa! Kau harus buktikan pada Guru, kalau kau bisa dan kau pantas memakai sabuk hitammu! Ingat Zii, tinggal satu langkah lagi! Ayo, Zii! Semangat!" Tangan Zen masih merangkul bahu Zia. Ia bergeser mendekati gadis itu.
"Zia!"
"Zii."
Zia tidak menjawab apapun. Bahunya mulai bergetar, menandakan wanita itu sedang menahan isak tangisnya.
"Zia." Zen mencoba menenangkan Zia. Ia mengelus kepala Zia lembut.
"Aku akan bicara pada Kak Hendra. Kak Hendra pasti akan mendapatkan kabar tentang Kak Jess! Kau tenang saja, ya! Kak Jess baik-baik saja. Aku yakin, Kak Jess pasti baik-baik saja," ucap Zen sambil terus mengelus kepala Zia.
Gadis itu menegakkan kepalanya lalu menatap ke arah Zen.
"Kau tau, Zen. Tadi malam aku mimpikan Kak Jess dalam bahaya. Kak Jess berteriak meminta tolong padaku," ucap Zia sambil menahan air matanya yang hendak tumpah lagi.
"Itu hanya mimpimu saja. Percayalah, Kak Jessica baik-baik saja. Hanya saja Kak Jess sedang sibuk, oleh sebab itu, ia tidak dapat mengabari kita," sanggah Zen. Zen menyeka air mata yang kembali membasahi pipi Zia. Ia tersenyum lalu menarik sudut bibir Zia, bermaksud agar gadis itu tersenyum sama seperti dirinya.
"Aku takut Kak Jessica sedang dalam bahaya," ucap Zia. Gadis itu kini menangis dalam pelukan Zen.
"Hei, Zia-ku itu wanita kuat, tidak cengeng dan juga tidak suka menangis. Tapi yang ini, ini bukan Zia yang kukenal. Zia yang ini lemah, cengeng, aku tidak suka," canda Zen sambil melepaskan Zia dari pelukannya.
"Sekarang ikut aku. Kita bertemu dengan Kak Hendra dan meminta tolong padanya," sambung Zen lalu membantu Zia untuk bangun.
Zen bahkan merelakan jaketnya sebagai tisu untuk menampung ingus dan air mata Zia. Remaja 17 tahun itu sangat menyayangi Zia. Keduanya sudah lebih dari sahabat atau bahkan saudara sekalipun.
Zia selalu ada untuk Zen di saat rapuh Zen. Begitu pula dengan Zen, ia selalu menjadi tameng utama Zia. Melindungi dan menjaga Zia sudah menjadi suatu hal yang biasa bagi Zen, Arfan dan Bagas.
Bahkan ketiga pria itu menjadikan Zia gadis yang sangat istimewa dalam kehidupan mereka. Mereka selalu bersama, sejak Tk sampai duduk di bangku SMA sekarang.
__ADS_1
Bedanya. Zia masih duduk di bangku kelas satu sedangkan ketiga pria itu sudah duduk di bangku kelas dua SMA.
Intinya, tali persahabatan dan persaudaraan ke-empatnya begitu kuat. Ditambah lagi dengan persaudaraan mereka dalam Ilmu bela diri, dimana saling menyayangi dan menghormati satu sama lain adalah hal yang paling penting.
Bagas dan Arfan berlari ke arah Zen dan Zia yang baru saja datang. Keduanya menatap Zia dan Zen bergantian.
"Kau menangis, Zii?" tanya Bagas dengan wajah yang begitu khawatir.
"Tidak, aku tidak menangis. Benarkan, Zen! Aku tadi tidak menangis, 'kan?!" jawab Zia sambil mengedipkan matanya pada Zen. Meminta remaja itu untuk membenarkan ucapannya.
"Iya-iya. Zia tidak menangis tadi, tadi matanya terkena debu." Zen menyembunyikan jaketnya yang sudah basah akibat ingus dan juga air mata Zia.
"Biaklah. Apapun itu, Asalkan kau bahagia......" Bagas dan Arfan terkekeh karena ucapan mereka tadi.
Berbeda dengan Zia dan Zen. Keduanya hanya ikut tertawa garing tak jelas.
Setelah puas tertawa. Keempat remaja itu mulai berjalan hendak mencari keberadaan Hendra.
Mereka awalnya mencari di rumah. Namun hasilnya Zonk. Akhirnya mereka kembali ke perguruan dan mencari Hendra di ruang pelatihan. Dan hasilnya tetap sama, Hendra tidak ada di tempat itu.
"Baiklah-baiklah. Di saat inilah fungsi Hp dipertanyakan! Kita punya Hp! Punya nomor Kak Hendra! Kenapa kita meneleponnya saja?!" ucap Zen sambil mengeluarkan Hpnya dari saku celana. Ia mencari nomor Hendra lalu menghubunginya.
Sayangnya, nomor Hendra tidak bisa dihubungi atau sedang dalam luar jangkauan.
"Hmmm, baiklah. Begini saja, kalian bertiga pulanglah! Aku akan mencari Kak Hendra ke suatu tempat rahasia," ucap Bagas serius. Pria itu menatap Zia, Bagas dan Arfan secara bergantian.
Zen pulang terlebih dahulu. Ia masuk ke dalam kamarnya lalu meraih kunci motor.
Kini motor itu melaju dengan kecepatan sedang menuju ke suatu tempat.
"Apa Kak Hendra di sana?" tanya Zen pada dirinya sendiri.
15 menit perjalanan. Zen sampai di kota sebelah yang memang berbatasan dengan daerah mereka. Zen turun dari motornya. Ia mulai berjalan kaki untuk sampai pada tempat tujuannya.
5 menit berjalan kaki. Akhirnya Zen sampai di depan rumah bambu sederhana. Ia membuka gerbang atau sejenis penghalang yang dipasang di depan rumah itu.
Zen menatap sekitar. Tanaman-tanaman di sana masih basah, menandakan seseorang sudah menyiramnya beberapa menit yang lalu.
"Zen! Kau di sini!" Hendra memegang pundak Zen. Membuat Zen sedikit terkejut.
"Ah, Kak Hendra. A-aku, aku mencari Kak Hendra sejak tadi. Oleh sebab itu, aku memutuskan untuk datang kemari karena tidak menemukan Kak Hendra di rumah ataupun di perguruan," jawab Zen sambil mengelus-ngelus dadanya.
"Ada apa?" tanya Hendra sambil melangkah masuk ke dalam rumah bambu itu.
__ADS_1
"Hanya ada sedikit masalah," jawab Zen dengan kaki yang mengikuti langkah Hendra.
Keduanya masuk lalu duduk di sebuah kursi bambu. Hendra membuka jaketnya, lalu merapikan baju koasnya.
"Emm, begini, Kak. Zia anu, itu, dia, ah! Dia ingin bertemu dengan Kak Jess! Dia bahkan tidak mau ikut latihan beberapa hari sebelum ia bertemu dengan Kak Jess!" ucap Zen sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
"Itu bukan sedikit Zen! Itu masalah besar! Aku bahkan tidak tau di mana Jessica sekarang. Semua barangnya di kontrakan sudah ia ambil. Aku juga sudah mencarinya, tapi, aku benar-benar kehilangan jejak." Hendra memegang kepalanya, lalu berteriak frustasi karena gagal menjaga Jessica.
"Emm, bagaimana dengan Tuan Aldy? Apa dia juga tidak mengetahui keberadaan Kak Jess?" Zen menatap wajah Hendra.
Seketika ekspresi wajah itu berubah.
"Aku tidak berpikir ke sana! Apa mungkin pria itu yang membawa Jessica?! Apa mereka akan meni---" Hendra berlari ke dalam kamarnya. Ia meraih kunci motor lalu menari tangan Zen paksa.
"Kita mau kemana?" tanya Zen.
"Mencari tahu tentang pernikahan mereka. Kita harus keluar dari sini, karena di sini tidak ada sinyal untuk mengakses internet!" Hendra dan Zen berjalan dengan cepat.
Sampailah mereka di tempat penyimpanan motor. Keduanya menyalakan motor masing-masing lalu menancapkan gas, menjauh dari daerah itu.
Kurang 15 menit. Keduanya berhenti di sebuah jembatan tua.
"Di sini sudah ada sinyal." Hendra mengeluarkan Hpnya dari saku celana.
Ia segera menyalakan datanya. Membuka google dengan kata kunci 'Pernikahan Tuan Aldyan'.
"Akan menikah pada tanggal 8 Maret!" ucap Hendra. Pria itu membuka helmnya lalu mengacak rambutnya frustasi.
"Sekarang 21 Februari. Berarti, 17 hari lagi!" sahut Zen. Pria itu menatap Hendra iba. Hal ini pasti sangat menyakiti hati senior itu, pikir Zen.
"Emm, bagaimana dengan permintaan Zia? Apa kita bisa mewujudkannya?" tanya Zen ragu.
"Aku tidak tau bagaimana caranya bisa menghubungi Jessica. Aku bahkan tidak tau di mana rumah pria itu!" jawab Hendra.
"Anu, bagaimana dengan senior Ken? Apa dia tidak bisa membantu?" Zen kembali menatap Hendra. Berharap Hendra ingin mewujudkannya permintaan Zia.
"Sudahlah Zen! Jessica sudah menjauh dari kalian! Ia bahkan mengingkari janjinya! Dia sudah tidak perduli lagi pada kalian!!" teriak Hendra tepat di depan wajah Zen.
Zen langsung merinding. Ia tidak pernah melihat Hendra seperti ini sebelumnya.
Kak Jess, kumohon. Kembalilah, satu hari saja. Kami benar-benar butuh dukungan darimu. (Zen)
Akhirnya, usaha yang Zen lakukan tidak membuahkan hasil apapun. Yang ada ia kena marah dan amukan dari Hendra. Belum lagi nanti, ia pasti akan melihat Zia menangis dan memaksa ingin bertemu dengan Jessica yang entah berada dimana saat ini.
__ADS_1
Zen, Bagas dan Arfan sepakat untuk menghibur Zia dengan cara lain. Karena tidak mungkin jika mereka meminta tolong pada Ken atau pada senior lainnya.
Bersambung....