
Aldy mengetuk pintu kamar Jessica, ia berdiri lengkap dengan setelan jasnya di depan pintu bercat putih itu. Tidak lama, pintu itu terbuka dan menampakkan Kamila yang sedang mendorong kursi roda Jessica.
"Sejak kapan kau masuk?" tanya Aldy pada Kamila.
"Tadi, sebelum Kakak turun," jawab Kamila sambil bergeser, membiarkan Aldy yang mendorong kursi roda Jessica.
"Mau jalan-jalan pagi?" tanya Aldy sambil tersenyum manis pada Jessica.
Jessica mengangguk lalu mendongak menatap Aldy. Ia tersenyum tipis sambil kembali menundukkan kepalanya.
"Ya, sudah. Aku pamit ke kampus dulu." Pamit Kamila dengan senyum manis menghiasi bibirnya.
"Kau tidak sarapan?" tanya Aldy dan Jessica bersamaan. Keduanya saling menatap lalu tersenyum tipis.
"Hehehe, nanti saja. Aku masih ada tugas yang belum selesai, dan harus diselesaikan sekarang juga," jawab Kamila sambil berlari menuju pintu utama.
Aldy dan Jessica hanya menggeleng sambil menatap punggung Kamila yang sudah menjauh dan hilang di balik pintu utama.
Aldy mulai mendorong Jessica menuju taman utama. Ia sesekali menunduk untuk melihat Jessica, yang dilihat hanya diam dan menatap lurus ke depan.
Sementara itu, ketika Aldy dan Jessica sudah sampai di taman. Keduanya bertemu dengan Aleta, Mammy-nya dan Ibu di sana.
Ibu dan Aleta baru saja mengirim bunga-bunga di taman utama. Sedangkan Mammy Aleta baru selesai olahraga pagi di sana.
Apa dia cacat? Kenapa dia memakai kursi roda? (Mammy Aleta)
Mammy Aleta pun mendekat. Ia sangat ingin melihat wajah calon istri Aldy. Setelah cukup dekat dan melihat wajah Jessica dengan jelas, ia pun terdiam dan larut pada pikirannya.
Ya, Tuhan....
Wanita yang aku hina ternyata Jessica! Dialah wanita yang pernah menyelamatkan nyawaku waktu itu! Astaga, malunya aku! Andai saja aku melihat wajahnya sebelumnya, aku pasti tidak akan menghina dan merendahkannya kemarin. Ternyata Audy itu adalah Jessica! Huhuhu, malunya aku! Apa Jessica masih mengingatku sekarang?
"Mammy!" panggil Aleta sambil memegang pundak sang Mammy yang masih tenggelam pada pemikiran.
"Ah, iya, ada apa?" jawab Mammy Aleta lalu memutar tubuhnya membelakangi Aldy dan Jessica.
"Mammy kenapa? Kenapa Mammy melamun menatap Kak Aldy dan Kak Audy?" tanya Aleta sedikit berbisik.
__ADS_1
"Tidak apa." Mammy Aleta bergegas melangkah menuju rumah utama. Ia masuk ke dalam rumah utama dan langsung membersihkan dirinya di kamar mandi.
Sedangkan Aldy dan Jessica saling menatap. Tidak mengerti apa yang terjadi pada Mammy Aleta.
"Siapa dia?" tanya Jessica setelah Ibu dan Aleta masuk ke dalam rumah utama.
"Dia Bibi Clara, Mammy-nya Aleta," jawab Aldy seadanya. Pria itu menatap Jessica yang terlihat sedang mengingat sesuatu.
"Aku rasa, aku pernah bertemu dengannya sebelum ini. Tapi, aku lupa, kapan dan dimana aku bertemu dengannya." Jessica menatap kakinya. Ia benar-benar merasa tidak asing dengan wajah Mammy Aleta.
"Sudahlah, jangan pikirkan lagi! Sekarang cukup pikirkan kesehatanmu saja, dan jangan lupa, kau harus juga memikirkan aku, hehehe." Aldy mengelus kepala Jessica lembut, ia menunduk lalu mencium pucuk kepala Jessica.
Jessica pun mendongak menatap Aldy. Tatapan mereka bertemu, keduanya saling menatap dengan rasa cinta dan sayang yang begitu besar dan juga dalam.
Sementara di dalam rumah utama. Aleta masuk ke dalam kamar sang Mammy. Ia mengedarkan pandangannya, mencari sang Mammy di setiap sudutnya.
"Mammy!" panggil Aleta tepat di depan kamar mandi.
"Apa Mammy di dalam?" tanyanya khawatir.
Aleta pun menghembuskan nafas lega. Ia duduk di pinggir kasur dengan tangan yang sibuk pada Hpnya.
15 menit kemudian, Mammy Aleta keluar dari kamar mandi. Lengkap dengan baju yang sudah rapi dan indah.
"Ada apa?!" tanya Mammy Aleta sambil duduk di samping anaknya.
"Tadi, Mammy kenapa melamun sambil menatap Kak Aldy dan Kak Audy?!" Aleta balik bertanya. Ia mematikan Hpnya. Meletakkannya dia atas meja kecil di samping kasur.
"Kenapa kau tidak bilang! Kalau Audy juga memiliki nama lain, yaitu Jessica!" Mammy Aleta menatap ke arah pojok ruangan. Mengingat pertemuannya dengan Jessica 2 tahun yang lalu.
"Aku juga tidak tau! Awalnya aku mengira Kak Audy dan Kak Jess itu dua orang. Tapi aku salah, Audy Jessica, begitulah nama lengkapnya." Aleta mengikuti arah pandangan Mammy-nya. Ia merasa, Mammy-nya sudah menyembunyikan sesuatu mengenai Jessica.
"Apa Mammy mengenalnya?" tanya Aleta curiga.
"Mammy mengenal Jessica 2 tahun yang lalu. Kau masih ingat saat Mammy tersesat dan bertemu begal waktu itu?" tanya Mammy Aleta sambil menoleh menatap wajah Aleta.
Aleta pun mengangguk, jelas ia masih ingat malam itu. Malam di mana Mammy-nya menangis ketakutan dengan kedua lutut yang bergetar.
__ADS_1
"Andai saja Jessica tidak datang dan menyelamatkan Mammy malam itu. Mammy pasti sudah mati di tangan para pegal itu," ucap Mammy Aleta sambil meremas-remas tangannya. Ia masih ingat betul, saat Jessica datang untuk menolongnya dan bertarung dengan begal-begal itu dengan tangan kosong.
"Mammy menyesal telah menghina dan menjeleknya kemarin. Dari sini Mammy belajar, tidak selamanya kita bisa menilai seseorang dari kekayaannya. Nyatanya, banyak juga orang yang miskin namun kaya hatinya. Dan banyak juga orang kaya namun miskin hatinya." Mammy Aleta menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Ia benar-benar menyesali ucapannya tentang Jessica kemarin.
Aleta yang melihat itupun ikut sadar akan perbuatannya selama ini. Ia dan Mammy-nya memang memiliki sifat yang sama. Sama-sama suka menilai orang dari kekayaan dan juga latar belakang mereka.
☆☆☆☆☆☆☆
Jam 9 pagi. Aldy dan Ken sudah meluncur menuju perusahaan. Sebelumnya, Aldy menemani Jessica sarapan, dan juga mengobrol sebentar mengenai pernikahan mereka yang akan dilaksanakan delapan hari lagi.
"Bagaimana? Apa Jessica mau?" tanya Ken sambil menoleh ke arah Aldy yang bersandar sambil memejamkan matanya.
"Dia ingin memikirkannya lagi, tapi aku yakin, Jessica tidak akan menolaknya. Dia tadi sudah mengakui perasaannya padaku. Kau tau, Ken. Dia bilang, dia sudah jatuh cinta padaku. Ya, walaupun dia sama sekali belum mengingat sedikit pun tentang aku. Tapi dia benar-benar jatuh cinta dengan aku yang sekarang." Aldy membuka matanya lalu tersenyum manis, membayangkan wajah merona Jessica saat menyatakan perasaan pada Aldy.
Syukurlah, aku yakin, kebahagiaan pasti akan terus berpihak pada kalian berdua saat ini. Begitu banyak kesedihan yang sudah kalian alami, dan inilah waktunya untuk berbahagia, dan berbagi cinta. (Ken)
"Aku ingin yang terbaik untuk Jessica. Kau faham maksudku, 'kan?!" tanya Aldy sambil menatap Ken.
Ken pun mengangguk. Ia bahkan langsung turun tangan untuk mengontrol persiapan pernikahan Aldy dan Jessica sejak dua bulan yang lalu.
Aldy kembali fokus pada dokumen-dokumen yang harus ia baca, dan tanda tangani. Sedangkan Ken menatap layar Hpnya yang sedang menampilkan nama Keisha di sana.
Ken tidak menjawab panggilan Keisha, ia malah mengirim pesan pada kekasihnya itu. Memberitahukan ia benar-benar tidak bisa diganggu saat ini.
Sementara Keisha. Dokter muda itu membaringkan tubuhnya di atas kasur empuk. Hari ini, Keisha cuti, dan memutuskan untuk pulang ke rumah Mamanya untuk melepaskan rindu pada kedua orangtuanya dan juga keponakan kecilnya yang baru saja menyapa dunia.
"Bagaimana jika menikah nanti? Apa dia akan tetap se-sibuk ini, dan hanya meluangkan sedikit waktunya bersamaku nanti?" gumam Keisha sambil menatap layar Hpnya yang sedang menampilkan fotonya dan Ken.
"15 hari lagi, waktu berjalan begitu cepat. Tidak terasa perjodohan gila ini sebentar lagi akan merubah hidupku. Aku akan hidup dengan nama Candra diakhir nama anak-anakku nantinya." Keisha pun mulai senyum-senyum sendiri. Membayangkan anak kecil yang manis saja membuatnya ingin cepat-cepat menikah, dan punya anak.
Ia lupa, bahwa menikah itu tidak akan seindah yang ia bayangkan sekarang. Begitu banyak ujian yang akan menerpa kedua pasangan saat mereka menikah. Menguji kesetiaan, dan juga kepercayaan satu sama lain.
Di saat itulah, jujur dan terbuka pada pasangan kita adalah kunci kebahagiaan. Saling percaya, dan juga memahami kekurangan satu sama lain. Bukan malah menuntut hal yang tidak ada pada pasangan kita nantinya.
Atau bahkan mencari kekurangan pasangan kita pada orang lain. Yang akan memicu terjadinya perselisihan antara pasangan kita dan orang ketiga yang kita bawa sendiri, dan kita sendiri yang menyeretnya ke dalam rumah tangga dan juga kehidupan pribadi kita.
Oleh sebab itu, jujur dan terbuka pada satu sama lain adalah cara yang terbaik. Dan intinya, memahami kekurangan dan kelebihan pasangan masing-masing juga faktor utama yang akan menguatkan cinta di antara keduanya.
__ADS_1