
Jessica membuka matanya yang terasa berat, ia menatap ke arah pria yang masih berbaring di atas ranjang rumah sakit.
Jessica berjalan ke arah Aldy. Ia mendekatkan bibirnya di samping telinga pria itu, "Aku pulang dulu, kau lanjut saja tidurnya."
Aldy membuka matanya, ia menatap wajah Jessica yang baru saja bangun tidur. "Kau akan kembali?"
"Aku akan kembali, aku hanya ingin mandi dan mengganti pakaianku," jawab Jessica sambil menarik rambut Aldy.
"Hei, apa yang kau lakukan?" Aldy menatap Jessica. Wanita itu hanya tersenyum lalu melepas rambutnya.
"Aku pulang," ucap Jessica sambil berjalan mundur. Ia bahkan berjalan dengan cepat dan hilang begitu saja di balik pintu ruangan.
Selang beberapa menit, Ibu dan Ken datang. Keduanya menghampiri Aldy dengan senyum manis di bibirnya.
"Jessica mana?" tanya Ibu. Wanita paruh baya itu duduk di samping ranjang.
"Dia pulang beberapa menit yang lalu," jawab Aldy. Pria itu beralih menatap Ken.
"Kau di sini, lalu siapa yang akan menangani perusahaan?" Aldy menatap Ken tajam.
"Huh, ini masih pagi. Dan masalah perubahan akan tetap tertangani walau aku dan kau tidak ada di sana." Ken meraih buah apel di atas meja. Ia menggigitnya tanpa meminta dulu pada sang pemilik buah.
"Ken, itu milikku, muntahankan!" teriak Aldy.
"Huh, kau sudah sehat rupanya, ayo kita bekerja! Jangan tidur dan bermalasan terus." Canda Ken. Ken tau kalau buah di atas meja ini pemberian dari Jessica. Oleh sebab itu ia ingin memakan dan memanasi Aldy.
"Sudah, sudah! Kalian berdua sudah dewasa, jangan berdebat sepagi ini karena masalah buah saja," sahut Ibu.
"Dia memakannya, Bu. Buah itu milikku." Aldy mengadu pada Ibu. Ia terus menatap Ken dengan sorot mata yang begitu tajam.
"Aku hanya mengambil satu, ini masih banyak. Lihat ini, ini, dan ini." Ken mengangkat keranjang buah. Ia menunjuk satu persatu buah-buahan yang masih tersusun rapi itu.
"Jangan sentuh, Ken!" teriak Aldy.
Ingin rasanya ia berdiri lalu mematahkan tangan Ken yang sudah berani memegang buahnya. "Awas kau, lihat saja nanti!"
Ken tertawa puas, "Manis sekali buah apel ini, pasti lebih manis lagi jika Jessica yang mengupasnya."
"Ken!"
"Ibu, tolong tarik Ken ke sini!" pinta Aldy pada Ibu. Pria itu bahkan tidak bisa bergerak lebih karena rasa perih di bagian siku dan lututnya.
"Ken Candra, kakakmu sedang sakit. Berhentilah menggodanya." Ibu berdiri lalu berjalan ke arah Ken. Ia bahkan meraih buah apel yang sama.
"Ibu."
"Aku akan membelikan sekeranjang buah untuk Ibu dan Ken. Tapi jangan sentuh lagi buah-buahan itu, itu semua milikku!"
__ADS_1
Ibu terkekeh, ia tidak pernah mendapati putranya segila ini sebelumnya, "Ibu akan membersihkannya terlebih dahulu, lagi pula Ibu tidak suka apel. Jadi kau tenang saja."
Ibu menatap tangan Ken yang ingin meraih buah baru lagi. Ia menepisnya dengan kasar.
"Ken!" Ibu menatap Ken tajam.
"Hehehe, ayolah, Bu. In benar-benar manis," ucap Ken sambil tangannya beraksi mencuri buah-buahan di depannya.
Brukkk
Aldy melepas majalah tepat mengenai otak Ken, "Beraninya kau, sini, mendekatlah. Biar ku beri kau satu buah tangan yang sangat manis, yang tidak akan kau lupakan!"
"Huhuhu, lihatlah, Tuan Aldyan Pranata Yoga. Jari-jari dan sikumu saja masih terluka, tapi kau ingin memberiku buah tangan rupanya," ejek Ken.
"Ken!"
Keduanya membisu ketika seorang Dokter masuk ke dalam ruang rawat itu. Dokter itu menggeleng, ia tidak menyangka Tuan Aldy yang terkenal dingin itu ternyata bisa berlaku sekonyol ini.
__________
Ken pamit undur diri karena ia harus mengurus perusahaan selama Aldy masih sakit.
Di ruangan itu hanya ada Aldy dan Ibu. Kamila tidak datang karena harus kuliah, sedangkan Jessica, wanita itu masih dalam perjalanan menuju ke rumah sakit kota.
"Bagaimana, apa kau mau pulang atau tetap di sini?" tanya Ibu.
"Hmmm, luka biasa. Tapi kau tidak bisa berjalan dan makan tanpa bantuan orang lain. Apa itu luka biasa?" Ibu menatap Aldy, yang ditatap hanya tersenyum tipis.
"Ibu." Jessica memegang pundak Ibu dari belakang.
"Ah, Jess. Kau sudah sampai." Ibu memutar tubuhnya, ia bangun lalu duduk di sofa biru, membiarkan Jessica saja yang menemani putranya.
"Kau sudah sarapan?" tanya Jessica. Ia melirik ke arah nampan yang sudah kosong, mengartikan kalau Aldy sudah sarapan sebelumnya.
"Aku sudah sarapan, kau sendiri?" Aldy menatap Jessica. Ia tau persis wanita itu tidak pernah sarapan sepagi ini.
"Nanti, aku tidak biasa sarapan sepagi ini," jawabnya. Jessica mengambil buah apel, ia melirik ke arah Aldy. "Kau mau buah?"
Aldy mengganguk lalu tersenyum tipis. Jessica mengambil pisau, mengupas dan memotong buah apel itu menjadi beberapa bagian.
"Tanganku sakit."
"Hmmm, iya. Tanpa kau memberi isyarat pun aku sudah mengerti." Jessica menempelkan potongan apel itu pada bibir Aldy.
"Buka mulutnya!"
"Huhuhu, kau sangat galak. Bisakah lebih lembut lagi?" Aldy tersenyum manis agar Jessica luluh.
__ADS_1
"Buka mulutmu, Tuan Aldyan Pranata Yoga yang tampan dan..."
Aldy langsung menggigit apel yang sendari tadi menempel di bibirnya sebelum Jessica mengakhiri ucapannya.
"Pintar."
Jessica mengambil kesempatan ini untuk menjahili Aldy. Ia menempelkan apel lalu menariknya kembali, begitu seterusnya sampai Aldy kesal karena ulahnya.
"Jess!"
"Hehehehe, kau lucu jika sedang kesal." Jessica mencubit pipi Aldy gemas. Aldy hanya menghembuskan nafasnya pelan. Ia bahagia walau badannya terluka seperti ini.
"Luka yang membawa keberuntungan," gumamnya.
"Jess, aku mencin..."
"Ya-ya. Aku tau itu. Kau mencintaiku. Sudah, jangan katakan itu lagi! Aku muak mendengarnya," potong Jessica sambil tersenyum tipis.
"Benarkah, aku rasa kau tidak muak mendengarnya. Bahkan kau mau aku mengucapkan itu setiap detik,'kan. Iya, kan? Katakan saja iya." Aldy menatap Jessica lalu tertawa kecil.
"Ibu, apa Tuan Aldy sudah kehilangan..."
"Iya, aku sudah kehilangan sepertiga dari otakku karena aku mencintaimu," potong Aldy tidak tau malu.
Ibu hanya menggeleng, ia tau kalau putranya hanya ingin bercanda dan tertawa bersama Jessica.
"Ya, Tuhan. Kenapa ada orang seperti ini karena cinta," gumam Jessica.
"Lihat saja nanti, kau akan lebih gila dari aku jika sudah masuk dalam perangkap cinta," ucap Aldy yang mendengar gumaman Jessica.
"Terserah kau saja!"
"Hahahaha, ayolah, Jess. Tersenyumlah! Kau sangat pelit senyum."
"Tapi kau suka,'kan?" Jessica menaikkan satu alisnya sombong.
"Ya-ya. Aku suka senyum tipismu itu," jawab Aldy.
"Aku perlu menanyakan ini pada Dokter," ucap Jessica serius.
"Menanyakan apa?" Aldy mengerutkan dahinya tidak mengerti maksud Jessica.
"Menanyakan kau sebenarnya tertular virus apa?" Jessica mencubit pipi kanan Aldy cukup keras.
"Aduh, aku ini positif tertular Virus Cinta dari seorang Serigala Betina." Aldy mengedipkan matanya, membuat Jessica semakin jengkel saja.
"Hmmm, terus kan saja omong kosongmu itu, Tuan!"
__ADS_1
Besambung....