
Keisha menyisir rambutnya pelan, menatap pantulan wajahnya di cermin lalu tersenyum kecut. Bibirnya yang mungil itu terlihat menggerutu tidak jelas. Keisha mengacak-acak rambutnya yang sudah tersisir rapi.
"Aaaaaa....menyebalkan!"
"Dasar Es Batu Balok..."
"Laki-laki tanpa hati!"
"Beruang Kutub!"
"Dasar Hati Es Batu!"
Keisha berteriak sekuat tenaga, ia bahkan melempar semua benda yang ada di atas meja riasnya.
"Tadi dia bilang apa?" Keisha mengingat-ingat ucapan Ken padanya.
"Kamu tidak akan bisa hidup tanpaku..." ucap Ken lalu di iringi senyuman tipis di bibirnya.
"Bahkan...bernafas saja tidak bisa, jika aku tidak ada di sisimu." Ucapan itu terus berputar di kepala Keisha. Senyum tipis Ken, mata tajamnya, bahkan aura dinginnya masih Keisha rasakan sampai sekarang.
"Mama...tolong aku, batalkan saja perjodohan gila ini. Aku tidak sudi satu atap dengan Es Batu Balok itu..." teriak Keisha. Dokter itu menatap sebuah koper, menghilang dari negara ini adalah satu pilihan yang tepat, pikirnya.
"Tidak, aku tidak boleh sebodoh ini. Hanya karena satu pria, aku akan meninggalkan tanah kelahiranku, itu tidak akan ku lalukan. Disini, masih banyak orang yang membutuhkanku, masih banyak orang yang sayang pada ku...aku harus bertahan. Harus!" Ia meletakkan koper itu pada tempat semula, mengurungkan niat buruk dan bodohnya untuk pergi dari negara tercinta ini.
"Baiklah, mungkin ini akan sulit di awal saja. Setelah itu, aku yakin semua akan terasa biasa-biasa saja." Keisha meraih tas berwarna hitam kecil lalu pergi meninggalkan kamar yang sudah hancur dan berantakan itu.
"Datang ke apartemen dan bersihkan kamarku. Sekarang juga!" perintahnya pada seseorang di telepon lalu memutuskan sambungan tanpa memberi kesempatan pada orang tadi untuk menjawab ataupun menolak perintahnya.
__________
Suasana hati Keisha begitu rusak saat ini, ia melajukan mobil keluar dari daerah perkotaan. Mobil itu membawanya pada desa dengan sejuta kenangan.
"Aku rindu tempat ini." Keisha berjalan mengikuti jalan setapak menuju sebuah sungai dan ladang pertanian. Cukup lama ia termenung di sana, membayangkan bagaimana kehidupan yang akan ia jalani kedepannya.
"Apa yang kau lakukan di tempat seperti ini?" Suara dan aura dingin Ken membuat Keisha terperanjak. Ia menoleh, menatap wajah Ken tidak percaya.
__ADS_1
"Apa yang kau lalukan di sini?" Ken mengulang pertanyaannya yang belum terjawab.
"Seharusnya aku yang bertanya padamu, apa yang kau lakukan di sini?" Keisha menatap mata tajam milik Ken, rasa kesal masih menguasai dirinya.
"Kau masih bertanya apa yang ku lalukan di sini, aku di sini karena kau membutuhkanku untuk bertahan hidup dan bernafas. Itu sudah pasti bukan?" ucap Ken dengan senyum tipis di bibirnya.
"Kau..." Ingin rasanya Keisha mencakar wajah dingin Ken sekarang juga.
"Pulang!" Ken menarik tangan Keisha, keseimbangan tubuh Keisha hilang, hingga ia terjatuh dia atas bebatuan kecil yang cukup tajam.
"Auuu..." pekiknya. Ken menoleh lalu membantu Keisha untuk bangun. "Kau tidak apa-apa?" tanyanya khawatir.
"Tidak, ini hanya luka kecil." Keisha menatap lututnya yang sudah mengeluarkan darah.
"Lain kali, jangan bermain di tempat seperti ini," ucap Ken lalu mengangkat tubuh Keisha.
"A-apa yang kau lakukan, turunkan aku. Aku masih bisa berjalan..."
"Turunlah aku...Es Batu Balok...turunkan aku!" Keisha memberontak sambil memukul dada bidang Ken.
Ken berjalan dengan hati-hati, sesekali ia menatap Keisha yang berada dalam gendongannya.
Kenapa wanita ini terlintas begitu mengemaskan ketika marah?
"Turunkan aku!"
"Es Batu Balok...turun aku!" Keisha merasa kecolongan, bagaimana bisa ia nyaman berada dalam gendongan si Es Batu Balok ini.
"Hei...Dokter Galak yang cerewet, bisakah kau diam sebentar saja. Atau kau mau aku membungkam mulutmu dengan bi..." Ken menghentikan ucapannya ketika Keisha menggigit dadanya.
"Dasar Galak, diam dan jangan memukul atau menggigitku lagi!" Ken berusaha mempertahankan keseimbangan tubuhnya, berat badan Keisha tidak menjadi masalah bagi Ken. Yang menjadi masalah ialah gerakan Keisha saat ini.
"Baiklah, aku akan menurunkanmu. Tapi jangan harap aku akan membantumu lagi!" Ken menurunkan Keisha lalu berjalan di depan wanita itu.
"Huh...sudah ku bilang. Aku masih bisa berjalan," ucap Keisha sambil menatap punggung Ken. Laki-laki itu sama sekali tidak berbalik menatap Keisha lagi.
__ADS_1
"Sial, kenapa aku mengikutinya untuk pulang." Keisha duduk di sebuah batu yang cukup besar, ia menatap sungai yang begitu tenang. "Airnya jernih sekali," gumam Keisha.
"Andaikan aku tidak pernah mencintai pria itu, pasti aku masih tinggal di desa ini sekarang." Pikiran Keisha melayang pada kejadian beberapa tahun yang lalu, dimana ia memilih tinggal di kota untuk menghindari pria yang sudah membuatnya terluka dan kecewa.
"Sampai kapan kau akan duduk di situ?" Ken berjalan mendekat ke arah Keisha. Wanita ini benar-benar membuat emosinya turun naik tidak karuan hari ini.
"Kau pulang saja, aku masih ingin di sini," ucap Keisha dengan nada lemah. Ia memeluk lututnya lalu tenggelam pada pikirannya.
Ada apa dengan mmu Dokter Galak, apa yang terjadi? Apa kau masih marah padaku?
"Ayo pulang." Ken kembali mengangkat tubuh Keisha, kali ini Keisha tidak memberontak. Hatinya sedang rapuh tak tau kenapa. Tanpa sadar ia mengalungkan tangannya di leher Ken.
Ternyata Es Batu Balok ini romantis Juga.
Ken berjalan dengan tenang, sesekali ia membenarkan posisi Keisha. Wanita itu sudah tertidur dalam gendongannya.
"Kau lelah rupanya." Ken membuka pintu mobil lalu menidurkan Keisha di kursi belakang. Dan melajukan mobil dengan kecepatan sedang, meninggalkan desa yang penuh dengan kenangan itu.
Epilog
"Kenapa aku di sini?" Keisha menatap ke arah lemari kaca yang di penuhi oleh beberapa piala.
"Dan di mana Es Batu Balok itu, apa dia yang sudah membawaku pulang ke rumah ini?" tanya Keisha pada dirinya sendiri.
"Hmmm...jika iya, maka terima kasih Es Batu Balok," ucapnya dengan senyum manis menghiasi bibir mungilnya.
Bersambung.....
___________
Gimana nih, Ken dan Keisha udah mulai dekat. Gimana perjalanan cinta mereka?
Apakah sesulit dan serumit Aldy dan Jessica?
Atau akan berjalan dengan mulus dan lancar seperti jalan tol?
__ADS_1