
Halaman Rumah Utama sudah dipenuhi oleh keluarga besar Yoga Candra dan juga Can Candra. Semuanya berkumpul karena hari ini, hari ulang tahun Aldy yang ke-26 tahun.
Semua nampak bahagia, tak terkecuali Jessica. Wanita itu duduk di samping Kepala Pelayan, mengamati setiap gerak-gerik orang yang berlalu lalang di depannya.
"Berapa usiamu, Jess?" tanya Kepala Pelayan.
"Usiaku, aku 24 tahun, Mbak." Jessica mencoba mengingat-ingat berapa usianya sekarang.
"Selisih 2 tahun dengan Tuan Muda," ucap sang Kepala Pelayan. Jessica hanya menanggapi dengan senyuman lalu beralih menatap jari-jarinya.
"Aku sudah lupa, bagaimana rasanya merayakan ulang tahun bersama Ibu dan Ayah," gumam Jessica.
Suasana yang meriah itu sudah tidak menarik lagi bagi Jessica, wanita itu pamit untuk kembali ke Rumah Belakang dan menyendiri di sana.
"Kau melihat Jessica?" tanya Keisha pada Ken. Keisha mengedarkan pandangannya mencari sosok Jesdica di Halaman Rumah Utama itu.
"Entahlah, aku tadi melihatnya duduk bersama Kepala Pelayan." Ken berjalan bergabung di tengah-tengah kerumunan keluarga besarnya. Meninggalkan Keisha yang masih duduk di kursi taman.
"Dasar, Es Batu Balok," gumam Keisha setelah sadar Ken meninggalkannya begitu saja.
Keisha berjalan mencari keberadaan Kamila, Nathalia dan juga Jessica. Keisha tidak mengenal siapa pun selain ketiga wanita itu.
"Kak Keisha," panggil Kamila. Gadis itu berjalan ke arah Keisha sambil membawa berbagai macam jenis buah di tangannya.
"Mmm, apa kau melihat Jessica, aku ingin bicara dengannya?" tanya Keisha.
"Ah, aku juga ingin menanyakan itu pada Kakak." Kamila memutar tubuhnya mencari dimana Serigala Betina itu sekarang.
"Kak Jess dimana, Mbak?" tanya Kamila pada Kepala Pelayan. "Jessica di belakang, Nona." Kepala pelayan itu sibuk dengan tugas-tugasnya, ia hanya tersenyum dan mengangguk saat Kamila bertanya ataupun bicara dengannya.
"Kita ke belakang saja, aku ingin membicarakan hal penting dengan Jessica." Keisha menarik tangan Kamila, membawa gadis itu keluar dari kerumunan pesta.
"Tapi belakang itu dimana maksudnya," tanya Keisha bingung, pasalnya ini untuk pertama kalinya ia masuk ke dalam Rumah Keluarga Pranata.
"Hahaha, ayo ikuti saja langkah ku." Kamila berjalan di depan Keisha, keduanya mengambil jalan samping kiri untuk menuju Rumah Belakang.
Mereka berhenti ketika melihat Jessica duduk di kursi taman sambil menumpu wajahnya dengan kedua tangan.
"Jess." Keisha memegang pundak Jessica, membuat wanita itu sedikit terkejut. "Ah, apa yang kalian lakukan di sini?" tanya Jessica.
"Kami mencari Kak Jess di pesta. Eh tau-taunya, Kak Jess duduk menyendiri disini." Kamila dan Keisha duduk di samping Jessica, keduanya menatap Jessica, mengamati ekspresi wajah wanita itu.
"Kau ada masalah Jess," tanya Keisha.
"Tidak, aku hanya ingin sendiri saja. Lagi pula, aku tidak mengenal siapa-siapa disana. Kau sibuk dengan Ken tadi, dan Kamila. Entah gadis itu dimana," sindir Jessica.
"Hehehe, aku di meja makan bersama Tata tadi," jawab Kamila karena berasa dirinya tersindir.
"Hehehe."
Ketiganya mengobrol, membahas siapa sebenarnya Keluarga Besar Yoga Candra dan Can Candra itu.
"Jadi Tuan Yoga dan Tuan Can saudara?" tanya Jessica setelah mendengar penjelasan dari Kamila.
__ADS_1
"Hmmm, Yoga Candra itu Kakek Kami. Dan Can Candra itu Kakeknya Kak Ken dan juga Juan," jelas Kamila. Jessica dan Keisha hanya mengangguk faham.
"Eh, aku lupa. Berapa usiamu sekarang, Jess?" tanya Keisha.
"24 tahun."
"Kita sama." Keisha memperhatikan wajah dingin Jessica, "Huh, dari matanya saja sudah menakutkan. Ditambah lagi senyum tipis di bibirnya, membuat orang yang menatapnya gemetar saja," gumam Keisha.
"Kamila," panggil seorang wanita berambut pirang sebahu. Kamila menoleh, "Apa yang Kakak lakukan di sini?" tanya Kamila pada si rambut pirang.
"Aku mencarimu dan Tata dari tadi, kalian kemana saja." Si rambut pirang berdiri di belakang kursi taman, ia mengamati dengan lekat Jessica dan juga Keisha.
"Ini calon istri Ken?" tanyanya sambil menunjuk Keisha dengan ekor matanya.
"Ah, Iya. Dia Kak Keisha," jawab Kamila dengan tersenyum manis.
"Owh, Hai Keisha. Aku Zuanda," ucapnya memperkenalkan diri pada Keisha.
"Hai Kak Zuanda," jawab Keisha dengan senyum canggung di bibirnya.
Pasti Kakaknya Juan, namanya saja hampir sama. Juan dan Zuanda. Keisha
"Aku ingin bertemu dengan Aldy, dimana Kakakmu itu," tanya Zuanda pada Kamila. Kamila berpikir sejenak, "Ah,Kak Aldy di dalam bersama Ibu dan yang lain," jawab Kamila.
"Aku ingin memperkenalkan temanku untuk Aldy, dia seorang Pelukis yang berbakat dari keluarga yang terpandang. Sangat cocok dengan keluarga kita," ucap Zuanda lalu pergi begitu saja.
Kamila dan Keisha saling menatap, mereka sadar kalau ada Jessica di sana. Pasti wanita itu mendengar apa yang dikatakan Zuanda tadi.
"Kenapa menatap ku seperti itu?" tanya Jessica.
"Apa yang kau bicarakan, Manis. Itu bukan urusan ku, aku di sini untuk menjaga dan melindungimu bukan untuk berpacaran dengan Kakakmu." Jessica cukup sadar, apa posisinya di Rumah ini. Dia dan Aldy hanyalah Seorang Bodyguard dan Tuan Muda tidak lebih dari itu.
Suasana hening, Kamila dan Keisha membeku tidak tau harus bicara apa lagi. Keduanya mulai merinding karena merasakan aura dingin di sekitarnya.
"Aku ke depan dulu, Ken menungguku di sana," ucap Keisha setelah mendapat pesan dari Ken.
"Bersenang-senanglah," jawab Jessica.
"Kak Jess tidak ikut ke pesta lagi?" tanya Kamila ragu. Jessica hanya tersenyum lalu kembali menundukkan pandangannya. "Kau pergi saja, Kak Jess akan tetap disini," ucapnya.
"Kak Jess, aku selalu mendukung Kak Jess." Kamila menyeret kakinya, menjauh dari Jessica.
"Kenapa orang-orang selalu berpikir seperti itu, Kak Jess baik, dia tidak pernah membuatku sedih. Tapi kenapa, harus latar belakang yang menjadi penentunya," gumam Kamila. Gadis itu sangat faham dengan apa yang dikatakan Zuanda tadi, "Keluarga terhormat harus menikah dengan yang sederajat dengannya." Begitulah pesan yang tersirat di ucapan Zuanda.
Jessica melangkahkan kakinya, masuk ke dalam kamar dan mengunci dirinya di sana.
"Itulah kenapa aku selalu menghindar darimu, aku tau dan cukup tau diri untuk bersanding denganmu." Jessica merebahkan dirinya di atas kasur, ia menatap langit-langit kamar yang begitu bersih itu.
"Maaf, Tuan Aldyan Pranata Yoga. Aku tidak bermaksud membuatmu jatuh cinta dan tergila-gila padaku, itu bukan tujuanku," gumam Jessica.
Sebenarnya Jessica sudah tau bagaimana perasaan Aldy padanya, tapi ia memilih diam dan pura-pura bodoh saja akan semua itu. Ia tau, kalau hari ini akan datang, dimana keluarga besar Aldy akan membicarakan siapa wanita yang tepat untuk bersanding dengan Tuan Muda mereka.
Sementara itu, di Halaman Utama.
__ADS_1
Pesta masih berlanjut di sana, Ken dan Keisha duduk di sebuah meja dengan berbagai hidangan buah-buahan di atasnya.
"Ken," panggil Keisha.
"Kenapa, apa kau tidak nyaman. Ayo kita pulang." Ken memperhatikan raut wajah Keisha yang sedikit berbeda.
"Jika aku bukan anak orang kaya, atau keluargaku bukan keluarga yang terpandang, apa kau masih mau menerima perjodohan kita?" tanya Keisha.
Ken diam, ia mencoba mencerna dengan perlahan apa yang di katakan Dokter Muda di hadapannya ini. Ken meraih tangan Keisha, menggenggamnya erat, "Keluarga Kami tidak seperti yang kau pikirkan," ucap Ken.
"Mamaku, apa kau tau siapa dia sebenarnya? Dia hanyalah seorang wanita karir dari keluarga sederhana. Tapi Papa dan keluarga besar kami tetap menerimanya," jelas Ken.
Keisha diam, pikirannya melayang pada perkataan Zuanda tadi, "Itu pasti menganggu pikiran Jessica sekarang," gumam Keisha.
Keisha terus larut dalam pemikirannya, ia lupa bahwa Ken masih di hadapannya dan masih menggenggam tangannya.
"Apa yang kau pikirkan?" Ken menarik tangan Keisha, mencium jemari wanita itu. Keisha kaget, ia langsung menarik tangannya.
"Apa yang kau pikirkan?" Ken mengulangi pertanyaannya.
"Aku tidak memikirkan apa-apa," elak Keisha.
"Kau tidak nyaman, bilang saja. Ayo kita pulang!" ajak Ken. Pria itu merasa ada sesuatu yang Keisha sembunyikan darinya.
"Ken," panggil Aldy dari belakang Ken.
"Apa kau tau dimana Edelweiss?" tanyanya.
"A-aku tidak pernah melihatnya," jawab Ken sambil membalik tubuhnya menghadap Aldy.
"Kau tau dimana dia?" tanya Aldy pada Keisha.
"Dia tadi di belakang, bersama Kamila," jawab Keisha.
Aldy melangkah kakinya menuju Rumah Belakang, meninggalkan Ken dan Keisha tanpa mengatakan apapun lagi.
Aldy mengedarkan pandangannya, mencari sosok Edelweissnya di taman belakang. Sayangnya, Edelweiss itu tidak ada disana.
Aldy beralih menatap kamar-kamar yang berjejer rapi itu, ia menatap kamar dengan tulisan Jessica di sana.
Tok...tok...
"Jess," panggil Aldy dari balik pintu kamar.
Tidak butuh waktu lama, pintu itu terbuka dan menampakkan seorang wanita dengan mata mengantuk di depannya.
"Kenapa, Tuan," ucap Jessica sambil menutup pintu kamarnya dan berjalan menuju taman di depan Kamar yang berjejer rapi itu.
"Kau mengantuk, tidurlah," jawab Aldy lalu pergi begitu saja. Jessica menatap punggung pria yang sudah menjauh itu.
"Laki-laki memang sangat sulit ditebak apa maunya," gumam Jessica lalu kembali masuk ke dalam kamarnya.
Aldy membalikkan badannya, menatap ke arah pintu kamar yang sudah tertutup rapat itu, "Maaf, jika perkataan dari Zuanda menyakiti hatimu, aku berjanji. Kau tidak akan mendengar perkataan seperti itu lagi." Aldy melangkahkan kakinya menjauh dari Rumah Belakang.
__ADS_1
Bersambung....