
Ibu membantu membersihkan tubuh Aldy, sementara Jessica keluar untuk sarapan selama Aldy dibersihkan.
Ibu mengelap leher dan lengan Aldy. Ia menatap putranya yang terlihat begitu tenang itu.
"Ibu," panggil Aldy setelah merasa tubuhnya lebih bersih.
"Kenapa?"
"Bawa aku pulang, aku tidak nyaman di sini. Bau obat-obat ini sangat mengganggu indra penciumanku," keluh Aldy.
"Dan ini apa? Kenapa menempel di sini!" Kini ia melirik ke arah jarum infus di punggung tangannya.
"Kau jangan banyak protes. Diam dan patuh saja pada Dokter!" Ibu mencubit lengan Aldy pelan.
"Ya-ya. Ibu sama seperti Jessica," celoteh Aldy. Pria itu bahkan mampu mengomel dan tertawa walau rasa perih selalu menghantui, lutut, siku dan jari-jarinya.
"Hmmm, setidaknya Ibu cantik seperti Jessica. Ibu baik seperti Jessica. Ibu berani seperti Jessica, begitu? Atau Ibu galak seperti Jessica dan Keisha?" Ibu tertawa kecil.
"Hahahaha, aku suka semuanya," jawab Aldy sambil memejamkan matanya, membayangkan wajah Jessica.
"Tuan Aldy," sapa Keisha. Dokter Galak itu menyempatkan dirinya untuk menjenguk Aldy. Ia datang sendiri karena Ken masih mengurus perusahaan.
"Panjang umur, duduklah, Nak." Ibu menyambut Keisha hangat, ia tau kalau Ken sangat mencintai Dokter Galak ini.
"Beruntung aku di rumah sakit kota, jadi aku tidak bertemu Dokter segalak dirimu di sini," sindir Aldy.
"Iya, Tuan. Anda sangar beruntung," jawab Keisha. Dokter itu memang tidak berani pada Aldy, berbeda dengan Ken. Ia berani mengomel dan menjewer telinga Es Batu Balok itu.
"Hei, luka seperti ini kapan sembuhnya?" tanya Aldy pada Keisha yang duduk di sofa biru samping Ibunya.
"Biasanya satu minggu sudah kering, Tuan. Dan Anda benar-benar beruntung, Tuan, karena luka Anda tidak dijahit," jawab Keisha. Ia menarik ujung bibirnya, menghasilkan senyum tipis yang manis.
"Oh." Hanya itu yang keluar dari mulutnya Aldy. Keisha menatap pria dingin itu, ia ingin sekali menegurnya agar bisa sedikit ramah pada orang.
Suasana di dalam ruangan hening beberapa menit. Jessica membuka pintu ruangan dengan pelan. Ia melempar pandangannya pada dua wanita yang sedang duduk dan mengobrol di sofa.
"Kei, kau di sini?" ucap Jessica lalu duduk di samping Keisha.
Keisha tersenyum, "Iya, aku tidak bisa lebih lama lagi. Aku pamit, Bu, Jess."
"Aku baru saja sampai dan kau langsung pamit untuk pulang," protes Jessica.
"Hehehe, aku masih ada tugas di rumah sakit." Keisha menatap Ibu lalu beralih pada Jessica, "Aku pamit, ya?"
"Pergilah, aku bosan melihat wajahmu!" sahut Aldy dengan mata yang masih terpejam.
"Huhuhu, aku pamit, Jess." Keisha mempercepat langkahnya. Ia hilang dalam hitungan detik di balik pintu ruangan itu.
Dasar Kulkas Empat Pintu!
Pintu ruangan kembali terbuka, Nathalia dan Juan berdiri di ambang pintu itu.
"Masuklah, Ta," ucap Ibu pada Nathalia yang masih saja mematung di sana.
"Kakak Aldy kenapa, Bu?" Nathalia meletakkan bingkisan yang ia bawa di atas meja. Ia berjalan ke arah Aldy yang masih berbaring di atas ranjang rumah sakit.
"Ini kenapa? Dan ini, ih...pasti sakit, ya?" Gadis itu menunjuk dan mengamati luka di lutut dan jari-jari Aldy.
"Ini juga, astaga...Kak Aldy kenapa?" Nathalia menatap Ibu dan Jessica. Meminta penjelasan pada keduanya.
"Kak Aldy, kecelakaan," jawab Juan.
"Kecelakaan? Kenapa Kak Ken tidak memberi tahuku dan Mama dari awal?" protes Nathalia.
"Hei, kenapa kau ribut sekali! Bisakah kau diam! Telingaku sakit!" teriak Aldy.
Semua hening, bahkan Jessica dan Ibu juga ikut hening menatap Aldy.
Dia sakit atau tidak, sih. Kenapa selalu berteriak dan mengomel! Jessica
"Astaga, kau ini kenapa, hah? Lihat adikmu sampai takut seperti itu," Ibu menatap Nathalia yang sudah tertunduk, ia menarik gadis itu ke dalam dekapannya.
__ADS_1
"Kakakmu memang begitu, jangan pedulikan ucapannya tadi." Ibu menatap Nathalia, melepasnya dari dekapan hangatnya.
"Kau tidak sekolah?"
"Astaga, ini sudah akhir tahun, Bu. Semua sekolah sudah libur," jawab Nathalia sambil tersenyum.
"Ibu tidak ingat, lagi pula Kakak-kakakmu sudah besar semua. Tidak ada yang sekolah lagi, oleh sebab itu Ibu lupa."
Nathalia hanya tersenyum, ia beralih menatap Jessica, "Hai, Kakak ipar," sapanya.
"Gadis ini!" Juan menatap Nathalia tajam.
"Hai, Manis," jawab Jessica dengan senyum tipis andalannya.
Nathalia beralih mendekati Jessica, ia meluncurkan seribu pertanyaan lebih dalam satu menitnya.
"Kapan Kak Jess dan Kak Aldy menikah?"
"Kalian ingin bulan madu dimana?"
"Kak Jess ingin anak berapa?"
"Siapa nama mereka jika laki-laki?"
"Berapa usia Kak Jess?"
"Sejak kapan Kak Jess dan Kak Aldy jadian?"
"Apa Kak Aldy galak pada Kak Jess?"
"Bagaimana rasanya menjadi orang spesial?"
"Kak Jess guru bela diri,'kan. Sejak kapan, Kak?
"Apa Kak Jess tidak takut pada Kak Aldy?"
Jessica, Ibu, Aldy dan Juan saling menatap. Mereka diam, tidak ada yang menjawab pertanyaan Nathalia, atau lebih tepatnya. Mereka bingung harus menjawab dari mana.
"Memangnya aku burung apa? Berkicau, berkicau," gumam Nathalia. Gadis itu melirik Jessica dan Ibu meminta pembelaan dari keduanya.
"Ayo, pulang!" Juan menarik tangan sepupunya itu keras. "Ayo, Tante akan marah padaku nanti karena mengajakmu keluar tanpa izin."
"Ya-ya. Lepaskan tanganku, Kak Juan! Aku akan pamit pada Ibu dan Kak Jessica dulu." Nathalia terus memberontak, namun Juan tidak memperdulikannya. Ia tetap menarik gadis itu keluar dari ruang rawat Aldy.
Jessica menghembuskan nafas lega, "Sebelas dua belas dengan Kamila," gumam Jessica.
"Jess, Ibu keluar dulu. Kau tetap di sini, ya?" Ibu berjalan ke arah pintu, ia keluar untuk menanyakan pada Dokter tentang kepulangan putranya.
Jessica mendekat ke arah Aldy yang masih berbaring di atas ranjang.
"Ini sudah tidak sakit lagi?" Jessica menunjuk lutut Aldy. Pria itu tersenyum manis dan tidak berniat untuk menjawab pertanyaannya Jessica.
"Kau mau pulang?" tanya Jessica lagi.
Aldy mengangguk, "Aku tidak suka ini, ini dan ini." Ia menunjuk jarum infus di tangannya.
"Heh, jangan banyak protes kau..."
"Hmmm, jangan mengomel! Aku tadi sudah mendengar Ibu, dan aku tidak mau mendengarmu lagi!" potong Aldy.
Jessica menarik nafas panjang. Ingin rasanya ia meremas jari-jari Aldy yang terluka itu.
"Baiklah, kau sedang sakit,'kan. Jadi aku akan bersikap manis padamu, Say..." Jessica berhenti, lidahnya terasa berat dan kaku.
"Apa? Teruskan! Kau mau bilang apa?"
"Tidak ada!"
"Ayo! Lanjutkan!" Aldy mencubit lengan Jessica pelan.
"Auu, sakit," rintih Jessica pura-pura.
__ADS_1
"Mana yang sakit? Maaf, aku hanya mencubit pelan. Mana yang sakit? Ini, ini, ini." Aldy mengeraskan cubitannya.
"Heh, lepaskan! Lepaskan, Tuan Aldy yang tampan." Rayu Jessica agar Aldy melepas cubitannya.
"Tidak." Ia semakin menambah level cubitannya. "Panggil aku sayang!"
"Tidak! Menjijikkan sekali," jawab Jessica sambil menarik lengannya, membuat Aldy melepaskan cubitan di sana.
"Hahahaha, kau tidak bisa menindas dan memaksaku seenak jidatmu." Jessica tersenyum seolah-olah mengejek dan menantang Aldy.
"Owh, awas kau nanti! Tunggu kakiku sudah membaik, lihat saja nanti!" ancam Aldy. Pria itu menarik ujung jaket Jessica, membuat wanita itu terjatuh ke atas dadanya.
Jessica membeku, ia bisa mendengar detak jantung Aldy dengan jelas. "Heh, kau curang!" ucapnya sambil melepaskan diri.
"Saat sakit saja kau bisa menjahiliku, bagaimana jika kau sudah sehat? Kau pasti akan terus mengoceh ke kanan dan kiri," sambung Jessica sambil merapikan jaketnya.
Aldy diam, ia tidak menjawab apapun. Ia terus menatap wajah Jessica yang sudah memerah karena kesal.
"Apa? Jangan menatapku seperti itu!" Jessica menyeret kursi lalu duduk di samping ranjang.
"Kau sudah sehat, ya. Dari kemarin kau tidak terlihat seperti orang sakit," ucap Jessica. Tangannya mengelus lembut jari-jari Aldy yang terluka.
Tadi mengamuk sekarang seperti ini, membingungkan. Aldy
Aldy menarik tangannya, ia mencoba untuk duduk karena tidak nyaman jika terus berbaring. "Kau bisa minta tolong padaku!" ucap Jessica lalu membantu Aldy duduk.
Aldy hanya tersenyum, ia tidak bosan-bosannya menatap wajah Serigala Betina itu. Ia menggerakkan tangannya, menarik rambut Jessica yang terikat rapi.
"Jangan mulai lagi!"
"Aku senang melihatmu marah dan kesal," jawab Aldy dengan tangan yang terus menarik rambut tebal itu.
Jessica tidak mau kalah, ia pun ikut menarik-narik rambut Aldy, bahkan mengacaknya dengan kesal.
"Cukup, Jess!"
Jessica menurunkan tangannya, ia beralih menusuk-nusuk pipi Aldy dengan telunjuknya. Aldy hanya diam, menikmati setiap sentuhan dari tangan Jessica.
_________
Sorenya. Sesuai dengan permintaan sang Tuan Muda, ia dibawa untuk pulang karena benar-benar tidak nyaman di rumah sakit ini.
Jessica memapah Aldy untuk masuk ke dalam rumah utama. "Kau berat sekali," keluh Jessica.
"Aldy, kasian Jessica. Duduk di sini," pinta Ibu karena kasian melihat Jessica yang memapah putranya.
"Ini sudah dekat, biarkan saja, Bu." Jessica membantu Aldy untuk duduk di sofa berwarna maroon itu.
Ken, Ibu dan Kamila hanya menjadi penonton saja. Ketiganya bahkan sibuk dengan makanan dan minuman di hadapan mereka tanpa menawarkan pada kedua insan itu.
"Aku pulang, ya?" Jessica menatap Aldy lalu beralih menatap Ibu dan Kamila.
"Tidak menginap saja, Kak Jess?" tanya Kamila dengan mata yang penuh harapan. Gadis itu rindu saat-saat bersama Jessica. Rindu makan bersamanya.
"Kak Jess harus melatih besok, besok,'kan akhir pekan. Dan Kak Jess juga sudah berjanji pada anak-anak," jelas Jessica.
"Pulanglah dan istirahat," sahut Aldy. Pria itu mengangguk ketika Jessica meminta kepastian padanya.
"Aku akan mengantarmu." Ken berdiri lalu menatap Aldy. "Aku akan menjaganya dengan seluruh nyawaku," sambungnya.
Ibu dan Kamila terkekeh. Mereka sangat hafal dengan kalimat legend yang selalu Aldy katakan jika ingin memberi kepercayaan pada orang lain.
"Jangan sentuh dia, walau hanya seujung jari!" Aldy menatap Ken tajam.
Hmmm, katakan saja apa yang akan membuatmu bahagia. Jessica
"Ya-ya. Aku tidak akan menyentuhnya. Lagi pula dia tidak akan mengizinkanku untuk menyentuhnya, dia pasti akan mematahkan tanganku untuk yang kedua kalinya," jawab Ken.
Jessica pamit pada Ibu dan Kamila, lalu menyusul Ken yang sudah keluar sejak tadi.
Bersambung...
__ADS_1