Mencintai Seorang Bodyguard

Mencintai Seorang Bodyguard
Season 2 Ketulusan Aldy


__ADS_3

Jessica membuka matanya, ia langsung melempar pandangannya pada sofa berukuran sedang di pojok sana.


"Apa dia sudah bangun? Lalu, dimana dia sekarang?" Jessica mengedarkan pandangannya, mencari sosok Aldy di dalam ruang rawatnya.


"Tidak ada, apa dia pulang semalam?" Jessica menggerakkan seluruh ototnya yang terasa begitu kaku. Rasa sakit tiba-tiba menyerang kepalanya, Jessica merintih kesakitan, ia memegang kepalanya yang terasa dibelah oleh benda yang begitu tajam.


Pintu ruangan terbuka. Aldy berlari ke arah Jessica. Ia menekan tombol merah yang terhubung pada ruangan Dokter Lukman. Tidak butuh waktu lama, Dokter Lukman muncul dengan wajah yang begitu tenang.


"Cepat, Dok! Tidakkah kau lihat dia kesakitan!" teriak Aldy karena Dokter Lukman berjalan sangat lambat.


Astaga, aku selalu salah di mata Anda, Tuan. Dokter Lukman


Dokter Lukman bahkan tidak memeriksa Jessica. Ia malah mengajak Jessica untuk berbicara.


"Apa Anda ingin menghirup udara segar, Nona?" tanya Dokter Lukman sembari menatap wajah dingin Aldy.


"Dokter! Ada apa dengannya?! Periksa dia!" Aldy menetap Dokter Lukman tajam. "Bisa-bisanya kau mengajak dia bicara, dia kesakitan!!! Kau tidak lihat, hah?!"


"Baiklah-baiklah." Dokter Lukman pura-pura memeriksa Jessica. Ia mengedipkan matanya pada Jessica, membuat Aldy melayangkan satu tinju di lengannya.


"Astaga, Tuan. Nona Jessica hanya butuh udara segar." Dokter Lukman mundur beberapa langkah. Ia mendorong kursi roda yang berada di pojok ruangan. "Bukankah begitu, Nona?"


Sebenarnya dia Dokter atau bukan? Kenapa aku meragukannya, ya? Jessica


Jessica tidak menjawab apapun. Rasa sakit di kepalanya memang sudah hilang sejak tadi. Ia kini menatap Aldy dan Dokter Lukman secara bergantian.


"Kau ingin jalan-jalan pagi?" Aldy merebut kursi roda itu dari Dokter Lukman. Dokter Lukman hanya tersenyum, lalu pamit undur diri.


Jessica mengangguk. Aldy mengangkat tubuh Jessica, mendudukkannya di atas kursi roda. "Apa kau nyaman?"


Jessica mengangguk lagi sambil tersenyum manis. Ada getaran hangat yang menyentuh hati Jessica. Dalam ingatannya, ia tidak pernah suka atau jatuh cinta pada siapapun. Namun berbeda dengan Aldy, Jessica merasa begitu dekat dengannya, sampai tidak ada jarak antara dirinya dan Aldy.


Jessica mendongak, menatap wajah tampan Aldy. "Aku harus memanggilmu apa?" tanyanya sambil menundukkan wajahnya.

__ADS_1


"Panggil saja se-nyaman yang Audi rasakan." Aldy mulai mendorong kursi roda itu dengan pelan dan hati-hati. Sesekali ia tersenyum tipis ketika beberapa orang menyapanya.


"Tuan? Kenapa mereka menyapa seperti itu." Jessica kembali mendongak, menatap wajah Aldy.


Aldy tidak menjawab, ia terus mendorong, hingga keduanya sudah sampai di taman rumah sakit. Aldy berjongkok di hadapan Jessica, menatap wajah Jessica penuh cinta dan kasih sayang.


"Apa yang kau tanyakan tadi, maaf, aku tidak mendengarnya?" ucap Aldy sambil tersenyum tipis.


"Kenapa semua orang memanggilku Nona, dan memanggilmu Tuan?" tanya Jessica yang memang tidak mengingat apa-apa.


"Oh, itu, tidak apa. Kau risih dengan panggilan itu?" Aldy berdiri, ia kembali mendorong kursi roda agar Jessica lebih leluasa menghirup udara di tengah taman.


"Tidak, tapi aku heran saja. Mereka begitu menghormatimu." Jessica menunjuk sebuah bunga. "Aku mau itu, tolong ambilkan," pintanya pada Aldy.


Aldy tersenyum, ia memetik bunga itu untuk Jessica. "Dulu, kau bilang tidak suka bunga," ucap Aldy sambil menyerahkan bunga itu pada Jessica.


"Benarkah? Hmm, tolong ceritakan sedikit saja tentang hidupku!" Jessica memutar-mutar bunga yang ada di tanganya.


"Kau benar, aku memang kurang tertarik pada bunga." Ia meraih tangan Aldy. Mengembalikan bunga itu padanya.


"Hahahaha, kau manis sekali." Jessica menatap wajah Aldy cukup lama. Getaran di hatinya pun semakin lama semakin terasa jelas.


"Tadi kau bilang rumah, 'kan? Kau tau di mana rumahku?" tanya Jessica setelah puas memandangi wajah Aldy yang tersenyum padanya.


"Hmmm, rumahku adalah rumahmu juga. Sudahlah, intinya kau milikku dan aku milikmu. Apapun yang menjadi milikku maka itu juga akan menjadi milikmu." Aldy masih tersenyum. Ia kembali berjongkok di hadapan Jessica, memandang wajah wanita itu penuh makna.


"Begitukah? Tapi aku tidak mengingat siapa dirimu? Apakah aku bisa se-percaya itu padamu?" Jessica menatap tangan Aldy, jari-jari Aldy mulai bertautan dengan jari-jarinya.


"Ini bukti, bukti bahwa aku dan kau memang terikat suatu hubungan. Masalah ingatanmu, aku percayakan pada Tuhan. Dia tau apa yang terbaik untuk kita." Aldy mengecup lembut jari-jari Jessica, matanya menatap mata Jessica penuh kasih sayang.


Jessica diam, dia membeku dengan perilaku Aldy padanya. Aldy selalu bersabar dalam menghadapi sikapnya beberapa hari ini. Kadang Jessica bingung, sejak kapan ia dan Aldy bertemu, dan sejak kapan dia se-nyaman ini pada lawan jenisnya.


"Apa aku mencintaimu dulu?" tanya Jessica pada Aldy. Jessica mengamati cincin yang ia kenakan. Sama persis dengan cincin yang Aldy pakai di jari manisnya.

__ADS_1


"Ceritanya nanti saja, ya. Aku janji, setelah pulang, aku akan menceritakan semuanya padamu," jawab Aldy.


Jessica menarik nafas dalam, "Baiklah, tapi janjinya! Kau akan menceritakan siapa aku sebenarnya!"


Aldy tersenyum lalu berdiri. Ia mendorong kursi roda Jessica, menjauh dari taman rumah sakit. "Kau harus sarapan sekarang."


Jessica hanya diam. Beribu-ribu pertanyaan menghantui pikirannya. Sesekali, ia mendongak ke arah Aldy. Getaran hangat itu semakin lama semakin memenuhi hati Jessica.


Apakah benar, aku dan dia adalah pasangan kekasih. Dan kurasa, dia dan Ibu sangat menyayangiku. Sebenarnya apa yang terjadi sebelumnya? Dan mengapa Gadis dan Pemuda itu sangat perhatian padaku? Siapa sebenarnya Kamila? Dan Siapa nama laki-laki yang selalu bersamanya itu? Aku lupa! Jessica.


Keduanya sudah sampai di dalam ruangan Jessica. Di dalam sudah ada Ibu dan Jack. Ibu membawa bubur khusus untuk Jessica. Ia meminta para pelayan untuk membuat bubur ini dengan penuh cinta dan kasih sayang.


"Jack, kau tetaplah di sini. Jaga Ibu dan Je- Audi," ucap Aldy setelah mengangkat tubuh Jessica dan membaringkannya di atas ranjang rumah sakit.


"Ibu, aku ada urusan penting." Aldy mendekati Ibu.


"Ibu, aku hanya ingin membalasnya, aku tidak sampai membunuhnya, Bu. Tolong Ibu izinkan aku untuk melakukannya," bisik Aldy.


Ibu menghembuskan nafas pelan. Satu sisi ia ingin si pelaku mendapatkan sanksi dari tindakannya. Dan satu sisi, ia tidak ingin jika tangan putranya sampai melakukan hal-hal yang tidak wajar pada orang lain.


"Satu pukulan saja," bisik Aldy lagi.


Ibu tidak menjawab, ia hanya tersenyum tipis. Lalu melangkah mendekati Jessica.


Aldy keluar dari ruang rawat Jessica. Darahnya sudah naik sampai puncak. Tubuhnya gemetar menahan emosi yang cukup besar.


Dengan langkah yang begitu cepat, Aldy masuk ke dalam mobilnya. Meluncur menuju tempat yang sudah ia siapkan untuk memberi sanksi pada orang yang telah menabrak Jessica.


Hp Aldy berdering. Ia menepi, menatap nama pemanggil yang tertera di sana.


"Ya, Jack sudah menyampaikannya padaku. Kau tungu saja. Jangan sentuh dia sebelum tanganku yang terlebih dulu menyentuhnya!"


Mobil itu kembali melaju dengan kecepatan sedang. Mata Aldy mulai panas ketika mengingat tubuh Jessica yang melayang karena terkena hantaman keras dari mobil itu.

__ADS_1


"Satu pukulan dariku, dan bonus pukulan lainnya dari Ken mungkin tidak akan cukup untuk membalas tindakannya."


Bersambung......


__ADS_2