Menikahi Bad Boy

Menikahi Bad Boy
Part 99


__ADS_3

Dokter mengizinkan Azri dan yang lainnya masuk setelah Mahendra selesai diperiksa. Alangkah leganya Azri ketika mendengar bahwa ayahnya hanya mendapatkan cedera ringan di kakinya. kemungkinan kaki itu tidak bisa dipakai untuk berjalan sementara waktu, tetapi itu tidak masalah asalkan nyawanya baik-baik saja.


"Pria Tua, kau membuat umurku berkurang sepuluh tahun," gumam Azri ketika ia duduk di samping ranjang ayahnya. Pria itu tertawa lalu mengulurkan tangannya untuk memukul kepala Azri.


"Anak nakal ini, bagaimana kamu bisa tidak sopan pada seorang Ayah yang baru saja terkena musibah?"


"Salahmu tidak berhati-hati."


Azri memalingkan wajah. Dalam hati ia mendesah lega. Meskipun ia berkata ketus, dalam hatinya ia memanjatkan ribuan syukur karena masih bisa bergurau dengan ayahnya. Untuk sesaat ia ketakutan akan ditinggalkan oleh ayahnya. Setelah kepergian Ibunya, Yuna, lalu Widya haruskah ia kehilangan ayahnya juga?


Mahendra menoleh pada pelayannya. “Apa anak kurang ajar ini baru saja tiba?"


"Tidak, Tuan. Dia datang sejak setengah jam yang lalu, menanti Anda selesai diperiksa dengan wajah panik," jelasnya tenang membuat Azri melototinya. Mahendra terhibur mendengarnya.


"Pura-pura tidak peduli padahal kamu sangat peduli."


Azri tidak memiliki alasan untuk bersikap angkuh di depan ayahnya lagi. Sekarang mungkin saat yang tepat untuk berbaikan dengannya.


"Sejujurnya, aku sangat khawatir ketika mendengarmu dibawa ke rumah sakit," aku Azri kaku. Ta belum terbiasa berbicara lembut dengan ayahnya. "Sepanjang perjalanan aku merasa linglung sekaligus panik. Ribuan pertanyaan timbul tenggelam di kepalaku, 'bagaimana jika Ayahku tidak selamat?' 'Bagaimana jika hari ini adalah hari terakhirku melihat Ayahku?', dan astaga, aku selama ini bertengkar dengannya. Meskipun aku tidak pernah berlaku sopan padanya, membencinya setengah mati tetapi kenapa aku merasa panik mengetahui dia dilarikan ke rumah sakit? Selama menunggumu di luar aku mencoba mencari jawabannya. Dan sekarang aku sudah tahu jawaban itu."


Azri memandang ayahnya lalu tersenyum. "Aku tidak mau sendirian di dunia ini, Ayah. Meskipun kau luar biasa menyebalkan tetapi aku tidak akan siap kehilangan orang tuaku lagi. Aku gembira kau tetap hidup untuk memarahiku."


Setitik air mata jatuh di pipi Mahendra. Betapa terharunya ia mendengar kalimat panjang yang tulus diucapkan Azri untuknya. Tak hanya Mahendra yang terharu, tetapi kepala pelayan itu dan juga Bibi Swari.


Mahendra menghapus air mata di pipinya. "Lihat apa yang dilakukan anak nakal ini," lirihnya seraya tertawa bahagia, "Dia membuatku menangis. Seumur hidup baru pertama kali aku mendengar dia berkata semanis ini padaku. Apa hari ini aku akan benar-benar meninggal? Jika iya maka aku akan mati bahagia."


"Ayah!"


"Kak!"


"Tuan."


Ketiga orang itu berseru bersamaan. Mahendra benar-benar gembira di kelilingi orang-orang yang mencintainya seperti ini. "Oh, andaikan menantuku juga ada di sini. Lengkap sudah kebahagiaanku."


Senyum di wajah semua orang seketika lenyap. Terlebih Azri. Pria itu langsung terdiam. "Apa kau tahu ke mana perginya Widya?" tanya Azri pelan.


Mahendra dengan sangat menyesal menggeleng. "Seandainya aku tahu, sudah kukatakan sejak tadi, Nak." Ia memang pernah menyuruh Widya pergi ke villa yang diberikannya di Jerman sana. Namun, ia yakin gadis itu tidak akan menurutinya. Ia sangat mengenal watak Widya.


Azri menundukkan kepala. Detik ini ia sangat merindukan Widya. Ingin bertemu dengannya lalu memeluknya.

__ADS_1


"Kak, sebenarnya apa yang terjadi dengan perusahaan kita? Keadaan benar-benar kacau karena isu pengambilalihan oleh Gn Group. Azri, kamu harus mencari solusi untuk ini,” ujar Bibi Azri cemas, "Untung saja Ayah tidak tahu hal ini. Jika tidak entah apa yang terjadi padanya."


"Kakek, dia tidak ada di sini, bukan?" selanya cepat.


Azri berharap Matthew tidak tahu hal itu. Ia tidak ingin pria licik itu menggunakan nyawa kakeknya untuk mengancamnya. Tidak, tidak boleh ada korban lagi.


"Tidak. Tidak ada yang tahu hal ini selain keluarga kita. Lagi pula aku sudah menempatkan keamanan berlapis di kediaman Ayah di Jepang sana," ujar Mahendra, Azri mendesah lega. Untuk sementara kakeknya aman.


Mereka terdiam. Sibuk dengan pikiran masing-masing. Azri masih tenggelam dalam kesibukannya mencari jalan keluar ketika tiba-tiba ayahnya berkata.


"Nak, jika kamu ingin memenangkan pertarungan, tidak ada salahnya mengalah."


Azri memandang ayahnya. Matanya melebar memahami arti ekspresi ayahnya saat ini. "Ayah, tidak, aku memang ingin memenangkannya. Tetapi tidak dengan cara itu." Kepalanya menggeleng cepat.


"Ini satu-satunya cara," sela Mahendra. "Menikahlah dengan Lia lalu rebut Pradipta Group kembali. Setelah itu keputusan selanjutnya ada di tanganmu."


"Ayah!" Azri berdiri, ia menolak ide itu. Bukankah ia sudah berkali-kali mengatakannya, ia lebih baik mati daripada menikah dengan Lia.


"Azri, Ayah mohon. Seandainya Ayah diizinkan mengajukan satu permintaan padamu, maka inilah yang akan kuminta."


Azri terperangah. "Ayah, kau tidak bisa memintaku melakukannya. Pernikahan bagiku adalah tentang perasaan. Dan aku sangat mencintai istriku, Widya."


"Dan jika kamu mencintai keluargamu, menikahlah dengan Lia. Kamu tahu apa yang akan terjadi jika Matthew berhasil mengambil alih Pradipta Group seluruhnya?"


Tidak!


Azri tenggelam dalam kebimbangan. la memandang bibi, Ayah, dan kepala pelayannya sejenak lalu bangkit. Ia keluar dari ruangan itu untuk menjernihkan pikirannya.


Melihat Azri bergegas keluar, Widya buru-buru menyembunyikan dirinya. la menatap nanar punggung Azri. Ia mendengar semuanya. Ia bisa merasakan keraguan mendera suaminya. Hal itu membuat dadanya semakin sesak.


"Menikahlah dengan Lia, Sayang. Aku rela melepaskanmu jika itu bisa membuatmu tetap hidup," gumamnya dalam dan pelan.


...M.E.N.I.K.A.H.I B.A.D B.O.Y...


Aku tidak ingin mengkhianati Widya. Hanya dia istri yang ditakdirkan untukku, Azri berjalan dengan pikiran penuh menuju mobilnya lalu mengemudikan benda itu keluar area rumah sakit.


Namun, apa yang akan terjadi jika ia kembali menolak Lia? Pradipta Group akan diambil alih sepenuhnya setelah itu keluarganya akan dipaksa melayani Matthew seumur hidup. Apa ia tega menghancurkan hidup keluarganya hanya karena egonya?


Kamu hanya tinggal menikah tanpa memberikan sedikitpun cintamu pada Lia. Satu langkah mudah untuk memulihkan kembali kehormatan keluarganya.

__ADS_1


Tidak, Azri menggeleng. Tentu saja tidak semudah itu. Ia mencintai Widya. Ia tidak bisa hidup dengan seseorang yang tidak ia cintai. la membutuhkan Widya, hanya Widya yang ia inginkan sebagai pasangan hidup. Menikah dengan Lia sama saja dengan memutuskan jalinan cintanya dengan Widya.


Saat pikirannya sedang kacau balau ponsel Azri kembali berdering. Pria itu mengangkatnya dengan sebelah tangan tetap pada kemudi.


"Halo."


"Bagaimana, kamu sudah memutuskan?"


Suara wanita yang dibencinya terdengar. Azri langsung mengerti apa yang dimaksud Lia. Ia menggeram saat sadar keluarganya sudah mulai dikendalikan tak peduli itu oleh Lia ataupun Matthew.


"Aku mungkin bersedia menikah denganmu."


Di ujung sana, Lia tersenyum gembira. Ia masih setia di ruang kerja Azri. Menunggu pria itu kembali ke sana dengan sabar. Ia melirik singkat ke arah figura berisi foto Azri bersama Widya.


"Benarkah? Kalau begitu kembalilah ke kantor. Kita bisa mendiskusikannya lebih lanjut."


Ingin sekali rasanya Lia melompat girang karena akhirnya ia berhasil menakhlukan Azri. Rupanya tak sia-sia pagi tadi ia menelepon Mahendra lalu mengancamnya agar mau membujuk Azri menikah dengannya, jika tidak maka nyawa keluarganya yang lain dipertaruhkan. Mungkin ancaman itu terlalu mengejutkan karena Mahendra langsung terjatuh dari tangga setelahnya.


Hening sejenak di ujung sana. Azri sedang dilanda rasa frustrasi yang membuat kepalanya hampir meledak. Ia menatap nanar jalanan.


Bayangan Widya yang tersenyum padanya lalu berlari bersama anak mereka terlintas dalam pikiran Azri. Pria itu tersenyum miris, matanya berkaca-kaca. Ternyata, ia tetap tidak bisa meninggalkan Widya. Dengan sangat menyesal ia berkata lirih pada Lia di telepon.


"Maaf Lia, aku memang tidak bisa menikahimu."


Lia terkejut di ujung sana. Ia membuka mulut untuk meneriaki Azri tepat ketika suara benda beradu kencang terdengar di susul oleh suara-suara mengerikan lainnya. Lia memekik kaget lalu sambungan terputus.


"Halo, halo? Azri!" Lia berteriak panik. Tangannya mulai bergetar. Jangan katakan, ya Tuhan kumohon jangan katakan Azri.


"Azri, kumohon jawab aku!" Lia berteriak. Air matanya mengalir deras. Ia menghubungi nomor pria itu lagi, tetapi tidak ada balasan.


Sementara itu di sebuah ruas jalan pusat kota terjadi keributan. Orang-orang berlarian menghampiri sebuah mobil audi putih yang berasap, tertahan di sisi jalan dalam kondisi terbalik dan hancur di beberapa bagian.


"Panggil ambulans. Ada seorang pria terjebak di dalam!" teriak seseorang ketika melihat seorang pria terbaring di dalamnya dalam kondisi berlumuran darah.


Sebuah ponsel yang tergeletak tak jauh dari pria itu menyala menampilkan sederet nama.


My Bunny Widya's Calling


...B.E.R.S.A.M.B.U.N.G...

__ADS_1


huh, mendramatisir sekali.


Jangan lupa follow, yang belum follow. Thank you.


__ADS_2