
Malam terasa sunyi di apartement Widya. la duduk di sofa sambil membaca buku dengan perasaan was-was. Sudah terhitung lima kali ia melirik jam dan bertanya-tanya kenapa Azri belum juga pulang sampai detik ini. Mungkinkah suami nya itu mampir dulu di suatu tempat? Widya cepat menggelengkan kepala nya menepis pikiran itu.
Klik klik klik.
Tepat saat Widya mendengar suara pintu dibuka, tubuh nya menegang dengan sendiri nya. Itu pasti Azri. Tidak ada yang tahu kode apartement mereka selain diri nya dan Azri sendiri, kecuali Bibi yang bertugas membersih kan apartemen saat mereka pergi bekerja.
Suara derap kaki Azri terdengar mendekat dan semakin mendekat. Widya mencoba untuk tidak peduli dengan membaca buku. Namun, seiring dengan langkah kaki yang semakin terdengar jelas, ia justru tidak bisa berkonsentrasi dengan huruf-huruf yang tercetak di atas buku itu.
"Kamu di sini rupa nya."
Azri masuk ke ruangan tempat nya berada sambil melepaskan jas dan dasi nya. Widya berusaha bersikap tenang. Ia memandang Azri dengan senyum seperti biasa nya. la sempat berharap Azri lupa dengan perjanjian mereka. Azri membuka dua kancing atas kemeja nya.
"Bagai mana hasil rapat nya?" tanya Widya santai.
Azri berhenti lalu berbalik menatap nya. Widya harus menahan napas ketika ia mendapati ekspresi dingin pria itu. Azri tidak mengatakan apa pun lantas mengambil sesuatu dari dalam tas kerja nya. Dia mengeluarkan map berwarna biru dan meletakkan nya di atas meja di depan Widya. la menatap map dengan mata mengedip bingung. la lalu menatap Azri meminta penjelasan.
Wajah Azri yang dingin tiba-tiba dihiasi senyum lebar
"Aku berhasil mendapatkan kontrak itu. Jika kamu tidak percaya itu bukti nya."
Terdapat nada senang yang luar biasa dari ucapan Azri. Dia menunjuk map yang ada di atas meja. Sementara itu Widya hanya bisa terpaku. Tebakan nya benar.
Azri berhasil mendapatkan nya, dan itu arti nya aku harus kehilangan kegadisan ku malam ini? Batinnya dengan jantung berdegup dan badan bergetar.
Widya membuka map itu untuk membuktikan sendiri kata-kata Azri. Hati nya semakin bergemuruh saat ia melihat tanda tangan Mahendra dan tanda tangan pemimpin GN Group tertera di atas selembar kontrak perjanjian itu. Tubuh nya melemas.
Tak diragukan lagi. Azri benar-benar berhasil mendapatkan nya. Widya meletakkan map itu di atas meja. Ia bingung harus senang atau sedih atas berita ini.
"Selamat." Widya memaksakan senyum untuk keberhasilan Azri. Di sisi lain ia merasa lega karena dengan begini, perlahan-lahan Azri akan berubah ke arah yang lebih baik lagi.
Azri mendekat lalu duduk di samping nya. Widya sudah siap dengan apa pun yang akan dilakukan Azri pada nya.
"Begitu cara mu mengucapkan selamat pada suami mu?" tanya Azri sarkastis.
Widya mengerjapkan mata. “Memang harus nya bagaimana?“
__ADS_1
Azri menarik kedua tangan Widya lalu melingkarkan di leher nya. Widya hanya bisa membiarkan Azri melakukan apa pun pada tubuh nya. Ia berusaha menghindar bertemu pandang dengan Azri dalam jarak sedekat ini, tetapi Azri selalu berhasil membuat mata nya tertarik pada mata hitam nya. la tidak bisa mengabaikan itu, ia tahu.
"Berikan aku ciuman," kata Azri santai membuat Widya memekik kaget.
"Apa-apaan!"
"Cepat cium aku, di sini." Azri mengetuk-ngetuk kan jari di permukaan bibir nya.
Ragu-ragu Widya menatap Azri yang tersenyum penuh kemenangan. Pria ini pasti sengaja ingin menggoda nya dan membuat nya malu. Ini sudah menjadi cara khas Azri El Pradipta. Setelah insiden bikini itu sekarang dia meminta nya mencium nya lebih dulu?
Oh dear.
Azri menanti-nanti saat Widya mencium nya lebih dulu. Karena itu ia menunggu dengan sabar saat Widya mulai mendekatkan wajah nya dengan gugup. Begitu ia merasakan bibir lembut Widya menempel dengannya, Azri segera memeluk pinggang Widya dan me**mat nya dengan perasaan senang, berdebar, dan menggebu.
Widya masih juga tersentak kaget saat Azri menempelkan tubuh mereka, ia tidak akan pernah terbiasa dengan sentuhan Azri yang mirip sengatan listrik, tetapi membuat nya rindu dan ketagihan. Ia membiarkan Azri mencium nya sekehendak hati. Yang dilakukan Widya hanyalah pasrah memeluk leher Azri seolah itu adalah tali penyelamat hidup nya.
Sungguh, Azri sangat ahli berciuman sampai Widya merasakan tubuh nya panas dan lemas di saat yang bersamaan.
Azri perlahan-lahan membaringkan tubuh nya di sofa. Widya mendorong bahu Azri, meminta udara. Mereka terengah-engah saat Azri menjauhkan wajah nya untuk memberi kesempatan Widya mengambil napas.
"Kamu tidak lupa dengan kesepakatan kita, bukan?" tanya Azri disertai senyum lembut.
"Kalau begitu kenapa kamu memakai piyama membosankan ini lagi?"
Azri melirik piyama yang menutupi tubuh Widya. Seharus nya Widya memakai baju tidur yang lebih menggugah dibandingkan piyama yang dipakai nya sekarang. Dalam penampilan seperti ini Widya lebih mirip Zavir keponakan nya yang masih culun dan ingusan.
"Aku tidak punya baju tidur lain selain ini."
Azri mengerjap tak percaya. Ia baru dengar ada wanita dewasa yang tidak memiliki satu pun gaun tidur seksi. Ia mendesah pasrah.
"Seperti nya aku harus membelikan beberapa lingerie untuk mu, kamu harus memakainya jika lain kali kita melakukan ini."
"Apa?" Widya kaget. Jadi Azri akan meminta nya tidur bersama lagi lain kali?
Reaksi Widya membuat Azri menyipitkan mata. "Kamu tidak berpikir malam ini pertama dan terakhir kalinya aku menyentuh mu, bukan?"
__ADS_1
Azri tak memberikan Widya kesempatan untuk menjawab. Ia membungkam nya dengan kecupan lembut di leher gadis itu. Widya memberikan respon berupa lirihan halus, yang malah menstimulasi nya untuk memberikan sentuhan yang lebih intens. Samar-samar Azri juga bisa mencium wangi jasmine yang segar.
"Kamu melakukan perawatan di spa sebelum ini?“ tanya Azri takjub. Senang mengetahui Widya bersungguh-sungguh menyiapkan diri untuk nya.
"Malam ini adalah malam yang istimewa untuk kita berdua dan juga pengalaman pertama kita tidur bersama. Aku ingin menjadikan nya kenangan yang tak terlupakan—paling tidak untuk ku." Widya menjawab dengan malu-malu.
Senyum Azri melebar. “Ini juga akan menjadi malam yang tak terlupakan untuk ku." la bersiap untuk meraup bibir kemerahan di depan nya ketika ia merasakan ponsel di saku celana nya bergetar.
Azri mengumpat. Ia bangkit lalu merogoh ponsel nya sambil mendudukkan diri. Widya ikut duduk, tatapan penasaran nya tertuju pada Azri yang berkata sopan dengan seseorang di telepon. Seperti nya pembicaraan yang sangat penting.
"Pesta?" Azri berkata. Ia menoleh pada istri nya sejenak lalu berbicara kembali. "Ah, tentu saja aku akan mengajak istri ku ke pesta Anda. Terima kasih atas undangan nya. Baik, semoga proyek ini bisa berjalan lancar."
"Siapa?" tanya Widya penasaran setelah Azri menutup pembicaraan lalu melempar ponsel nya ke sofa lain. Bukan nya menjawab Azri malah menarik Widya ke atas pangkuan nya.
"Presdir GN, pemimpin GN Group. Dia mengundang ku ke pesta ulang tahun nya bulan depan. Dia juga meminta ku mengajak mu," jelas Azri dengan senyum manis yang tak pernah di lihat Widya. "Kamu tahu, dia sangat menyukai ku dan berkata ingin sekali menjodohkan ku dengan putri nya. Tapi aku menolak dan berkata bahwa aku sudah menikah."
Widya menunduk kan wajah nya malu. Ia tidak pernah di tatap dengan cara Azri menatap nya sekarang.
Tangan Azri terulur memegang dagu Widya, merasa terkesima melihat ekspresi nya sekarang. Sangat menggemaskan dan membuat nya teringat pada ekspresi Widya yang ia lihat di dalam mimpi.
"Aku tidak akan membiarkan mu kabur seperti waktu itu, jadi bersiaplah." Pandangan Azri melembut.
Widya tidak akan kabur ke mana-mana meskipun Azri tidak menatap nya seperti ini. Ia tidak peduli Azri memperlakukan nya dengan sesuka hati atau tidak, sekarang ia sadar mengapa para mantan kekasih pria itu tidak bisa melepaskan diri ketika sudah terjerat pesona nya. Azri memiliki sorot mata yang hangat, meneduhkan, dan membuat nya merasa sangat di cintai.
"Aku memang tidak berniat kabur," gumam Widya malu dan kaku.
Azri tersenyum. Laki-laki itu menarik tengkuk nya mendekat dan bibir mereka kembali bertaut. Tangan Azri bergerak cekatan membuka setiap kancing piyama Widya. Ia berdecak kagum.
"Wow, aku tidak tahu kamu ternyata memakai pakaian dalam seseksi ini, kenapa tidak bilang?"
Siapa yang mengira di balik piyama membosankan itu Widya memberikan kejutan yang tak terduga. Tidak hanya memanjakan mata, sepasang pakaian dalam berbahan brokat yang nyaris transparan itu membuat penampilan Widya semakin menggugah.
"Memang nya aku harus memberitahu mu dulu?" Widya tidak mau berkata bahwa ini adalah lingerie yang dibeli bersama Bella tadi sore.
Azri mengendik kan bahu senang. "Kamu benar. Memberikan kejutan seperti ini membuat ku lebih semangat."
__ADS_1
Azri pun membawa Widya ke kamar nya. Ia membaringkan Widya di tengah ranjang nya yang dilapisi bed cover warna putih. Dengan lembut ia membelai sepanjang garis wajah Widya. Gadis itu memejamkan mata. Azri mengulum senyum. Ia pun mencium Widya, perlahan, tapi pasti, ia membawa Widya memasuki dunia baru yang menggetarkan serta meluluhlantak kan jiwa dan raga.
Bersambung ....