
Azri tidak akan pernah bisa membiarkan Widya pergi ke mana-mana. Ia tertawa, "Satu-satu nya hal yang membuat nya sibuk adalah mengurus suami nya yang manja ini." Ia lalu memandang Widya kembali. "Tetaplah di sini, aku memaksa."
Lia membenci kenyataan bahwa Azri sedang memandang Widya dengan penuh cinta. Saat ini menggaung kata-kata Marleen di telinga nya tentang Azri yang sangat mencintai istri nya.
Itu tidak benar. Lia akan mengubah perasaan Azri, segera. la pun di buat terkejut ketika Azri bangkit lalu menarik Widya agar duduk di samping nya.
"Lihat. Tidak sulit, bukan?"
"Dasar pemaksa," desis Widya.
Azri tersenyum kembali lalu menyampir kan sehelai rambut Widya ke belakang telinga nya. Itu adalah tindakan paling lembut, romantis dan membuat iri yang pernah Lia saksikan. Tak pernah ada yang memperlakukan nya selembut itu dan kenyataan Widya jauh lebih beruntung di bandingkan diri nya membuat hati Lia bergolak oleh kecemburuan.
Lihat saja, cepat atau lambat ia akan mendapatkan perhatian serupa dari Azri.
"Jadi, keperluan apa yang membawa mu kemari?" Azri bertanya pada nya.
Seketika itu pula Lia membuat ekspresi nya selembut mungkin. "Ini tentang proyek resort kerjasama kita di Pulau."
"Apa ada masalah?" tanya Azri serius, tetapi tidak khawatir. Ia yakin orang-orang yang ia pekerjakan di lapangan sangat kompeten untuk menangani proyek itu.
"Tidak, tidak. Aku hanya ingin mengetahui perkembangan nya secara langsung."
Tanpa sadar Azri memperhatikan setiap bahasa tubuh Lia. Ia tidak bermaksud mencari kesamaan antara gadis itu dan Yuna, tetapi hal itu ia lakukan tanpa di sadari.
"Kalau begitu kamu bisa bertanya langsung pada bagian lapangan jika ingin mendapatkan informasi yang lengkap."
"Sebenar nya, aku bermaksud mengajak mu untuk meninjau langsung proyek itu.“
Suasana langsung hening karena baik Azri dan Widya sama-sama terperanjat. Widya bisa merasakan muslihat dari ajakan Lia itu, tetapi ia tidak mengatakan apa pun. Menanti apa yang di putuskan Azri dengan hati was-was. Ia khawatir suami nya tidak akan sanggup menolak dan jika itu terjadi, apa yang harus dilakukan nya?
Pergi berdua saja dengan Lia ke Pulau. Oh Tuhan, terlalu buruk untuk membayangkan hal apa saja yang mungkin terjadi di sana.
"Apakah itu harus? Sulit rasa nya melakukan perjalanan ke sana. Jadwal ku minggu ini sudah terlalu padat." Azri mengatakan nya dengan ragu-ragu.
Lia tidak akan menyerah begitu saja dengan penolakan itu. Ia langsung memperlihatkan wajah memelas nya.
"Aku sangat berharap kita bisa melihat nya bersama. Itu akan sangat membantu ku mengambil keputusan."
Untuk sejenak Azri luluh melihat ekspresi itu. Ia menunduk sejenak menatap tangan nya yang saling meremas.
"Apa itu sangat penting untuk mu?"
Widya tersentak mendengar pertanyaan itu. Jangan katakan kamu akan menyetujuinya? batin Widya cemas.
"Tentu. Aku baru saja mendapat pekerjaan baru sebagai humas untuk proyek itu. Aku harus tahu proyek itu sudah berjalan sejauh mana agar aku bisa mengambil langkah tepat untuk memulai promosi."
"Begitu." Azri mengangguk paham. "Karena itu aku akan sangat berterima kasih jika kita bisa pergi bersama."
__ADS_1
Azri menatap Lia cukup lama dengan perasaan ragu. Ia sudah berjanji tidak akan memedulikan Lia lagi. Dia bukanlah Yuna karena itu kamu tidak perlu merasa bersalah pada nya. Kamu bisa menolak permintaannya, katakan saja.
Ada adu pendapat dalam batin Azri. Akal sehat nya menyuruh untuk menolak, tetapi ego nya menyuruh nya menerima.
Mata nya memejam rapat selama beberapa detik mencoba memilih keputusan mana yang harus ia ambil. Di saat ia hampir menolak, ingatan tentang Yuna kembali berkelebat. Rasa bersalah itu kembali menyengat hati nya.
Karena diri mu Yuna mati. Karena mu nyawa Yuna melayang. Sekarang di saat sosok yang mirip dengan nya muncul, apa kamu juga akan menolak nya?
Sial!
Azri membuka mata nya menatap Lia masih dengan raut memelas yang sama. Ia sudah tahu jawaban nya. Ia menoleh pada Widya meminta persetujuan.
"Jika istri ku tidak keberatan, aku akan pergi."
Widya tersentak mendengar pernyataan itu. Kenapa kamu menyerahkan keputusan itu pada ku? Kamu tahu aku tidak mungkin mencegah kalian pergi bersama.
Azri menatap nya dengan penuh permohonan, entah apa arti nya. Apa Azri meminta nya menolak atau setuju? Namun, Azri tidak mungkin berharap penolakan dari nya, bukan? Pria itu bertanya pada nya untuk formalitas saja karena pada dasar nya ia yakin Azri tidak bisa menolak permintaan Lia.
"Ya. Pergilah." Widya sadar bibir nya bergerak dengan sendiri nya. Ia merasa tenggorokan nya tercekat melihat Azri melebarkan mata lalu mengembuskan napas. meremas tangan nya. Aku memilih keputusan yang bodoh, batin nya sedih.
Azri sangat berharap Widya akan melarang nya pergi sehingga ia memiliki alasan untuk menolak Lia. Namun, istri nya itu dengan baik nya memberikan izin. Entah kenapa ia merasakan firasat buruk dengan keputusan ini. Ia lalu menatap Lia setelah menetapkan hati nya.
Jika istri nya sudah mengizinkan, maka tidak ada alasan untuk tidak pergi. Lagi pula ia memang ingin tahu perkembangan di sana.
"Kapan kamu berencana akan pergi?"
"Ku pikir akhir pekan tidak masalah.“ Azri lalu menoleh kembali pada Widya. "Kamu benar-benar tidak keberatan bukan, Sayang?"
Widya menggelengkan kepala, terpaksa berdusta demi menenangkan Azri.
"Proyek itu penting sekali, bukan? Aku tidak keberatan kamu tinggalkan sehari atau dua.“ la tertawa kecil.
Azri ikut tersenyum lalu setelah itu Widya pamit untuk kembali ke ruang kerja nya. Kali ini Azri membiarkan nya pergi.
***
Mereka akan pergi berdua saja. Apa itu bisa dikategorikan sebagai perjalanan bisnis atau kencan? Widya terus merenungkan nya selama ia menunggu di depan lift. Ia tidak tahu hanya perasaan nya saja atau Lia sangat bernafsu ingin merebut Azri dari nya?
Oh, bukan merebut, tetapi mengambil kembali Azri. Seharus nya dia yang menjadi istri Azri, bukan?
"Kamu pasti istri yang pengertian karena membiarkan suami mu pergi bersama wanita lain."
Widya menoleh dan terkejut mendapati Lia menghampiri nya. Urusan nya sudah selesai. Terbersit rasa lega dalam benak Widya mengetahui Azri dan Lia tidak berduaan terlalu lama. Gadis itu memiliki senyum yang indah, tetapi Widya merasa senyum itu membuat nya terlihat congkak.
"Itu hanya perjalanan bisnis. Bukan kah begitu?"
"Kamu pikir begitu? Aku tidak berpikir demikian."
__ADS_1
Ucapan santai Lia membuat Widya menoleh pada nya. Lia balas menatap nya dengan ekspresi serius. Ia sudah menanggalkan sikap sopan nya saat ini.
"Ku harap kamu tahu kenapa aku muncul dalam hidup suami mu."
Oksigen seperti direnggut secara paksa dari paru-paru Widya saat mendengar nya. Ia mematung dengan mata melebar. Demi apa pun ia tidak mungkin lupa hal itu. Bibir nya bergetar ketika ia berbicara.
"Kuharap kamu tidak lupa bahwa aku masih istri nya," balas Widya tak kalah dingin.
"Tentu, tidak lama lagi." Lia memandang pintu lift yang masih tertutup dengan senyum angkuh. "Seandai nya saat itu aku tidak sedang berada di rumah sakit, aku pasti yang akan berada di posisi mu saat ini.“
Widya tercengang. Seolah bisa membaca wajah penasaran gadis itu Lia berkata, "kamu tidak sadar juga? Kamu tidak bertanya-tanya kenapa aku mirip sekali dengan Yuna?"
Penuturan itu lebih mengejutkan lagi bagi Widya. Dia tahu. DIA TAHU!!
"Apa hubungan mu dengan Yuna? Bagaimana kamu bisa tahu tentang nya?"
Lia ingin sekali tertawa melihat wajah pucat pasi Widya. Ekpresi nya seolah dia baru saja melihat kematian. Inikah sosok wanita yang konon di cintai Azri El Pradipta itu? Lebih menggelikan di bandingkan ekspresi tikus yang akan di mangsa predator. Dia terlihat sangat ketakutan.
"Hubungan?" Lia tertawa, "Sebut saja Yuna adalah bagian dari masa lalu ku.“
Apa maksud kata-kata nya? Widya tak pernah merasa setakut ini ketika mendengar pernyataan seseorang. Jadi Lia memang memiliki hubungan erat dengan Yuna ataukah Lia memang Yuna? Namun, bukankah gadis itu sudah meninggal dunia?
"Lihat saja, sekembali nya di Pulau nanti aku akan mendapatkan Azri dan saat itu terjadi, bersiap-siaplah bagi mu untuk enyah dari hidup nya."
Nada suara Lia dingin dan penuh ancaman. Widya menatap nya nanar dengan mulut mengatup rapat. Sebelum ia mengeluarkan kata-kata nya pintu lift berdenting dan Bella keluar dari dalam lift dengan setumpuk berkas di tangan nya. Gadis itu menaikkan alis nya sebelah melihat si gadis sombong berdiri di samping Widya.
"Harap kamu tidak melupakan kata-kata ku, bagaimana pun, kamu hanya akan di sisi nya untuk sementara," kata Lia manis lalu memakai kacamata hitam nya dengan tenang. Ia melewati Bella untuk masuk ke dalam lift.
"Rubah itu...." Bella mendelik tajam. Melihat Widya pucat pasi sudah pasti gadis bernama Lia Fernandez itu sudah mengatakan sesuatu yang buruk pada sahabat nya.
Bahkan ketika Lia sudah lenyap dari hadapan nya, Widya masih merasakan sekujur tubuh nya bergetar.
Lia adalah Yuna? Oh Tuhan, itu tidak mungkin. Tidak!
"Widya, kamu tidak apa-apa? Apakah rubah tadi mengatakan sesuatu pada mu tadi?"
Bella cemas melihat Widya pucat seperti baru saja divonis hukuman gantung. Ia menoleh pada pintu lift yang tertutup seolah ingin memelototi seseorang yang baru saja masuk ke sana.
"Sudah ku duga dia memang nenek sihir!" maki nya kesal. Meskipun Widya tidak mengatakan apa pun, Bella tahu Lia-lah penyebab nya. "Jangan hiraukan kata-kata nya. Anggap saja seperti gonggo*ngan an*jing tetangga sebelah."
Jangan di hiraukan! Widya mengutuk kata-kata itu dalam hati. Seandai nya Bella tahu bahwa kata-kata Lia tidak bisa di abaikan begitu saja. Gadis itu baru saja memberitahu nya fakta yang mengejutkan. Jawaban atas semua pertanyaan dan ketakutan nya selama ini.
Tak di sangka ternyata Lia memang Yuna yang di kabarkan telah meninggal dunia.
*Bersambung ....
What are you think about Lia and Yuna?
__ADS_1