Menikahi Bad Boy

Menikahi Bad Boy
Part 39


__ADS_3

Playlist : Really (BLACKPINK)


"Bagai mana tidur kalian?"


Widya menoleh ketika Ki Bum berta nya di sela sarapan. Mereka memang sengaja menempati satu meja besar yang cukup di tempati oleh sepuluh orang.


"Menyenang kan," sahut Bobby yang langsung di sambut embusan napas malas oleh teman-teman nya. Mereka cukup tahu maksud dari menyenang kan versi Bobby.


Widya menatap Bobby dan Hera sedikit iri. Mereka begitu mesra meskipun baru saja bertunangan. Obrolan berlanjut pada topik yang sama sekali tidak terduga oleh Widya.


"Kapan kalian berencana memberi kami keponakan?"


Widya terperanjat, lantas menoleh pada Jhors. Ia tahu pertanyaan itu di arahkan pada nya. Siapa lagi pasangan yang sudah menikah di antara mereka selain Azri dan diri nya. Ia menoleh pada Azri yang tetap santai menikmati makanan nya.


"Kami tidak bisa memastikan kapan," ucap Widya dengan ketenangan yang dibuat-buat.


"Oi Zri, kamu melakukan nya dengan benar, bukan?" sahut Ryan lalu terkekeh.


Azri melayangkan tatapan kesal nya pada pria itu.


"Tentu saja Bodoh! Itu jelas keahlian ku!“


Yang lain nya tertawa sementara Widya sungguh malu. Teman-teman Azri sama sekali tidak tahu bahwa suami nya itu belum menyentuh nya sama sekali. Apa reaksi mereka seandai nya mereka tahu hal itu? Dari sudut mata nya, ia bisa melihat tatapan tajam Marleen pada nya. Ada apa dengan gadis itu? Seharus nya ia yang merasa tersinggung atas obrolan tak senonoh ini.


Setelah acara sarapan, mereka semua berpencar melakukan kegiatan masing-masing. Sejauh ini Widya harus melapangkan dada karena Azri tidak sedikitpun berniat meninggalkan nya atau pun mengajak Marleen berbicara.


"Aku ingin belanja. Siapa yang ingin ikut bersamaku?" tanya Mar leen. "Ku dengar ada pusat perbelanjaan yang terkenal di sekitar sini.“


"Aku, aku!" seru Bella semangat.


Widya tahu bahwa Bella suka sekali dengan jenis kegiatan bernama shopping. Ia juga tidak mungkin ikut dengan pasangan Bobby-Hera, mereka ada rencana berjemur di pantai. la juga tidak berniat ikut pasangan Ki Bum-Selena, mereka sudah menghilang sejak tadi untuk mencoba berselancar di ombak yang terkenal bagus untuk berselancar.

__ADS_1


Karena itu ia memilih ikut bersama Bella dan Marleen berbelanja. Jhors tidak ikut karena dia lebih memilih berselancar bersama Ki Bum. Alhasil hanya lima orang yang pergi ke area shopping tak jauh dari resort.


Ryan menarik Bella masuk ke toko aksesoris yang ada di sebelah kafe terbuka. Kini tinggal Mar leen, Azri, dan Widya saja.


"Kamu ingin ke mana?" Marleen berta nya pada Azri.


Widya memberengut tidak suka pada Marleen yang mencoba menarik perhatian suami nya. la ingin sekali menarik Azri ke dekat nya. Namun, harga diri konyol nya mencegahnya bertindak seperti istri pencemburu.


"Kamu ingin ke mana?“


Azri justru mengalihkan pertanyaan itu pada Widya. Gadis itu terkejut ketika Azri tiba-tiba menatap nya. Bingung harus menjawab apa, tangan nya asal menunjuk tempat.


"Dasar nakal," desis Azri membuat Widya meringis saat sadar bahwa toko yang di tunjuk nya adalah toko yang menjual pakaian dalam wanita.


"Ayo!"


Tanpa aba-aba Azri menarik Widya pergi ke sana. Marleen menganga terkejut menyaksikan adegan itu tepat di depan mata nya sendiri. Ia tidak percaya Azri akan pergi tanpa bertanya pada nya lagi. Pria itu bahkan tidak mengajak nya sama sekali. Dengan dongkol ia mengekor di belakang mereka.


Azri menatap keseluruhan isi toko dengan mata berbinar. Mungkin akan bagus jika ia melihat Widya memakai salah satu dari baju-baju seksi itu. Tidak salah jika seorang suami mendambakan istri nya mengenakan pakaian seksi, bukan?


Namun, seperti nya Widya tidak akan mau begitu saja jika ia menyuruh nya memakai itu. Tunggu dulu, bukankah Widya masih memiliki tantangan yang harus dijawab nya?


"Widya," panggil Azri antusias. Gadis itu menoleh. "Tiba-tiba aku teringat tantangan kita. Aku belum balas menantang mu sejak aku berhasil menjawab tantangan di trainning waktu itu."


Widya terperanjat. "Harus sekarang? Di tempat ini?" ujar nya dengan mata mengedar ke sekeliling.


"Kamu sudah kalah. Kamu harus menepati janji.“


Dalam hati Widya mengerang penuh penyesalan karena sudah terjebak permainan licik Azri—yang di cetuskan oleh diri nya sendiri. Seharus nya ia tahu Azri tidak akan mudah terkalah kan begitu saja dalam taruhan apa pun. Bagai mana bisa ia ceroboh menerima taruhan bodoh jika pada akhir nya ia kalah telak?


"Baiklah, apa tantangan mu?" tanya Widya pasrah sambil menatap Azri yang berdiri di depan nya.

__ADS_1


Pria itu tampak mengedarkan pandangan nya ke setiap sudut toko baju yang mereka kunjungi sekarang. Widya hanya berdoa dalam hati semoga tantangan yang diberikan Azri tidak harus menjatuh kan harga diri nya.


Azri menelusuri setiap produk di toko untuk menemukan apa yang kira-kira pantas untuk di jadikan tantangan. Ia sangat senang memikirkan berbagai macam cara untuk membuat gadis ini bertekuk lutut kalah. Pandangan nya tertubruk pada bagian rak yang memajang berbagai macam bikini model menantang.


That's it! Tentu saja, di daerah pantai begini pasti banyak toko yang menjual bikini. Terlebih pantai adalah tempat terbaik untuk berjemur.


"Bikini itu ...," ucap Azri menunjuk kumpulan bikini.


Widya membelalakkan mata nya kaget. Ia menatap ngeri berbagai macam bikini aneka warna dan model yang terpajang di rak itu. Belum sempat ia kabur Azri sudah menarik nya ke sana.


"Apa yang harus ku lakukan dengan benda ini?" tanya Widya sambil menatap takut bikini yang kini ada di depan muka nya.


"Kamu harus pakai bikini ini saat kita berjemur di pantai nanti. Itulah tantangan yang harus kamu penuhi!"


Azri menyerahkan sebuah bikini berwarna kuning cerah dengan motif bunga kecil. Widya memekik rendah saat benda itu mendarat di telapak tangan nya.


"Kamu gila!" desis Widya tajam dan pelan, mencoba menjaga nada suara agar tidak terkesan seperti sedang berteriak. “Di pantai akan banyak orang yang melihat ku! Itu memalukan!"


Senyuman Azri melebar. "So? Kamu tak perlu merasa cemas, di pantai akan ada banyak wanita yang memakai bikini. Kamu pikir penampilan mu akan menarik perhatian? Di sini pemandangan seperti itu sudah biasa."


"Aku tetap harus memakai ini? Bisakah dengan pakaian renang model one piece?" mohon Widya. Kali ini ia berharap Azri bermurah hati.


Namun, rupa nya sekali iblis tetap iblis, seringaian puas Azri semakin menguar jelas.


"Apakah kamu juga berbelas kasih saat mempermalukan ku di acara training waktu itu? Tidak. Lagi pula kapan lagi aku bisa melihat tubuh papan mu dalam balutan bikini itu."


Tu-tubuh papan! Widya megap-megap ingin protes, tetapi kembali mengatupkan bibir nya. Apa tubuh nya memang terlihat tak berlekuk di mata pria itu?


Setelah nya Azri pergi dengan tawa yang menghiasi bibir nya.


Widya menatap bikini berwarna kuning di tangan nya dengan perasaan ragu, sangat ragu. Sesekali ia mendesah menyesali keputusan nya sendiri menerima tantangan dari Azri, si raja licik a.k.a suami nya sendiri. Namun, harus diapakan, nasi sudah menjadi bubur. Lebih baik memakai nya daripada harus mendapat ledekan tajam dari mulut iblis nya.

__ADS_1


***


__ADS_2