Menikahi Bad Boy

Menikahi Bad Boy
Part 98


__ADS_3

Azri meminta bantuan teman-temannya untuk mencari informasi apa pun yang bisa ia gunakan untuk melawan GN Group. Ia bahkan sudah berencana menjalin kerja sama dengan sebuah perusahaan dari Amerika. Ia pernah bertemu dengan pimpinannya ketika masih kuliah dahulu. Semoga saja dia bisa membantu. la yakin setidaknya ia bisa menyelamatkan sebagian perusahaan jika kerjasama itu berhasil. Untuk sisanya, ia akan mengambil kembali dari tangan GN Group perlahan-lahan.


Namun, Matthew bergerak lebih cepat. Anak-anak perusahaannya satu persatu diambil alih dan ketakutan ayahnya menjadi kenyataan. Pegawai-pegawai Pradipta Group dipecat dan digantikan oleh pegawai GN Group. Peristiwa PHK besar-besaran itu mengguncang perekonomian negara.


Telinganya sudah bosan dengan segala kritikan, hujatan, dan komentar pedas yang dilayangkan orang-orang. Mereka menganggap kejatuhan Pradipta Group karena ketidakmampuannya dalam memimpin. Pradipta Group bangkrut tepat setelah dirinya diangkat menjadi CEO. Beberapa dewan bahkan mencoba untuk melengserkannya dari kursi pimpinan Pradipta Group.


"Setelah mereka menginginkanku menjadi CEO, sekarang mereka ingin aku mundur?"


Azri memegang erat map berisi surat pernyataan dari dewan direksi. la mengembuskan napas berat lalu tertawa, "Jadi ini senjata terakhir yang digunakan Matthew untuk membuatku menyerah? Menjatuhkanku dari posisiku saat ini? Dia ingin merebut satu-satunya kekuasaan yang bisa kulakukan untuk menyelamatkan Pradipta Group."


Sungguh menggelikan. Azri tidak tahu kenapa ia tertawa. Ia hanya merasa Tuhan seperti ingin memberinya hukuman. Sikap keterlaluannya di masa lalu dibalas dengan kejam di masa kini. Ia kehilangan istrinya dan perusahaan yang dipercayakan ayahnya kepadanya.


"Menyerahlah."


Azri mengangkat kepalanya. Kenapa ia tidak terkejut melihat Lia Fernandez berdiri di depannya? Tentu saja, perusahaan ini bukan miliknya lagi. Tentu saja Lia bisa keluar masuk perusahaan ini tanpa perlu melewati bagian keamanan.


"Sekarang apa maumu?" Azri bertanya tanpa memandangnya.


Ekspresi Lia Fernandez begitu datar. Azri tak melihat bahwa sebenarnya Lia sedang menatapnya sedih. Dalam hati gadis itu bertanya-tanya, kenapa Azri tidak bisa melihat cinta di matanya?


"Kamu sudah jatuh. Masa kejayaan keluargamu telah berakhir. Berapa banyak lagi harta yang kamu miliki sekarang? Karena itu sebelum kamu hidup miskin, menyerahlah. Aku bisa mengembalikan segalanya padamu asal kamu bersedia menikah denganku."


"Beri aku satu alasan kuat kenapa aku harus melakukannya." Azri membalasnya dengan pertanyaan.


Lia menggigit bibir bagian dalam. "Kamu tidak mengenal ayahmu? Kurasa dia tidak akan mau memberikan apa yang sudah dia raih dengan susah payah begitu saja hanya untuk memenuhi keinginan putrinya."


"Ayahku akan melakukannya. Karena dia sangat mencintaiku. Apa yang terjadi padamu saat ini pun karena aku. Dia melakukannya untukku."


Bukannya takut Azri justru tertawa, "Kurasa kamu salah paham, Lia.“


Lia menaikkan alisnya. Tak mengerti. "Kupikir saat ini kamu tengah dimanfaatkan olehnya."


"Jangan bercanda. Ayahku tidak seperti ayahmu!"

__ADS_1


Azri bangkit sambil mengangkat bahunya. "Bagaimana Ayah kita bisa berbeda? Mereka sama-sama lebih mementingkan bisnis dibandingkan keluarganya. Apa yang terjadi jika ternyata kamu memang dimanfaatkan olehnya?"


"Kamu tidak mengenal ayahku!" Lia tidak suka topik pembicaraan ini. Jiwanya terguncang.


Kenapa Azri tiba-tiba membelokkan pembicaraan pada topik yang ia benci? Lia tidak suka orang-orang mengatakan bahwa ayahnya hanya memanfaatkan anak-anaknya untuk memperluas bisnis, sama seperti ketika ayahnya memanfaatkan kakaknya-Rendra untuk mengambil alih perusahaan milik keluarga Marleen.


Azri menyeringai, ia berhasil memukul sisi sensitif gadis itu. "Well, aku memang tidak tahu bagaimana ayahmu. Tapi aku bisa menebak bagaimana karakternya saat dia menjelaskan segalanya padaku tempo hari. Kamu tahu, ayahmu adalah seseorang yang pintar memanipulasi orang lain. Percayalah."


Lia menggertakkan gigi. "Aku tidak akan percaya." Ia memalingkan wajah. "Jangan kira hal itu bisa mengalihkanku dari pembicaraan kita. Aku tetap mengajukan pernikahan sebagai solusi dari masalah ini."


"Kamu belum menjawab pertanyaanku, Lia," balas Azri tajam.


Lia tersentak, hatinya bergetar. Ia tidak tahu apa pantas jika ia mengatakannya pada Azri? Ia menoleh pada pria itu. “Apa kamu akan bersedia jika kukatakan aku ingin kamu menikah denganku karena aku mencintaimu?"


Azri membeku mendengarnya. Lia menyukainya? Menyukainya?! Sorot mata rapuh gadis itu entah mengapa kembali mengingatkannya pada Yuna ketika pertama kali Azri melihatnya menangis. la menggelengkan kepala berusaha menepis ingatannya tentang Yuna karena detik berikutnya ia justru teringat pada Widya. Jantungnya langsung menabrak dadanya.


Astaga, bagaimana bisa ia melupakan Widya? Wanita itu dan bayi yang dikandungnya!


Lia merasa semakin rapuh melihat Azri mengabaikannya. Pria ini tidak mencintainya. Dalam hati dan pikirannya sudah tertulis nama wanita lain. Apakah masih ada tempat untuk dirinya?


Azri betul-betul telah menancapkan pisau di hati Lia. Gadis itu mengangguk. "Aku penasaran apa kamu masih menolakku jika sesuatu terjadi pada ayahmu."


Apa? Azri belum sempat memprotes karena ponsel dalam saku jasnya bergetar. Ia melirik layar yang memunculkan nomor tak dikenal. Azri melirik Lia yang tampak tenang lalu mengangkat benda berisik itu.


"Halo."


"Tuan Muda--" Suara pelayannya bergetar ketakutan. Azri terkesiap. "Tuan Besar dilarikan ke rumah sakit setelah jatuh dari tangga."


"Apa kamu bilang?" Azri memekik. Senyum misterius Lia melebar. "Baik, aku akan ke sana secepatnya." Ia buru-buru memasukkan ponsel ke dalam saku jasnya, membereskan berkas-berkas penting ke dalam tasnya agar ia bisa pergi ke rumah sakit.


"Sepertinya terjadi hal gawat."


Seluruh gerakan Azri terhenti. Ia menjatuhkan map ke atas meja dengan keras lalu melirik Lia, "Aku tidak tahu kejadian ini karena dirimu atau bukan, tetapi aku benar-benar tidak akan memaafkanmu jika sampai terjadi sesuatu pada nyawa ayahku."

__ADS_1


Lia mengangkat bahu. “Kupikir kamu membencinya."


"Sebenci apa pun aku padanya dia tetap ayahku. Sekarang pergilah!" Azri menyabet tas kerjanya lalu pergi meninggalkan Lia sendirian. Gadis itu tersenyum sinis.


"Aku yakin setelah ini kamu akan berlutut memintaku untuk menikahimu."


***


Widya segera mencari tempat persembunyian ketika ia melihat Azri memasuki lobi rumah sakit yang sama. Pria itu berlari dengan wajah panik. Tentu saja, ia sendiri terkejut ketika mendapat telepon dari kepala pelayan Keluarga Pradipta bahwa Ayah mertuanya dilarikan ke rumah sakit. Ia mengatakan pada kepala pelayan itu agar tidak memberitahu Azri bahwa dia meneleponnya.


Sial, kenapa ia bisa lupa bahwa Azri juga akan ke sana menemui ayahnya? Bagaimana ini? Widya terlanjur berada di rumah sakit. Haruskah ia pergi lagi? Sebenarnya ia membenci tempat semacam rumah sakit. Namun, ia harus kemari. Ia hanya ingin melihat bagaimana keadaan ayah mertuanya itu.


Azri tidak menyadari keberadaan Widya. Ia melangkahkan kakinya secepat mungkin melesat melewati beberapa orang di lobi rumah sakit hingga akhirnya tiba di ruang rawat ayahnya.


"Ayah!"


"Tenanglah, dokter sedang di dalam untuk mengobati ayahmu." Bibi Swari ada di sana untuk mencegah Azri menerobos ruang rawat.


Azri melayangkan pandangannya pada kepala pelayan yang tampak sangat khawatir. "Jelaskan padaku apa yang sebenarnya terjadi?"


Pelayan tua itu terkejut dengan bentakan Azri. "Maafkan saya, Tuan Muda. Saya tidak ada di tempat saat beliau terjatuh. Saya menemukan Tuan Besar sudah terkapar di ujung tangga dalam kondisi tak sadarkan diri."


Azri mengumpat lalu menin ju tembok di sampingnya. "Sial!" teriaknya diiringi pekikan kaget bibinya dan pelayannya.


Azri tidak ingin mencurigai siapa pun, tetapi kenapa ia merasa kecelakaan yang menimpa ayahnya berhubungan dengan ucapan Lia? Apa gadis itu yang membuat ayahnya jatuh dari tangga? la benar-benar ingin menghancurkan sesuatu dengan kedua tangannya. Sampai kapan kekacauan ini berlangsung? Azri bersandar pada tembok lalu perlahan-lahan ambruk di lantai. Ia meremas rambutnya frustrasi.


"Widya, aku membutuhkanmu di sini.“


Dari jauh, Widya menutup mulutnya mencoba bertahan dari air mata yang mendesak keluar. la sedih melihat Azri menderita. Ia tidak tega melihat pria yang dicintainya tak berdaya. Ia ingin ada di sana, di samping Azri. Memeluk pria itu dan membisikkan kata-kata yang bisa menenangkan hatinya. Namun, ia tidak bisa melakukan semua itu.


Dia ada di sana, berjarak beberapa meter saja, tetapi ia tidak bisa melakukannya.


Widya menangis. Ia baru tahu betapa sakitnya saat tidak bisa menyentuh orang yang kamu cintai ketika dia ada tepat di depan matamu.

__ADS_1


...B.E.R.S.A.M.B.U.N.G ...


__ADS_2