
Azri memang mendambakan bercumbu seperti ini, tetapi bukan berarti ia mau melakukan nya dengan siapa saja. Meskipun dahulu mungkin ia akan dengan senang hati menyambut Mar leen, tetapi sekarang ia tidak bisa merasakan gairah yang sama seperti dahulu.
Tubuh nya memang merespon, tetapi perasaan nya tidak bisa di bohongi sama sekali. Bahkan saat Mar leen mencoba membangkitkan ga**ah nya dengan me**umbu bibir nya sementara tangan gadis itu mencoba membuka celana nya. la tersentak, lantas mendorong tubuh Marleen dari atas nya.
"Marleen!"
Azri membelalak pada gadis yang kini duduk di samping nya. Ia beringsut bangkit sembari membenarkan baju nya yang disingkap oleh tangan Marleen. Gadis itu tidak menampakkan raut penyesalan sama sekali, justru ekspresi memohonlah yang tampak di wajah cantik nya. Berbanding terbalik dengan raut kesal Azri.
"Pakai baju mu kembali," titah Azri dingin seraya memaling kan wajah. Ia bangkit.
Masa-masa penuh siksaan itu sudah berlalu. la sudah berhasil menghalau siksaan obat perangsang yang mempengaruhi nya sebelum Marleen berbuat jauh. Ia memberi salah satu kemeja nya pada Marleen.
Marleen menatap pria itu kecewa, ia mendesah pasrah lalu memakai kaus yang di serahkan Azri.
"Kamu sudah berubah."
Azri diam di dekat jendela, ia lebih memilih memandang taman di luar sana dibandingkan menatap wajah cantik Mar leen.
"Berubah apa maksud mu?”
"Kamu berubah menjadi pria membosankan. Ini pasti karena pengaruh pola pikir istri mu yang ketinggalan jaman itu!"
Azri mencengkeram erat gordin di samping nya begitu kalimat penghinaan terhadap Widya meluncur mulus dari mulut Marleen. Ia memang tidak suka jika seseorang mengatakan diri nya terpengaruh, tetapi ia lebih tidak menerima jika ada orang yang menghina istri nya.
"Marleen, jika kamu pergi sekarang mungkin aku masih bisa memaafkan mu."
Mulut gadis itu bungkam dalam beberapa detik. Dia terbelalak. Marleen tidak pernah melihat Azri bersikap sedingin ini pada nya. Apa kata-kata nya keterlaluan? Biasanya Azri justru gembira jika mendengar seseorang mengatai istri nya. Widya Lovarza kolot, Widya Lovarza membosankan, atau apalah. Dia tidak pernah marah seperti ini.
"Kau tidak bisa mengusir ku seperti ini,” ujar Mar leen. Azri membalikkan badan ke arah nya.
"Siapa bilang aku tidak bisa?"
"Ku mohon dengarkan aku dulu."
Marleen terperanjat kaget saat Azri tiba-tiba saja menarik nya keluar kamar. la tidak bisa mempercayai apa yang sedang terjadi. Azri akan mengusir nya? Dia pria pertama yang berani mengusirnya!
"Dengar, aku tidak suka bersikap kasar pada wanita jadi ku mohon pergi dari sini. Biarkan aku menenangkan diri. Dengan begitu mungkin kamu masih bisa ku maafkan!"
"Tidak!" Mar leen melingkarkan tangan nya di pinggang pria itu tepat ketika pintu kamar terbuka dan Widya Lovarza masuk.
Widya terpaku melihat pemandangan itu. la bahkan belum melepaskan tangan nya dari kenop pintu.
Azri menampakkan ekspresi terkejut nya, ia sadar mata Widya kini tertuju pada tangan Marleen yang melingkar di pinggang nya. Serta merta Azri melepas tangan itu.
"Apa yang kalian lakukan?" tanya Widya curiga.
__ADS_1
"Tidak ada," ujar Azri, tidak terlihat panik atau pun merasa bersalah. Ia tidak bisa memperlihatkan ekspresi nya pada Widya, tidak di depan Mar leen.
Widya hanya mengangguk singkat sebelum mengalihkan perhatian nya pada wajah cantik Marleen.
"Lalu apa yang kamu lakukan di sini? Kenapa kamu menggunakan kemeja Azri?"
"Apa lagi kami baru saja-“
"Marleen berhenti!" tegas Azri.
"Kenapa?" tanya Marleen, seakan-akan tidak terima atas perkataan Azri. Ia ingin membuat Widya marah.
"Kita tidak melakukan apa pun!" tekan Azri sedikit marah. Ia tidak akan membiarkan Widya, istri nya salah paham.
"Apa maksud mu Zri, kita baru saja—"
Aliran kata-kata Marleen terhenti karena tangan nya yang terulur hendak menyentuh Azri di genggam erat oleh Widya. Entah sejak kapan gadis itu sudah berdiri di depan nya dengan wajah tenang. Marleen membelalakkan mata. Ia mencoba menarik tangan nya, tetapi tidak bisa, cengkeraman Widya begitu erat.
"Apa kamu tidak merasa malu pergi ke kamar pria yang sudah memiliki istri dan memakai pakaiannya?" Widya berta nya dengan nada tegas, seperti yang sering di ucapkan nya saat melatih para pekerja baru.
Azri tertegun melihat aksi itu. Menurut nya, Widya Lovarza sekarang sangatlah mempesona. Ia tidak pernah melihat gadis yang berani mendebat Marleen seperti ini.
"Aku hanya ingin mengambil kembali apa yang menjadi milik ku dahulu, jadi apa hak mu melarang ku?" balas Mar leen santai.
"Apa katamu?" Marleen tidak habis pikir.
Marleen terkejut mendengar serentetan kata yang terucap dari mulut Widya. Lebih parahnya lagi ia tidak memiliki jawaban untuk membalas kata-kata itu.
"Jadi maafkan aku Nona Marleen, kamu harus keluar dari tempat ini. Kamu tidak berhak ada di sini," kata Widya.
Tepat setelah kalimat itu berakhir Widya membawa Marleen keluar kamar nya lalu menutup pintu kamar nya tepat di depan wajah Marleen.
"Hei!"
Marleen berteriak tidak terima. Ini pertama kali nya ia diperlakukan serendah ini.
Widya Lovarza, berani nya kamu mempermalukan ku di hadapan Azri! la menatap tajam pintu di depan nya seolah ingin membuat nya berlubang. Sadar perbuatan nya menarik perhatian orang-orang yang berlalu-lalang di lorong, ia menarik diri dari tempat itu sambil mendengkus jengkel.
"Wow."
Azri hanya bisa memberikan komentar itu melihat kejadian tak terduga yang istri nya lakukan. Ia berani bertaruh sekarang wajah Marleen pasti merah padam seperti kepiting rebus. Wanita itu tidak pernah di perlakukan seperti ini. Seumur hidup nya dia selalu diperlakukan layak nya putri. Pasti Mar leen mengalami syok berat karena ini pertama kali nya dia menerima perlakuan tak terhormat.
Widya sebenar nya sangat gugup saat berhadapan dengan Marleen tadi. Ia menyandarkan punggung nya pada daun pintu untuk menormalkan kembali detak jantung nya. Setelah tenang, kini perhatian nya tertuju pada Azri yang berdiri di depan nya dengan ekspresi takjub.
“Aku tidak melakukan apa pun dengan Marleen,” ucap nya meyakinkan Widya.
__ADS_1
Entah mengapa Azri tidak suka dengan tatapan menyelidik istri nya sekarang. Ia memang enggan menjelaskan apa pun, tetapi ia merasa Widya pasti akan salah paham dengan kejadian tadi.
Widya menatap nya dalam sejenak lalu mengangguk. "Aku tahu."
"Kamu tahu?" Azri terhenyak kaget.
Widya berjalan melewati nya lalu berhenti di saat mata nya menangkap kondisi ranjang yang lebih berantakan dibandingkan sebelum nya. Ia pun teringat, bukankah Mar leen memakai kemeja Azri dan mereka sedang berpelukan ketika diri nya tiba di sini? Mungkinkah Azri dan Marleen baru saja berhubungan badan di ranjang itu?
Sesuatu menjengit, mencekik leher Widya. Tenggorokan nya tercekat membayangkan hal itu. Bella benar, ia memang tidak akan pernah bisa merelakan suami nya bercinta dengan wanita lain. Yang lebih menyakitkan dari semuanya adalah karena ia tidak bisa memberikan kebutuhan itu pada Azri. Mereka ditakdirkan menikah untuk bercerai. Karena itu ia tidak mungkin ....
Air mata yang sudah siap jatuh itu tiba-tiba kering kembali saat melihat gaun yang ia lihat dalam koper Azri itu ada di depan nya. Ia mendongak menatap Azri yang mengulurkan gaun itu.
"Ini untuk mu. Aku ingin memberikan gaun ini untuk mu."
Widya terpaku. Pikiran nya tentang perjanjian, Marleen, dan cinta nya semua buyar berkat senyum Azri. Di atas segala nya, sekarang ia merasa gembira karena ternyata gaun yang ia temukan di dalam koper Azri benar-benar untuk nya. Ia sempat mengira ini adalah gaun untuk Marleen.
"Terima kasih." Widya mengambil nya dengan tangan bergetar. Ia ingin menangis, tetapi tangan Azri menarik nya masuk ke pelukan nya.
Widya sempat kesulitan bernapas saat tangan kekar itu melingkari tubuh nya. Namun, semua nya menjadi lebih lancar begitu ia mendengar suara lembut Azri di telinga nya.
"Terima kasih karena sudah kembali."
Hanya satu kalimat sederhana saja berhasil membuat intensitas debaran jantung gadis itu bertalu cepat dan semakin cepat. Seluruh panca inderanya terkunci. Tubuh nya pun membeku dalam pelukan Azri.
"Kenapa tiba-tiba jadi melankolis seperti ini?“
Azri tersenyum kecil mendengar komentar gugup Widya. Ia sendiri tidak paham mengapa ia bisa bersikap seperti ini. Hanya saja ia sungguh lega melihat Widya kembali. Setidak nya ia bisa selamat dari jerat yang akan memerangkap nya pada hal yang tidak di kehendaki.
"Kenapa? Aneh melihat ku seperti ini?" Pelukan Azri semakin mengerat.
"Tidak."
Azri terbiasa memeluk wanita, tetapi entah kenapa rasa nya berbeda saat ia memeluk Widya. la merasa nyaman dan enggan sekali melepaskan tubuh hangat Widya dalam dekapan nya. Ia tidak tahu bagai mana ia bisa merasa seperti itu, tetapi ia pasti akan merasa kehilangan jika hal itu di lakukan nya.
"Apa aku boleh meminta mu melakukan sesuatu?"
"Apa?" Widya tidak pernah merasa segugup ini ketika seseorang mengajukan permintaan pada nya. Namun, mata tajam dan hitam milik Azri justru membuat jantung nya berdebar dan hati nya gelisah.
"Cium aku."
Betapa terkejut nya Widya ketika kalimat itu masuk ke telinga nya. Mata nya mengerjap beberapa kali mencoba mencari maksud tersembunyi Azri. Namun, yang ditemukan oleh nya justru sorot penuh permohonan. Hati nya bergeser, sekarang dalam otak nya sedang terjadi pertentangan antara mengiyakan atau menolak permintaan itu.
Bersambung ....
Apa iyah, Widya mau nurutin permintaan Azri?
__ADS_1