
Widya Lovarza duduk berhadapan dengan Rendra Fernandez di ruangan itu. Sebuah ruang privat di bagian dalam sebuah restoran sushi. Ketegangan menggantung di udara ketika keduanya saling diam. Gerakan Rendra lah yang membuat keadaan sedikit mencair.
"Jadi ...." Pria itu mengambil berkas yang Widya tempatkan di hadapannya. "Kamu datang untuk mengambil kembali aset yang sudah kami sita?"
Widya mengangguk dengan tenang.
"Kenapa? Pradipta Group memiliki sejumlah utang yang harus dilunasi."
"Ya, jika utang-ulang itu timbul karena sebab yang semestinya. Tetapi bagaimana jika muncul karena trik licik yang dilakukan oleh Presdir Matthew Fernandez, ayahmu."
Rendra membelalakkan mata. "Aku tidak akan percaya padamu jika kamu tidak menunjukkanku bukti kuat."
"Aku tidak akan datang jika aku tidak memilikinya."
Widya menyerahkan beberapa map ke depan Rendra. Setiap map itu berisi berkas bukti bahwa Presdir GN melancarkan cara-cara licik agar Pradipta Group berutang pada GN Group. Rendra memeriksanya dengan teliti. Widya penasaran bagaimana reaksi pria ini setelah membacanya. Ia sempat menebak dia akan bereaksi sama seperti Lia, histeris lalu membantah. Namun, dugaannya salah.
Rendra hanya menghela napas dan mengeluarkan komentar yang membuat Widya terperangah.
"Sudah kuduga hal ini terjadi.“ ia meletakkan map itu lalu memandang Widya dengan mata lelahnya, "Perusahaan sebesar Pradipta Group tidak mungkin sampai memiliki utang menumpuk yang tak sanggup dibayar. Aku sempat mengira ayahku berada di balik semua ini."
"Kamu mencurigai ayahmu sendiri." Widya tak percaya.
"Aku mengenal ayahku lebih dari siapapun, Nyonya Pradipta," balas Rendra tenang. "Dia adalah orang paling berambisi di dunia. Apa pun bisa dilakukannya untuk mendapatkan apa yang dia inginkan atau, menyingkirkan sesuatu yang tidak dia inginkan."
Widya tertegun. Pernyataan pria itu tidak diduganya sama sekali. Ia sudah menyiapkan beberapa skenario untuk mendebat Rendra seandainya dia membantah atau jika perlu, ia akan melaporkan ini ke kepolisian. Namun, melihat Rendra begitu memahami dan berjiwa besar, Widya merasa sedikit bersalah sudah menduganya yang tidak-tidak. Ia sempat berpikir seluruh keluarga Fernandez sama saja, sama kejamnya, sama congkaknya, sama ambisiusnya. Namun, Rendra Fernandez, pria ini berbeda.
"Sungguh, Nyonya Pradipta. Kamu membuatku tidak bisa berkata-kata. Meskipun aku sudah menduganya, aku tetap terkejut mengetahui ayahku melakukan semua ini.“
"Kelicikannya tidak hanya terjadi pada Pradipta Group saja. Tetapi juga pada beberapa perusahaan yang sekarang sudah bangkrut seperti YT Foundation dan AR Financial Group."
Ekspresi Rendra meredup, “Aku tahu, AR Financial Group adalah perusahaan milik keluarga Marleen."
"Marleen?" Widya terkesiap. "Apa karena itu kalian bertunangan?"
Menyadari ekspresi Rendra berubah sedih Widya lekas meminta maaf. "Maafkan aku, aku tidak bermaksud menyinggungmu."
Pria itu tertawa, "Tidak, sayangnya apa yang kamu katakan benar sekali. Ayahku menggunakanku untuk mendapatkan perusahaan itu. Sama seperti dia menggunakan Lia untuk menjatuhkan Pradipta Group."
Mereka tenggelam dalam pikiran masing-masing selama beberapa saat. Widya sadar suasana ini tidak seharusnya terjadi segera meminta maaf. "Ini salahku, aku tidak seharusnya membahas ini."
"Kamu benar, topik pembicaraan ini tidak berguna. Jadi apa yang kamu inginkan dariku selain membantumu mendapatkan kembali aset milik Pradipta Group yang kami sita?"
__ADS_1
Kamu serius ingin membantuku? Kurasa kesulitan terbesarnya adalah meyakinkan ayahmu untuk melakukannya. Dia sudah bersusah payah mendapatkan perusahaan itu, kurasa memintanya kembali tidak akan mudah."
Rendra hanya tersenyum. "Aku akan melakukan sesuatu dengan itu." la terdiam memandang Widya. "Sejujurnya aku sangat mengagumi semangatmu, Widya. Kamu memiliki keberanian besar untuk menghadapi lawan-lawanmu demi mendapatkan keadilan. Apa semua bukti ini kamu yang mengumpulkannya?"
"Aku ingin berkata iya." Widya tersenyum menyesal, "Akan tetapi, semua bukti itu adalah hasil penyelidikan Azri. Semuanya tersimpan dalam tas yang selalu ia bawa ke mana-mana. Dia akan menyerahkan semua bukti ini pada polisi tetapi ayahmu bergerak lebih dulu, mengumumkan berita penyitaan itu di media sehingga perhatian Azri teralih dan akhirnya, dia mengalami kecelakaan itu."
Tiba-tiba Widya merasa sesak. "Seharusnya dia yang membawa ini padamu."
"Aku turut bersedih dengan kecelakaan itu. Ku harap dia cepat sadar."
"I hope so." Widya menunduk. Sedih rasanya mengetahui Azri masih terlelap seperti saat terakhir kali ia mengunjunginya.
"Aku tidak bisa berjanji akan meluluskan permintaanmu, Widya," ucap Rendra menyela lamunan Widya. "Tetapi aku akan mencari cara menghadapi ayahku."
Widya menundukkan kepala sebagai permohonan pada Rendra. "Aku hanya ingin mendapatkan kembali apa yang telah dicuri dari suamiku dan keluarganya. Kuharap kalian bisa mengembalikan sesuatu yang bukan hak milik kalian." la menundukkan kepala sekali lagi lalu bangkit setelah membereskan berkas-berkas yang ia bawa. Widya tidak bisa lega karena pertarungannya belum berakhir hari ini.
Setelah kepergian Widya, Rendra merenung. Menatap tangannya yang bersandar di atas meja. Jari-jarinya bergetar. Sebenarnya ia hanya berpura-pura tadi. Ia sungguh terkejut, kaget luar biasa mengetahui ayahnya sekeji itu. Dari betapa lihainya cara ayahnya menjatuhkan Pradipta Group dan juga AR Finance, besar kemungkinan ayahnya akan melakukan hal yang sama padanya jika ia berniat menantangnya. Ia harus mencari cara untuk menghadapi ayahnya.
***
Kali ini pun tidak berubah saat Widya mengunjungi Azri untuk yang ke dua kalinya. Ketika semua orang sudah terlelap, ia masuk menjenguknya. Tak ada hal lain yang dilakukan Widya selain duduk memandangi suaminya.
"El. Apa kabar? Kamu merindukanku?" Hanya itu yang bisa ia tanyakan. Widya mendekap tangan Azri, mengeluskannya ke pipinya sendiri.
"Aku tidak tahu kamu akan marah atau tidak, tetapi aku mencuri dokumen bukti itu dari tasmu dan memperlihatkannya pada Rendra. Kupikir tindakanku tepat karena Rendra berbeda dengan Lia dan Presdir GN. Aku berharap dia bisa membantu kita." Widya terdiam memandangi Azri. "Setelah semua ini selesai, harapanku yang lain adalah. Aku memintamu untuk bangun, please."
Dikecupnya tangan Azri. Meskipun sudah berjanji tidak akan menangis, malam itu Widya tetap mengingkarinya.
***
Sementara di tempat lain, seseorang terpuruk dalam kegelapan di tengah ruang makan di rumahnya. Dokter melarangnya mengkonsumsi alkohol, Lia melanggarnya malam itu. la meneguk alkohol yang bisa membunuh dirinya kapan saja. Ia tidak peduli karena ia memang mengharapkan kematian. Tak pernah ia begitu ingin meninggalkan dunia ini dibandingkan malam ini.
Segala yang ia kenal di dunia ini telah mengkhianatinya. Ia sudah ditipu oleh ayahnya sendiri. Ayahnya yang membuat dirinya nampak mengerikan di depan Azri, pria yang ia cintai. Jika saja ia tidak mencoba menghancurkan hidup seseorang, apa ia memiliki kesempatan untuk mendapatkan cinta pria itu?
Lia tertawa lalu meletakkan gelas minumannya dengan keras di atas meja. Tidak mungkin, meskipun ia berbuat seribu kebaikan Azri El Pradipta tidak akan memalingkan pandangannya dari Widya Lovarza. Dia sungguh gadis yang beruntung.
Ya, bahkan Yuna pun beruntung pernah mendapatkan cinta Azri.
Marleen pun sama beruntungnya karena pernah bersama pria itu.
Sementara dirinya hanya mendapatkan kebencian dari Azri El Pradipta.
__ADS_1
Semua yang terjadi pada dirinya dikarenakan ayahnya yang serakah. Ayah yang sangat ia sanjung tinggi yang ternyata memanfaatkan dirinya. Membunuh satu-satunya harapan yang ia miliki untuk hidup, dan menempatkannya pada kehidupan yang dipenuhi oleh dendam.
Lia tidak bisa membiarkan ini terjadi sesuai harapan Ayahnya. Ia menggenggam erat gelas berisi minuman kemerahan itu. Rahangnya mengeras. Jika ayahnya telah menggunakan dirinya demi kepentingan GN Group, maka ia sendiri yang akan menghancurkan perusahaan itu. Ayahnya pantas merasakan kekecewaan yang ia rasakan saat ini.
"Alkohol tidak baik untuk tubuhmu, sister."
Kehadiran Rendra tidak disadari sama sekali oleh Lia. Ia mengerjap dari lamunannya ketika pria itu memindahkan gelas dari tangannya ke tempat lain. "Apa yang membuatmu terpuruk seperti ini? Kurasa bukan karena masalah sepele."
Lia menanggapi kata-kata kakaknya dengan dingin. "Ayah hanya memanfaatkanku selama ini."
"Wow, kenapa aku tidak terkejut mendengarnya?" sahut Rendra datar. “Jadi itu alasanmu meminum racun ini?"
"Ayah membuatku kecewa. Kematian Yuna, surat Yuna, kebencianku, semua sudah menjadi bagian dari rencananya. Bagaimana bisa aku tidak menyadarinya? Apa aku sebodoh itu sehingga ayah bisa memanfaatkanku dengan mudah?"
Pandangannya menerawang kosong ke depan. Setitik air mata jatuh. "Pria paruh baya itu sudah merenggut Yuna dariku. Membuat diriku dibenci pria yang kucintai dan menghancurkan hidupku.“
Rendra menghela napas lalu duduk di samping adiknya. "Aku menyesal karena kamu harus mengetahui hal ini. Aku tahu kamu pasti akan sangat sangat kecewa." Ia sudah tahu hal ini semenjak ia sadar dirinya telah dimanfaatkan oleh ayahnya untuk menjatuhkan perusahaan keluarga Marleen.
Tak dipungkiri Lia pun akan mendapatkan perlakuan serupa.
"Karena itu yang kurasakan saat aku mengetahuinya."
Lia menatapnya luar biasa bingung.b"Bagaimana bisa Kakak tetap tenang seperti ini setelah tahu Kakak hanya boneka bagi Ayah kita? Apa Kakak tidak merasa marah, dendam sampai ingin menghancurkan apa yang sudah dicapai Ayah setelah dia memanfaatkanmu? Lalu Marleen, kau dipaksa bertunangan dengannya, kamu berpura-pura berkata mencintainya, tapi kamu tidak benar-benar mencintainya, bukankah begitu?"
Lia heran dengan perangai kakaknya. Sejak kecil kakaknya tidak pernah membantah apa pun yang diperintahkan Ayah mereka. Dia begitu baik dan penyayang. Sekarang ia merasa ayahnya begitu kejam karena sudah menipu lelaki sebaik kakaknya.
"Sejujurnya aku marah, sangat marah. Menjadi boneka tali yang dikendalikan ayah sendiri, aku bisa gila setiap kali memikirkannya. Tepatnya setelah Ayah berhasil mendapatkan apa yang ia mau. Aku merasa sangat bersalah pada keluarga Marleen. Setiap kali aku melihat wajah gadis itu, yang teringat olehku adalah kenyataan bahwa aku yang menjadi penghancur hidup keluarganya. Astaga, bagaimana dia bisa tahan terjebak untuk hidup selamanya bersama pria yang dibencinya?"
Rendra tersenyum pahit. Lia menatapnya iba.
"Kak, maafkan aku.“
"Tapi," pria itu memotong. "Ada satu hal yang tidak disadari ayah kita. Kenyataan bahwa aku juga memanfaatkannya untuk mendapatkan Marleen."
"Apa?"
Lia terkejut bukan main. Jadi, kakaknya ini benar-benar mencintai Marleen? la kira perlakuan manis kakaknya pada Marleen selama ini hanya formalitas saja. Siapa yang menyangka.
"Aku mencintai gadis itu. Lebih tepatnya aku tergila-gila padanya. Aku bahkan rela dimanfaatkan oleh ayahku sendiri demi mendapatkannya. Aku tidak peduli seandainya Marleen membenciku. Aku hanya berharap apa yang coba kulakukan untuknya saat ini bisa membuatnya bahagia dan rasa bencinya padaku hilang. Meskipun itu tidak mungkin."
Mendengar pengakuan kakaknya tidak membuat hati Lia bahagia. Ia justru merasa semakin menderita. Ia tidak seberuntung kakaknya. Sejak awal ia berniat untuk balas dendam, bukan untuk mencuri hati orang yang dicintainya. Apa yang dirasakan hatinya saat ini tidak akan terobati kecuali ia menghancurkan ambisi ayahnya.
__ADS_1
Lia menangis dengan bibir tersenyum. "Yang benar saja, gadis itu benar-benar telah membunuhku. Aku rasa tidak ada gunanya lagi aku hidup."
Ekspresi Rendra menegang. "Lia, apa yang akan kamu lakukan?" ia panik saat melihat Lia bergegas pergi. “Lia!"