Menikahi Bad Boy

Menikahi Bad Boy
Part 30


__ADS_3

Pikiran Widya kacau balau. Ia terus memegang bibir nya sendiri yang masih ternoda bibir pria lain. Ia sangat menyesali diri mengapa bisa seceroboh itu membiarkan diri nya—tanpa sengaja—berkhianat pada suami nya.


Meskipun Azri tidak mencintai nya, tetapi setidak nya ia harus menghormati status pria itu sebagai suami nya. Dan ia membiarkan harga diri nya sendiri jatuh di depan Azri? Bagaimana bisa ia memaafkan diri nya sendiri?


Widya kembali ke kamar nya sambil membanting pintu. Tanpa melihat ke sekeliling ia melesat menuju kamar mandi. Ia mengucurkan air dari keran wastafel lalu membasuh bibir nya sendiri dengan air sampai ia yakin tidak ada lagi sisa-sisa ciuman Adam tadi.


Widya menatap pantulan diri nya sendiri dari cermin. Biasa nya ia akan melihat sosok nya yang penuh semangat dan ambisius, tetapi sekarang ia justru melihat pantulan gadis berwajah suram, frustrasi, dan tidak bahagia.


Tangan nya terangkat memegang wajah nya yang terlihat berbeda 180 derajat itu. la memang tidak tahu rasa nya bahagia sejak pernikahan ini. Ia juga tidak mengerti dengan alasan nya meminta Adam pura-pura mencium nya. Memang apa untung nya melihat Azri cemburu? Pria itu tidak mencintai nya.


"Apa yang kau lakukan Widya?" lirih nya pedih dengan tangan memijat pelipis nya.


Bagaimana bisa ia mencoba untuk mengubah Azri menjadi lebih baik jika pada kenyataan nya ia justru tersiksa oleh perasaan yang tidak ia kenali. Jika ia memang tersiksa dengan pernikahan ini kenapa ia tidak mencoba membuat Azri membenci nya? Dengan begitu Azri mungkin akan menceraikan nya. Kenapa ia mencoba membuat Azri cemburu pada nya atau menyadari keberadaan nya?


Semua kontradiksi ini benar-benar membuat pikiran nya runyam.


Tugasmu adalah mengubah Azri menjadi lebih baik, bukan membuat nya menyukaimu.


Sejak awal niatmu memang untuk memberikan pelajaran pada nya, bukan untuk membahagiakan nya.


Tidak ada alasan bagimu menyukai Azri. Pria itu bahkan tidak menganggapmu ada. Cukup membuat Azri menjadi pria pantas menjadi pemimpin, setelah itu kau bisa meninggalkan nya.


Widya terus-menerus mengulang kalimat itu agar ia bisa lebih tegar. Namun, ketika ia teringat pada senyum bahagia Azri saat di depan makam ibu nya, wajah sedih Azri saat merenung sendirian, tatapan sinis nya, cara pria itu berbicara angkuh, dan semua cara Azri menyentuh diri nya membuat seluruh kepercayaan diri nya buyar.


Dan yang paling parah adalah saat ia teringat bahwa ia telah membiarkan pria selain Azri menyentuh nya, rasa bersalah yang teramat sangat begitu menjengit, membuat hati nya perih dan tenaga nya hilang. Ada apa dengan diri nya?


"Apa yang sudah kulakukan?“ lirih nya sekali lagi, penuh dengan rasa bersalah dan penyesalan.


Padahal ini baru pertama kali terjadi mengapa ia bisa merasa sangat bersalah seperti ini? Padahal Azri sudah berkali-kali melakukan kontak fisik dengan wanita lain. Pria itu tidak pernah merasa bersalah, harus nya ia bisa seperti Azri. Namun, kenapa ia justru merasa tercekik? Ini aneh sekali.


"Kamu bodoh sekali Widya," umpat nya pada diri sendiri.


"Ya, kamu memang bodoh."


Sekujur tubuh Widya membeku mendengar seseorang berkata tepat di belakang nya. Ia membalikkan badan secepat kilat dan menemukan Azri bersandar pada ambang pintu kamar mandi. Mata nya membelalak lebar. Yang membuat nya semakin tegang adalah ekspresi pria itu.


Widya kembali dihujani sorot yang dingin, sinis, dan penuh ketidaksukaan di wajah Azri.


"Bagaimana kau bisa masuk kemari?" Widya justru menanyakan hal yang tidak penting karena ia terlalu panik dan bingung.


Azri menatap nya datar. Sungguh ekspresi dingin yang membuat Widya merasa seperti sedang disidang karena tertangkap melakukan kejahatan yang tak termaafkan.


"Bagaimana rasa nya dicium pria itu?" Azri berta nya pedas, jelas ingin menyudutkan Widya.

__ADS_1


Widya mengalihkan pandangan nya ke arah lain lalu berjalan melewati Azri agar ia bisa keluar dari kamar mandi. Ia tahu sebuah kesalahan besar jika mendekati pria itu di saat amarah nya terpancing, dia bisa saja melakukan sesuatu pada nya. Namun, Widya tetap saja terkejut saat Azri menarik tangan nya dan detik berikut nya ia sudah terperangkap dalam pelukan nya.


Pikiran Widya seketika macet. Ia tidak sanggup menggerakkan bibir nya untuk mengucapkan apa pun yang bisa membuat Azri melepaskan nya. Ia terpaku pada mata hitam pekat yang jernih tepat di depan mata nya. Mata tajam milik Azri.


"Aku kira kamu gadis lugu yang berbeda dengan kebanyakan gadis yang kutemui. Dugaan ku salah, kau sama saja seperti mereka," lirih Azri, jari-jari nya yang panjang itu mengusap lembut bibir bawah Widya.


Setelah berkata dengan nada menyinggung itu Azri melepaskan pelukan nya. Sejenak Widya menghela napas lega, tetapi merasa kehilangan di saat yang sama.


Widya menatap punggung Azri dengan sejuta pertanyaan ingin sekali ia tumpahkan. Namun, ia tidak tahu memulainya darimana. Kegaguan ini sama sekali bukan diri nya. Ia benci karena kehilangan kemampuan berkomunikasi nya di saat ia paling membutuhkan nya.


"Itu ... tadi ...."


Azri tidak mau mendengar. Dengan kasar ia menyela.


"Jangan besar kepala hanya karena kamu sedikit berhasil mengendalikanku. Mulai sekarang kita jalani hidup masing-masing. Aku dengan kehidupanku dan kamu ... silakan kembali pada mantan kekasih mu. Anggap saja pernikahan ini tidak pernah ada."


Widya tidak membalas karena sekarang ia justru merasa bersalah. Ia merasa inilah kekalahan yang dialami nya. Ia sempat berhasil membuat Azri menjadi pria penurut, tetapi sekarang apa yang terjadi? Azri menjadi lebih menyeramkan dari sebelum nya. Ia salah, cara nya membuat Azri cemburu rupa nya salah.


"Aku pergi. Trainning ini selesai untuk ku.“


Azri melangkah menuju pintu. Widya tidak bisa membiarkan Azri pergi begitu saja. Ia menutup pintu kembali saat Azri membuka nya.


"Kamu tidak bisa pergi sebelum pelatihan selesai." Widya berhasil mengatakan nya dengan ekspresi tenang yang dibuat-buat.


"Kamu tidak bisa mengaturku lagi.“ Azri meraih kenop pintu, tetapi Widya memegang erat kenop pintu itu. Mata nya melotot menatap Azri.


Tuhan, apa yang harus dilakukan nya? Kepercayaan diri nya sekarang sudah runtuh oleh tatapan menghujam Azri.


"Besok adalah sesi evaluasi dan uji kelayakan calon pegawai baru, kamu harus ikut atau jika tidak kamu tidak akan pernah lulus menjadi GM."


"Siapa peduli. Aku memang tidak mau posisi itu." Azri mulai menyingkirkan tubuh nya dan Widya bersikukuh tidak akan membiarkan Azri pergi dari tempat ini, kedua nya sama-sama keras kepala.


"Kamu hanya beralasan. Sebenarnya kamu tidak mau karena kamu tidak mampu, bukan?!" seru Widya membuat gerakan Azri terhenti. Pria itu menatap nya tersinggung.


"Aku tidak mau karena aku tidak berminat."


Widya sedikit senang karena ia berhasil menarik perhatian Azri kembali.


"Bagaimana jika aku memberimu tantangan?" la terpaksa melakukan cara ini karena jika tidak, Azri akan kabur dari trainning ini dan ia dikritik habis-habisan oleh orang-orang. Azri tidak boleh pergi atau Mahendra akan kecewa pada nya.


Azri berhenti memasang pose angkuh, marah, dan tidak peduli. Dengan alis nya yang terangkat sebelah, ia menatap Widya sarkastis. Niat nya terbaca dengan jelas, tetapi ia tetap mendengarkan. Ia tidak pernah lari dari tantangan. Selain itu, ini kesempatan bagi nya balas dendam pada gadis ini.


"Apa tantanganmu?“

__ADS_1


Salah, Widya tahu menantang Azri adalah keputusan yang keliru. Namun, ia tidak mungkin menarik kembali kata-kata yang sudah terlanjur diucap. Ia menelan ludah nya gugup sebelum berkata.


"Aku menantang mu lulus dari sesi evaluasi dan uji kelayakan besok. Kamu harus berhasil membuat para trainer memberimu nilai tinggi."


"Lalu imbalan apa yang akan kudapat jika aku berhasil? Tantangan tidak akan seru jika tidak ada bayarannya."


Widya memutar otak nya mencari imbalan yang pantas jika Azri berhasil menjawab tantangan nya.


"Kamu boleh balas menantangku!" ucap Widya.


Dalam hati ia mengumpat, kamu gila Widya? Bagaimana jika Azri memberi nya tantangan yang mustahil?


Azri mengusap dag unya dengan pose berpikir. Ini kesempatan emas untuk nya membalas dendam. Gadis ini pasti sudah putus asa sampai menantang nya seperti ini. Momen bagus untuk membuat gadis ini bertekuk lutut karena jika menang nanti, Azri akan membuat nya melakukan sesuatu yang akan membuat Widya menyesal sudah menantang nya. Senyum licik nya tersungging.


"Baik, aku terima tantangan mu!"


Widya mendesah lega meskipun di sisi lain ia merasa takut. Lebih baik Azri menyiksa nya nanti daripada pria ini gagal mengikuti trainning.


"Dan sebagai tambahan, aku ingin tidur di sini malam ini."


"Apa?" Belum hilang rasa leganya Azri kembali membuat nya terkejut. "Kenapa?"


"Aku sesak tidur di kamar yang sempit dan berdesakan."


"Tapi di sini tempat tidur nya hanya satu.“


"Lalu?"


Widya menatap nya setengah memohon. "Kita tidak akan tidur satu ranjang, bukan?"


"Kamu tenang saja gadis manis." Azri mengusap bibir nya, mengakibatkan efek yang luar biasa bagi Widya. "Karena kamu yang akan tidur di sofa."


***


Malam nya Widya menatap sebal Azri yang tidur nyaman di ranjang besar itu sementara diri nya meringkuk di atas sofa. Seperti nya neraka bagi nya sudah dimulai sekarang.


Azri tidak memperlihatkan belas kasihan sama sekali padahal saat mereka pertama kali bermalam bersama setelah menikah, Azri memindahkan nya ke kamar karena tidak tega. Namun, kenapa pria ini sekarang justru membiarkan nya tidur di sofa sementara diri nya nyaman di atas ranjang empuk?


"Ah, menyesal aku memberi nya tantangan," gerutu Widya sambil menatap langit-langit. la bergidig sendiri membayangkan tantangan apa yang akan Azri berikan untuk nya seandai nya pria itu berhasil besok. Ia yakin pasti seratus persen berhasil. Ia tahu tipe pria seperti Azri akan berhasil mencapai apa pun jika sudah terobsesi


"Aish, semua nya salah Adam!" pekik Widya tak terima kenyataan dan akhir nya memilih menyalahkan orang lain.


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2