
"Bella, apa pendapat mu tentang seorang suami yang menyukai wanita lain?"
Widya bertanya gugup di sela jam kerja. Bella menoleh dari layar komputer yang sedang di pelototi nya. Karena Widya sudah tidak ada pekerjaan, ia mengunjungi Bella di ruangan nya.
"Hanya ada dua kemungkinan," jawabnya cepat. "Yang pertama mungkin dia memang mencintai istri nya sejak awal, atau yang tidak kedua karena istrinya sudah tidak ada rasa lagi, karena itu dia mencari kesenangan di tempat lain." Bella diam sejenak. "Tapi yang mana pun sama-sama tipe pria brengsek."
Widya diam seribu bahasa. Ia merasa cemas sendiri. Bagai mana pun perlakuan Azri tidak ada sangkut paut nya sama sekali dengan nya. Namun, kenapa sekarang hal itu menjadi penting?
"Jangan katakan suami mu menyukai gadis lain?"
"Hah, apa? Tidak ... Tidak ...." Widya menepis nya karena Bella tidak tahu apa pun tentang hubungan Azri dan Mar leen.
"Kukira," desah Bella lega. Ia melanjutkan kembali pada pekerjaan mengetik sesuatu di layar komputer nya.
Widya tanpa sengaja melihat gelang asing melingkar di pergelangan tangan Bella.
"Kamu beli gelang baru?"
Bella menoleh ke arah gelang rantai perak yang ada di tangan kiri nya. "Oh ini? Ryan yang memberikan nya," ucap nya dengan pipi merona.
"Kalian pacaran?"
"Tidak."
"Lalu kenapa dia memberi mu ini?" Kini giliran Widya yang menggoda nya.
"Aku tidak tahu, tapi sepertinya dia menyukai ku."
Widya menyipit curiga. "Kamu yang menyukai nya." Ia menatap penuh arti. Ia kembali melanjutkan karena Bella tidak kunjung berkomentar, mungkin malu. “Aku serius Bella. Jangan mudah menerima pemberian pria jika dia tidak memiliki maksud baik pada mu. Ryan itu sahabat Azri. Mereka mungkin saja sama, pintar merayu wanita. Dia pasti menginginkan sesuatu dari mu karena kamu itu cantik."
__ADS_1
"Jangan samakan Ryan dengan lelaki nakal macam suami mu."
"Bella!"
Bella tertawa, "Aku bercanda."
Widya menghela napas. Sebenar nya ia merasa iri pada Bella karena sahabat nya itu bisa dengan mudah mendapatkan perhatian dari seorang pria tanpa usaha yang keras. Sementara Widya, meski sudah memiliki suami, tetapi pria itu tidak pernah memperhatikan nya. Widya bukan mengharapkan perhatian, tetapi tidak ada salah nya jika seorang istri ingin dianggap ada oleh suami nya sendiri, kan?
***
Saat makan siang tiba, Widya melihat mobil Ferarri hitam Azri keluar meninggalkan kantor. Mau ke mana dia? Jangan-jangan pria itu pergi untuk menemui Marleen! Bagaimana ini? Seharus nya tadi ia tidak menolak ajakan makan siang Azri.
Berkat itu, Widya tidak bisa berkonsentrasi pada rapat yang dihadiri nya. Pikiran nya terus tertuju pada Azri dan siapa yang ditemui nya.
***
Azri kembali ke apartemen hampir menjelang tengah malam dengan tangan menenteng sebuah kotak berwarna putih. Ia mengedarkan pandangan ke sekeliling. Widya pasti sudah tidur jika dilihat dari lampu kamar nya yang sudah padam. Lebih baik ia tidak membangunkan nya. Besok saja ia memberitahu hal hebat yang di bawa nya hari ini.
"Widya pasti akan berterima kasih pada ku," gumamnya yakin, merasa pilihan nya tidaklah salah. Lebih baik sekarang ia mengepak pakaian saja untuk perjalanan besok.
***
"Widya, wake up."
Widya merasa ada yang menyuruh nya bangun saat ia masih berselancar di alam mimpi. Tak hanya itu, sebuah tangan pun bergerak menyingkirkan rambut dari tengkuk nya lalu disusul oleh ciuman lembut mendarat di sana. Bahu nya mengendik refleks dan tanpa sadar ia melenguh.
"Widya, bangun.“ Suara lembut itu kembali menggelitik telinga nya. Akhir nya Widya memaksa kan diri membuka mata nya. Percuma saja dilanjut kan jika tidur nya sudah terusik seperti ini.
"Siapa yang meng-"
__ADS_1
Kalimat itu menggantung saja di mulut nya karena ketika Widya membalik kan badan, Azri sedang duduk di sisi ranjang nya. Serta merta ia bangkit panik sambil memekik.
"Apa yang kamu lakukan di sini?"
"Membangunkan mu," ujar Azri seraya bangkit. "Berkemaslah, setengah jam lagi kita akan pergi."
"Pergi ke mana? Sekarang hari libur."
Azri hanya mengeluar kan senyum manis. "Pergi honeymoon, Sayang."
"Honey—apa?!" Widya kaget bukan main. Tadi apa kata nya? Pergi bulan madu? Yang benar saja!
"Pegang, itu tiket pesawat.“
Azri menyerah kan dua lembar tiket pesawat pada Widya. Mereka kini sudah berada di dalam mobil, bersiap untuk berangkat. Banyak sekali hal yang ingin Widya pertanya kan pada Azri, tetapi ia bingung memulai nya dari mana.
"Apa maksud nya semua ini?“ cecar nya tak mengerti, tetapi tetap mengambil tiket itu juga.
Entah karena senang atau bingung, Widya tidak bisa menolak sama sekali ketika pria itu membantu nya mengemas akomodasi secara mendadak.
"Kita akan pergi berlibur." Azri menjawab singkat lalu menjalan kan mobil nya.
"Berlibur? Aku tidak ingat kita pernah menyusun rencana semacam itu. Lagipula apa maksud mu dengan berbulan madu?"
Azri tertawa kemudian, membuat Widya semakin tidak paham di mana letak kelucuan nya.
"Kamu menganggap itu serius? Kita memang akan berlibur. Tapi tidak hanya berdua. Teman-teman ku yang lain juga ikut serta.“
"Benarkah?" Widya mendesah lega karena ia tidak bisa membayang kan apa yang akan terjadi seandai nya hanya berdua dengan Azri di tempat yang sangat asing.
__ADS_1
Bersambung ....