Menikahi Bad Boy

Menikahi Bad Boy
Dilema


__ADS_3

"Ayo naik, kita akan berangkat bersama.“


Widya terkejut melihat Azri membuka pintu mobil untuk nya saat ia tiba di depan apartement untuk pergi ke halte bus terdekat. Pria itu dengan baik hati menawarkan tumpangan ke kantor, padahal sebelum nya dia tak pernah peduli bagaimana Widya pergi ke kantor.


"Jika kamu memaksa." Widya juga berpikir cara ini lebih efisien. Ia bisa menghemat waktu serta pengeluaran.


Selama perjalanan, kedua nya sama-sama diam. Azri fokus mengemudikan mobil sementara Widya sibuk dengan pikiran nya sendiri. Kebaikan Azri pagi ini tidak boleh membuat nya lupa pada tujuan pernikahan ini. Ia tidak harus ingat pada bayaran yang sudah diterima nya untuk tugas yang harus ia rampungkan selama menikah dengan Azri.


Kenangan hari itu pun kembali terlintas dalam benak nya.


Hari itu, di dalam ruangan CEO, Widya duduk berhadapan dengan sang pemilik ruangan. Di atas meja yang memisah kan antara diri nya dan Mahendra tergeletak selembar surat.


"Silakan di tandatangani, ini adalah Surat Pernyataan Pindah-Tangan Aset Pradipta Group. Ini akan di sahkan oleh pengacara ku. Perlu diingat, setelah kamu menandatangani surat pernyataan ini, kamu resmi terikat oleh semua persyaratan yang tercantum dalam surat kontrak."


Widya hanya mematung menatap lembaran kertas yang tersaji di hadapan nya. Hati nurani nya berkecamuk antara menolak atau menyetujui nya. Ia seperti kucing yang terjepit di antara celah batu cadas. Jika ia menuruti hati nya untuk menolak permintaan seumur hidup Mahendra, ia akan mati terjepit, tetapi jika ia mengikuti akal sehat nya, ia memang bebas, tetapi sebuah tali pengekang mengikat di leher nya, membuat nya tidak bisa bergerak dengan bebas.


"Ku harap kamu tidak mengecewakan ku," kata Mahendra dengan suara prihatin yang membuat hati lembut Widya tak tega menolak.


Mahendra menghela napas, dengan sikap layaknya para orang tua yang mengkhawatirkan anak-anak nya. “Azri adalah satu-satu nya putra ku. Seperti apa pun tabiat nya, dia adalah harta ku yang paling berharga. Aku tidak ingin dia terus terjebak di jalan yang salah. Jika Azri terus bersikap seperti sekarang, aku akan terus mengkhawatir kan masa depan nanti. Aku tidak mungkin terus duduk di kursi pimpinan selama nya. Dialah harapan ku. Azri adalah masa depan bagi ku dan keluarga ku.“


Hati terdalam Widya tersentuh mendengar kata-kata yang di ucap kan dengan penuh perasaan dan tulus itu. Ia terenyuh, hanyut dalam perasaan iba dan simpati. Mahendra sungguh-sungguh mencemas kan Azri dan rencana itu tercetus karena harapan tinggi yang di gantung kan pria paruh itu terhadap putra nya.


Entah mengapa sosok itu membuat nya teringat pada mendiang ayah nya yang sudah lama tutup usia.


Segala keraguan yang sejak tadi mengungkung hati Widya seolah lenyap. Kini tersisa keyakinan bahwa ia harus membantu Mahendra mengembalikan putra nya pada jalur yang benar. Ia tidak ragu lagi.


"Anda tenang saja, Tuan. Aku yakin aku bisa membantu mu memperbaiki sikap buruk Azri meskipun itu akan memakan waktu,“ ujar Widya yakin.


Mahendra tersenyum gembira. “Aku tahu aku sudah meminta bantuan pada orang yang tepat. Sekarang silakan baca baik-baik setiap kata dalam kontrak itu lalu kamu tanda tangani."


Widya mengambil surat kontrak itu lalu membaca nya dengan cermat. Untuk persyaratan yang lain ia tidak masalah, tetapi ketika mata nya terhenti pada poin persyaratan nomor tiga, tiba-tiba saja ia merasa jantung nya berhenti berdetak. Dengan rona ragu ia mengangkat kepala nya menatap Mahendra.


"Anu, Tuan. Apa maksud persyaratan nomor tiga? Aku di haruskan bercerai dengan putra Anda jika putra Anda sudah pantas menjadi pimpinan Pradipta Group?"


Widya ragu apakah ia siap mendengar penjelasan Mahendra atas pertanyaan nya, tetapi ia sangat penasaran. Karena itu ia sudah menyiapkan hati jikalau jawaban yang di dengar nya adalah berita terburuk seumur hidup.


"Bukankah sudah jelas ku katakan sejak awal? Aku meminta mu sebagai mentor untuk mengembalikan Azri menjadi pribadi yang baik. Pernikahan adalah langkah awal untuk membatasi tingkah buruk putra ku. Dia tidak akan mencurigai rencana ini jika mentor nya adalah istri nya sendiri. Aku yakin kamu pasti bisa melakukan nya."


Widya tercengang. Apa maksud nya? Bagaimana bisa ada orang di dunia ini yang menganggap enteng ikatan sakral pernikahan, seperti kesepakatan yang hanya disahkan oleh tanda tangan? Mahendra sama sekali tidak tahu bahwa pernikahan bagi seorang Widya Lovarza berarti pengabdian seumur hidup nya. Jika ia menikah berarti ia akan menyerahkan separuh hidup nya untuk suami nya. Bagaimana bisa pernikahan di samakan dengan perjanjian bisnis? Detik itu Widya merasa seperti habis ditipu.


"Bagaimana? Kujamin kamu tidak akan rugi. Aku bertanggung jawab terhadap diri mu selama berstatus sebagai menantu keluarga Pradipta. Kelak setelah kamu bercerai dengan putra ku pun, hidup mu akan terjamin. Kamu hanya perlu bertahan hingga akhir. Tapi kusarankan agar kamu tidak menggunakan perasaan mu selama mendidik putra ku."


Widya merasa mulut nya kelu dan otak nya mati. Ia tidak tahu harus berkata apa lagi. Ia menatap surat perjanjian di tangan nya lalu kembali menatap wajah memohon Mahendra. Setiap helaan napas nya terasa berat dan ia tidak memiliki pilihan lain selain menerima nya.


"Baiklah."


Terdengar embusan napas lega saat kata itu terucap. Widya mengambil pena yang diberikan Mahendra pada nya lalu membubuh kan tanda tangan di atas surat itu.


Saat itu Widya sudah bertekad, ia melakukan ini untuk membantu Mahendra. Ia akan menganggap pria itu seperti ayah nya sendiri. la juga berjanji tidak akan menggunakan perasaan nya dalam menjalankan tugas nya.


Hanya saja, di setiap misi mana pun selalu ada variabel tidak terduga. Begitu pun yang di alami Widya. Ia tidak tahu bahwa Azri El Pradipta adalah tipikal pria dengan karakter yang bisa membuat nya jatuh cinta dengan mudah. Seandai nya ia tahu hal itu sejak awal, ia tidak akan pernah menandatangani perjanjian itu.


"Kenapa dengan wajah mu?"


Widya tertarik kembali ke dunia nyata setelah mendengar suara Azri menusuk telinga nya. Ia menoleh dan mendapati pria itu menatap nya heran. Widya segera memberikan polesan senyum di bibir nya. Dalam hati ia berharap Azri tidak menyadari kemelut dari raut wajah nya.

__ADS_1


"Tidak apa-apa."


"Kamu seperti seseorang yang sedang mencemaskan seisi dunia,” ujar Azri kali ini dengan nada cemas.


"Hanya perasaan mu saja."


"Oh, mungkin kamu hanya lelah setelah kejadian semalam."


Senyum simpul Azri tersemat, otomatis mengingatkan Widya kembali pada malam indah mereka beberapa jam lalu. Semburat merah tanpa permisi menghiasi kedua pipi putih nya. Ada apa ini? Kenapa ia tersipu?


Widya membiarkan Azri menggenggam tangannya ketika mereka berjalan berdua memasuki lobi perusahaan. Beberapa orang sempat terpana melihat kejadian itu, tetapi seperti nya Azri tidak peduli. Toh semua orang sudah tahu bahwa mereka adalah suami istri.


Tanpa Azri sadari, seiring dengan senyum tulus yang tersemat di bibir nya, kesedihan justru melingkupi setiap sudut hati Widya. la mencemaskan persoalan kontrak yang deadline-nya semakin hari semakin mendekat. Ia tidak tahu apakah akhir dari sandiwara ini akan gembira atau justru membuat nya terpuruk. Semua nya tergantung pada apa yang akan dilakukan Azri berikut nya.


Widya sungguh dilema setiap kali menatap wajah Azri yang semakin hari semakin ceria. la penasaran apa yang terjadi pada wajah itu seandai nya Azri tahu tentang kontrak nya dengan Ayah nya sendiri. Ia takut akan merusak senyum Azri.


"Sampai jumpa nanti."


Widya kembali tersadar dari lamunan nya ketika kecupan Azri mendarat di pipi nya. la cepat mendongak kan kepala demi menatap wajah Azri, terkejut dengan tingkah impulsif pria itu. Wajah gembira Azri justru membuat Widya sedikit sedih. Ia menatap nya begitu dalam.


"Apa kamu akan bekerja dengan baik untuk menuntaskan proyek ini?"


Azri merasa ada sesuatu yang aneh dari cara Widya menatap nya. Istri nya itu terlihat cemas, ragu, dan takut. Ada apa gerangan?


"Tentu saja. kenapa?"


Menyadari Azri menatap nya menyelidik, Widya secepat kilat menormalkan kembali ekspresi wajah nya. Ia menghiasi wajah nya dengan senyum cerah.


"Baguslah. Berjuanglah agar perusahaan ini lebih maju."


Azri sempat memandangi Widya selama beberapa saat dan hal itu berhasil membuat nya gugup-takut sandiwara nya terbongkar. Untunglah senyuman Azri berikut nya sedikit memberikan kelegaan.


Suasana terasa hening selama beberapa saat setelah Azri mengucapkan kalimat mengejutkan itu. Widya terpaku, terlebih pada mata hitam Azri yang menatap nya lurus. Ia ingin sekali mengabaikan nya, tetapi mata tajam yang menyorotkan binar penuh pengharapan itu tidak bisa membuat nya teralih pada hal lain. Hal itu berimbas pada intensitas debaran jantung nya yang semakin mengencang.


"Bukankah kamu berkata aku harus menjadi pria yang lebih bertanggung jawab baik untuk ku, atau pun keluarga ku kelak. Semua nya akan ku mulai dari sekarang."


Ucapan Azri itu membuat Widya semakin berharap. Bola matanya melebar dan perasaan asing yang menyenangkan menyusup seperti embun yang menyejukkan di pagi hari. Boleh kah ia mengartikan kata-kata Azri sebagai pengungkapan isi hati nya?


"Widya Lovarza." Azri tiba-tiba menggenggam kedua tangan nya. Widya mengerjapkan mata berkali-kali, kaget. Pria itu menatap nya lurus.


"Setelah semalam, aku sadar bahwa aku sangat membutuhkan mu," ungkap Azri tulus dan dalam. Nada suara nya yang rendah seperti zat yang membekukan sekujur tubuh nya dalam beberapa detik saja. Meskipun begitu Widya tidak bisa memungkiri hati nya sangat gembira.


Ku mohon katakan yang jelas, harap Widya dalam hati. Setidak nya jika kamu berkata tentang perasaan mu pada ku, aku tidak akan merasa menjual diri ku demi uang lagi.


Azri perlahan menarik diri nya mendekat mengikis jarak di antara mereka. Tatapan lekat itu tidak teralih sejak tadi dari pandangan mata nya.


"Widya Lovarza, aku menyukai mu."


Widya tidak tahu harus berkomentar apa mendengar pernyataan yang memang di nantikan nya sejak lama itu karena ia terlalu laget. Ia tidak menyangka akan mendengar nya sekarang. Ia belum menyiapkan hati sama sekali. Ia tidak yakin apakah masih bisa tetap berdiri tegak sementara rasa gembira terus meluap-luap dalam diri nya. Mata nya mulai mengabur dan ia memaksa kan diri menatap mata Azri.


"Sekarang aku paham alasan mengapa pria tua itu menginginkan ku menikahi mu."


Kali ini Widya terkesiap. Mendadak saja bayang-bayang ekspresi Mahendra saat memperingatkan nya tentang poin nomor tiga dalam kontark itu kembali terngiang. Rasa takut dan gelisah berbaur membuat pikiran nya pening. Namun, belaian tangan Azri kembali menjernihkan pikiran nya. Ia sadar sekarang Azri sedang mendekatkan wajah nya.


"Apa?" Widya berdebar-debar menantikan apa yang akan dilakukan Azri.

__ADS_1


"Kamu adalah gadis yang datang untuk mengajari ku arti lain dari mencintai."


Azri tersenyum hendak menggapai bibir merah Widya, tetapi ia mengurungkan niat nya saat sadar ada seseorang mendekat dari sudut mata nya. Ia memilih mengecup kening Widya saja.


"Kita bertemu saat makan siang nanti," bisik nya lalu pergi meninggalkan Widya yang berdebar kencang di tempat nya.


Widya menarik napas dalam-dalam setelah suami nya pergi. Azri sungguh pandai memporak-poranda kan hati nya. Setelah tadi ia dibuat kacau, takut, gelisah, dan cemas sekarang pria itu memberikan harapan dan kegugupan yang membuat nya ingin tersenyum seperti orang gila.


"Aku harus segera bekerja." Widya berbalik dan sekujur tubuh nya mendadak membatu saat sadar Mahendra tengah berdiri di depan nya dengan pandangan datar, ekspresi yang sering diperlihatkan pria paruh baya itu saat tahu pekerjaan tidak berjalan sesuai keinginan nya.


"Selamat pagi." Widya menundukkan kepala nya dalam-dalam. Sedikit takut dan cemas.


Entah kenapa akhir-akhir ini ia selalu paranoid setiap kali berpapasan dengan Mahendra. Mungkin karena ia takut sewaktu-waktu pria itu akan menyuruh nya bercerai dengan Azri karena tidak puas dengan cara kerja nya.


Mahendra melangkah mendekati nya. Suara ketukan sepatu pria itu terdengar seperti lonceng kematian bagi Widya. Ia berdiri kaku di tempat nya.


"Kuharap kamu tidak menggunakan perasaan mu," ucap nya membuat Widya yakin Ayah mertua nya itu melihat adegan tadi dan dia jelas tidak menyukai nya.


"Aku mengerti," cicit Widya.


"Aku meminta mu menjadi menantu keluarga Pradipta bukan untuk menarik perhatian putra ku, tetapi untuk membimbing nya. Jika kamu sampai terjebak dalam perasaan sesat seperti cinta, aku yakin kamu sendiri yang akan menyesal dan tersakiti," ucap nya dengan nada datar.


Widya hanya mengangguk tanpa sanggup menatap atasan sekaligus ayah dari suami nya itu.


"Jangan terlalu tegang. Aku tetap mengizinkan mu menikmati peran mu sebagai istri Azri, tapi ingat, jangan terlalu menghayati."


Meskipun cara berbicara Mahendra terdengar ringan dan santai, tetapi entah kenapa terasa begitu menusuk bagi Widya. Dada nya bertalu cepat, terasa seperti akan jatuh dari tempat nya.


'Aku tahu, aku hanya istri sementara Azri dan kebahagiaan ini hanya sementara. Namun, apakah aku tidak berhak tahu bagaimana rasanya dicintai seorang pria?'


Mahendra tidak tahu bahwa kini Widya sedang melanggar peringatan nya. Ia sangat menghayati peran nya sebagai istri Azri El Pradipta.


***


Azri merasa lucu sekali setiap kali ia melihat pipi istri nya merona malu kala ia menatap nya lama-seperti kali ini. Mereka sekarang sedang menghadiri rapat dengan beberapa petinggi perusahaan Pradipta Group. Widya yang mengambil tempat tepat di sebelah nya tampak salah tingkah dan berkali-kali menjatuhkan pena yang di genggam nya.


"Kenapa gugup Mrs Pradipta?" bisik Azri.


Widya gelagapan saat tahu Azri mencondongkan tubuh ke arah nya saat mengatakan nya.


"Kita sedang rapat, Pak GM. Seriuslah sedikit," balas nya dengan sikap professional.


Azri hanya mencibir halus karena tahu Widya sedang mati-matian menyembunyikan rasa gugup dan panik nya. Ia tidak peduli dengan tatapan beberapa orang yang ikut dalam rapat itu. Bagi nya, poros perhatian nya saat ini hanyalah Widya Lovarza. Bahkan pemateri yang sedang berkoar-koar di depan sana tidak menarik minat nya lagi. Ia lebih tertarik memperhatikan wajah Widya di banding kan layar berisi penuh laporan perkembangan penjualan Pradipta Group yang terpampang di depan sana.


la tertegun menatap wajah itu. Tipikal wajah yang menurut nya tidak begitu cantik, tetapi sangat menarik dipandang lama. Ia tidak pernah bosan menghabiskan waktu nya hanya menatap wajah itu, entah sejak kapan kebiasaan ini bermula.


"Tuan Pradipta, perhatikan ke depan," cicit Widya dengan pipi yang kembali merona kemerahan.


Azri terkekeh. Seperti nya sudah waktu nya ia berhenti menggoda Widya. "As your wish, sweetheart," sahut nya pelan lalu mengubah arah pandang nya ke depan sesuai permintaan istri nya.


Widya memang gugup dipandangi Azri, tetapi sebenar nya bukan itu alasan utama nya meminta Azri konsentrasi pada rapat itu, melainkan karena mata Mahendra terus mengawasi nya. Ia seperti objek penelitian yang terus di awasi di bawah mikroskop.


Pandangan Mahendra sejak tadi tidak fokus karena tertarik pada ulah putra nya yang terus menerus mengusik Widya. Ia memang gembira saat tahu akhir nya Azri tertarik untuk mengikuti rapat, tetapi ia tidak suka melihat putra nya itu berada di sana hanya untuk bermain-main. Azri tampak bahagia saat berhasil membuat Widya merasa malu.


Azri tidak boleh sampai jatuh cinta pada Widya, batin nya tegas. Aku akan menegaskan hal ini pada Widya sekali lagi.

__ADS_1


Bersambung ....


Kasihan juga Widya, punya banyak beban pikiran.


__ADS_2