Menikahi Bad Boy

Menikahi Bad Boy
Part 84


__ADS_3

Bulan bersinar terang di langit saat Widya menatap nya dengan sorot mata sendu. Menghirup udara segar tidak berhasil membuat hati nya sejuk. la tetap merasa sedih dan tidak di perlukan lagi. Setelah melihat betapa mudah nya Azri terpikat pada Lia, Widya merasa tak perlu lagi bagi nya tetap berada di dekat pria itu.


Sebenar nya, tanpa usaha sedikit pun Azri mudah sekali terpesona pada Lia. Kenapa gadis itu harus mirip dengan Yuna? Tahukah Mahendra tentang hal ini saat akan menjodohkan putra nya dengan putri Presdir GN?


Jika Widya pergi lalu bagaimana nasib anak yang di kandung nya? Akankah dia lahir dan tumbuh tanpa sosok seorang Ayah? Widya mengusap perut nya tanpa sadar. Pikiran itu membuat nya prihatin. Anak nya akan besar tanpa tahu bagaimana rasa nya memiliki seorang Ayah. Ia menarik napas hati nya kembali sakit. Widya kembali menatap langit lalu berdoa, dalam-dalam saat hati nya kembali sakit.


Tuhan lindungilah aku.


"Di sini kamu rupa nya. Aku mencarimu ke


mana-mana."


Suara Azri membuat Widya tersentak dari lamunan nya. Ia menoleh pada pria itu yang berdiri memandang nya penuh kelegaan. Sejak tadi ia memang diam di taman dekat dengan area parkir gedung itu. Tempat ini indah dan sepi.


Menatap Azri menimbulkan efek menyakitkan bagi Widya. Bayangan Azri membiarkan Lia bersandar di bahu nya terlintas kembali, membuat dada nya sesak. la segera memalingkan pandangan nya.


Azri membuang napas berat. Sikap dingin Widya cukup membuat nya sadar akan kesalahan nya. Ia perlahan menghampiri istri nya lalu duduk di tempat kosong di samping Widya.


"Kamu marah?" tanya nya lembut. Pertanyaan yang bodoh, batin Azri. Tentu saja kamu marah.


"Tidak." Widya menjawab terlalu cepat dan dingin.


"Kalau begitu bisakah kamu menatap ku?"


Widya tidak menjawab. Azri mengulurkan tangan menyentuh dagu nya. Sentuhan kecil itu menimbulkan getaran listrik statis yang cukup untuk membuat debaran jantung Widya mengencang. Ia mengerjapkan mata dan tak berdaya saat Azri menarik dagu nya agar menoleh dan ia langsung bertatapan dengan sorot mata tajam milik suami nya.


Pria itu tidak mengatakan apa pun, tetapi Widya tahu Azri sedang mencoba untuk meminta maaf pada nya.


"Aku minta maaf. Ulah ku sungguh tidak terpuji tadi. Seharus nya aku tidak membiarkan mu pergi sendiri."


"Lalu kenapa tidak menyusul ku?"


Azri langsung kehilangan kata-kata. la tidak tahu bagaimana menjelaskan perasaan aneh yang membuat nya tidak bisa menolak permintaan Lia. Widya tidak akan mengerti meskipun ia mengatakan nya.


"Kamu tahu tadi Lia tertidur. Dia kelelahan dan aku tidak tega membangunkan nya."


Widya mengangguk demi menghindari pandangan nya yang mulai mengabur. Ia tidak mau berdebat tentang hal ini lagi.


"Kamu mau memaafkan ku?" tanya Azri ragu. Kepala gadis itu mengangguk lagi.


"Iya, aku selalu memaafkan mu."


Agar terlihat meyakinkan, Widya memperlihatkan senyum hangat. Hal itu membuat Azri mendesah lega. Sungguh, beberapa detik yang lalu ia berpikir Widya akan marah besar. Namun, Widya tidak melakukan nya. Seharus nya ia tahu hal itu. Widya bukanlah tipikal gadis yang akan marah hanya karena salah paham kecil atau pun cemburu pada sesuatu yang sudah jelas tidak benar.


Azri memandang Widya kembali. Senyum indah nya masih tersemat di sana laksana air penyejuk dahaga. Ia tidak tahu apa yang terjadi jika ia tidak bisa melihat senyum itu lagi. Ia menarik tengkuk leher Widya agar bisa mengecup bibir nya sebagai tanda terima kasih.


Jantung Widya sudah tak terkendali meskipun Azri belum benar-benar mencium nya. Ketika bibir mereka bertemu, kemarahan Widya lenyap seketika. Ia menerima ciuman itu dengan senang hati. Ia menganggap ini sebagai obat untuk rasa sakit yang disembunyikan nya dari Azri. Ia sadar tidak ada guna nya marah atau pun atas tindakan Azri hari ini. Azri memang seharus nya memperlakukan Lia selembut itu.


Bukankah itu rencana nya sejak awal? Membuat Azri jatuh cinta pada Lia.

__ADS_1


Ketika Azri menjauhkan wajah nya, napas kedua nya sama-sama terengah. Mereka tertawa kecil menyadari mereka terlalu bersemangat saling ******* bibir sampai lupa untuk bernapas. Widya menyelami mata Azri yang berkilauan dengan kebahagiaan. Ia akan menyimpan memori indah ini untuk ia ingat di saat mereka telah berpisah nanti.


Berpisah. Hidup tanpa Azri.


Widya tidak tahu apa ia bisa melakukan nya. la tersentak sadar ketika sentuhan lembut ujung jari Azri menyentuh pipi nya.


"Apa yang kamu pikirkan?“


Mimik wajah pria itu mencerminkan kekhawatiran dan pertanyaan mendalam. Azri tidak tahu bahwa ekspresi itu memberikan getaran yang cukup dahsyat bagi Widya. Azri yang penuh perhatian dan mencemaskan nya sungguh mempesona, tampan, dan membuat nya rindu. Ia sedih melihat ekspresi ini. Azri tidak boleh mencemaskan nya.


"Tidak ada." Widya meraih tangan Azri yang menyentuh pipi nya lalu mengecup telapak tangan nya dengan lembut. Azri mengerjapkan mata melihat tindakan itu.


"Terima kasih."


Terdengar Widya berkata lirih. Gadis itu memejamkan mata nya sambil mendekap tangan nya. Azri mulai merasa ketakutan dan panik.


"Kamu tidak apa-apa?" tanya nya cemas. Kenapa ia merasa ini adalah salam perpisahan dari Widya?


Widya menggeleng. "Terima kasih karena sudah menjadi suami ku," dan menjadi Ayah anak ku, tambah Widya dalam hati. Ia sungguh-sungguh berterima kasih.


Azri langsung menarik Widya ke dalam pelukan nya. "Oh Tuhan, kamu membuat ku takut." la mendesah lega. “Aku tidak tahu apa jadi nya jika sampai kamu berkata ingin meninggalkan ku. Syukurlah."


Widya merasakan Azri mengecup puncak kepala nya. “kamu menjadi istri ku adalah bagian terbaik sepanjang hidup ku. Tidak bisa ku bayangkan apa yang terjadi jika pria tua itu tidak memaksa ku menikahi mu."


Azri memeluk nya erat seolah tidak ada hari esok. Ia tidak ingin Widya pergi, sungguh. Setelah tahu tentang perjanjian itu, ia tidak bisa tidur dengan nyenyak. Ia selalu bangun tengah malam karena bermimpi buruk lalu setelah itu mengecek apakah Widya masih ada di samping nya atau tidak. Ia takut sekali terbangun tanpa Widya di sisi nya. Meninggalkan nya sesuai dengan perjanjian.


Oh, kamu tidak tahu ada kenyataan pahit di balik pemaksaan itu, batin Widya.


Banyak hal yang ingin ia ucapkan, tetapi hanya itu yang bisa ia sampaikan. Selebih nya ia akan menyimpan nya dalam hati. Azri akan tahu di saat saat nya telah tiba.


***


Azri telah berjanji pada diri nya sendiri ia tidak akan peduli saat bertemu dengan Lia. la akan menekan jauh-jauh perasaan bersalah yang muncul saat ia melihat sosok Yuna dalam diri Lia. Mereka bukan orang yang sama. Ia mengingatkan hal itu berkali-kali. Sekarang ia sedang fokus mencari solusi untuk masalah Widya dan perjanjian sialan itu.


Namun sayang nya, Azri tidak tahu apa tujuan ayah nya meminta Widya untuk menandatangani perjanjian itu. Apakah agar ia bersedia menjadi CEO? Tidak, alasan nya tidak mungkin sedangkal itu. Ia tahu ayah nya tidak akan mengambil resiko yang begitu besar hanya untuk menarik nya ke kursi tertinggi perusahaan.


Apa untuk alasan yang lebih besar lagi? Azri sedang sibuk memikirkan beberapa kemungkinan ketika pintu ruangan nya di ketuk.


"Ya?" seru nya. Sekretaris nya muncul lalu memberi hormat.


"Tuan, Nyonya Pradipta di sini menemui Anda."


Senyum Azri langsung muncul mendengar istri nya datang. Tanpa ragu ia langsung menyuruh nya masuk. Ia langsung bangkit dari kursi nya saat melihat Widya masuk dan menutup pintu.


"Tak biasa nya kamu datang kemari sepagi ini. Apa ada masalah dengan pelatihan pegawai baru?" tanya nya dengan senyum lebar.


Widya menunduk kan kepala nya singkat memberi nya penghormatan. Azri merasa tidak nyaman menerima perlakuan sopan seperti itu dari istri nya sendiri.


"Tak ada yang menyuruh mu menunduk kan kepala. Saat kita hanya berdua saja tak ada status CEO dan karyawan nya. Kita adalah suami dan istri. Sekarang kemarilah, aku ingin memeluk mu." Azri merentangkan tangan nya menggoda.

__ADS_1


Widya menggeleng pelan lalu tertawa kecil. "Hentikan sikap kekanakan mu Pak Direktur. Aku ingin menyerahkan laporan bulan ini." Widya mengulurkan sebuah map pada Azri.


Namun, pria itu tidak menghiraukan sikap kaku istri nya. Dengan ringan nya Azri menarik Widya ke pelukan nya lalu mencium nya dengan lembut dan menggebu, cukup untuk mengirimkan getaran kencang yang membuat lutut Widya gemetar. Kedua pipi nya langsung merona ketika Azri melepaskan bibir nya. Napas hangat nya menabrak pipi nya, Widya sadar jarak mereka terlalu dekat saat ini.


"Jadi ini alasan mu berangkat kerja begitu pagi? Aku tidak sempat mencium mu.“ Azri mengeluh sambil memeluk erat pinggang nya.


Pelukan itu membuat Widya merasa sangat nyaman dan aman. Alasan ia berangkat kerja terlalu awal bukan karena laporan ini. Ia hanya merasa harus membiasakan diri tidak menunggu Azri bangun. Melihat wajah sayu nya saat baru terjaga dari tidur nya adalah pemandangan paling seksi yang Widya lihat setiap pagi. Pria itu akan tersenyum pada nya lalu memberikan setidak nya satu ciuman panas. Widya harus menghapus kebiasaan itu mulai saat ini atau ia akan kesulitan melepas Azri.


"Meskipun aku istri mu, aku tetap pegawai perusahaan ini."


Azri melepaskan pelukan nya segera, dengan alis terangkat ia memandang intens istri nya. "Oh ya? Seperti nya aku harus memecat mu mulai saat ini."


"Apa?" Widya terperanjat.


Reaksi berlebihan itu membuat tawa Azri meledak. Lucu sekali rasa nya saat ia berhasil menggoda istri nya sendiri. "Aku hanya bercanda. Karena itu berhentilah bersikap seolah kita tidak memiliki hubungan apa pun. Aku tidak suka kamu terlalu formal pada ku. Aku merasa sangat asing dan tersisihkan."


Tak ada yang lebih melegakan Widya selain ini. "Kamu harus belajar mengeluarkan lelucon yang tidak akan membuat orang lain terkena serangan jantung. Kupikir kamu serius ingin memecat ku."


Senyum di wajah Azri sedikit memudar meskipun raut geli itu masih tersisa. "Memang kenapa? Kamu tidak akan hidup miskin meskipun kamu tidak bekerja seumur hidup. Aku bisa memenuhi semua kebutuhan mu."


Hanya jika kamu masih tetap bersama ku, batin Widya. Inilah alasan lain kenapa ia begitu giat bekerja. Ia harus menyelesaikan segala urusan nya di perusahaan ini agar bisa mencari pekerjaan baru di tempat lain.


Tepat sebelum Azri membuka mulut nya ketukan lain kembali terdengar. Widya menjauhkan diri nya ketika sekretaris Azri masuk dan membungkukkan badan nya sekilas.


"Tuan, nona Lia Fernandez dari GN Group datang ingin bertemu dengan Anda."


Apa yang dia lakukan di sini? Kedua orang itu sama-sama tercengang. Widya bisa melihat bahu suami nya menjadi kaku selama beberapa saat. Rahang nya pun tampak mengeras. Tanpa memandang nya Azri berkata pada sekretaris nya agar menyuruh Lia masuk.


Tak lama sosok cantik itu masuk. Kali ini dengan setelan resmi yang tampak pas di tubuh jenjang nya. Widya bisa melihat Azri terpaku saat Lia masuk dan tersenyum ramah. Ia bertanya-tanya apa lagi yang membuat Azri tercengang. karena kecantikan Lia kah atau hal lain?


"Ku harap kedatangan ku tidak mengganggu kalian. Apa kalian sedang bermesraan atau semacam nya?" tanya Lia dengan sikap sopan, tetapi membuat Widya canggung.


Azri bingung bagaimana harus menanggapi nya. Akhir nya ia hanya memberikan senyum formal lalu menyapa nya sopan.


"Aku bertanya-tanya apa keperluan nona muda GN Group datang kemari." Azri menunjuk sofa set dan Lia segera menempatkan diri di sana. Ia duduk di sofa lain.


Widya hanya menatap mereka dengan pandangan bingung. Apa yang harus dilakukan nya? Ikut duduk bersama mereka bukanlah pilihan bijak karena Azri tidak meminta nya bergabung. Namun, apakah ia harus diam di tempat nya dan memandangi mereka seperti orang to**l?


Jawaban nya adalah TIDAK


"Ku letakkan laporan ini di atas meja."


Kata-kata Widya terlalu keras sampai membuat kedua orang itu menoleh. Ia segera meletakkan map itu di tengah meja Azri.


"Kamu mau ke mana?“ Azri tidak akan membiarkan istri nya pergi begitu saja seperti sebelum nya. "Duduk lah di sini. Masih ada yang harus kita di skusikan setelah ini."


Widya berhenti lalu menoleh. Ia menatap Azri sejenak lalu mengalihkan perhatian nya pada Lia. Gadis itu duduk santai. Dia memang tersenyum, tetapi entah mengapa tatapan mata nya seolah menyuruh Widya agar enyah dari sana.


"Seperti nya istri mu sibuk. Kamu tidak bisa mencegah nya tetap di sini." Lia berkata.

__ADS_1


Widya membelalak pada nya. Apa kata nya?


Bersambung ....


__ADS_2