
Ayahku tidak jahat. Aku tidak dimanfaatkan oleh siapa pun. Keluarga Pradipta memang penyebab kematian Yuna dan mereka pantas mendapatkan semua ini.
Berbekal mantra penguat hati itu Lia menderap menuju ruang kerja ayahnya. Ia mendorong semua penjaga keamanan yang ditempatkan ayahnya di sekitar ruang kerja.
"Lia."
Rendra-kakaknya memanggil ketika ia melewatinya. Namun, Lia tidak memedulikan seruan kakaknya. Gadis itu terus melaju dengan langkah tidak sabar. Ia melihat pintu ruangan ayahnya terbuka sedikit. Ia hampir mengetuknya ketika secara tidak sengaja ia mendengar kata-kata ayahnya.
"Kami sudah berhasil mendapatkan Pradipta Group. Aku bisa menjualnya kapan pun pada Anda.”
Lia menurunkan kembali tangannya. Mendengar hal itu ia memutuskan untuk menguping. Ayahnya tidak menyadari keberadaannya sama sekali karena pria paruh baya itu sedang serius berbincang dengan seorang klien yang tak dikenal Lia. Dari wajahnya jelas orang asing.
"Perusahaan itu sungguh potensial. Beruntung sekali Anda bisa mengambilalihnya."
"Ya, mudah saat kau memiliki seseorang yang tepat untuk membantu."
Kedua tangan Lia jatuh begitu saja di sisi tubuhnya. Getaran mulai menjalar ke seluruh syaraf di tubuhnya. Ia menggeleng. Ayahnya tidak sedang membicarakannya.
"Anda sangat beruntung. Siapa dia?"
"Putriku. Dia orang yang sempurna untuk misi ini. Dia membenci keluarga itu sehingga aku dengan mudah menyuruhnya untuk memojokkan Mahendra El Pradipta. Dia tidak menyadarinya sama sekali."
"Wah, putri Anda sangat jenius. Anda pasti sangat menyayanginya."
"Itu tidak terlalu penting. Selama aku memberinya kemewahan, dia akan berpikir aku mencintainya, karena itu, aku merasa harus membesarkan GN Group. Agar dia tetap merasa dicintai dan bersedia melakukan apa pun untuk sumber uang yang memberinya hidup mewah. Anak-anakku tidak akan peduli, mereka tidak pernah tahu apa itu kasih sayang. Cinta hanya untuk si cengeng dan pengecut. Mereka yang pintar memengaruhi orang lah yang akan mendapatkan dunia. Lihatlah apa yang sudah kudapatkan."
Presdir GN merentangkan tangannya untuk menunjukkan seolah dirinya pemilik seluruh dunia. Lalu tawa senang menggelegar memenuhi ruangan itu.
Namun di telinga Lia Fernandez, suara tawa itu serupa dengan halilintar yang menghantam nya dengan kecepatan tinggi. Menghancurkan setiap atom di tubuhnya hingga tak bersisa. Seumur hidup tak pernah ia merasa begitu dikecewakan seperti ini.
Bagaimana bisa Ayah yang selama ini ia percayai, ia sayang, ia bela dan ia hormati memanfaatkannya seperti ini. Satu-satunya hal terakhir yang ia inginkan di dunia ini adalah dimanfaatkan. Kesakitan yang ia rasa saat ini lebih menjengit dibandingkan dengan rasa saat ia membaca surat palsu itu.
"Oh, Anda sungguh orang tua yang penyayang."
"Ya, memiliki anak-anak penurut adalah hal paling membanggakan. Mereka bisa sangat berguna di saat paling dibutuhkan-"
Suara tawa Matthew Fernandez terpotong ketika ia mendengar suara daun pintu membentur dinding dengan keras. Kedua orang tua itu menoleh. Alangkah terkejutnya ia ketika melihat putrinya masuk. Kondisinya tampak mengerikan. Wajahnya penuh dengan air mata dan pucat, seolah kehidupan telah bergerak menjauhinya.
__ADS_1
"Jadi, segala yang kau berikan untukku selama ini bukan karena kau menyayangiku?"
Suara Lia begitu pelan, terpuruk, dan menyedihkan. Matthew membelalakkan mata.
"Lia, bu-"
"Dan rencanamu mengambil-alih Pradipta Group bukan semata-mata untuk membantuku mendapatkan Azri. Kau melakukannya untuk memenuhi hasratmu, ambisimu untuk menjadi lebih berkuasa?"
Air mata Lia terburai semakin deras dan deras lagi, membuat dua orang manusia di hadapannya tercengang.
"Aku hanyalah bidak yang kau gunakan untuk menghancurkan lawan tanpa harus mengotori tanganmu sendiri? Kau memanfaatkanku, Ayah?"
Ayahnya tak menjawab. Hal itu membuat hatinya jatuh ke dalam jurang.
"Katakan Ayah, katakan bahwa kau tidak memanfaatkanku, katakan bahwa semua yang kudengar tadi bukan isi hatimu yang sebenarnya."
Seorang Ayah yang benar-benar menyayangi anaknya pasti akan tersentuh dan langsung membantahnya atau paling tidak memberikannya satu pelukan. Namun yang dilakukan Presdir GN meleset dari dugaan Lia. Pria itu hanya menghembuskan napas kesal.
"Hentikan sikap kekanakanmu. Kamu bukan anak kecil yang bisa merengek karena tidak dibelikan boneka lagi. Kamu seorang putri keluarga Fernandez."
Ayahnya mendesah kencang. "Sudah kukatakan, hentikan sikap manjamu. Memang kenapa jika ayahmu memanfaatkan anaknya? Jika tidak ingin dimanfaatkan jangan menjadi anak siapa pun. Apa yang aku lakukan untuk masa depan keluarga kita. Masa depanmu juga. Mengapa kamu tidak juga mengerti?"
"Kalau begitu kau hanya tinggal membantahnya, bukan!" Lis berteriak. "Apa sulitnya hanya mengatakan 'semua itu tidak benar, aku sangat mencintaimu, nak'. Apa kata-kata itu begitu sulit diucapkan?"
"Lia Fernandez, hentikan sikap konyolmu itu! Memang apa salahnya jika orang tua memanfaatkan anaknya? Jika kamu tidak mau maka berhentilah menjadi keluarga Fernandez. Kamu sungguh kekanakan, berbeda sekali dengan kakakmu Rendra."
"Apa?" Lia terperangah. "Apa Ayah mencoba mengakui bahwa Ayah memang memanfaatkanku?"
"Baiklah, sepertinya aku harus keluar." Pria berwajah asing tadi memutuskan untuk meninggalkan ayah dan anak itu berdua saja.
Sepeninggal pria itu, Presdir GN menghela napas menyerah. "Benar. Jika jawaban itu bisa membuatmu berhenti menangis. Aku memang memanfaatkanmu untuk mendapatkan Pradipta Group."
Presdir GN sudah capek menghadapi sikap manja putrinya. Selama ini ia bersabar meladeni apa pun yang Lia inginkan karena ia membutuhkan gadis itu untuk meraih mimpinya. Namun, saat ini, tidak ada gunanya bersikap manis pada anak yang tidak tahu berterima kasih.
"Semua sudah terencana sejak awal. Aku akan menggunakanmu untuk mendapatkan Pradipta Group. Segalanya hampir saja kacau saat dokter memvonis hidupmu tidak akan lama lagi karena penyakit itu dan kamu hampir saja pergi mencari saudaramu. Untuk apa melakukan hal yang tidak berguna itu, kamu hampir saja mati?"
Lia membelalakkan mata. Mendadak terlintas satu pertanyaan yang membuatnya takut setengah mati, "Ayah, jangan katakan Yuna tidak meninggal karena penyakitnya?"
__ADS_1
Pandangan ayahnya menggelap. "Ya, aku yang membuatnya mati. Gadis itu hanya menjadi penghalangmu saja. Dia memang seharusnya tidak ada. Lagi pula, bukankah dia ingin mendonorkan jantungnya untukmu?“
Lia menutup mulutnya sejenak sebelum berteriak.
"KAU MONSTER MENGERIKAN!" Ia terengah-engah, jantungnya yang berdetak tak terkendali karena emosi mulai terasa sesak.
Lis marah sekali, luar biasa murka mendengar pengakuan ayahnya. Kini bukan hanya kekecewaan yang memenuhi hatinya, kebencian pun ikut mendominasi.
"Aku mempertaruhkan seluruh hidupku untuk mencari Yuna dan ibuku. Apa kau tahu betapa sedihnya diriku ketika mengetahui ibuku sudah meninggal? Dan betapa bahagianya aku saat aku menemukan saudara kembarku yang hilang? Di saat aku merasa hidup kembali kau merenggut kehidupan itu dariku dan menggantinya dengan hidup penuh rasa dendam? Ayah macam apa kau yang tega membunuh anakmu sendiri untuk memenuhi ambisimu?"
"Tidak ada pilihan lain."
"Apa surat itu bagian dari rencanamu juga?"
"Kau benar, hanya perlu sedikit stimulan untuk memprovokasi dendammu terhadap Mahendra dan menuruti apa pun saranku untuk membalaskan dendam padanya." Presdir GN menyeringai, "Bukankah rencana yang sempurna, Sayang? Entah siapa yang bodoh di sini tetapi kamu bahkan tidak menyadarinya."
Lia tidak ingin percaya, tetapi apa yang dikatakan Azri benar. Ayahnya pintar sekali memanipulasi orang dan ia sudah berhasil dimanipulasi mentah-mentah oleh ayahnya sendiri? Astaga!
Lia mundur dengan tenaga yang hampir habis. Seluruh tubuhnya sakit, berdenyut karena berbagai emosi bercampur baur menjadi satu. Kekecewaan tak bisa ia sembunyikan lagi. Tidak bisa berkata-kata, tak percaya bahwa hari ini Widya Lovarza memberitahunya kebenaran. Fakta yang membuatnya hancur perlahan-lahan.
"Lia, sekarang sudah ku jelaskan semuanya. Karena itu berhentilah bersikap kekanakan dan hadapi kenyataan. Kita akan menjadi konglomerat paling disegani di seluruh negara ini. Keluarga Fernandez yang memiliki kekayaan yang tak pernah habis hingga tujuh turunan."
"Aku tidak akan pernah menuruti kata-katamu lagi." Lia menggelengkan kepalanya. Sorot matanya memancarkan kekecewaan yang begitu kental. "Kau benar-benar membuatku kecewa."
"Aku melakukan semua ini untuk GN Group."
"Baiklah, jika GN Group memang lebih penting bagimu." Lia menatap nanar ayahnya. “Aku tidak akan melupakan semua kata-katamu hari ini dan jangan kira aku tidak dendam padamu. Kita lihat apa yang bisa kulakukan untuk menghancurkan apa yang sudah susah payah kau bangun."
Lia membalikkan badan lalu pergi.
Presdir GN terpaku. "Lia Fernandez!!" panggilnya.
Namun, terlambat untuk membuat Lia kembali mempercayainya karena detik itu juga Lia memutuskan untuk memusuhi ayahnya. Gadis itu pergi dengan air mata deras mengalir di pipi.
Bersambung ....
Nah, the real villain adalah Matthew
__ADS_1