
Widya mencari-cari sahabatnya, Bella di pantai itu. Namun, dia tidak menemukannya di mana pun. Ia hanya melihat Bobby dan Hera di pantai dan kini mereka sedang duduk di bawah pohon kelapa sambil menikmati minuman segar, sesekali mereka berciuman. Dengan canggung ia memalingkan pandangan. Ia lalu melihat Jhors sedang mengobrol bersama beberapa orang, KiBum serta kekasihnya Lena juga ada bersamanya.
"Maaf, apa kalian melihat Bella?" Widya memilih mendekati mereka untuk bertanya.
"Kulihat tadi dia kembali ke resort bersama Ryan," jawab KiBum.
Widya tersenyum lalu menundukkan kepalanya sekilas. Setelah itu ia berjalan cepat ke arah kamar Bella. Ia menekan bel kamar itu agak terburu-buru sambil memanggil namanya agak kencang. Ia tidak sabar ingin bercerita pada Bella tentang apa yang terjadi baru saja. Ia menunggu cukup lama sampai pintu terbuka dan ia masuk.
"Bella aku." Widya berhenti berkata saat ia melihat sahabatnya yang hanya terbalut handuk dan rambutnya basah. "Kau sedang mandi?“ tanyanya heran.
Bella terlihat gugup, dia membenarkan posisi handuknya. Widya bisa melihat pipi Bella kemerahan.
"Kau kenapa? Seperti habis berolahraga di kamar mandi?" canda Widya.
"Oh, itu...." Bella tidak melanjutkan kata-katanya karena tiba-tiba saja seseorang muncul memeluknya dari belakang.
"Sayang!"
Baik Widya maupun Bella terkejut saat Ryan datang memeluk Bella dari belakang. Widya membelalakkan matanya menyadari Ryan hanya mengenakan handuk yang menutupi daerah pinggang hingga pahanya dan badannya basah. Tunggu, jangan katakan kalau mereka baru saja mandi bersama?!
"Kenapa kamu keluar? Kita belum selesai," gumam Ryan sambil mencium tengkuk Bella yang sontak menggeliat geli.
"Ryan, maaf aku ada tamu." Bella berusaha menghentikan ulah Ryan. Ia malu meskipun yang menyaksikannya adalah sahabat baiknya sendiri.
Widya hanya menganga menyaksikan kemesraan itu. Apa Ryan tidak sadar sejak tadi ada orang lain yang berdiri di depannya? Lagipula apa yang dilakukannya pada Bella! Mereka bahkan tidak berpacaran apalagi menikah!
"Ryan, kamu tidak malu melakukannya di hadapan orang lain?" Widya berkata dengan nada tidak sabar bercampur marah.
Ryan sepertinya baru benar-benar sadar ada orang di depannya. Dia lantas menghentikan kegiatannya lalu melepaskan Bella. Dia mengusap tengkuknya kikuk. Tidak terlihat menyesal atau pun malu sedikit pun.
"Kalau begitu sampai nanti malam.“ Ryan menarik dagu Bella lalu mengecup singkat bibirnya.
Widya melongo. Ya ampun, ada tidak sih satu saja teman Ryan yang pemalu dan tidak bersikap agresif di depan umum? Tadi dia sempat melihat Bobby dan tunangannya berciuman dan sekarang ... Oh tidak.
Baru setelah Ryan keluar seusai memakai kembali celana pantainya, Widya langsung menginterogasi Bella. Ia bahkan lupa niatnya untuk menceritakan apa yang terjadi antara dirinya dan Azri.
"Apa yang dilakukan Ryan padamu? Kenapa kalian tampil hanya dengan handuk saja?" cecarnya.
Bukannya menjawab Bella justru memeluk Widya erat.
"Terima kasih sudah datang, aku tidak tahu kalau kamu tidak muncul. Mungkin hari ini aku, kamu tahu maksudku," ucap Bella dengan wajah merona.
__ADS_1
Kerutan di kening Widya semakin bertambah. Apa? Jadi tadi Ryan hampir saja merenggut kegadisan sahabatnya? Tidak bisa dipercaya! la kira Ryan yang paling lugu di antara yang lain, rupanya pria itu sama saja dengan Azri. Cocok sekali menjadi temannya.
"Jadi tadi kalian ... Bella!" Tanpa sadar Widya berteriak. "Kamu tidak sadar kalau kalian belum menikah? Lagipula kenapa kamu membiarkan pria itu masuk kemari?“
Bella bergerak-gerak gelisah. Ia menatap Widya dengan wajah menyesal. "Aku tidak sanggup menolak saat dia mengajakku mandi bersama. Kamu lihat wajah tampan dan kekanakan miliknya, aku bahkan tidak bisa berkata apa-apa saat Ryan melepaskan semua bajuku dan." Bella terdiam, wajahnya semakin memerah hingga cuping telinganya.
"Dan?" tanya Widya penasaran.
"Kamu tahulah, suamimu pasti pernah melakukannya padamu. Apa ya, itu tangannya."
Widya melebarkan matanya terkejut. “Ryan berani menjamahmu dan kamu diam saja?!"
"Widya, sudah kubilang aku tidak bisa menolaknya. Kamu tahu benar dia adalah tipe pria idamanku," sela Bella malu. "Aku baru sadar kalau aku salah saat mendengar kamu membunyikan bel. Karena itu terima kasih sudah menolongku."
Widya tidak tahu harus berkomentar apa lagi mengenai kejadian ini. “Dengar, Bella. Aku tahu Ryan adalah gambaran yang sempurna untuk suami idamanmu, tapi kamu harus ingat, dia bukan siapa-siapa bagimu. Dia bahkan bukan pacarmu. Jangan sampai kamu melepaskan sesuatu yang akan kamu sesali nantinya."
Bella mengangguk paham. “Iya. Aku tahu.“
Setelah Bella mengenakan pakaiannya, dia menemani Widya yang duduk dengan wajah gelisah. Dia sudah menceritakan semua yang terjadi di kamarnya sebelum berlari kemari. Jelas saja Bella yang baru mengalami kejadian serupa terkejut dan tidak bisa berkomentar apa pun.
"Em, jadi kenapa kamu ragu?" tanya Bella bingung. "Kalian sudah suami istri. Tidak masalah jika kalian berhubungan badan, bukan?"
Widya menggeleng pelan, "Entahlah, aku hanya ragu," ucapnya gelisah, “Aku tidak tahu perasaan Azri terhadapku. Apakah dia melakukannya karena mencintaiku, melakukannya karena merasa kewajibannya padaku, atau karena dia memang menganggapku tidak lebih seperti wanita yang ia kencani, diajak tidur, lalu ditinggalkan begitu saja." la merasa sangat bimbang dan pusing.
Bella menatapnya dalam. “Memang kamu sanggup membiarkan suamimu sendiri berhubungan intim dengan wanita lain?" tanyanya membuat Widya balas memandangnya tercengang. Gadis itu bungkam seribu bahasa.
"Ingat Widya, Azri bukanlah pacar atau tunanganmu. Dia adalah suamimu."
Pikiran Widya macet. Bella benar, ia memang tidak akan pernah bisa melihat Azri bermesraan dengan wanita lain. Jangankan bermesraan, bersentuhan dengan wanita lain saja ia tidak rela. Hatinya sudah jatuh terlalu dalam pada cinta yang hanya ia tujukan untuk Azri. Jika ia sampai benar-benar membiarkan Azri bersama wanita lain, ia akan mati perlahan-lahan.
"Dengar Widya," sela Bella melihat Widya tertegun. "Azri adalah pria yang sudah mengucapkan janji suci untuk menjagamu seumur hidupnya. Kamu sudah terikat dengannya. Bahkan secara tidak langsung perasaanmu pun sudah terikat dengannya. Kamu tahu, jika Azri mau dia bisa saja memintamu melayaninya di malam pertama kalian. Tapi lihat, Azri tidak menyentuhmu karena dia menghormati perasaanmu. Itu membuktikan bahwa dia bukanlah pria yang suka meniduri sembarang wanita."
Widya berpikir selama beberapa saat hingga akhirnya ia menyerah dan mengembuskan napas berat.
"Kamu benar."
"Nah, lalu kamu meragukan apa lagi? Azri sudah menjadi suamimu dan buatlah dia benar-benar menjadi milikmu. Aku yakin, dengan seringnya kalian bersama, perasaan Azri padamu akan tumbuh."
Widya mengangguk gamang. Mereka sudah tinggal di bawah atap yang sama, terikat dalam tali pernikahan, hanya saja ada satu hal yang sangat membuatnya ragu untuk mengatakan isi hatinya pada Azri. Bukan ia takut pria itu tidak akan mencintainya, ia justru merasa takut Azri jatuh cinta padanya. Dengan bodohnya ia justru mengharapkan Azri jatuh cinta padanya. Sebenarnya hal itu tidak boleh terjadi.
Sebab, ia sudah berjanji untuk tidak jatuh cinta. Pada Mahendra.
__ADS_1
Pembicaraan antara dirinya dan ayah mertuanya itu kembali terlintas dalam benaknya.
Mahendra terlihat senang sekali setelah mendapat laporan dari Widya tentang perkembangan Azri setelah mengikuti pelatihan. Keputusan untuk mengikutsertakan Azri dalam trainning itu adalah keputusan terbaik.
"Tinggal menunggu waktu bagi Azri untuk menduduki kursi pimpinan Pradipta Group," ujarnya bangga.
Widya meremas ujung blazernya gugup. la cemas akan diingatkan tentang kontrak terkutuk itu dan ketakutannya itu terjawab sudah saat ia mendengar kalimat berikutnya yang terlontar dari mulut Mahendra.
"Kamu ingat perjanjian kita, bukan?"
Widya terhenyak di tempat duduknya. Dengan suara ragu dan jauh, ia menjawab, "Tentu saja."
"Kamu pasti ingat poin perjanjian nomor Tiga; Jika Azri sudah pantas menduduki kursi pimpinan Pradipta Group, maka bersamaan dengan itu tugasmu sebagai pembimbingnya berakhir dan kamu harus bercerai secepatnya."
Sekujur tubuh Widya membeku untuk beberapa detik lamanya, kata bercerai sungguh terdengar seperti bunuh diri di telinganya. Tangannya gemetar, ini bukan getaran gugup, tetapi getaran takut. Ia harus bercerai dengan Azri dan berdasarkan kecepatan perubahan sikap Azri, ia yakin waktunya tidak akan lama lagi.
"Jika kamu menepati semua poin perjanjian, sesuai kesepakatan akan kuberikan salah satu aset padamu. Kamu tinggal pilih saja karena semuanya bernilai sama; satu milyar."
Demi apa pun, jangan pernah mengingatkan dirinya bahwa ia menjual harga dirinya sendiri demi sebuah aset senilai 1 milyar.
"Apa Anda tidak memperhitungkan perasaan Azri?"
Widya sebenarnya sudah tidak sanggup lagi bertanya, tetapi ia memaksakan diri ia mencemaskan Azri. "Dia mungkin akan menjadi orang yang paling dilukai dalam perjanjian ini," lanjut Widya tercekat.
Mahendra tidak menatap Widya sama sekali saat menjawab pertanyaannya, “Tidak, dia tidak akan terluka."
"Apa Anda tidak memikirkan kemungkinan Azri jatuh cinta, atau bahagia atas pernikahan ini?"
Pria itu baru memalingkan pandangan padanya kali ini. Rautnya tampak terkejut, hanya beberapa saat setelah itu tertawa geli, "Anak itu jatuh cinta? Tidak, kupikir dia tidak akan jatuh cinta padamu. Aku mengenal anakku dengan sangat baik. Dan kamu tidak termasuk tipenya. karena itulah aku memilihmu."
Gadis yang duduk di depannya itu terpukul, lebih tepatnya tak percaya dengan apa yang didengarnya. Jadi sejak awal ia dipilih karena sama sekali tidak cocok dengan wanita ideal Azri?
Widya lantas teringat bagaimana Azri menjabarkan wanita idealnya saat pertama kali mereka bertemu secara resmi. Azri jelas mengatakan hal yang sebaliknya dengan kepribadiannya.
"Tentang apakah Azri bahagia dengan pernikahan ini, kurasa dia memang bahagia karena kamu berhasil dengan cepat mengubahnya," tambah Mahendra. "Lagipula, aku sudah memiliki satu gadis yang memang cocok dengannya, satu-satunya gadis yang bisa membuatnya jatuh cinta. Jika mereka menikah, masa depan Pradipta Group akan semakin cerah."
Widya melebarkan mata mendengarnya. Azri bahkan sudah memiliki calon istri baru sebelum mereka bercerai? Dilihat dari cara Mahendra mengatakannya, gadis itu benar-benar ideal untuk Azri. Pernyataan Azri tentang Ayahnya memang benar.
Bagi Mahendra, pernikahan ini tidak lebih dari sekedar bisnis.
Rasa tercekat itu kembali dirasakan Widya sekarang. Terlebih karena ia harus tersiksa pada kenyataan bahwa Azri memang bukan miliknya sejak awal. Jatuh cinta padanya adalah hal tabu dan Widya sudah melanggarnya. Karena itulah ia tidak bisa membiarkan dirinya terperosok lebih jauh dalam hubungan asmaranya dengan Azri. Pria itu harus membencinya, bukan mencintainya.
__ADS_1
Bersambung ....
Apakah Azri dan Widya akan berakhir berpisah. Apakah ada sad ending part dua?