Menikahi Bad Boy

Menikahi Bad Boy
Part 35


__ADS_3

Setelah acara penutupan usai, Widya memastikan semua peserta sudah naik ke dalam bus. Ia berusaha mengabaikan Azri yang terus saja memperhatikan nya dengan mata memicing tajam dari kursi paling belakang bus.


Apa yang dilakukan pria itu? cemas nya. la gugup sendiri jika terus ditatap seperti cara Azri menatap nya.


"Widya, semua nya sudah masuk," ucap Chris dari ambang pintu masuk bus.


"Terima kasih atas bantuan nya. Sampai bertemu lagi nanti." Widya menjabat tangan Chris, hangat.


"Duduklah dengan Azri, seperti nya dia tidak suka kalau dibiarkan duduk sendirian di belakang." bisik Chris membuat Widya terkejut.


"Untuk apa ...."


"Kami sudah tahu," sela Chris sambil mengedipkan mata. "Kamu dan Azri adalah suami istri."


"Apa?" Widya kaget bukan main. Ia ingin berkata lagi, tetapi pintu bus di tutup oleh Mahesa.


"Sudah saat nya bus berangkat.“


Widya hanya bisa menatap Chris yang melambaikan tangan di depan pelataran resort itu dengan mulut menganga. Sebelum ia disuruh Mahesa duduk, Widya segera berjalan ke kursi nya yang ada di belakang supir.


"A-a, bukan di situ tempat duduk mu Widya," sela Mahesa.


"Lalu di mana?" Widya mengerutkan kening heran. Tangan Mahesa dengan enteng nya terangkat menunjuk ke arah kursi paling belakang bus, tepat nya ke arah di mana Azri duduk.


Seketika ia tercengang.


"Duduklah di samping suami mu."


"Apa?!"


"Sudah sana, jangan malu."


Mahesa mendorong nya bahkan di saat Widya masih terbengong-bengong dengan apa yang baru saja didengar nya. Ia mengambil tas nya yang tergeletak di atas kursi lalu berjalan lunglai ke arah kursi paling belakang. Tidak ada seorang pun yang duduk di sana kecuali makhluk jahat bernama Azri El Pradipta.


Selama ia berjalan ke sana, mata Azri terus menusuk nya seperti pisau. Ia mencoba untuk mengabaikan nya, tetapi gagal. Alhasil, jantung nya lah yang menjadi korban. Organ itu bekerja lebih cepat dari biasa nya.


"Kenapa pindah? Tuan Mahesa mengusir mu?" tanya Azri begitu Widya mendudukkan diri nya di samping pria itu.


"Aku heran dari mana mereka tahu pernikahan kita. Aku tidak pernah memberitahu siapa pun."


Widya heran sekali dengan tingkah orang-orang hari ini. Azri mengeluarkan smirk liciknya. Dia mendekatkan wajah nya ke telinga Widya.


"Aku yang memberitahu mereka," bisik nya membuat gadis itu terperangah.

__ADS_1


Widya menoleh cepat dengan air muka tercengang."Kenapa?" tanya nya nyaris memekik.


"Aku tidak suka kamu bergaul bebas seperti wanita lajang," jawab Azri santai dengan tangan melipat, pose angkuh kebanggan nya.


"Yang benar saja?" Widya berseru tak percaya. "Bukankah kamu lebih suka pernikahan kita tidak diketahui orang banyak?!"


Azri mengendikkan bahu acuh tak acuh. "Itu hanya perasaan mu," ujar nya santai.


Widya mendenguskan napas kesal berkali-kali. "Pria licik," desis nya penuh dendam. Kekehan menyebalkan keluar dari mulut pria itu.


"Mendekatlah," suruh nya tiba-tiba dengan nada memerintah.


"Apa lagi?"


"Gadis ini." Azri memandang nya gemas.


Sebelum Widya sempat menghindar, tangan pria itu dengan cekatan menarik pinggang nya tepat ke sam ping nya dan tanpa aba-aba apa pun pundak Widya menjadi berat karena Azri mengistirahatkan kepala di bahu nya.


"Hei!" Widya memprotes tindakan tiba-tiba Azri.


Pria itu seperti tuli, tidak mendengar nya sama sekali. Widya bukan nya tidak mau, tetapi ia tidak biasa bersentuhan dengan pria di tempat umum.


"Diamlah, aku hanya ingin meminjam bahu mu sebentar. Aku lelah," gumam Azri dengan mata terpejam.


"Aku malas pindah, lagi pula bahu mu nyaman dan hangat."


Widya termangu mendengar kata-kata itu terlebih dengan cara Azri yang mengucapkan nya terdengar begitu lembut dan pelan di telinga nya. Ia pun luluh. Akhir nya ia membiarkan Azri menyandarkan kepala di bahu nya, bahkan sebelah tangan Azri kini sudah melingkar sempurna di pinggang nya. Tubuh nya belum terbiasa menerima ini, tetapi ia senang. Widya tersenyum simpul. Azri tampak sangat manis jika seperti ini.


Widya mendadak tersadar sesuatu. la terkesiap, kata 'manis' membuat nya teringat pada kalimat yang dikatakan Ryan, jika Azri sedang jatuh cinta, dia akan menjadi pria paling manis di seluruh dunia.


"Hahahaha, tidak mungkin." Widya menepis cepat pikiran itu seraya mengibaskan tangan.


Rasa nya tidak mungkin pria titisan iblis seperti Azri cocok disandingkan dengan kata manis. Pria semacam nya lebih cocok disinonimkan dengan kata kejam.


Namun, Widya tetap penasaran. Mendadak jantung nya berdebar-debar. Ia bertanya-tanya apa boleh diri nya mengajukan pertanyaan gila pada Azri? Baiklah, tidak ada salah nya mencoba.


"Azri, sebenar nya bagaimana perasaan mu pada ku?" tanya nya hati-hati.


Suasana hening bahkan tidak berubah setelah beberapa menit berlalu. Kening nya berkerut. Kenapa pria ini tidak menjawab? Widya menolehkan kepala nya ke arah Azri dan ia baru tahu alasan nya.


"Ternyata dia tidur."


Widya entah harus lega atau kecewa ketika mendapati suami nya tertidur pulas di pundak nya. Namun, yang bisa dipastikan oleh nya sekarang adalah, ia merasa bahagia. Sudahlah, untuk sementara biarkan seperti ini.

__ADS_1


***


"Azri!"


Azri langsung mengatupkan mulut nya yang tengah menguap lebar ketika ia mendengar suara memanggil nama nya. Yang benar saja, ia dan Widya baru tiba di depan gedung apartemen mewah mereka terlebih sekarang malam sudah larut. Orang bodoh mana yang datang bertamu di waktu seganjil ini?


"Marleen," gumam nya kaget begitu menyadari seorang gadis cantik memeluk nya erat. Tidak ada yang akan bertingkah seagresif ini pada nya selain Marleen.


"Ini sudah larut malam, Marleen, kenapa kamu bisa ada di sini?" Azri melepaskan pelukan gadis itu secepat nya.


"Aku mencemaskan mu. Ponsel mu tidak bisa dihubungi belakangan ini, kau ke mana saja?“ Marleen melirik tas yang dibawa Azri. "Kamu habis berbulan madu dengan istri mu?"


"Apa?"


Mendengar kata 'istri, Azri mendadak ingat pada Widya. Sejak tadi istri nya itu terabaikan. Apa gadis itu melihat semua adegan ini? la menoleh cepat ke arah belakang nya. Widya sudah tidak ada di sana. Gadis itu pasti pergi karena melihat Mar leen. Ia menoleh kembali pada Marleen.


"Dengar Marleen, ini sudah malam. Pulang lah."


"Tapi ada hal yang ingin ku sampaikan pada mu,“ ucapnya dengan wajah penuh permohonan. Azri menggeleng sembari memegang kedua pundaknya.


"Besok pagi kamu masih bisa memberitahu kan nya padaku."


"Tidak bisa, harus malam ini."


"Pulanglah," kata Azri lembut disertai senyuman nya. Jurus itu tetap ampuh untuk meyakinkan Marleen. Gadis itu menghela napas kalah.


"Baiklah. Asal kamu berjanji besok kita akan bertemu."


"Kita lihat saja besok."


Widya memperhatikan keakraban Azri dan Marleen dengan hati tercabik-cabik. Ternyata Azri tetaplah Azri, si pria licik dengan seribu trik untuk memperdaya wanita. la salah sudah menganggap Azri berubah, berpaling untuk mencintai nya. Itu tidak mungkin terjadi. la segera membalikkan badan nya kembali ke apartemen, melupakan kemesraan Azri dengan Marleen untuk sementara waktu.


Hal pertama yang Azri lakukan saat tiba di apartement adalah pergi ke kamar istri nya. la ingin menjelaskan sesuatu tentang Marleen tadi. Mungkin saja Widya salah paham.


"Widya," panggil nya lemah dan terhenti saat sadar pintu kamar istri nya terkunci. Ia mengetuk nya beberapa kali, tetapi tidak ada jawaban.


"Cepat sekali tidur nya."


Azri yang tidak mau mengganggu acara tidur Widya, segera kembali Ke kamar nya. Mereka sama-sama lelah setelah mengikuti pelatihan.


Widya sebenarnya memang mengabaikan panggilan dan ketukan pintu dari Azri. la tidak mau bertemu dengan pria itu di saat hati nya kacau. Lebih baik ia mengabaikan nya lalu tidur


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2