
Widya tahu saat-saat seperti ini akan tiba juga dan ketika hal menegangkan itu tiba ia tidak akan mengatakan apa pun, tidak akan melakukan apa pun, dan tidak akan memikirkan apa pun. Ia hanya akan diam, mengangguk seperti orang bodoh dan berpura-pura mengerti padahal sesungguh nya ia tidak mau memikirkan nya sama sekali.
Hari ini mendadak saja Mahendra a.k.a Ayah mertua nya sendiri memanggil nya untuk alasan yang sudah Widya yakini. Tidak lain dan tidak bukan demi membahas kontrak antara diri nya dan Presdir Pradipta Group itu. Perjanjian yang bersangkutan dengan Azri, pernikahan nya, dan cinta nya terhadap pria itu.
"Aku tahu ini pasti akan terjadi."
Gumaman Mahendra menyentak Widya, mengalihkan perhatian wanita itu dari tangan tegang nya yang berpangku di atas paha ke arah raut serius di depan nya.
Pria yang duduk di balik meja itu menghela napas sekali lagi sebelum melanjutkan kata-kata nya yang tertunda, "Bukankah sudah kukatakan untuk tidak menggunakan perasaanmu dalam tugas ini?"
Widya sekali lagi mengangguk, mirip orang linglung. Bagaimana pun masalah ini tidak akan pernah mudah bagi nya, tidak seperti masalah kerja yang selalu ia tangani setiap hari dan tidak akan membuat nya merasa terbebani seperti sekarang.
"Apa kau tahu kesalahanmu?"
"Aku tahu, Ayah," jawab Widya sesopan mungkin dengan suara yang terdengar gamang di telinga nya sendiri.
Tanpa menunggu Widya meneruskan, Mahendra berkata kembali, "Azri El Pradipta jelas jatuh cinta padamu. Aku mengenal anak itu dengan baik," ucap nya dengan nada putus asa seolah itu adalah aib yang harus ditanggung nya.
Widya melebarkan mata, bibir nya bergetar hendak berucap merespon perasaan kacau yang bergejolak tiba-tiba. Ingin rasa nya ia berteriak bahwa jatuh cinta bukanlah sebuah aib, dan apakah salah jika diri nya memiliki perasaan pada anak lelaki atasan nya itu?
"Aku tidak ingin dia terjebak dalam perasaan itu. Aku memintamu mengubah nya, bukan membuat nya jatuh cinta padamu."
Aku tahu itu, batin Widya.
Helaan napas kembali terembus dari hidung Mahendra. "Sekarang persiapkan dirimu, mungkin sudah seharus nya aku mengakhiri kontrak perjanjian itu."
Kedua mata Widya membulat. Pandangan histeris nya tertuju pada Mahendra yang dengan tenang nya mengatakan hal itu. Diri nya dipenuhi banyak ketakutan. Jika kontrak antara diri nya dan Azri harus cepat berakhir lalu bagaimana nasib diri nya? Tidak, ia mencemaskan perasaan Azri.
Beberapa waktu lalu Azri baru saja dikejutkan dengan kenyataan bahwa ibu yang selama ini dia sanjung tinggi berani menyeleweng dan menjadi penyebab ayah nya tidak datang saat istri nya sekarat. Sejauh yang ia tahu, ibu nya adalah wanita paling lembut dan penyayang yang ia kenal di dunia ini. Oleh sebab itu, Azri sangat terpukul. Kebencian yang dia tunjukkan pada Ayah nya selama ini rupa nya salah sasaran.
Butuh waktu sekitar beberapa hari bagi diri nya untuk menghibur Azri yang sempat terpuruk. Mahendra tidak tahu sama sekali karena Azri tidak pernah memperlihatkan nya selama di kantor. Namun, Widya tahu dengan jelas betapa terluka nya Azri setiap kali ia memergoki suami nya itu merenung sendirian di apartement mereka. Jika ia diharuskan pergi, lalu bagaimana dengan Azri?
Mulut nya sudah membuka ingin berkata tidak, tetapi yang terucap justru kalimat yang paling ia sesali seumur hidup.
"Aku paham."
Tenggorokan nya tercekat, Widya bertarung dengan diri nya sendiri agar air mata nya tidak tumpah di hadapan Mahendra. Widya segera pamit dan keluar dari ruangan Ayah mertua nya dengan hati terluka. Setelah ini, ia tidak tahu harus menghadapi Azri dengan ekspresi apa.
__ADS_1
***
Azri hampir mengetuk pintu ruang kerja Ayah nya ketika ia mendapati Widya, istri nya keluar dari balik pintu. Pertanyaan pertama yang terlintas dalam pikiran nya adalah, apa yang dilakukan Widya di sana? Tepat nya untuk apa?
"Sayang," kata itu terucap begitu saja.
Akhir-akhir ini Azri memang terbiasa memanggil Widya dengan sebutan itu. Namun, senyum di bibir nya tidak berlangsung lama setelah ia menyadari wajah istrinya itu pucat pasi, sedih, dan frustrasi seolah seluruh permasalahan dunia ditanggung oleh nya.
"Ada apa?"
Widya tersentak sadar. Ia mengerjapkan mata beberapa kali lalu mendongak menatap langsung wajah Azri. Sempat terlihat sekelebat raut kaget dari sorot mata nya, membuat Azri curiga.
"Wajahmu pucat." Azri menyentuh pipi Widya dengan telapak tangan nya, lalu melirik ke balik pintu yang akan dikunjungi nya. "Apa Pria Tua itu mengatakan sesuatu padamu?"
"Hah? Tidak." Widya segera membantah. Ia memaksakan seulas senyum dan orang bodoh pun tahu senyum Widya tidak tulus sama sekali.
Azri bisa merasakan ada hal yang tidak beres sedang terjadi. Ia menyipitkan mata curiga. la yakin ayah nya pasti sudah mengatakan sesuatu pada Widya. Namun, untuk saat ini ia menolak mengajak Widya berdebat karena itu demi menenangkan suasana ia menanggapi kebohongan Widya dengan senyuman lembut.
"Jangan terlalu serius bekerja. Aku tidak mau kamu sakit. Siang nanti aku akan menjemputmu." Masih dengan tangan menyentuh pipi Widya, pria itu berkata.
"Kita pergi makan siang bersama."
Tentu saja hal sederhana seperti telapak tangan Azri yang menghangatkan pipi nya dan cara pria itu berbicara berhasil membuat semburat kemerahan muncul di kedua pipi Widya. Namun, di sisi lain ia sedih. Semakin Azri bersikap baik, semakin cepat tenggat waktu kebersamaan nya dengan pria ini. Karena nya, selama kesempatan masih tersedia untuk nya. Ia akan menghabiskan waktu sebanyak mungkin dengan Azri. Widya mengangguk.
Azri tersenyum, ia mendekatkan wajah nya untuk mengecup bibir Widya singkat. Gadis itu mengerjap, terlebih karena Azri melakukan nya di depan sekretaris ayah nya yang jelas-jelas menyaksikan adegan barusan. Pipi nya semakin memerah.
Azri tidak mengatakan apa pun setelah melakukan serangan yang hampir membuat jantung nya copot itu. Pria itu segera angkat kaki dengan segala karisma dan percaya diri seolah tidak melakukan tindakan impulsif apa pun.
"l-itu." Widya gelagapan. Ia bingung harus berkata apa pada sekretaris yang duduk di balik meja nya. Sekretaris itu hanya mengulum senyum penuh arti, memperlihatkan sedikit rasa iri.
Widya tersenyum kikuk lalu bergegas pergi sebelum ia mempermalukan diri lebih jauh lagi.
***
Azri tidak mengatakan apa-apa ketika diri nya memberikan laporan tentang perkembangan proyek dengan GN Group. Ia masih sebal dan enggan berbincang dengan ayah nya, tetapi ia tetap professional dalam bekerja. Ia memilih diam hingga ayah nya selesai memeriksa laporan buatan nya.
"Sepert inya kita harus mengadakan meeting kembali dengan Presdir Gn. Usul mu sangat bagus dan aku yakin Presdir GN pasti mau menerima nya. Bagaimana jika siang nanti kau ikut makan siang bersama, Presdir GN akan ada di sana dan ku pastikan dia senang sekali bertemu dengan mu," ucap Ayah nya dengan wajah cerah. Azri mendengkus sebelum menjawab dengan nada tegas.
__ADS_1
"Tidak, aku sudah memiliki janji makan siang dengan istri ku."
Rahang Mahendra terlihat mengeras mendengar kalimat Azri.
Azri mengerutkan kening menyadari reaksi itu. Dua puluh enam tahun lebih ia mengenal ayah nya dan ia tahu jika ayah nya sudah seperti itu, sesuatu yang tidak beres sedang terjadi dan kali ini berhubungan dengan istri nya.
"Kenapa? Ada masalah dengan Widya?"
Mahendra sadar reaksi nya berlebihan, ia berdehem lalu menyandarkan punggung pada sandaran kursi. "Tidak ada. Tentu saja, Presdir GN pasti mengerti."
Bukan itu jawaban yang ingin didengar Azri. Ia bukan orang bodoh yang bisa dikelabui dan ayah nya saat ini sedang berusaha membelokkan topik pembicaraan. Mata nya menyipit.
"Aku tidak tahu apa yang kau sembunyikan dariku dan apa yang kau buat pada istri ku, tapi aku yakin. Cepat atau lambat aku pasti mengetahui nya," peringat Azri dingin, membuat Mahendra sedikit melonjak.
"Beginikah cara mu berbicara pada Ayah mu?" cerca nya, tersinggung. Ia pikir Azri akan berubah setelah mendengar cerita tentang mendiang ibu nya. Nyata nya anak ini tidak terpengaruh sama sekali.
Mahendra sakit hati dengan kenyataan itu. Ia tidak bisa mengubah hati Azri agar berhenti membenci nya.
Azri bangkit, mengabaikan ucapan ayah nya sendiri. "Jika aku sampai tahu kau penyebab sedih nya istri ku, aku tidak akan tinggal diam."
Setelah mengatakan kalimat pedas itu, Azri beranjak dari ruangan tempatnya berada. Namun, sebelum tangan nya memutar kenop pintu, suara ayah nya kembali terdengar.
"Tidakkah kau merasa sikap mu itu berlebihan? Kau membenci ayah mu sendiri dengan alasan yang sama sekali keliru. Bahkan setelah kau tahu ibu mu berkhianat, kau masih membenci ku?"
Azri membeku di tempat nya, tangan nya tetap memegang kenop pintu. Ia membenci sekali topik sialan ini. Meskipun ia kecewa pada ibu nya sendiri setelah tahu cerita pengkhianatan ibu nya terhadap ayah nya sendiri, entah mengapa hati nurani nya tetap berkata ibu nya tidak mungkin berbuat jahat.
Azri menolehkan pandangan nya dengan raut sedingin es. Ia terlihat marah dan tegas ketika berkata, "Aku tidak peduli dengan cerita mu tentang ibu ku. Namun aku yakin, ibu ku bukanlah wanita serendah itu."
Mahendra membelalakkan mata. Mulut nya bungkam hingga tidak bisa mengatakan apa pun.
"Bagaimana dengan Widya Lovarza? Bagaimana jika istri mu ternyata melakukan hal yang sama padamu?"
Mendapat serangan serupa, Azri kembali membeku. Ia tidak pernah memikirkan hal yang satu ini. Namun, ia tahu Widya bukanlah materialistis yang akan mengambil keuntungan dari nya. Tidak, ia sangat mengenal istri nya.
"Jawabanku tetap sama, aku tidak akan mempercayai ucapan mu," tegas Azri tanpa menatap ayah nya. "Lagi pula, bukankah dia adalah wanita pilihan mu?"
Bersambung ....
__ADS_1