Menikahi Bad Boy

Menikahi Bad Boy
Trainning


__ADS_3

Pagi hari yang cerah seperti ini seharusnya Azri menghabiskan waktu berjogging ria di area apartementnya yang hijau dan teduh. Namun, kenyataannya kini ia sedang berada di bus bersama empat belas orang lainnya, orang-orang yang memakai kaus yang sama seperti yang dipakainya. Wajahnya menekuk sebal. Ia tidak habis pikir bagaimana bisa dirinya terjebak di sini, dan lebih parahnya, istrinya yang menjadi trainer acara ini.


"Aku bukan anak baru yang akan bekerja di perusahaan ini. Mana bisa kau samakan aku, seorang General Manager sekaligus anak dari pemilik perusahaan ini dengan anak-anak baru yang benar-benar baru tahu seperti apa dunia kerja!" protes Azri sebelum ia dipaksa naik bus menyebalkan yang akan mengantarnya ke tempat trainning.


Azri melirik ke arah peserta lain yang kebanyakan adalah mahasiswa yang baru saja lulus.


"Semua kedudukan pegawai baru di perusahaan Pradipta Group adalah sama. Kau juga pegawai baru. Bahkan belum resmi diangkat menjadi GM. Jadi jangan sombong, Tuan Pradipta. Ayahmu sendiri yang menginginkan kau mengikuti trainning ini agar kau lebih memahami tugasmu. Kau juga sepertinya harus diajari beberapa peraturan penting di perusahaan agar tidak seenaknya mengajak gadis ke ruanganmu lalu mencumbunya."


Widya melengos memasuki bus setelah mengatakan kalimat yang membuat Azri megap-megap tak bisa berkata.


"Yak, Widya!"


Azri akhirnya tidak memiliki pilihan lain selain mengikuti Widya naik bus itu.


Dari tempatnya, Widya melirik suaminya yang duduk di kursi paling belakang bus dengan wajah sebal. Sebenarnya ia juga tidak berniat memaksa Azri ikut acara ini, tetapi perintah Mahendra sama sekali tidak bisa dibantah. Kejadian kemarin pun terlintas kembali dalam benaknya.


"Ikut sertakan Azri pada acara trainning kali ini," titah Mahendra sambil menyerahkan map.


Widya mengambil map itu dengan wajah terkejut.


"Apa tidak masalah? Mungkin saja Azri akan membuat keributan di pelatihan itu."


"Tidak. Itu sangat bagus untuknya. Anak itu harus tahu beberapa poin penting untuk memimpin perusahaan ini dan dari trainning itu dia bisa mendapatkannya. Lagipula, bukankah kau pengajarnya? Inilah alasanku memilihmu menjadi istri Azri."


Benar, sih. Widya tidak bisa membalas ucapan Mahendra. Memang benar, alasannya menjadi istri Azri El Pradipta adalah untuk mengubah pria itu. Namun, mengapa sekarang hatinya terasa berdenyut pedih?


Mengapa ia tidak suka diingatkan bahwa kedudukannya sebagai istri Azri tak lebih dari seorang trainer?


Empat jam kemudian bus tiba di sebuah resort yang ada di pesisir pantai. Tempat itu berbeda dengan resort yang menjadi lokasi pernikahannya kemarin. Pradipta Group memang memiliki beberapa hotel dan resort yang tersebar di seluruh penjuru.


Semua peserta turun dari bus itu termasuk dua pengajar, di antaranya Widya dan satu lagi Pria berusia 40 tahun, Mahesa. Azri hanya mendengkus. Ia tak perlu menanyakan di mana mereka sekarang karena ia sangat mengenal resort satu ini. Tempat ini sering digunakan untuk lokasi trainning pegawai baru Pradipta Group.


Mereka berkumpul di lobi resort untuk pembagian kamar. Azri menoleh pada istrinya yang berbicara dengan seorang pria muda yang sepertinya manager resort ini. Entah kenapa, cara mereka mengobrol membuatnya jengkel. Ia bingung di bagian mana ia tidak suka. Apakah cara Widya berbicara dengan pria itu, atau cara pria itu berbicara dengan istrinya? Yang pasti ia tidak suka karena Widya bisa berbicara dengan pria lain seringan itu di depannya, mengacuhkannya pula!


"Perkenalkan, dia adalah Chris Wu, manajer resort ini. Dia dengan senang hati menjadi pemandu kita selama di sini."


Widya memperkenalkan pria yang berbicara dengannya tadi pada peserta trainning. Beberapa peserta perempuan berdecak kagum melihat penampilan Manager Resort bernama Chris itu.


Chris memang sosok pemuda tampan yang mudah sekali dikagumi kaum hawa. Chris menebarkan senyum dan itu membuat Azri mual sekali.


"Salam kenal, aku Chris Wu. Anggap saja resort ini rumah kalian sendiri sehingga acara pelatihan ini bisa berjalan lancar."


Azri mencibir pidato singkat tak bermutu Chris, sementara peserta lain bertepuk tangan heboh. Ia tidak mengerti di mana letak menakjubkannya pidato itu. Ia bisa berpidato jauh lebih baik darinya.


"Nah, aku akan membagikan kamar untuk kalian. Satu kamar akan diisi oleh tiga peserta."


Kali ini Mahesa yang berkata. Azri membelalak kaget. Tunggu, jadi selama di sini ia akan tidur bersama peserta lain dalam satu kamar? Tidak, itu tidak mungkin. Ia tidak pernah tidur berdesak-desakan dengan orang lain sebelumnya. Lagipula kenapa ia tidak tidur satu kamar dengan Widya? Bukankah mereka suami istri?


***


"Tidak ada yang tahu kita suami istri di sini," jelas Widya setelah acara pembagian kamar itu selesai.


Azri langsung melayangkan protesnya pada satu-satunya orang yang bisa ia tanyai dengan bebas di tempat itu, istrinya sendiri. Namun, gadis itu tampak acuh tak acuh padanya.


"Apa katamu?!" teriak Azri seraya berusaha berjalan menyamai langkah Widya yang cepat.


"Tapi paling tidak bisakah kau menempatkanku di kamar yang terpisah? Sendiri? Aku tidak terbiasa tidur bersama orang lain dalam satu kamar yang sempit."


Widya berhenti melangkah lalu segera membalikkan badan menghadap Azri. Pria itu menghentikan langkah sebelum tubuh mereka saling menabrak satu sama lain.


"Dengar Tuan Pradipta, perlu kukatakan beberapa kali bahwa tidak ada pengecualian untuk peserta training. Tak peduli kau seorang calon GM ataupun anak dari pemilik Pradipta Group," tegas Widya di kata perkatanya. Ia berbalik menghadap pintu kamarnya lalu masuk.


Azri ikut masuk tanpa menunggu Widya mempersilakannya. Ia tercengang melihat kamar tempat istrinya menginap.


"Lihat, bahkan kamarmu lebih luas dari kamarku!" Azri menoleh pada Widya yang cuek meletakkan tasnya di atas kasur. "Ini diskriminasi!"


"Membiarkanmu menempatkan satu kamar seorang diri, itu baru diskriminasi Tuan Azri El Pradipta!" debat Widya.


Azri tersentak menyadari sesuatu. Ia berbalik menatap istrinya dengan mimik curiga.


"Kau sedang balas dendam padaku? Inikah yang kau maksud dengan menjebloskanku ke penjara?" ucapnya penuh selidik.


Gadis itu tampak terpaku sesaat lalu mendesah, mirip seperti ******* kekalahan.


"Ya, inilah balas dendamku."


Azri diam selama beberapa saat lalu setelah itu tersenyum pahit. “Begitu rupanya. Aku paham sekarang."

__ADS_1


Widya menaikkan alisnya sebelah karena tak paham dengan yang dikatakan Azri barusan. Pria itu mengangkat kepala dengan sorot mata yang baru dilihatnya. Widya terpaku dan mundur perlahan karena kini Azri melangkah mendekatinya. Langkahnya terhenti setelah kakinya menabrak sesuatu. Ia tidak bisa mundur lagi karena di belakangnya ranjang. Ia berbalik menatap Azri kembali, agak takut meskipun ia terus mencoba tampak biasa saja.


"Kau memang berada di bawah kendali pria tua itu, Nona Lovarza ...." Azri berkata tepat di sudut bibir Widya yang berusaha menundukkan kepala untuk menghindari Azri.


"Dan terima kasih sudah mengingatkanku tentang balas dendam itu. Aku hampir saja melepaskanmu tanpa sempat membalas dendamku," bisik Azri, tangannya kini sudah melingkari pinggang Widya.


Apa yang pria ini ingin lakukan? Batin Widya gugup.


"Apa yang kau maksud?"


Widya pura-pura tidak mengerti. la pura-pura tidak tahu niatan Azri menyiksanya dengan 'cara-caranya' sendiri. Masalahnya ia tidak tahu cara Azri menyiksa seseorang. Ada apa dengan tubuhnya? kenapa menerima begitu saja pelukan Azri?


"Kau benar-benar penasaran atau hanya ingin menggodaku?"


Azri menarik dagu Widya mendongak hingga mata mereka bertatapan. Ia merasa puas sekali bisa melihat kegugupan di mata gadis ini. Bagaimanapun dia tetap perempuan biasa, bukan?


Sementara itu Widya memalingkan fokus matanya ke sudut lain. Ke mana saja, asal tidak menatap Azri.


"Sebaiknya kau bersiap-siap. Trainning pertama akan dimulai sore nanti."


Widya bermaksud mendorong Azri, tetapi yang terjadi justru sesuatu yang sama sekali tak terduga. Tubuhnya terdorong jatuh ke atas ranjang, parahnya Azri juga ikut tertarik jatuh hingga tubuhnya yang kekar itu menindih tubuh Widya. Ia memekik ketika merasa badannya ditindih beban berat yang berasal dari tubuh Azri.


Pelan-pelan Widya membuka mata. Jantungnya bertalu kencang saat sadar kini wajah mereka saling bertatapan dalam jarak yang sangat dekat. Bahkan hidung mereka saling bersentuhan. Azri tersenyum simpul dalam situasi seperti ini.


"Sudah kuduga, ternyata diam-diam kau memang mendambakan hal ini, beruntung sekali diriku."


"Bangun dari atasku, cepat," pinta Widya karena sekarang, ia merasa kesulitan bernapas.


Bukan karena Azri yang ada di atasnya, melainkan karena jarak mereka yang terlalu dekat. Widya tidak sanggup menahan debaran jantungnya sendiri. Azri menolak, dia justru memeluk tubuh ramping Widya.


'Pria ini,' batin Widya. Ia tidak berani bergerak sedikit pun karena ia tidak tahu apa yang akan Azri lakukan. Tubuhnya seperti tersengat listrik ketika bibir Azri menyentuh kulit lehernya disertai embusan napasnya yang hangat, menggelitik daerah itu dan membuat mulutnya men**ah halus.


Azri menyeringai senang saat sadar Widya sudah terjebak dalam rayuannya.


"Kau yang menarikku jatuh, Nona. Mana mungkin aku bangun begitu saja. Bagaimana kalau kuberitahu balas dendamku untukmu."


Ciumannya naik sampai ke pipi Widya. Menatap gadis itu yang memejamkan matanya rapat-rapat.


"Apa yang kau lakukan?" tanya Widya tajam.


Widya mencoba menghindar saat Azri hendak meraup bibirnya. Namun, Azri selalu berhasil mendapatkan apa yang ia mau sehingga ia hanya bisa menerimanya dengan hati berdesir bercampur kesal.


"Aku ingin mengambil sesuatu yang seharusnya menjadi milikku saat malam pertama kita.“


Widya tercekat begitu tangan Azri yang sejak tadi memeluk pinggangnya di balik baju merayap naik menyentuh daerah dadanya.


"Az—"


Widya berkata lemah, nyaris memohon saat tangan Azri menyentuh d**anya. la tidak mau melakukan hubungan yang dilandasi paksaan seperti ini. Azri tidak mencintainya, hanya menginginkan tubuhnya saja saat ini. Bukan itu hal yang membuatnya rela menyerahkan diri pada seorang pria. Namun di sisi lain, Azri adalah suaminya. Percuma saja ia berteriak meminta tolong. Tidak akan ada yang bisa menyebut ini adalah pemerkosaan. Mereka justru akan menertawakan teriakannya.


Azri mendengkus. Marleen sangat menyukai hal ini, tetapi kenapa rasanya ia justru tidak bersemangat karena tubuh Widya justru merespon sebaliknya. Gadis ini kaku sekali. Ia berhenti lalu mengangkat kepalanya. Melihat Widya yang memejamkan matanya rapat-rapat, semangat Azri seperti hilang entah ke mana. Gadis ini tidak menikmati cumbuannya. Untuk apa dilanjutkan.


Widya membuka mata, sedikit terkejut karena tiba-tiba Azri bangkit dari atas tubuhnya. Tidak hanya itu, Azri bahkan merapikan kembali kausnya yang sudah tersingkap hingga d**a.


Kenapa? Tanya Widya dalam hati. Apa yang membuat Azri mendadak berubah pikiran?


"Sudahlah," ujar Azri malas, tanpa memandang Widya sama sekali. "Aku tidak akan meniduri wanita yang bahkan tidak meresponku dengan baik. Jika kau tidak mau katakan saja. Aku tidak akan memaksamu.“


Widya masih syok sehingga tidak sanggup membalas ucapan Azri. Ia menatap dirinya sendiri dan entah kenapa, ucapan Azri tadi membuatnya terluka. Ini seperti sama saja seperti Azri mengatakan dia menyesal menikah dengan istri tidak berguna sepertinya.


"Omong kosong. Kau hanya beralasan. Ketika aku lemah kau pasti menyerangku kembali," sahut Widya, agak terkejut dengan mulutnya sendiri.


Akibat perkataan Widya, Azri menoleh dengan raut tersinggung.


"Aku bukan pria tidak bermoral yang akan meniduri sembarang wanita karena aku ingin!" tegasnya berapi-api. “Aku hanya akan tidur dengan mereka yang memang bersedia atau bahkan menyerahkan dirinya padaku. Dengan kata lain, mereka dengan senang hati memberikan tubuhnya padaku, tanpa kupaksa sama sekali!"


Widya tahu ucapannya tadi sama saja dengan ia menuduh Azri rela berhubungan dengan siapa saja. Namun, ia tidak sepenuhnya salah. Jika Azri memang pria baik-baik, dia tidak akan melakukan hal itu pada gadis yang tidak disukainya hanya untuk melihat bagaimana respon gadis itu.


"Jika aku memang pria tidak bermoral, mungkin kau sudah berakhir di atas ranjang!"


Widya ingin membalas ucapan Azri, tetapi mereka terinterupsi oleh bunyi bel. la segera bangkit untuk membuka pintu, mengabaikan Azri yang mendengkus kesal seraya memalingkan wajah.


"Senior." Suara Chris menyambutnya ketika Widya membuka pintu. Pria manis itu tersenyum padanya.


"Ada apa?"


"Kau lupa persiapan untuk trainning sudah selesai sejak tadi. Tuan Mahesa mencari-carimu. Aku sedang berkeliling untuk memberitahu peserta agar bersiap-siap."

__ADS_1


Widya menepuk keningnya. Hampir saja ia melupakan tugasnya sebagai trainer.


"Baiklah. Tunggu sebentar." Widya masuk ke dalam kamar lagi untuk mengambil beberapa buku yang ada di dalam tasnya.


"Kau mau ke mana?" tanya Azri melihat Widya sibuk membawa buku dan beberapa perlengkapan lain.


"Cepatlah kembali ke kamarmu. Trainning akan dimulai sebentar lagi.“


"Hei, kau akan ke mana! Kita belum selesai bicara!"


Azri berteriak lagi pada Widya yang melenggang pergi tanpa menghiraukannya. Ia menyusul Widya dan matanya terbelalak karena lagi-lagi, ia melihat gadis itu bersama Chris.


"Sial!"


***


Acara pelatihan itu berlangsung menarik, tetapi bagi Azri ini adalah acara paling membosankan yang pernah diikutinya. Ia sampai terkantuk-kantuk mendengar berbagai macam materi yang dibawakan oleh Mahesa. Meskipun harus diakui, saat Widya yang menjadi pematerinya, kantuknya sedikit berkurang. Hanya saja ia tidak suka karena pria bernama Chris itu terus berdiri di samping istrinya.


"Apa ada pertanyaan?" tanya Widya di sela penjelasannya. Azri menguap lebar dan itu menjadi perhatian seisi ruangan.


"Sepertinya ada yang kurang tidur di sini. Apa ada pertanyaan darimu, Tuan?" tanya Widya sambil menatap lurus Azri.


Pria itu terhenyak dari tempat duduknya karena kini semua orang ikut menatapnya.


"Tidak ada. Sejujurnya acara ini sangat membosankan. Untuk apa menerangkan peraturan yang umum seperti itu. Semua orang sudah tahu," sahut Azri membuat orang-orang tergelak.


Chris mengerutkan keningnya dengan mata menajam menatap Azri. Kalimat Azri tadi membuat ekspresi Widya menegang.


Widya mengepal tangannya erat karena sudah tahu hal ini pasti akan terjadi. Azri akan menjadi pembuat onar dalam trainning ini.


"Kalau begitu, bisakah kau maju ke depan sini?" ucap Widya dengan wajah ramah yang dibuat-buat.


Azri begitu percaya diri mengikuti ucapan Widya. Ia merasa bisa melakukan apa pun yang akan disuruh gadis itu kelak.


"Coba jelaskan semua peraturan perusahaan kita dari awal hingga akhir."


Azri melongo. Bagaimana ia bisa menjelaskannya sementara tadi ia tertidur.


"Kenapa aku harus?"


"Bukankah kau bilang semua orang sudah tahu? Jelaskan saja. Mudah bagimu bukan?"


Azri mendelik pada istrinya yang kini tersenyum menang. Bahkan Chris menyeringai senang melihatnya terpaku di tempat tanpa bisa menjelaskan apa pun. Azri menoleh ke arah peserta lain yang tampaknya menanti pidatonya. Ia menghela napas lalu menoleh kembali pada Widya.


"Aku tidak mau."


"Tidak mau?"


Azri benar-benar tidak tahu apa yang diinginkan Widya dengan mempermalukannya di depan orang-orang sekarang ini. Ia menoleh pada Widya sekali lagi untuk meminta keringanan, tetapi gadis itu menggeleng dengan tegas seolah bisa membaca pikirannya. Ia tidak pernah dipermalukan seperti ini seumur hidupnya oleh seorang wanita, terlebih di depan banyak orang.


Pikirannya benar-benar tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Azri mengembuskan napas untuk menghilangkan rasa malunya. Ia kembali menatap Widya.


"Sejujurnya aku sangat mengantuk tadi sehingga tidak ada satupun penjelasan darimu yang masuk ke telingaku."


Chris dan Widya membelalakkan mata sementara peserta lain tertawa. Widya menarik napas lalu mengembuskannya cepat. la tidak boleh kehilangan wibawa karena ulah Azri. Selama tiga tahun karirnya tidak pernah ia gagal melatih para pegawai baru.


"Ini jelas membuktikan bahwa kau hanya omong besar sejak tadi. Apa otakmu tidak berfungsi sampai satu kalimat saja dariku tidak ada yang yang tertinggal di sana?"


Widya menyentuh kepala Azri dengan jarinya. Pria itu tidak terima tindakan Widya lantas mencengkeram tangannya. Semua orang tersentak kaget tak terkecuali Widya.


"Jangan sentuh kepalaku!“


"Lepaskan tangannya!" tegas Chris marah. Azri membelalakkan matanya pada pria itu.


"Siapa yang menyuruhmu ikut campur?!"


Chris terkejut diteriaki Azri dengan ekspresi yang menyeramkan. Tidak hanya Chris bahkan Widya dan orang-orang yang melihatnya. "Ini urusanku dan gadis ini."


"Siapa yang kau maksud gadis ini? Aku pelatihmu. Bertindaklah sopan padaku!"


Kali ini Widya yang berkata. Azri mendengkus menyadari Chris dan Widya memandangnya tajam. Ia menghempaskan tangan Widya keras lalu berjalan kembali ke tempat duduknya tanpa diperintahkan oleh Widya. Ia kesal sekali, sangat kesal.


Pelatihan pun dilanjutkan dengan kejengkelan Azri yang semakin menjadi.


Bersambung ....


Bagian terpanjang 😄

__ADS_1


__ADS_2