
"Aku tidak tahu kau gadis yang suka tebar pesona juga," sindir Azri ketika mereka sudah kembali ke resort dan kini sedang berjalan di lobi menuju ke kamar mereka.
"Tebar pesona?" Widya menoleh pada Azri yang terlihat kesal sejak bertemu dengan Adam.
"Aku tidak pernah tebar pesona pada siapapun"
"Lalu tadi itu apa? Kalian berbicara seolah kalian adalah sepasang kekasih yang terpisah lama. Bahkan sampai berpegangan tangan dan mencium pipi."
Widya mengerjap sadar bahwa Azri saat ini sedang cemburu setelah menangkap nada marah dan tidak suka pada setiap kalimatnya.
"Kau cemburu," sela Widya membuat Azri terperangah.
Merasa lucu dengan pernyataan itu, Azri tertawa.
"Yang benar saja!"
"Lalu kenapa kau marah?"
"Aku tidak marah. Aku hanya memberitahumu bagaimana bersikap sebagai wanita yang sudah bersuami! Kau tidak seharusnya bermesraan dengan pria lain tepat di depan suamimu sendiri!"
Kali ini Widya tersinggung. Siapa yang bermesraan? la dan Adam hanya berbincang ringan. Yang justru seharusnya berkaca diri adalah Azri! Dia sendiri sering tertangkap bermesraan dengan gadis bernama Marleen tepat di hadapannya tanpa rasa bersalah sama sekali. Azri tidak berhak menceramahinya tentang bagaimana pasangan yang sudah menikah harus bersikap.
"Oh ya? Kau saja boleh bermesraan dengan gadis lain kenapa aku tidak? Kau sendiri adalah pria yang sudah beristri dan sudah jelas-jelas kalian bermesraan di depan mataku. Aku hanya mengobrol ringan dengan Adam tanpa kontak fisik selain ciuman di pipi."
Terselip nada marah dalam suara Widya dan itu membuat Azri terdiam. Widya benar dalam hal ini. Ia sendiri heran kenapa harus marah hanya melihat pria lain mendekati Widya.
"Aku tidak suka dengan cara pria itu menatapmu. Siapapun yang melihatnya pasti tahu pria itu menyukaimu!" Azri justru mengatakan kalimat yang lebih tidak masuk akal karena panik.
__ADS_1
"Hal itu bisa dimaklumi," sahut Widya tak mau kalah. "Karena dia mantan kekasihku!" Setelah mengatakannya Widya bergegas pergi.
Azri seperti baru saja kejatuhan sakarung penuh batu ketika Widya mengatakannya. Apa dia bilang? Pria tadi mantan pacarnya? Jelas itu tidak mungkin. Ia kembali mengejar Widya.
"Aku tidak percaya!" sahutnya membuat langkah Widya terhenti.
"Kenapa tidak?"
Widya mengangkat dagu, sikap angkuh yang dipelajarinya dari Azri.
"Pria itu jelas bukan tipemu!"
Azri mengatakannya dengan penuh percaya diri. la yakin sekali tipe gadis ini bukanlah pria tadi.
"Lalu menurutmu tipe pria seperti apa yang kusukai?"
Alhasil kalimat yang keluar dari mulut Azri terdengar tidak meyakinkan.
Widya menatapnya dengan alis terangkat. Ia menduga Azri pasti salah makan saat di restoran tadi. Semua kalimat yang keluar dari mulutnya begitu ganjil dan aneh. Kalimat-kalimat yang rasanya tidak mungkin diucapkan oleh seorang Azri El Pradipta.
Sementara Azri sendiri terkejut dengan jalan pikirannya. Ia yakin pasti karena salah makan saat di restoran. Ia tidak mungkin berpikir tidak rasional seperti ini.
"Jadi kau pikir aku pasti menyukai tipe pria sepertimu?" tanya Widya memecahkan keheningan dalam pikiran Azri.
"Tentu saja. Jika tidak kau tidak mungkin mau menikah denganku. Aku tahu kau tipe wanita yang tidak akan menikah dengan pria yang tidak cocok sama sekali denganmu," ucap Azri kali ini dengan segenap kepercayaan diri.
la bangga karena berhasil mengatakannya dengan kalimat angkuh dan tidak peduli. Widya mendekatinya perlahan. Azri bingung apa ada yang salah dengan gadis itu karena kini dia menatapnya seduktif.
__ADS_1
"Oh, jadi karena kau sudah menjadi suamiku kau berpikir bahwa tipe pria idamanku adalah sepertimu?" Widya bertanya sambil membelai pipi Azri.
"Sejujurnya kau memang tampan, badanmu tinggi tegap-sosok yang sangat kusukai.“ Widya agak berbisik sambil menelusuri sepanjang garis rahang Azri dengan jarinya.
Pria itu terpaku di tempatnya berdiri. Yah, laki-laki mana yang akan tahan jika digoda seperti ini oleh wanita.
"Kau pintar, kaya, dan dikagumi banyak orang."
Azri menyunggingkan seringaian penuh kemenangan. "Kau sangat beruntung memiliki suami sepertiku."
Widya menatapnya seolah Azri baru saja berkata bahwa dirinya berselingkuh.
"Kau tidak pantas menyebut dirimu sendiri seorang suami."
Azri tersentak kaget. Apa maksud ucapannya?
"Jika kau memang suamiku, kau tidak akan bercumbu di depanku dengan gadis lain. Jika kau memang merasa suamiku, kau tidak akan mengabaikan permohonan istrimu sendiri dan seorang suami, dia akan memilih makan malam bersama istrinya dibandingkan bersama gadis lain. Kau jelas tidak memenuhi kriteria itu. Kau bukanlah suamiku. Hubungan kita tidak lebih dari sekedar status."
Kali ini Widya benar-benar pergi setelah berhasil meng-skak matt Azri.
Azri yang terperangah hanya mampu berdiri di tempatnya dengan hati tertusuk-perih, kalimat Widya tadi seperti jampi-jampi yang menyadarkannya akan sesuatu. Ia memang tidak pernah memperlakukan Widya dengan benar.
Namun, itu salah Widya karena merebut kebebasan seseorang. Widya seharusnya tahu diri dan tidak menyalahkan orang lain. la merasakan desakan untuk menghancurkan sesuatu sampai sakitnya hilang.
Azri menatap tajam orang-orang yang sejak tadi memperhatikan pertengkaran mereka. Orang-orang itu dengan sigap memalingkan pandangan bahkan kabur cepat dari tempat itu sebelum Azri mengamuk.
Bersambung ....
__ADS_1
Likein🤘