
"Dengan ini kami jatuhkan hukuman lima belas tahun penjara kepada terdakwa Matthew Fernandez karena dakwaan telah melakukan kejahatan pembunuhan, pemerasan, dan penyalahgunaan aset negara."
Ketukan palu yang terdengar tiga kali bagaikan lonceng kematian bagi pria yang duduk di tengah ruangan, satu-satunya yang menjadi pusat perhatian seluruh orang dalam ruang sidang itu. Matthew Fernandez duduk dengan wajah pucat, tak bertenaga dan tak berjiwa. Seperti patung.
Seluruh hidupnya hancur berantakan hari itu. la bahkan lebih memilih mati daripada harus membusuk di penjara, tetapi Tuhan tidak mengabulkan keinginannya.
Rendra Fernandez duduk di deretan kursi depan bersama Marleen, tunangannya. Pengacaranya duduk di sisinya yang lain. Meski pun sedih karena harus memenjarakan ayahnya sendiri, ia merasa lega dan puas. Setidak nya ia ber hasil mengurung satu monster dari dunia.
Terlalu banyak kejahatan yang sudah di lakukan ayahnya. Ia berharap diam di balik jeruji besi memberikan pembelajaran pada ayahnya bahwa ada yang lebih penting di dunia ini daripada mengejar kekayaan.
"Aku berjanji Ayah tidak akan ter siksa di dalam penjara," ucap Rendra pada ayahnya sebelum pria itu di giring oleh polisi meninggalkan ruang sidang.
Matthew Fernandez yang awalnya menatap dingin putra kebanggaan nya, sedikit melunak ketika melihat mata Rendra dipenuhi kasih sayang seorang anak untuk ayahnya. Ia selalu berharap Rendra bisa menjadi seperti dirinya di masa depan. Namun, ia tahu ia telah gagal mendidiknya karena Rendra justru berlawanan dengannya.
"Jaga dirimu dan adikmu baik-baik karena untuk sementara aku tidak bisa menjaga kalian," bisiknya getir.
Rendra mengangguk lalu membungkukkan badan sebagai bentuk penghormatan.
__ADS_1
Tak pernah ada yang lebih melegakan lagi bagi Azri selain mendengar putusan pengadilan tentang hukuman untuk Matthew Fernandez. Ini sama saja seperti hadiah untuk hari keluarnya ia dari rumah sakit.
Setelah menjalani masa pengobatan dan pemulihan selama empat bulan di rumah sakit, akhirnya dokter mengizinkannya keluar dari tempat menyebalkan itu. Lagi pula sepertinya Widya tidak ingin berlama-lama berada di rumah sakit, tampak jelas dari ekspresinya setiap kali masuk ke ruangannya. Tentu saja, ia tidak pernah lupa bahwa istrinya itu membenci rumah sakit.
Rendra menelepon Widya beberapa hari lalu untuk memberitahukan jadwal sidang ayahnya. Pria itu menginginkan ia dan istrinya turut hadir. Widya begitu senang sampai berteriak ingin sekali memeluk Rendra.
Hari ini, rasa lega itu semakin nyata. Terutama ketika mereka melihat Matthew Fernandez yang terbalut baju tahanan di bawa oleh petugas polisi setelah berpamitan dengan keluarganya. Harus diakui Rendra adalah seseorang yang hebat. Berapa banyak seorang anak di dunia ini yang berani memenjarakan ayahnya sendiri? Namun, memang itu yang harus dilakukan jika ingin menegakkan keadilan.
"Aku tidak bermaksud bersikap tidak sopan, tetapi Presdir GN pantas sekali mendapatkannya."
Rendra dan Marleen menoleh ke belakang, ke arahnya. Pria itu menyuguhkan senyum ramah untuknya dan istrinya. Ia membawa Widya mendekati mereka.
Azri tersenyum saat Rendra memandangnya. "Kupikir sudah saatnya memulai hidup baru setelah segalanya berakhir. Aku akan mencoba memaafkan ayahmu."
"Terima kasih sudah membantu kesulitan kami. Aku tahu ini berat untukmu dan Lia."
Widya kali ini yang berkata. Ia sungguh senang ketika Rendra menghubunginya minggu lalu bahwa sidang pembacaan hukuman untuk ayahnya akan dilangsungkan. Ia tak pernah mengira prosesnya akan secepat ini dan semulus ini.
__ADS_1
"Aku harap Lia bisa hadir untuk ikut meminta maaf," tambah Rendra.
Detik itu Widya dan Azri menyadari Lia tidak ada di sana. Bahkan mereka tidak melihat gadis itu di ruang sidang.
"Ke mana dia?" tanya Azri heran.
"Dia baik-baik saja, hanya tidak bisa datang." jawab Marleen lebih dulu.
Marleen menatap Azri penuh arti. Pria ini masih tetap tampan memukau meskipun baru saja keluar dari rumah sakit. Namun, entah mengapa ia tidak bisa memandang pria di depannya dengan cara yang sama seperti dulu. Azri akan selalu menjadi milik Widya, istri yang dicintainya setengah mati.
Azri dan Widya mengangguk demi kesopanan. Rasanya tidak baik bertanya lebih lanjut tentang Lia. Ia sudah mendengar ceritanya dari Widya bahwa gadis itulah pelaku sebenarnya kebakaran yang melelap hangus ruang arsip GN Group dan ruangan lain di sekitarnya.
Mau tak mau Azri harus mengakui bahwa Presdir GN berhasil membesarkan anak-anak untuk menghancurkan kebanggaan yang dibangunnya dengan susah payah. Setelah Lia membakar hangus perusahaannya, Rendra bertindak memenjarakannya. Hebat.
Namun, beruntung Rendra memilih untuk membohongi publik dengan berkata bahwa penyebab kebakaran itu karena hubungan pendek arus listrik. Lia, tidak terciprat tuduhan sama sekali. Hanya saja mereka tidak tahu keberadaan gadis itu kini. Rendra tidak berniat menceritakan apapun tentang itu.
Wajar saja, Lia pasti membutuhkan waktu untuk menenangkan diri.
__ADS_1
Bersambung ....